Hematoma merupakan penumpukan darah di luar pembuluh darah. Hematoma terdiri dari beberapa jenis, dan dibedakan berdasarkan lokasinya, seperti hematoma subdural, epidural dan spinal, di bawah jari atau kuku jari kaki (subungual), telinga, dan hati.

Biasanya, penyebab hematoma adalah patah tulang panggul, cedera kuku jari (subungual), tonjolan, pembekuan darah atau terdapatnya bekuan darah pada tungkai bawah, kanker darah, dan konsumsi alkohol secara berlebihan.

Tanda dan gejala hematoma bergantung pada lokasi yang terjangkit, ukuran dari hematoma dan jaringan di sekitarnya yang terkena dampak dari peradangan dan pembengkakan, yang berhubungan dengan perdarahan. 

Berikut ini gejala umum yang dapat ditimbulkan penyakit hematoma.

  • Sakit kepala
  • Kebingungan
  • Kejang (terutama pada subdural hematoma)
  • Sakit pada punggung
  • Tidak dapat mengendalikan proses buang air kecil dan buang air besar 
  • Perubahan warna kulit di wajah
  • Hilangnya kuku
  • Nyeri pada dasar kuku
  • Nyeri pada perut atau panggul 

Hematoma merupakan kumpulan darah abnormal di luar pembuluh darah, yang dapat terjadi karena dinding pembuluh darah (arteri, vena atau pembuluh darah kecil yaitu kapiler) rusak, sehingga muncul kebocoran darah ke dalam jaringan, lokasi darah ditemukan.

Seharusnya, darah tidak berada pada jaringan tersebut. Hematoma dapat berukuran sangat kecil, seperti titik darah atau besar. Hematoma berukuran besar dapat menyebabkan pembengkakan yang signifikan.

Darah yang bocor keluar dari pembuluh darah akan mengiritasi jaringan sekitarnya sehingga menyebabkan gejala dari peradangan seperti rasa sakit atau nyeri, bengkak dan kemerahan. 

Trauma merupakan penyebab paling umum dari hematoma. Trauma tidak hanya muncul akibat kecelakaan kendaraan bermotor, terjatuh, cedera kepala, patah tulang dan luka tembak. Namun, trauma pada jaringan dapat pula terjadi karena bersin yang kuat, maupun kaki atau lengan yang terkilir atau terputar secara tidak sengaja.

Ketika pembuluh darah rusak atau cedera, maka darah akan bocor ke jaringan sekitarnya. Darah yang bocor ini akan mengalami pembekuan, sehingga menjadi gumpalan darah. Semakin banyak darah yang bocor ke jaringan, maka semakin besar hematoma yang akan terbentuk. 

Kondisi yang dapat menyebabkan hematoma antara lain:

  • Aneurisma (pembesaran pembuluh darah akibat dindingnya yang lemah)
  • Obat pengencer darah atau obat antikoagulasi seperti warfarin, aspirin, clopidogrel, yang dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan spontan dan menyebabkan hematoma, karena tubuh tidak dapat memperbaiki pembuluh darah secara efisien. Kondisi ini menyebabkan darah terus bocor melalui daerah yang rusak.
  • Penyakit atau kondisi yang dapat menyebabkan penurunan jumlah trombosit, (sel penting dalam pembekuan darah), di dalam aliran darah (trombositopenia), atau mengurangi fungsi dari trombosit seperti pada infeksi virus, anemia aplastik, kanker pada organ tubuh, penyalahgunaan alkohol jangka panjang, dan defisiensi vitamin D.
  • Cedera ortopedik seperti fraktur (patah tulang) biasanya selalu berhubungan dengan hematoma pada lokasi fraktur.  

Jenis-jenis hematoma

Hematoma seringkali dibedakan berdasarkan lokasinya. Sebab, lokasi hematoma menentukan tingkat keparahan serta penanganan yang perlu dilakukan. Hematoma yang paling berbahaya adalah ketika terbentuk di dalam rongga tengkorak, karena tengkorak merupakan suatu wadah tertutup. Sehingga, segala sesuatu yang membutuhkan ruang, akan meningkatkan tekanan di dalam kepala, dan akan berdampak pada kemampuan serta fungsi otak.

  • Hematoma intrakranial:
    Hematoma jenis ini bisa ditemukan di dalam jaringan otak (hematoma intraserebral) atau ruang di antara otak dan tengkorak (hematoma epidural atau subdural). Ketiga jenis hematoma ini memerlukan penanganan medis dengan segera, untuk mencegah terjadinya kerusakan otak secara permanen.
  • Hematoma kulit kepala:
    Hematoma ini terjadi di luar tengkorak, yaitu pada kulit kepala. Hematoma kulit kepala seringkali dirasakan sebagai benjolan pada kulit kepala.
  • Hematoma telinga:
    Hematoma ini timbul karena adanya cedera yang menyebabkan perdarahan pada ruang antara kulit telinga yang tipis, dan tulang rawan telinga. Kondisi ini dikenal sebagai boxer’s ear, wrestler’s ear atau cauliflower ear. 
  • Hematoma pada sekat hidung:
    Kondisi ini mungkin berhubungan dengan hidung yang patah. Jika tidak diketahui dan ditangani, maka tulang rawan pada hidung dapat menjadi rapuh dan menyebabkan perforasi (lubang) pada sekat hidung.
  • Hematoma subungal:
    Hematoma ini disebabkan oleh adanya cedera dari kuku tangan atau kuku kaki. Darah tersebut akan berkumpul di bawah kuku, dan meningkatkan tekanan, sehingga menyebabkan rasa sakit.
  • Hematoma intramuskular:
    Kondisi ini bisa sangat menyakitkan, karena adanya peradangan dan pembengkakan di dalam jaringan otot, dan dapat menyebabkan sindrom kompartemen (kondisi yang terjadi karena meningkatnya tekanan pada kompartemen otot, akibat peradangan sehingga terasa nyeri). Hematoma intramuskular seringkali ditemui pada lengan bawah dan tungkai kaki bawah. Kondisi ini merupakan kondisi darurat medis dan membutuhkan penanganan medis dengan segera, jika dicurigai adanya sindrom kompartemen. 
  • Hematoma subkutan:
    Memar dan lebam pada kulit yang terjadi, akibat cedera pada pembuluh darah di bawah kulit. 
  • Hematoma intra-abdominal:
    Hematoma ini terjadi di dalam rongga perut dan menyebabkan peritonitis (peradangan pada lapisan pelindung rongga perut). 

Hematoma di kulit dan jaringan lunak, seperti pada otot dan sendi, seringkali didiagnosis dari riwayat penyakit, gejala serta pemeriksaan fisik, terutama pada lokasi hematoma. 

Pada pasien yang dicurigai mengalami perdarahan di dalam tubuh dan menyebabkan hematoma yang tidak terlihat, dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan pencitraan seperti foto rontgen polos, diperlukan untuk mendeteksi patah tulang.

Sementara itu, CT scan dibutuhkan apabila dokter mencurigai adanya cedera kepala (hematoma subdural) atau hematoma pada rongga perut. Dokter akan merekomendasikan MRI, untuk hematoma epidural, dan USG pada wanita hamil.

Pemeriksaan penunjang lainnya dapat dilakukan dengan tujuan mencari faktor risiko, seperti melalui pemeriksaan darah lengkap, untuk memeriksa kadar trombosit dalam tubuh, komponen pembekuan darah dan pemeriksaan fungsi hati.  

Pengobatan pada hematoma tergantung dari lokasi, gejala dan kondisi klinis pasien. Beberapa jenis hematoma mungkin tidak memerlukan pengobatan, sedangkan jenis hematoma lainnya merupakan kondisi darurat medis.

Hematoma pada kulit dan jaringan lunak (otot dan sendi) seringkali ditangani dengan metode RICE yaitu rest (beristirahat), ice (menggunakan kompres es 4-8 kali per hari selama 20 menit setiap kalinya), compression (kompresi dengan bebat elastis), dan elevation (meninggikan area yang cedera di atas level jantung).  

Hematoma kecil dan tidak bergejala mungkin tidak memerlukan penanganan medis. Namun, hematoma yang bergejala atau yang berlokasi pada area tertentu, terkadang memerlukan penanganan medis atau pembedahan.

Rasa sakit pada hematoma dapat diatasi dengan obat pereda nyeri yang dijual bebas, seperti ibuprofen atau acetaminophen. Meski demikian, penggunaan obat-obatan ini sebaiknya dikonsultasikan lebih dahulu dengan dokter. Ibuprofen tidak boleh digunakan pada individu yang mengonsumsi obat-obat antikoagulasi. Sementara itu, acetaminophen tidak dianjurkan pada individu dengan penyakit hati. 

Pengobatan untuk hematoma yang melibatkan organ tubuh, tergantung dari organ yang terkena. Gejala dan lokasi dari hematoma secara umum menentukan jenis prosedur yang diperlukan, untuk menentukan urgensi prosedur medis. 

Misalnya hematoma subdural yang mempunyai gejala seperti sakit kepala, kelemahan atau linglung, memerlukan penanganan drainase sesegera mungkin oleh ahli bedah saraf. Namun, apabila tidak menimbulkan gejala dan menahun, maka hematoma ditangani dengan dipantau melalui CT scan.

Jika terdapat penyebab yang mendasari hematoma, atau terdapat faktor ypemicu perdarahan, maka pengobatan merupakan langkah yang diperlukan untuk menangani kondisi ini. 

Apabila Anda pernah mengalami cedera atau kecelakaan, maka kondisi  ini tidak dapat dicegah. Namun, Anda dapat mengurangi risikonya dengan cara menggunakan helm dan sabuk pengaman saat berkendara, serta mengetahui tindakan pencegahan untuk keselamatan kerja di tempat bekerja. 

Selain itu, hindari menyelam ke tempat dengan kedalaman yang tidak Anda ketahui dengan jelas.

Individu, terutama lansia yang mengonsumsi obat antikoagulan, disarankan untuk menghindari kegiatan dengan risiko tinggi terhadap cedera. Individu yang mengonsumsi warfarin (obat pengencer darah) harus memastikan dosis yang dikonsumsi, sesuai dengan instruksi, sehingga darah tidak terlalu encer.

Perawatan medis diperlukan untuk hematoma dengan gejala yang berat atau ukurannya terus bertambah besar. Misalnya, hematoma intrakranial (subdural atau epidural) yang secara umum memerlukan perhatian medis dan bedah, terutama apabila melibatkan gejala neurologis. 

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/hematoma/article.htm
Diakses pada 11 Desember 2018

RxList. https://www.rxlist.com/hematoma/drugs-condition.htm
Diakase pada 11 Desember 2018

Artikel Terkait