Gigi & Mulut

Gusi Turun

29 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gusi Turun
Gusi turun adalah kondisi yang terjadi ketika gusi surut dan terdorong ke arah bawah permukaan gigi. Kondisi ini disebut juga sebagai gingival recession.Gusi atau gingiva itu sendiri adalah jaringan berwarna merah muda yang terdapat di dasar gigi. Terdapat satu gusi untuk setiap set gigi. Beberapa fungsi utamanya adalah sebagai suplai pembuluh darah serta untuk menutup dan melindungi akar gigi.Gusi yang turun dapat membentuk celah antara gigi dan garis gusi, sehingga memperlihatkan lebih banyak bagian gigi. Hal ini juga dapat menyebabkan akar gigi jadi terekspos oleh lingkungan luar dan rentan terhadap bakteri dan plak. Akibatnya, gigi bisa mengalami pembusukan, infeksi,hingga tanggal.Kebanyakan orang biasanya tidak menyadari bahwa gusi mereka sudah turun karena kondisi ini umumnya terjadi secara bertahap. Gejala yang biasanya muncul pertama kali adalah gigi menjadi lebih sensitif dan terlihat lebih panjang dari biasanya.Resesi Gusi adalah kondisi yang umum. Namun, jangan dibiarkan begitu saja. Mengetahui penyebabnya adalah langkah utama untuk mendapatkan perawatan yang tepat guna mencegah komplikasi lebih lanjut.
Sejumlah kondisi  dapat memicu terjadinya gusi turun, beberapa di antaranya adalah:

1. Periodontitis

Periodontitis adalah infeksi serius yang merusak jaringan lunak dan tulang penopang gigi. Infeksi tersebut dapat memicu terciptanya ruang antara gusi dan gigi serta menghilangnya serat ikat di sekitar akar gigi. Hal ini dapat menyebabkan gusi surut dan keropos tulang. Periodontitis merupakan penyebab utama gusi turun.

2. Kebiasaan menyikat gigi terlalu keras

Jika Anda terbiasa menyikat gigi terlalu keras atau menyikat dengan cara yang salah, lapisan terluar gigi yang disebut enamel bisa terkikis dan menyebabkan gusi yang merosot ke bawah permukaan gigi.

3. Kebersihan mulut yang tidak terjaga

Penggunaan sikat gigi, benang gigi, atau obat kumur antibakteri yang tidak memadai, baik itu terlalu sedikit, banyak atau caranya yang salah, dapat menghasilkan plak yang berubah menjadi karang gigi dan memicu munculnya bakteri.Karang gigi dan bakteri yang berada di gigi dalam waktu yang lama dapat memengaruhi gusi dan tulang di sekitar gigi. Hal ini dapat mengakibatkan gusi mengalami radang gusi (gingivitis) atau periodontitis yang menyebabkan turunnya gusi.Di samping itu pembersihan karang gigi yang hanya bisa dibersihkan dengan scaling gigi juga bisa memicu gusi turun.

4. Pola makan

Bakteri yang menyebabkan penyakit periodontal tumbuh subur di lingkungan asam. Oleh karena itu, pola makan yang terlalu banyak makanan dan minuman asam seperti anggur, teh, kopi, jus buah, minuman ringan, roti putih dan sejumlah makanan lainnya dapat menjadi faktor risiko gusi turun.

5. Faktor genetik

Suatu penelitian mengungkapkan bahwa faktor genetik atau keturunan dapat menjadi penyebab gusi turun. Terlepas dari seberapa baik Anda menjaga kebersihan gigi dan pola makan, beberapa orang dengan gen tertentu bisa lebih rentan terkena penyakit gusi.Selain itu, ketebalan jaringan gusi juga merupakan sifat genetik yang diwariskan dari orang tua. Orang yang lahir dengan gusi tipis lebih mungkin mengalami gusi turun akibat kebiasaan sikat gigi atau cedera.

6. Perubahan hormonal

Fluktuasi kadar hormon wanita selama masa hidup wanita, seperti pada masa pubertas, kehamilan, penggunaan kontrasepsi berbasis hormon, serta menopause, dapat membuat gusi lebih sensitif dan lebih rentan terhadap turunnya gusi.Hormon progesterone dan estrogen yang berperan di dalam proses tersebut dapat mempengaruhi pembuluh darah, menyebabkan peradangan di struktur gusi yang mengarah pada kerusakan dan penurunan turun.

7. Erupsi gigi

Erupsi gigi adalah proses tumbuhnya gigi ke atas dari dalam gusi. Normalnya, proses ini terjadi dari pusat kerangka tulang yang melindungi akar gigi. Akan tetapi jika erupsi gigi terjadi di luar rutenya, hal ini bisa mengakibatkan jaringan gusi di sekitar gigi menurun dan menyebabkan tereksposnya akar gigi.

8. Penggunaan tembakau

Pengguna tembakau, baik perokok atau pengguna tembakau kunyah lebih cenderung memiliki plak yang lengket pada gigi mereka. Plak tersebut biasanya sulit dihilangkan dan dapat menyebabkan turunnya gusi.

9. Kebiasaan menggertakkan dan mengatupkan gigi

Menggertakkan atau mengatupkan gigi dapat sangat merusak jaringan pendukung di sekitar gigi yang bisa menyebabkan berbagai penyakit gusi, termasuk gusi turun. Kebanyakan pasien tidak menyadari bahwa mereka memiliki kebiasaan ini karena biasanya terjadi saat tidur.

10. Bentuk gigi yang tidak teratur

Bentuk gigi yang bengkok atau maloklusi yang terjadi ketika gigi tidak tersusun dengan benar, bisa menghasilkan terlalu banyak tekanan pada gusi dan tulang. Hal ini dapat memicu gusi untuk surut dan mengalami gusi turun.

11. Tindik pada bibir atau lidah

Pemasangan tindik pada bibir atau lidah bisa membuat area gusi rentan mengalami iritasi karena kemungkinan adanya gesekan. Jika hal ini terus terjadi, jaringan gusi menjadi aus dan turun.

12. Pemasangan tambal gigi yang buruk

Pemasangan tambalan atau mahkota tiruan gigi (dental crown) yang tidak rata ke permukaan gigi atau berada di bawah garis gusi dapat mengakibatkan terbentuknya celah. Pada celah tersebut, kotoran dapat terperangkap dan menumpuk sehingga menjadi tempat berkembang biaknya bakteri.

13. Efek samping obat-obatan

Banyak obat-obatan seperti obat jantung, antidepresan dan steroid dapat menyebabkan berubahnya lingkungan di rongga mulut sehingga membuat pasien lebih rentan terhadap penyakit gusi.

14. Impaksi gigi bungsu

Impaksi gigi bungsu adalah kondisi ketika gigi bungsu (wisdom teeth) tidak memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh secara normal. Hal ini dapat menyebabkan gigi tumbuh dengan arah yang miring atau tidak muncul dan sepenuhnya tertanam dalam gusi.Kondisi ini dapat menghasilkan tekanan konstan yang bisa memicu berbagai masalah pada gusi, termasuk gusi turun.

15. Kebiasaan bernapas lewat mulut

Pernapasan lewat mulut bisa menyebabkan jaringan gusi mengering sehingga menyebabkan gusi rentan mengalami iritasi dan peradangan.

16. Penyalahgunaan alkohol

Alkohol juga bisa membuat jaringan gusi kering dan memicu iritasi dan peradangan. Selain itu, menurut suatu studi, pecandu alkohol memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit periodontal, kerusakan gigi, dan lesi prakanker. Berbagai kondisi tersebut bisa mengakibatkan gusi turun.

17. Kekurangan vitamin C

Vitamin C membantu tubuh memperbaiki dan memelihara jaringan ikat pada gusi. Kekurangan vitamin C dapat berakibat pada munculnya berbagai masalah pada mulut termasuk gusi turun.

18. Diabetes

Diabetes tipe 1 dan 2 dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya peradangan pada berbagai bagian tubuh, termasuk di gusi. Hal ini kemudian dapat menyebabkan terjadinya resesi gusi.

19. HIV dan AIDS

HIV dan AIDS adalah penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh dan membuat pasien jadi lebih rentan terhadap berbagai gangguan medis lain.Sejumlah penelitian menemukan fakta bahwa pasien dengan kekebalan tubuh yang lemah akibat HIV berisiko mengalami sejumlah penyakit gusi yang parah.

20. Stres kronis

Beberapa orang yang mengalami stres berlebihan cenderung lebih mungkin untuk menggunakan nikotin, alkohol, atau obat-obatan untuk meredakan stresnya (coping mechanism). Berbagai zat tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit gusi, termasuk gusi turun.Stres menyebabkan tubuh mengeluarkan kortisol, yakni hormon stres. Sebuah riset mengungkapkan bahwa peningkatan kortisol dalam jaringan mulut dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan gusi dan tulang pendukung di sekitar gigi.Stres kronis juga bisa memengaruhi sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuannya untuk melawan penyakit, termasuk infeksi pada gusi yang memicu gusi turun.Di samping itu, beberapa orang yang mengalami stres berlebihan cenderung lebih mungkin untuk menggunakan nikotin, alkohol, atau obat-obatan untuk meredakan stresnya (coping mechanism). Berbagai zat tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit gusi, termasuk gusi turun.

21. Penyakit lainnya

Banyak kondisi medis lainnya yang bisa meningkatkan perkembangan penyakit gusi. Misalnya penyakit pernapasan, penyakit jantungradang sendi dan osteoporosis
Pemeriksaan gigi harus dilakukan secara rutin setiap 6 bulan sekali. Namun, jika Anda menemukan gejala gusi turun sebelum waktu pemeriksaan rutin, segera buat janji dengan dokter gigi. Semakin cepat Anda melakukan perawatan, maka akan semakin besar peluang Anda untuk mengobati gusi turun.
International Journal of Health Science. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5426403/#ref24
Diakses pada 23 September 2021

Nature. https://www.nature.com/articles/sj.bdj.2011.764
Diakses pada 23 September 2021

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312992#Prevention
Diakses pada 23 September 2021

Healthline. https://www.healthline.com/health/dental-oral-health-receding-gums#
Diakses pada 23 September 2021

Oral & Implantology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5516423/
Diakses pada 23 September 2021
https://www.kevinconnellydmd.com/periodontal-disease-and-treatment
Web MD. https://www.webmd.com/oral-health/guide/receding_gums_causes-treatments#1-2
Diakses pada 23 September 2021

Journal of Clinical & Diagnostic Research. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5535480/
Diakses pada 23 September 2021
Contemporary Clinical Dentistry. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6169263/
Diakses pada 23 September 2021

Oral Surgery, Oral Medicine, Oral Pathology. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/003042209290186T
Diakses pada 23 September 2021
American Dental Association. http://www.ada.org/en/~/media/ADA/Publications/Files/ADA_PatientSmart_Gum_Recession
Diakses pada 23 September 2021
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email