Hematoma Subdural

Diterbitkan: 05 Jan 2020 | dr. Reisia Palmina Brahmana
Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Hematoma subdural adalah kumpulan darah di permukaan otak, tepatnya di antara dua lapisan pelindung otak, yakni dura mater dan arachnoid. Karena itu, kondisi ini dikenal juga dengan sebutan perdarahan subdural.

Otak dilapisi oleh tiga lapisan pelindung yang disebut meninges. Jenis lapisan ini dari dari luar ke dalam meliputi dura mater, arachnoid, dan pia mater.

Apabila terjadi perdarahan di antara dura mater dan arachnoid, kondisi ini umumnya berasal dari pecahnya pembuluh darah di otak.

Kumpulan darah tersebut dapat menekan otak dan merusak jaringan. Oleh karena itu, hematoma subdural dapat mengancam jiwa.

Penyakit yang juga dikenal dengan istilah subdural hemorrage ini tergolong penyakit yang sering terjadi, terutama pada orang yang mengalami cedera kepala.

Jenis-jenis hematoma subdural

Berdasarkan waktu kemunculan gejala, hematoma subdural bisa dikelompokkan dalam beberapa jenis di bawah ini:

  • Hematoma subdural akut

Gejala tipe ini segera dialami oleh penderita setelah mengalami cedera otak.

  • Hematoma subdural subakut

Gejala hematoma subdural subakut muncul di antara 4 hingga 21 hari setelah cedera otak terjadi.

  • Hematoma subdural kronis

Pada tipe ini, penderita akan mengalami gejala setidaknya 21 hari setelah mengalami cedera otak. Karena itu, keluhannya sering tidak disadari.

Tidak semua penderita pasti mengalami gejala hematoma subdural yang sama. Perbedaan ini muncul karena jenis keluhan akan dipengaruhi oleh ukuran, lokasi, dan tipe hematoma subdural, usia maupun keadaan penderita, serta kondisi medis lainnya.

Gejala umum

Secara umum, gejala hematoma subdural dapat berupa:

Gejala hematoma subdural pada bayi

Apabila dialami oleh bayi, keluhannya bisa meliputi:

  • Ubun-ubun yang menonjol
  • Gangguan menelan
  • Kejang-kejang
  • Menangis dengan nada tinggi
  • Lingkar kepala yang membesar
  • Mengantuk dan letargi
  • Muntah terus-menerus

Penyebab hematoma subdural yang paling umum adalah cedera kepala. Cedera ini dapat diakibatkan oleh berbagai hal. Mulai dari kecelakaan kendaraan, terjatuh, hingga serangan fisik. Cedera pada kepala akan membuat pembuluh darah di lapisan dura mater merengang kemudian pecah.

Selain cedera, beberapa hal di bawah ini juga diduga dapat meningkatkan risiko hematoma subdural:

  • Obat antikoagulan, seperti warfarin atau aspirin
  • Konsumsi alkohol jangka panjang
  • Kondisi medis yang mengganggu fungsi pembekuan darah, misalnya hemofilia
  • Pengaruh usia, misalnya kalangan lanjut usia (lansia) atau bayi serta anak-anak

Diagnosis hematoma subdural ditentukan oleh dokter berdasarkan tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

Tanya jawab

Dokter akan mengajukan pertanyaan seputar gejala dan faktor risiko yang dialami oleh penderita. Apabila penderita tidak sadarkan diri, dokter akan bertanya pada orang yang mengantar pasien maupun keluarga.

Pemeriksaan fisik

Dokter kemudian memeriksa tubuh penderita dengan tujuan mendeteksi gejala hematoma subdural, seperti ada tidaknya cedera kepala.

Pemeriksaan penunjang

Dokter juga bisa menganjurkan penderita untuk menjalani pemeriksaan penunjang yang meliputi:

  • CT scan

CT scan akan menampilkan gambar bagian dalam tengkorak dengan kombinasi X-ray dan komputer.

  • Magnetic resonance imaging atau MRI

MRI menggunakan gelombang magnetik dan gelombang radio untuk memberikan gambar struktur otak serta jaringan lunak di sekitarnya.

  • Angiography

Pada pemeriksaan ini, dokter memasukkan kateter ke dalam arteri di selangkangan menuju arteri di leher dan otak. Zat pewarna khusus lalu dimasukkan ke dalam arteri.

Aliran darah kemudian diperiksa dengan X-ray. Kondisi abnormal akan tampak pada hasilnya.

Pengobatan hematoma subdural tergantung dari tingkat keparahan perdarahan otak yang terjadi. Berikut penjelasannya:

Hematoma subdural ringan

Pada hematoma subdural dengan gejala ringan, pengobatan mungkin hanya berupa pemantauan kondisi dan pemeriksaan pencitraan yang dilakukan secara berkala. Langkah ini bertujuan memantau perkembangan penyakit dan kondisi penderita.

Hematoma subdural berat

Pada kasus yang parah, diperlukan operasi untuk mengurangi tekanan dalam otak. Beberapa teknik operasi yang umumnya diajurkan meliputi:

  • Burr hole trephination

Dokter akan menggunakan bor khusus untuk membuat lubang pada tulang tengkorang penderita. Darah kemudian disedot keluar melalui lubang tersebut.

  • Craniotomy

Dokter akan mengangkat sedikit tulang tengkorak penderita guna menurunkan tekanan dan membuat akses yang leluasa ke bagian yang mengalami perdarahan. Tulang tengkorak yang diambil kemudian dikembalikan ke posisi semula.

  • Craniectomy

Bagian tengkorak penderita akan diambil sedikit dan dibiarkan terbuka selama beberapa waktu. Prosedur ini bertujuan agar otak yang cedera bisa membengkak tanpa halangan, sehingga tidak berujung pada kerusakan permanen. Namun craniectomy sangat jarang digunakan sebagai penanganan hematoma subdural.

Pencegahan hematoma subdural yang utama adalah dengan menghindari cedera kepala. Anda bisa melakukannya dengan menerapkan langkah-langkah di bawah ini:

  • Selalu menggunakan helm ketika mengendarai motor, sepeda, skateboard, maupun
  • Senantiasa mengenakan sabuk pengaman ketika mengendarai mobil.
  • Selalu memakai peralatan pengaman saat berolahraga atau bila memiliki profesi yang bisa membahayakan nyawa (misalnya, buruh bangunan atau staf pembersih kaca gedung).

Anda harus segera berkonsultasi dengan dokter jika mengalami cedera kepala maupun gejala hematoma subdural. Pasalnya, kondisi-kondisi ini termasuk kondisi gawat darurat medis.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang dialami.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Karena pasien hematomoa subdural bisa saja tidak sadarkan diri, orang yang mengantarkan penderita ke rumah sakit perlu menyiapkan data maupun daftar keluhan yang dialami oleh pasien.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Apakah penderita memiliki faktor risiko terkait hematoma subdural?
  • Apakah penderita rutin mengkonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah penderita sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langka ini penting untuk memastikan diagnosis hematoma subdural serta menentukan penanganan yang sesuai.

Cedars Sinai. https://www.cedars-sinai.org/health-library/diseases-and-conditions/s/subdural-hematoma.html
Diakses pada 03 Januari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/brain/subdural-hematoma-symptoms-causes-treatments#1
Diakses pada 03 Januari 2020

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/1137207-clinical
Diakses pada 03 Januari 2020

Artikel Terkait