Penyakit Lainnya

Glomerulonefritis

05 May 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Glomerulonefritis
Glomerulonefritis adalah penyakit radang di glomerulus yang ada pada ginjal.
Glomerulonefritis adalah peradangan glomerulus, yang merupakan struktur pada ginjal yang terdiri dari pembuluh darah kecil. Struktur ini membantu menyaring darah dan membuang cairan berlebih. Jika glomerulus rusak, ginjal akan berhenti berfungsi dengan baik dan terjadi gagal ginjal.Hal ini dapat terjadi karena sistem kekebalan tubuh yang justru menyerang jaringan tubuh yang sehat. Glomerulonefritis (GN) atau yang kadang dikenal dengan nefritis merupakan salah satu jenis penyakit serius, jika tidak ditangani dengan segera dapat mengancam jiwa.Glomerulonefritis dapat bersifat akut atau mendadak dan dan kronis atau jangka waktu yang lama. Kondisi ini dahulu disebut dengan Bright’s disease. Glomerulonefritis kadang tidak menimbulkan gejala apapun. 
Glomerulonefritis
Dokter spesialis Ginjal
GejalaBengkak di wajah pada pagi hari, urine kecoklatan atau berdarah, buang air kecil lebih jarang
Faktor risikoRadang tenggorokan, lupus
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik, tes urine
PengobatanObat-obatan
ObatACE inhibitor
KomplikasiGagal ginjal, hipertensi, gagal jantung
Kapan harus ke dokter?Melihat darah dalam urine
Tanda dan gejala glomerulonefritis yang berat adalah adanya darah dalam urine merupakan gejala glomerulonefritis yang berat. Urine dapat berbusa jika mengandung sejumlah besar protein. Hal ini dapat didiagnosis melalui tes uji sampel urine.Selain itu, tanda dan gejala glomerulonefritis bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis dan tingkat keparahannya.

Gejala glomerulonefritis akut

Pada glomerulonefritis akut, gejala awal yang terjadi adalah:
  • Bengkak pada wajah
  • Darah di dalam urine (urine berwarna kecoklatan)
  • Buang air kecil lebih jarang dari biasanya
  • Batuk karena adanya cairan didalam paru–paru
  • Tekanan darah tinggi

Gejala glomerulonefritis kronis

Glomerulonefritis kronis sering tidak bergejala dalam perkembangannya. Gejala awal dari glomerulonefritis kronis, diantaranya adalah:
  • Terdapat darah dalam urine
  • Urine yang berbusa karena terdapat banyaknya protein
  • Tekanan darah tinggi
  • Retensi cairan atau edema dengan pembengkakan yang jelas di wajah, tangan, kaki, atau perut
  • Sering buang air kecil terutama pada malam hari
  • Mimisan
 
Penyebab glomerulonefritis bergantung pada apakah itu akut atau kronis. Glomerulonefritis seringkali disebabkan karena terdapat gangguan pada sistem kekebalan tubuh.

Penyebab glomerulonefritis akut

Glomerulonefritis akut dapat terjadi akibat respons terhadap infeksi seperti radang tenggorokan atau abses gigi. Hal ini terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap infeksi.Glomerulonefritis jenis ini dapat hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Namun, jika tidak berangsur membaik, diperlukan pengobatan segera untuk mencegah kerusakan jangka panjang pada ginjal.

Penyebab glomerulonefritis kronis

Bentuk kronis glomerulonefritis dapat berkembang selama beberapa tahun tanpa gejala apapun atau hanya terdapat sedikit gejala. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan permanen pada ginjal dan akhirnya menyebabkan gagal ginjal. Glomerulonefritis kronis tidak selalu memiliki penyebab yang jelas.Penyakit genetik dapat menyebabkan glomerulonefritis. Hereditary Nephritis terjadi pada laki–laki muda dengan pendengaran serta penglihatan yang buruk. Penyebab lain yang mungkin termasuk, diantaranya adalah:
  • Penyakit autoimun tertentu
  • Riwayat kanker
  • Paparan terhadap beberapa pelarut hidrokarbon
Selain itu, dengan memiliki bentuk akut glomerulonefritis dapat menyebabkan penyakit berkembang menjadi glomerulonefritis kronis di kemudian hari.

Glomerulonefritis poststreptokokus

Glomerulonefritis poststreptokokus (GN) adalah kelainan ginjal yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptokokus. Infeksi ini tidak terjadi di ginjal, tetapi di bagian tubuh lain, seperti kulit atau tenggorokan. 

Faktor risiko glomerulonefritis

Faktor risiko yang dapat memicu glomerulonefritis, yaitu:
  • Radang tenggorokan yang disebabkan oleh streptococcus
  • Systemic Lupus Erythematosus atau lupus
  • Sindrom Goodpasture atau penyakit autoimun langka di mana antibodi menyerang ginjal dan paru-paru
  • Amyloidosis atau kondisi yang terjadi ketika protein abnormal dan dapat menyebabkan penumpukkan kerusakan pada organ dan jaringan
  • Granulomatosis dengan polyangiitis (Wegener’s Granulomatosis) yang merupakan penyakit langka yang menyebabkan peradangan pembuluh darah
  • Polyarteritis nodosa atau penyakit dimana sel-sel menyerang pembuluh darah arteri
Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid yang berat, seperti ibuprofen dan naproxen juga dapat meningkatkan risiko terkena glomerulonefritis. 
Diagnosis glomerulonefritis dilakukan dengan cara melakukan tes urinalisis. Darah dan protein dalam urine adalah penanda penting untuk penyakit glomerulonefritis. Pemeriksaan fisik rutin untuk kondisi lain juga dapat mengarah pada penemuan glomerulonefritis.Selain itu, diagnosis glomerulonefritis juga bisa dilakukan dengan melakukan beberapa tes berikut ini:

Tes urine

Tes urine lebih lanjut mungkin diperlukan untuk memeriksa tanda-tanda penting kesehatan ginjal, seperti:
  • Total protein dalam urine
  • Konsentrasi urine
  • Berat jenis urine
  • Sel darah merah urine
  • Osmolalitas urine
  • Bersihan kreatinin

Tes darah

Tes darah berguna untuk membatu dokter mengidentifikasi:
  • Anemia yang menandakan rendahnya kadar sel darah merah
  • Kadar albumin abnormal
  • Nitrogen urea darah abnormal
  • Tingginya kadar kreatinin

Tes imunologi

Tes darah berguna untuk membantu dokter memeriksa:
  • Antibodi membran basal anti-glomerular
  • Antibodi sitoplasma anti neutrofil
  • Antibodi anti-nuklear
  • Kadar complement
Hasil dari pemeriksaan ini dapat menunjukkan sistem kekebalan tubuh yang merusak ginjal.

Biopsi ginjal 

Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil sedikit sampel dari jaringan ginjal untuk diperiksa di laboratorium.

Pencitraan

Tes lain yang dapat dilakukan dokter, diantaranya adalah:
  • CT scan
  • USG ginjal
  • Rontgen dada
  • Pyelogram intravena
 
Cara mengobati glomerulonefritis tergantung pada jenis glomerulonefritis yang dialami dan penyebabnya.Glomerulonefritis akut dan ringan biasanya tidak selalu memerlukan pengobatan dan dapat sembuh dengan sendirinya.
  • Perubahan pola makan

Dalam kasus ringan, dokter akan memberikan saran diet, seperti mengurangi makanan yang banyak mengandung garam, mengurangi konsumsi makanan dan minuman yang mengandung jumlah potasium yang tinggi, serta mengurangi asupan cairan. Dengan melakukan perubahan ini, dapat membantu mengontrol tekanan darah dan memastikan jumlah cairan didalam tubuh dapat diregulasi dengan baik.
  • Berhenti merokok

Merokok dapat menyebabkan penyakit ginjal yang disebabkan oleh glomerulonefritis memburuk dengan cepat.
  • Menekan sistem kekebalan tubuh

Glomerulonefritis berat yang disebabkan oleh masalah dengan sistem kekebalan tubuh, terkadang diobati dengan imunosupresan yang berfungsi untuk menekan sistem kekebalan tubuh. Imunosupresan diantaranya adalah kortikosteroid, siklofosfamid, serta imunosupresan lainnya.Penderita darah tinggi perlu minum obat yang menurunkan tekanan darah yang membantu mengurangi jumlah protein yang bocor ke dalam urine, seperti angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor atau angiotensin receptor blockers (ARB).
  • Obat-obatan lain

Jika kondisi disebabkan oleh infeksi virus, dokter akan merekomendasikan obat antiviral, pemberian antibiotik jika disebabkan oleh infeksi bakteri.Obat yang biasanya digunakan untuk mengobati glomerulonefritis kronis termasuk angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor, diuretik, penghambat saluran kalsium, penghambat beta-adrenergik, dan agonis alfa-adrenergik.
  • Mengobati kolesterol tinggi

Kadar kolesterol tinggi merupakan kondisi yang umum ditemui pada orang dengan glomerulonefritis.Dokter akan merekomendasikan obat untuk mengurangi kolesterol dan membantu melindungi komplikasi penyakit lain seperti penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah. Obat golongan statin adalah obat yang paling sering digunakan.
  • Plasma exchange (pertukaran plasma) 

Plasma merupakan cairan yang merupakan bagian dari darah, dan mengandung protein, seperti antibodi yang menyebabkan ginjal meradang. Pertukaran plasma melibatkan menyingkirkan sebagian plasma dari dalam darah.Plasma tersebut dipisahkan dan dikeluarkan dari darah. Lalu substitusi plasma ditambahkan kedalam darah sebelum dikembalikan kedalam tubuh. Pengobatan ini menggunakan mesin khusus, dan biasanya dilakukan pada kondisi glomerulonefritis berat.
  • Mengobati penyakit ginjal kronis atau gagal ginjal

Pengobatan ini dikhususkan untuk kasus-kasus berat yang tidak dapat diperbaiki dengan perawatan lain, Seperti dialisis ginjal dan transplantasi ginjal.
  • Mengobati tekanan darah tinggi

Glomerulonefritis sering menyebabkan tekanan darah tinggi yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal lebih lanjut dan masalah kesehatan lainnya.Penderita darah tinggi perlu minum obat yang menurunkan tekanan darah yang membantu mengurangi jumlah protein yang bocor ke dalam urine, seperti ACE inhibitor atau angiotensin receptor blockers (ARB).
  • Vaksinasi 

Seseorang dengan glomerulonefritis dapat lebih rentan terhadap infeksi, terutama jika memiliki sindrom nefrotik atau penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, sebaiknya melindungi diri terhadap infeksi dengan vaksin flu dan pneumonia. 

Komplikasi glomerulonefritis

Jika tidak ditangani dengan optimal, dapat menyebabkan komplikasi glomerulonefritis:
  • Gagal jantung
  • Hipertensi
  • Gagal ginjal yang disertai dengan gejala, hilangnya nafsu makan, mual muntah, kelelahan, kesulitan untuk tidur, kulit kering, gatal, dan kram otot pada malam hari
 
Tidak ada cara yang efektif untuk mencegah sebagian besar bentuk glomerulonefritis. Namun, beberapa langkah di bawah dapat dilakukan:
  • Konsumsi makanan sehat.
  • Kelola tekanan darah tinggi dengan diet rendah garam, olahraga, dan pengobatan.
  • Cegah infeksi dengan mempraktikkan kebersihan yang baik dan seks yang aman. Hindari juga penggunaan jarum untuk obat-obatan terlarang dan tato.
  • Temui penyedia layanan kesehatan kapan pun Anda merasa mengalami infeksi seperti radang tenggorokan.
 
Temui dokter jika Anda melihat darah dalam urine. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan jika mencurigai adanya glomerulonefritis, seperti:
  • Tes darah untuk mengukur kadar kreatinin. Jika ginjal tidak bekerja dengan baik, kadar kreatinin pada darah akan meningkat dan glomerular filtration rate (laju filtrasi glomerulus) akan menurun.
  • Tes urine untuk memeriksa darah atau protein dalam urine
 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait glomerulonefritis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis glomerulonefritis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/glomerulonephritis
Diakses pada 6 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/glomerulonephritis/
Diakses pada 6 Desember 2018
Cleveland clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16167-glomerulonephritis-gn
Diakses pada 5 Mei 2021
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/239392-medication
Diakses pada 5 Mei 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email