Mata

Glaukoma Kongenital Primer

Diterbitkan: 21 Apr 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Glaukoma Kongenital Primer
Glaukoma kongenital primer tidak dapat dicegah karena terjadi atas faktor genetik
Glaukoma kongenital primer adalah salah satu jenis glaukoma atau gangguan penglihatan akibat tekanan cairan mata pada saraf optik. Kata primer berarti penyakit ini tidak disebabkan oleh penyakit lain, sementara kata kongenital berarti penyakit ini terjadi sejak lahir. Maka dari itu, glaucoma kongenital primer adalah jenis glaucoma yang dialami oleh bayi.Glaukoma kongenital primer ditandai dengan adanya tekanan intraokular dan peregangan sklera (bagian putih mata) sehingga menyebabkan bola mata membesar. Selain itu, kondisi ini juga bisa mengakibatkan penglihatan yang terganggu.Dokter umumnya dapat mendeteksi penderita glaukoma kongenital primer pada saat kelahiran atau ketika berusia 3-6 bulan. Hanya saja apabila penderita tidak menunjukkan gejala, ada kemungkinan baru terdiagnosis saat usia maksimal 3 tahun.Glaukoma kongenital primer adalah kondisi langka, di mana kasusnya hanya terjadi pada satu dari setiap 10.000 bayi yang lahir. Meski begitu, glaukoma kongenital primer merupakan kondisi serius yang perlu segera mendapat penanganan.Pasalnya, jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan. Sebaliknya, bila penyakit ini terdeteksi sejak dini dan segera ditangani dengan tepat, 80-90 persen pengidapnya tidak akan mengalami komplikasi lebih lanjut.
Glaukoma Kongenital Primer
Dokter spesialis Mata
GejalaMata berair secara berlebihan, sensitif terhadap cahaya, kelopak mata kejang
Faktor risikoGenetik
Metode diagnosisFiksasi bola mata, refraksi bola mata, tonometri, pengukuran bola mata, gonioskopi, oftalmoskopi
PengobatanTindakan operasi goniotomi atau trabekulektomi
KomplikasiKebutaan permanen
Kapan harus ke dokter?Bila ada riwayat glaukoma di keluarga, atau terdapat gejala pada anak
Glaukoma kongenital primer bisa memicu berbagai gejala pada penderita. Berikut penjelasannya:

Gejala utama

Tiga gejala di bawah ini menjadi gejala glaukoma kongenital primer yang khas pada bayi atau anak-anak yang mengalaminya:
  • Penglihatan terganggu atau sensitif terhadap cahaya (photophobia)
  • Mata berair berlebihan (epiphora)
  • Terjadi spasme atau kejang pada kelopak mata (blepharospasm)

Gejala lainnya

Gejala-gejala lanjutan dapat dialami penderita apabila glaukoma kongenital primer semakin parah, yakni:
  • Bola mata membesar
  • Selaput bening mata menjadi keruh atau berwarna putih keabu-abuan
  • Fungsi penglihatan menurun
  • Lapang pandang mata menjadi lebih sempit, sehingga anak sering tidak melihat sesuatu atau sering menabrak.
Di dalam mata yang sehat, terdapat cairan yang disebut aqueous humor yang berfungsi untuk memberikan nutrisi pada mata dan menjaga kondisi mata. Cairan tersebut tersirkulasi dalam mata, lalu keluar melalui jaringan trabekula ke aliran darah. Mata akan terus menghasilkan cairan aqueous humor secara konstan untuk menggantikan cairan yang telah keluar.Pada penderita glaukoma kongenital primer, terdapat kelainan dalam drainase cairan mata, sehingga sirkulasi cairan mata menjadi terganggu. Kondisi ini menyebabkan penumpukan karena mata terus menghasilkan cairan tanpa bisa keluar. Penumpukkan cairan ini dapat meningkatkan tekanan dalam bola mata.Apabila tekanan tersebut terus menerus meningkat, saraf optik mata akan semakin tertekan dan rusak. Bila terus dibiarkan, rusaknya saraf optik dapat menyebabkan kebutaan.Penyebab di balik gangguan drainase cairan mata saat bayi lahir masih belum diketahui dengan pasti. Pada beberapa kasus, salah satu pemicunya adalah faktor genetik, yakni diturunkan dari orangtua ke anak. Dalam faktor ini, bayi atau anak dari orangtua yang memiliki riwayat mengalami glaukoma kongenital primer memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.Meski demikian, ada juga kondisi yang terjadi secara sporadis, yakni begitu saja tanpa peranan faktor keturunan. Selain itu, bayi dan anak laki-laki lebih berisiko mengalami glaukoma kongenital primer dibandingkan anak perempuan.Baca juga: Apakah Glaukoma Bisa Disembuhkan? Ketahui Fakta Sebenarnya
Dokter akan memulai pemeriksaan dengan menanyakan seputar gejala yang dialami oleh anak, riwayat kelahirannya, riwayat tumbuh kembangnya, serta riwayat medis glaukoma atau penyakit mata lainnya dalam keluarga.Pemeriksaan yang dilakukan tergantung dari usia anak dan tingkat kooperatif anak. Pada bayi, pemeriksaan paling baik dilakukan ketika bayi sedang santai atau mengantuk, seperti setelah bayi menyusuUntuk memastikan diagnosis glaukoma kongenital primer, pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter umumnya meliputi:
  • Fungsi fiksasi bola mata

Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggerakkan benda di depan mata bayi untuk mengevaluasi pergerakan bola matanya dalam mengikuti gerakan benda.
  • Refraksi atau ketajaman penglihatan

Pemeriksaan ini bertujuan mengevaluasi ada tidaknya rabun dekat dan mata silinder (astigmatisme). Pasalnya, pengidap glaukoma kongenital primer juga dapat mengalami rabun jauh akibat peningkatan panjang bola mata dan mata silinder akibat perlukaan atau pembengkakan pada selaput bening mata (kornea)
  • Tonometri

Tonometri dilakukan untuk mengevaluasi tekanan bola mata.
  • Pengukuran diameter kornea

Diameter kornea diukur menggunakan kaliper, sementara panjang bola mata diukur dengan A-scan ultrasound. 
  • Evaluasi jaringan trabekula

Mengevaluasi jaringan trabekula secara langsung dapat dilakukan dengan gonioskopi. Pada pemeriksaan ini, anak akan diminta menggunakan lensa kontak khusus. Dokter lalu menilai apakah sudut jaringan trabekula terbuka, sempit, atau tertutup. 
  • Oftalmoskopi

Oftalmoskopi berfungsi memeriksa kondisi saraf mata. Dokter akan memberikan obat tetes mata untuk melebarkan pupil mata agar nantinya bisa melihat saraf mata dengan lebih baik. Pemeriksaan mata umumnya dilakukan di klinik mata. Namun dokter mata biasanya membutuhkan pemeriksaan yang lebih komprehensif dan ini hanya bisa dilakukan jika anak mau kooperatif. Tidak jarang dokter perlu melakukan pemeriksaan mata anak yang menyeluruh di ruang operasi menggunakan bius umum. Langkah ini juga bisa saja dilakukan bersamaan dengan tindakan operasi tertentu.Baca juga: Prosedur Pemeriksaan Bayi Baru Lahir, Apa Saja?
Penanganan glaukoma kongenital primer yang utama adalah melalui operasi. Sebelum tindakan dilakukan, dokter akan menurunkan tekanan dalam bola mata terlebih dahulu menggunakan obat tetes mata.Operasi yang paling sering dilakukan untuk menangani glaukoma kongenital primer adalah goniotomi. Hanya saja, bila kornea terlalu berkabut atau keruh, tindakan trabekulektomi akan menjadi pilihan.Pada kedua operasi tersebut, dokter mata akan membuat sayatan kecil di jaringan trabekula. Langkah ini bertujuan untuk menghilangkan sumbatan cairan mata. Goniotomi dan trabekulektomi sama-sama memiliki angka keberhasilan yang besar, yaitu 80 persen. Meskipun demikian, kontrol rutin ke dokter mata setelah operasi tetap penting untuk mendeteksi ada tidaknya komplikasi serius. Komplikasi yang terjadi bisa meliputi:
  • Penumpukan darah di bilik depan mata (hifema)
  • Infeksi
  • Kerusakan lensa
  • Peradangan pada uvea mata (uveitis
  • Pembengkakan bagian dalam mata
  • Tekanan dalam mata yang terlalu rendah
Baca jawaban dokter: Pertolongan Pertama Pada Mata Kiri Anak yang Bengkak, Seperti Apa?
Glaukoma kongenital primer tidak dapat dicegah karena sebagian besar penyebabnya adalah faktor genetik. Namun Anda dapat mencegah komplikasi yang lebih serius bagi penglihatan anak Anda dengan mendeteksinya sejak dini, sehingga bisa segera dilakukan penanganan.
Segeralah bawa anak Anda ke dokter mata bila ia menunjukkan gejala-gejala glaukoma maupun gangguan penglihatan yang mencurigakan. Ada baiknya berkonsultasi dengan dokter juga bila ada riwayat glaukoma kongenital primer dalam keluarga Anda.
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dialami oleh penderita.
  • Catat apa saja riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami oleh penderita, demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:
  • Apa saja gejala yang dialami?
  • Sejak kapan gejala tersebut muncul?
  • Bagaimana riwayat tumbuh kembang penderita? Apakah sesuai dengan anak seusianya?
  • Apakah terdapat riwayat glaukoma atau penyakit mata lain dalam keluarga?
  • Apa penderita pernah menjalani pengobatan? Bila iya, apa penanganan yang sudah diperoleh dan bagaimana efektivitasnya?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang untuk memastikan diagnosis glaukoma kongenital primer. Dengan ini, pengobatan yang sesuai pun bisa diberikan.
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK1135/
Diakses pada 20 April 2021
eMedicine Health. https://www.emedicinehealth.com/primary_congenital_glaucoma/article_em.htm#
Diakses pada 6 Januari 2020
WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/primary-congenital-glaucoma#1
Diakses pada 6 Januari 2020
Eyewiki. https://eyewiki.aao.org/Primary_Congenital_Glaucoma#
Diakses pada 20 April 2021
Hindawi. https://www.hindawi.com/journals/joph/2013/612708/
Diakses pada 20 April 2021
American Journal of Medical Genetics. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1002/ajmg.a.61296
Diakses pada 20 April 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email