Jantung

Henti Jantung Mendadak

Diterbitkan: 30 Jan 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Henti Jantung Mendadak
Gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan mengonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko henti jantung mendadak.
Henti jantung mendadak adalah berhentinya fungsi jantung, pernapasan, dan kesadaran secara tiba-tiba. Kondisi ini biasanya terjadi akibat gangguan arus listrik dalam jantung, yang mengganggu irama dan detak jantung.Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest berbeda dari serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah. Namun serangan jantung dapat memicu kondisi ini.Henti jantung mendadak adalah kondisi kegawatdaruratan yang perlu penanganan segera. Apabila terlambat ditangani, penderita bisa mengalami komplikasi serius yang berupa kerusakan otak permanen akibat tidak ada pasokan darah, hingga kematian.Pengetahuan dan keterampilan bantuan hidup dasar (termasuk CPR) sangat penting untuk menyelamatkan orang dari komplikasi henti jantung mendadak. 
Henti Jantung Mendadak
Dokter spesialis Jantung
GejalaPingsan, tidak bernapas, denyut nadi tak teraba
Faktor risikoSerangan jantung, kardiomiopati, penyakit jantung bawaan
Metode diagnosisEKG, ekokardiografi, tes darah
PengobatanBantuan hidup dasar, bantuan hidup lanjut, penanganan lanjutan
ObatEpinefrin
KomplikasiKerusakan otak permanen, kematian
Kapan harus ke dokter?Nyeri dada, sesak, pingsan
Beberapa gejala henti jantung mendadak yang dapat terjadi meliputi:
  • Tiba-tiba pingsan
  • Tidak ada denyut nadi
  • Tidak bernapas
Mungkin saja ada tanda dan gejala henti jantung mendadak yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter. 
Penyebab utama henti jantung mendadak adalah kelainan denyut jantung (aritmia) dan gangguan pada sistem listrik jantung.Apabila terjadi masalah dengan sistem perlistrikan jantung, detak jantung tidak beraturan bisa muncul. Kondisi ini kemudian menyebabkan henti jantung mendadak. 

Faktor risiko henti jantung mendadak

Henti jantung mendadak bisa dialami oleh semua orang. Namun risikonya akan lebih tinggi pada orang yang mengalami kelainan jantung di bawah ini:
  • Penyakit jantung koroner

Penyakit jantung koroner merupakan terjadinya penyumbatan pembuluh darah koroner jantung.
  • Serangan jantung

Serangan jantung bisa memicu fibrilasi ventrikel atau denyut jantung yang tidak beraturan. Salah satu jenis aritmia ini dapat menyebabkan henti jantung mendadak. Serangan jantung juga dapat meninggalkan luka parut pada jantung.
  • Pembesaran jantung atau kardiomiopati

Kardiomiopati adalah kondisi otot jantung yang mengalami peregangan berlebihan, membesar, dan menebal. Otot jantung yang mengalami kelainan ini dapat mencetuskan aritmia.
  • Penyakit jantung katup

Penyakit jantung katup dapat menyebabkan peregangan dan penebalan otot jantung. Misalnya, kebocoran atau penyempitan katup jantung. Kondisi ini pada akhirnya dapat menyebabkan aritmia.
  • Penyakit jantung bawaan

Penyakit jantung bawaan merupakan penyebab henti jantung mendadak yang cukup sering pada anak-anak.
  • Gangguan listrik jantung bawaan

Gangguan listrik jantung bawaan ini bisa meliputi sindrom Brugada dan sindrom Long QT.
  • Penyakit tertentu

Beberapa penyakit juga bisa mempertinggi kemungkinan henti jantung mendadak, seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi
  • Faktor risiko lain

Di samping penyakit dan kelainan pada fisik, kebiasaan tertentu pun bisa meningkatkan risiko henti jantung mendadak. Contohnya, merokok, gaya hidup tidak sehat, serta terlalu banyak mengonsumsi alkohol. 
Untuk mendeteksi apa yang menyebabkan henti jantung secara mendadak, dokter akan menyarankan beberapa tes, yaitu:
  • Ekokardiografi

Tes ini menggunakan gelombang suara untuk menilai ukuran, struktur, dan gerakan serta fungsi jantung. 
  • Elektrokardiogram (EKG)

EKG merupakan alat yang mempunyai sensor untuk mendeteksi sinyal listrik di jantung dengan cara ditempelkan di dada. Tes ini adalah alat utama untuk mendiagnosis ketika henti jantung mendadak terjadi. 
  • Tes pencitraan

Tes ini umumnya digunakan untuk membantu dalam mendiagnosis gejala henti jantung mendadak dan menggambarkan kondisi jantung. Beberapa jenisnya yang mungkin disarankan oleh dokter meliputi rontgen, CT scan, MRI, dan PET scan.
  • Tes darah

Dokter juga dapat menganjurkan tes darah guna memeriksa kadar kalium, magnesium, hormon, dan senyawa kimia lain dalam tubuh pasien. Senyawa-senyawa ini dapat mempengaruhi kinerja jantung.
  • Kateterisasi jantung

Kateterisasi jantung merupakan prosedur untuk mendiagnosis sekaligus menangani masalah jantung tertentu. Dengan ini, dokter bisa mengevaluasi kondisi pembuluh darah jantung apabila penyebab henti jantung adalah penyumbatan pada pembuluh darah koroner (serangan jantung).
  • Pemeriksaan elektrofisiologi jantung

Dokter akan melakukan katerisasi jantung untuk merekam respons sistem kelistrikan jantung terhadap obat-obatan atau stimulasi listrik. Dengan ini, dokter bisa mengetahui ada tidaknya gangguan pada sistem listrik jantung. 
Henti jantung mendadak adalah kondisi gawat darurat medis, jadi memerlukan penanganan secepatnya di fasilitas kesehatan terdekat. Langkah-langkah pertolongan yang bisa dilakukan meliputi:

1. Pertolongan pertama

Bila Anda menemukan seseorang pingsan dan tidak bernapas dengan normal, segera lakukan langkah pertolongan pertama di bawah ini:
  • Telepon bantuan medis (ambulans)
Anda harus segera memanggil ambulans dari fasilitas kesehatan terdekat.
  • Bantuan hidup dasar

Sembari menunggu pertolongan medis, Anda dapat melakukan bantuan hidup dasar dengan melakukan pijat jantung paru (CPR) di bawah ini:- Periksa pola napas penderita- Jika penderita tidak bernapas dengan normal, langsung lakukan pijat jantung paru (CPR)- Letakkan kedua tangan Anda pada bagian tengah dada, tepat di atas tulang dada bagian bawah- Lakukan penekanan sebanyak 30 kali dan berikan napas bantuan sebanyak 2 kali.
  • AED

Apabila ada alat defibrillator (automated external defibrillator/AED) dan Anda paham cara memakainya, pasanglah AED ke dada penderita dan ikuti petunjuknya. Namun jika Anda tidak mengerti langkah penggunaannya, tetap lanjutkan CPR sampai tetugas medis tiba.

2. Obat-obatan

Pemberian obat-obatan harus dilakukan oleh petugas medis yang telah terlatih. Pilihan obat untuk mengatasi henti jantung mendadak biasanya meliputi:
  • Obat stimulus jantung untuk mengembalikan detak jantung, contohnya epinefrin
  • Obat antiaritmia

3. Penanganan lanjutan

Penanganan lanjutan dilakukan setelah kondisi pasien sudah stabil. Tujuannya adalah mengatasi kondisi jantung yang mendasari terjadinya henti jantung mendadak, serta mencegah kekambuhan.Berikut sederet penanganan lanjutan yang dapat dilakukan oleh dokter:
  • Implantable cardioverter defibrillator (ICD)

ICD adalah alat yang dipasang dalam tubuh pasien, di sekitar tulang selangka. Alat ini akan terus memantau irama jantung pasien.Apabila detak jantung pasien dinilai abnormal, ICD akan mengeluarkan impuls listrik untuk mengembalikan detak jantung agar normal.
  • Angioplasti koroner

Prosedur ini dilakukan untuk membuka pembuluh darah koroner yang tersumbat. Dengan ini, aliran darah ke otot jantung menjadi lancar.
  • Operasi bypass jantung

Operasi bypass jantung juga bertujuan mengatasi sumbatan jantung dan menghindari kerusakan sel jantung, yang dapat menyebabkan aritmia dan henti jantung mendadak.
  • Ablasi kateter jantung
Prosedur ini bertujuan menghambat impuls listrik tidak normal guna mencegah aritmia.
  • Operasi perbaikan jantung

Sebagai contoh, dokter bisa menyarankan operasi perbaikan kelainan jantung bawaan. Meski tidak langsung, operasi ini akan menurunkan risiko aritmia yang menjadi penyebab henti jantung mendadak. 

Komplikasi henti jantung mendadak

Bila tidak ditangani dengan benar, sederet komplikasi henti jantung mendadak di bawah ini bisa saja terjadi pada penderita:
  • Penurunan kesadaran
  • Kerusakan otak permanen
  • Kematian
 
Cara mencegah henting jantung mendadak yang dapat Anda lakukan adalah dengan menghindari kondisi-kondisi yang meningkatkan risikonya. Berikut contohnya:
  • Mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang
  • Tidak merokok
  • Tidak mengonsumsi alkohol
  • Rutin berolahraga, minimal 30 menit setiap hari
  • Mengendalikan kadar gula darah pada penderita diabetes, seperti rutin mengonsumsi obat yang diresepkan oleh dokter dan memeriksakan diri secara berkala ke dokter
  • Mengendalikan tekanan darah pada orang yang mengidap hipertensi, misalnya mengonsumsi antiipertensi sesuai anjuran dokter dan memeriksakan diri secara berkala ke dokter
 
Segera cari bantuan medis apabila Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala-gejala sebagai berikut:
  • Nyeri atau rasa tidak nyaman pada dada
  • Detak jantung yang terasa tidak beraturan dan cepat
  • Sesak napas
  • Perasaan seperti akan pingsan
  • Pusing dan tubuh yang limbung (seperti melayang)
 
Sesuai namanya, henti jantung mendadak akan terjadi secara tiba-tiba. Ini berarti, pasien biasanya akan kehilangan kesadaran. Karena itu, teman atau anggota keluarga yang akan menemani pasien ke rumah sakit perlu menyiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
 
Dokter akan memberikan penanganan darurat pada pasien henti jantung mendadak. Petugas medis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan di bawah ini pada orang yang menemani pasien:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali dialami?
  • Apakah pasien memiliki faktor risiko terkait henting jantung mendadak?
  • Apakah pasien rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah kondisi pasien stabil, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik maupun penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis henting jantung mendadak agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/cardiac-arrest#diagnosis
diakses pada 21 November 2018.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sudden-cardiac-arrest/symptoms-causes/syc-20350634
diakses pada 21 November 2018.
Medline Plus. https://medlineplus.gov/cardiacarrest.html
diakses pada 21 November 2018.
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Dokter Terkait

Artikel Terkait

7 Gejala Sakit Jantung yang Sering Diremehkan

Gejala sakit jantung yang sering terabaikan antara lain nyeri dada, sering merasa lelah, dan mudah berkeringat. Periksalah ke dokter jika Anda merasakan gejala tersebut semakin memburuk.
01 Apr 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Salah satu gejala penyakit jantung yang kerap terabaikan adalah kelelahan yang tak berkesudahan

7 Penyakit Peredaran Darah yang Umum Terjadi, Apa Pemicunya?

Gangguan pada peredaran darah dapat menyebabkan berbagai komplikasi penyakit lainnya. Penyakit peredaran darah yang dipicu gaya hidup bisa diubah dengan menjalani gaya hidup sehat.
25 Mar 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Penyakit tekanan darah dapat mengganggu sirkulasi darah, oksigen, nutrisi, elektrolit, dan hormon ke seluruh tubuh

Begini Cara Memberikan Pertolongan Pertama Pada Henti Jantung Mendadak

Mengetahui cara memberikan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti jantung mendadak, bisa membantu menyelamatkan nyawa. Sebab, kematian berisiko terjadi bila penderita henti jantung mendadak terlambat menerima pertolongan pertama yang tepat.
10 Sep 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Henti jantung mendadak dapat berujung pada kematian, jika tidak mendapatkan penanganan sesegera mungkin.