Glaukoma

Ditinjau dr. Miranda Rachellina
Glaukoma adalah dimana mata bagian depan tinggi dan menyebabkan rusaknya saraf optik mata
Meningkatnya tekanan pada bola mata dapat menyebabkan kerusakan pada saraf optik mata dan kehilangan penglihatan

Pengertian Glaukoma

Glaukoma adalah kondisi di mana tekanan dalam mata bagian depan tinggi dan menyebabkan rusaknya saraf optik mata. Kehilangan penglihatan karena glaukoma tidak dapat dipulihkan. Jadi penting untuk melakukan pemeriksaan mata secara teratur, termasuk pengukuran tekanan mata Anda. Jika glaukoma terdeteksi sejak dini, kehilangan penglihatan dapat diperlambat atau dicegah. Jika seseorang sudah mengidap glaukoma, biasanya penderita memerlukan perawatan seumur hidup.

Ada beberapa tipe glaukoma yaitu glaukoma sudut terbuka, glaukoma sudut tertutup, glaukoma tekanan normal, glaukoma pada anak-anak, dan glaukoma pigmentary.

Menurut data terakhir dari WHO, jumlah orang yang diperkirakan buta akibat glaukoma adalah 4,5 juta, terhitung sedikit lebih dari 12% dari semua kebutaan global. Data statistik WHO menunjukkan bahwa glaukoma sekarang menjadi penyebab utama kedua kebutaan global setelah katarak. Penderita glaukoma di Indonesia berdasarkan Riskedas 2007 adalah 4,6 per 1.000 penduduk.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala glaukoma antara lain adalah:

  • Sakit kepala (pada sisi yang sama dengan mata yang sakit)
  • Nyeri pada mata
  • Mual dan muntah
  • Penglihatan kabur
  • Mata memerah
  • Penglihatan semakin menyempit hingga akhirnya tidak dapat melihat objek sama sekali
  • Melihat bayangan lingkaran (halo) di sekeliling sumber cahaya

Penyebab

Pada glaukoma terdapat peningkatan tekanan bola mata yang mengakibatkan kerusakan saraf optik mata. Tekanan mata yang meningkat disebabkan oleh penumpukan cairan (aqueous humor) yang mengalir ke seluruh mata. Cairan ini biasanya mengalir ke depan mata (bilik anterior) melalui jaringan (trabecular meshwork) pada sudut di mana iris dan kornea mata bertemu. Ketika cairan diproduksi berlebihan atau sistem drainase tidak berfungsi dengan baik, cairan tidak dapat mengalir keluar pada tingkat normal dan terjadi peningkatan tekanan. Glaukoma dapat juga diturunkan dalam keluarga. Pada beberapa orang, para ilmuwan telah mengidentifikasi gen yang berkaitan dengan tekanan mata yang tinggi dan kerusakan saraf optik.

Diagnosis

Dokter akan memberikan obat tetes mata yang dapat melebarkan pupil mata. Lalu dokter akan menguji penglihatan anda dan memeriksa mata anda. Dia akan memeriksa saraf optik mata. Dokter juga akan melakukan tes yang disebut tonometri untuk memeriksa tekanan mata Anda, serta pemeriksaan lapang pandang. Tes glaukoma tidak menimbulkan rasa sakit dan hanya membutuhkan sedikit waktu.

Pengobatan

Deteksi dini glaukoma dapat memperlambat atau mencegah hilangnya penglihatan. Tujuan pengobatan glaukoma adalah untuk menurunkan tekanan dalam bola mata penderita (tekanan intraokular). Tergantung pada kondisi penderita, glaukoma dapat diobati dengan cara diberi obat tetes mata, perawatan laser atau operasi.

Pengobatan glaukoma sering dimulai dengan obat tetes mata yang diresepkan. Ini dapat membantu mengurangi tekanan mata dengan meningkatkan aliran cairan dalam bola mata penderita atau dengan mengurangi jumlah cairan yang dihasilkan mata penderita. Jika dengan pemberian obat tetes mata saja tidak menurunkan tekanan mata penderita ke tingkat yang diinginkan, dokter mungkin juga akan meresepkan obat minum (oral), biasanya golongan penghambat karbonat anhidrase, dengan kemungkinan efek samping yaitu sering buang air kecil, kesemutan di jari tangan dan kaki, depresi, sakit perut, dan batu ginjal. Pilihan perawatan lainnya adalah terapi laser dan berbagai prosedur bedah. Komplikasi yang mungkin terjadi adalah rasa sakit, kemerahan, infeksi, peradangan, pendarahan, tekanan mata tinggi atau rendah yang abnormal, dan kehilangan penglihatan. Namun, beberapa jenis operasi mata dapat mempercepat perkembangan katarak. Glaukoma berisiko jika tidak diobati karena dapat menyebabkan kehilangan penglihatan permanen. Tanpa pengobatan, glaukoma dapat menyebabkan kebutaan permanen total dalam beberapa tahun.

Pencegahan

Glaukoma pada umumnya tidak dapat dicegah. Tetapi kerusakan mata yang berat serta kebutaan dapat dicegah jika penderita mendiagnosis dan mengobatinya lebih awal.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Glaukoma biasanya tidak menimbulkan gejala yang nyata sampai menyebabkan kerusakan permanen. Tanyakan kepada dokter perawatan primer Anda seberapa sering Anda perlu menemui dokter mata untuk pemeriksaan mata yang komprehensif dan ikuti jadwal tersebut. Jika Anda memiliki gejala masalah penglihatan, buatlah janji dengan dokter mata anda atau tanyakan dokter Anda untuk rujukan.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Yang dapat disiapkan oleh anda adalah merinci gejala-gejala apa saja yang sudah dialami dan sudah seberapa lama gejala itu muncul, membuat daftar obat-obatan, vitamin atau suplemen yang dikonsumsi, membuat daftar permasalahan pada mata anda seperti perubahan penglihatan atau ketidaknyamanan pada mata.

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter biasanya akan memberi beberapa pertanyaan, seperti:

  • Pernahkah Anda mengalami gangguan mata atau masalah penglihatan?
  • Apakah Anda memiliki tanda atau gejala lain yang menguatirkan Anda?
  • Apakah Anda memiliki riwayat keluarga glaukoma atau masalah mata lainnya?
  • Apa pemeriksaan screening mata yang pernah Anda ambil dan kapan Anda mengambil pemeriksaan itu?
  • Pernahkah Anda didiagnosis dengan kondisi medis lainnya?
  • Apakah Anda menggunakan obat tetes mata tertentu?
  • Apakah Anda menggunakan vitamin atau suplemen tertentu?
Referensi

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/glaucoma/symptoms-causes/syc-20372839
Diakses pada 7 Oktober 2018

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. http://www.depkes.go.id/article/view/16031600002/glaucoma-is-danger-the-thief-of-sight.html
Diakses pada 7 Oktober 2018

WebMD. https://www.webmd.com/eye-health/glaucoma-eyes#1
Diakses pada 7 Oktober 2018

WHO. http://www.who.int/bulletin/volumes/82/11/feature1104/en/
Diakses pada 7 Oktober 2018

Back to Top