Graft versus host disease atau GvHD adalah suatu kondisi yang mungkin terjadi setelah seseorang menjalani transplantasi organ yang berasal dari orang lain. Contohnya, transplantasi sel punca (stem cell) dari pendonor yang memiliki hubungan kerabat dekat maupun jauh.

Apabila pendonor dan penerima tidak mempunyai hubungan darah sama sekali, risiko GvHD akan lebih tinggi.

Transplantasi sel punca merupakan terapi umum untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker darah dan kanker kelenjar getah bening, serta kondisi medis tertentu yang berkaitan dengan darah atau sistem kekebalan tubuh.

Graft versus host disease termasuk komplikasi pascatransplantasi organ yang cukup sering terjadi. Diperkirakan ada sekitar 4 kasus gangguan ini di antara 5 orang yang telah menjalani transplantasi organ.  

Terdapat 2 jenis spectrum GvHD, yaitu tipe akut dan kronis. Tipe yang akut terjadi dalam 100 hari setelah seseorang menjalani transplantasi, sedangkan tipe kronis terjadi pada lebih dari 100 hari pascatransplantasi.

Gejala graft versus host disease dapat bermacam-macam karena gangguan medis ini menyerang banyak sistem atau organ tubuh. Biasanya, organ yang mengalami masalah adalah kullit, sistem pencernaan, atau hati.

Gejala awal

Pada tahap awal, GvHD bisa memicu ruam-ruam gatal pada telapak tangan dan tumit kaki, serta mual muntah atau diare.

Gejala GvHD akut

  • Nyeri perut
  • Penurunan nafsu makan
  • Penumpukan zat buangan pada hati, sehingga membuat kulit dan bagian putih mata penderita menjadi kuning
  • Kadar sel darah merah atau sel trombosit yang rendah
  • Demam

Gejala GvHD kronis

  • Mata kering dan sering mengalami iritasi
  • Mata yang lebih sensitif terhadap cahaya (fotofobia)
  • Nyeri sendi
  • Mulut dan dan kerongkongan yang kering, sehingga dapat menyebabkan terbentuknya luka
  • Penebalan kulit
  • Warna kulit menjadi lebih gelap
  • Kuku yang rapuh
  • Rambut rontok
  • Sering mengalami mengi, yakni bunyi ‘ngik’ pada tiap tarikan napas
  • Batuk-batuk yang tak kunjung sembuh
  • Vagina yang kering dan sering mengalami iritasi

Proses terjadinya graft versus host disease merupakan hal yang  kompleks untuk dimengerti. Kondisi ini muncul akibat interaksi sel imun pendonor dengan sel imun penerima.

Sel-sel donor akan menyerang sel-sel tubuh penerima yang sehat layaknya bakteri atau virus, sehingga memicu gejala. Risiko GvHD akan karena faktor-faktor di bawah ini:

  • Pemberi dan penerima donor tidak memiliki hubungan darah yang dekat
  • Anda menjalani transplantasi sel punca
  • Pendonor atau penerima yang sudah tua
  • Pendonor dan penerima memiliki jenis kelamin yang berbeda
  • Pendonor pernah hamil

Diagnosis graft versus host disease akan ditentukan oleh dokter berdasarkan tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

  • Tanya jawab

Dokter akan memulai pemeriksaan dengan menanyakan tentang gejala dialami oleh pasien. Dokter juga akan menanyakan riwayat operasi maupun transplantasi pasien.

  • Pemeriksaan fisik

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada sistem organ yang mengalami masalah akibat graft versus host disease. Misalnnya, pada kulit, sistem pencernaan, serta hati.

  • Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang yang bisa disarankan untuk memastikan diagnosis graft versus host disease meliputi:

  • Tes darah untuk menghitung jumlah sel darah, kondisi kimiawi darah, dan melihat fungsi hati.
  • Biopsi (pengambilan sedikit sampel jaringan) untuk diperiksa di bawah mikroskop.

Penanganan graft versus host disease bisa bermacam-macam. Mari simak penjelasannya di bawah ini:

Obat penekan sistem imun

Nama medis obat penekan sistem imun adalah imunosupresan, yang merupakan penanganan GvHD yang utama. Jenis obat ini terdiri dari:

Obat kortikosteroid

Prednisolone atau methylprednisolone merupakan contoh kortikosteroid yang bisa diresepkan oleh dokter.

Imunosupresan jenis lain

Selain kortikosteroid, obat imunosupresan lain yang dapat digunakan sebagai terapi pengobatan graft versus host disease meliputi antithymocyte globulin, sirolimus, tacrolimus, denileukin diftitox, daclizumab, infliximab, micofenolat mofetil, etanercept, pentostatin , serta thalidomide.

Karena berfungsi menurunkan sistem imun, risiko Anda untuk terkena penyakit lain ketika mengonsumsi obat imunosupresan tentu akan meningkat. Misalnya, infeksi bakteri dan jamur.

Extracorporeal photophoresis

Extracorporeal photophoresis (ECP) adalah terapi yang melibatkan kombinasi leukoferesis dan terapi fotodinamik.

Darah pasien akan diambil kemudian diberi paparan sensitizing agent diikuti dengan radiasi ultraviolet. Setelah itu, darah tersebut kembali dimasukkan ke tubuh pasien melalui infus.

Penanganan lainnya

Untuk meringankan gejala spesifik yang Anda alami, dokter juga bisa menganjurkan langkah-langkah di bawah ini:

  • Penggunaan krim steroid diberikan bila Anda mengalami ruam-ruam yang terasa gatal.
  • Menjaga kulit Anda agar tetap lembap dan tidak terkena sinar matahari secara langsung.
  • Bagi Anda yang mengalami diare, komplikasi berupa dehidrasi bisa terjadi. Karena itu, pada kasus dehidrasi yang berat, Anda mungkin perlu rawat inap di rumah sakit untuk menerima cairan melalui infus.
  • Pemberian obat kumur khusus untuk membersihkan mulut dan menjaganya agar tetap lembap.
  • Penggunaan tetes mata berisi air mata buatan atau obat steroid untuk mencegah mata kering dan iritasi.

Kemajuan dalam teknologi transplantasi organ telah banyak menurunkan kejadian graft versus host disease, termasuk teknik khusus untuk menentukan apakah sel pendonor merupakan sel yang cocok untuk ditransplantasikan ke penerima.

Menggunakan darah tali pusat penderita sendiri sebagai sumber donor sel punca juga dapat mengurangi risiko graft versus host disease.

Namun orangtua perlu menyimpan tali pusat bayi di fasilitas khusus ketika bayi lahir. Saat ini, cukup banyak fasilitas kesehatan yang menyediakan jasa penyimpanan tali pusat. Suatu saat ketika dibutuhkan, sel dari tali pusat dapat digunakan.

Segeralah berkonsultasi ke dokter bila Anda mengalami gejala graft versus host disease setelah menjalani transplantasi organ.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang dialami?
  • Sejak kapan gejala tersebut muncul?
  • Apakah penerima donor pernah menjalani transplantasi organ atau sel punca, maupun transfusi darah?
  • Apakah pendonor memiliki hubungan kerabat dekat dengan penerima?
  • Apa saja penyakit yang sedang atau pernah dialami?
  • Apa saja obat-obatan yang rutin dikonsumsi?

Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan serangkaian pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis graft versus host disease.

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/10255-graft-vs-host-disease-an-overview-in-bone-marrow-transplant
Diakses pada 30 Desember 2019

Medicinet. https://www.medicinenet.com/graft_versus_host_disease_gvhd/article.htm#is_it_possible_to_prevent_gvhd
Diakses pada 30 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/cancer/multiple-myeloma/graft-versus-host-disease#1
Diakses pada 30 Desember 2019

Artikel Terkait