Perut

Gastroenteritis

Diterbitkan: 24 Feb 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gastroenteritis
Gastroenteritis mudah menular dan ditandai dengan diare dan kram perut
Gastroparesis adalah kondisi lambung tidak dapat mencerna makanan dengan baik, yang terjadi untuk jangka panjang (kronis). Namun penyakit ini termasuk gangguan yang langka alias jarang ditemukan.Makanan butuh waktu lebih lambat dari biasanya untuk melewati lambung karena ada masalah pada saraf dan otot yang mengendalikan pencernaan.Pada keadaan normal, usus bergerak secara spontan untuk mendorong makanan. Namun pada pengidap gastroparesis, motilitas (kontraksi otot usus) berfungsi lambat atau tidak berfungsi sama sekali. Kondisi ini menyebabkan lambung tidak bisa dikosongkan dengan baik.Gastroparesis membuat proses pencernaan berjalan lebih lambat dari normal. Akibatnya, penderita bisa mengalami berbagai gejala dan komplikasi. 
Gastroenteritis
Dokter spesialis Umum, Penyakit Dalam
GejalaMual, muntah, mudah kenyang meski makan sedikit
Faktor risikoDiabetes, infeksi virus, riwayat operasi perut atau kerongkongan
Metode diagnosisFoto polos barium, gastric emptying test, endoskopi
PengobatanPerubahan pola makan, obat-obatan, operasi
ObatMetoclopramide, erythromycin, antiemetik
KomplikasiInfeksi bakteri, dehidrasi, malnutrisi
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala dehidrasi atau malnutrisi, memiliki riwayat GERD
Sebagian besar penderita gangguan ini umumnya tidak merasakan keluhan apapun. Namun jika ada, gejala gastroparesis umumnya meliputi:
  • Mual
  • Muntah
  • Mudah terasa kenyang meski hanya makan sedikit
  • Memuntahkan makanan yang tidak tercerna, padahal sudah dikonsumsi beberapa waktu yang lalu
  • Acid reflux, yakni naiknya asam lambung ke kerongkongan
  • Kembung
  • Sakit perut
  • Tidak nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Malnutrisi
  • Perubahan kadar gula darah
 
Hingga kini, penyebab gastroparesis belum diketahui dengan pasti. Namun pemicu kondisi ini umumnya adalah kerusakan saraf yang mengendalikan otot lambung (saraf vagus).Saraf vagus membantu dalam mengelola proses kompleks di saluran pencernaan, termasuk memberi sinyal pada otot-otot lambung untuk berkontraksi dan mendorong makanan ke dalam usus halus.Saraf vagus yang rusak kemudian tidak mampu mengirim sinyal dengan normal ke otot lambung. Akibatnya, makanan berada di lambung lebih lama. 

Faktor risiko gastroparesis

Para pakar menduga bahwa beberapa faktor di bawah ini bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami gastroparesis:
 
Untuk memastikan diagnosis gastroparesis, dokter umumnya akan melakukan serangkaian pemeriksaan di bawah ini:
  • Foto polos barium

Pasien akan diminta untuk menelan cairan barium, yang akan tampak di saluran pencernaan saat rontgen. Dokter akan melihat proses cairan ini melewai saluran cerna.
  • Gastric emptying scan

Pasien akan diminta untuk menelan sedikit zat radioaktif. Zat ini akan terdeteksi oleh mesin pemindai.Pada kasus gastroparesis, 10 persen dari makanan akan tetap berada dalam lambung selama empat jam setelah dikonsumsi.
  • Tes kapsul nirkabel

Dokter akan meminta pasien untuk menelan alat elektronik kecil tanpa kabel. Alat ini akan mengirimkan informasi ke alat perekam untuk mengukur kecepatannya ketika melalui saluran pencernaan.
  • Endoskopi

Prosedur endoskopi menggunakan endoskop, yakni selang kecil dan lentur yang dilengkapi lampu serta kamera di salah satu ujungnya.Alat ini akan dimasukkan ke kerongkongan hingga mencapai lambung pasien untuk melihat permukaan lambung, sekaligus menyingkirkan kemungkinan penyakit lain. 
Gastroparesis umumnya tidak bisa disembuhkan. Namun penderita dapat mengendalikan kondisi ini dengan penanganan yang benar.Dokter umumnya akan merekomendasikan cara mengobati gastroparesis di bawah ini:

1. Perubahan pola makan

  • Makan dengan porsi kecil, tapi lebih sering
  • Mengunyah makanan hingga benar-benar lumat
  • Mengonsumsi buah yang sudah masak
  • Mengonsumsi sayur yang telah dimasaki hingga benar-benar matang
  • Jangan mengonsumsi buah dan sayur yang berserat
  • Mengonsumsi makanan rendah lemak
  • Mengonsumsi sup dan bubur jika cairan lebih mudah ditelan
  • Minum air setidaknya 1,5 liter per hari
  • Melakukan olahraga ringan setelah makan
  • Jangan mengonsumsi minuman bersoda atau beralhokol
  • Tidak merokok
  • Jangan berbaring setidaknya dua jam sesudah makan
  • Mengonsumsi multivitamin setiap hari

2. Obat-obatan

  • Erythromycin

Erythromycin merupakan antibiotik yang akan membantu kontraski lambung agar makanan lebih cepat ke usus halus.
  • Antiemetik

Antiemetik adalah obat pengendali mual.
  • Metoclopramide

Metoclopramide juga berfungsi mempercepat proses pencernaan alias pengosongan lambung.
  • Domperidone

Domperidone akan mempercepat pengosongan lambung.
  • Antidepresan

Obat antidepresan diberikan untuk membantu dalam meredakan mual dan mutah yang dialami oleh pasien.
  • Obat pereda nyeri

Obat ini diresepkan oleh dokter guna mengurangi sakit perut akibat gastroparesis.

3. Operasi

Jika obat-obatan tidak memberikan hasil yang efektif dan mual maupun muntah tetap terjadi, operasi bisa disarankan oleh dokter. Jenis operasi ini meliputi:
  • Stimulasi listrik lambung

Stimulasi listrik lambung dilakukan dengan memasukkan alat kecil berupa stimulator lambung. Alat ini berfungsi memberikan kejutan listrik ringan guna mengendalikan muntah.
  • Bypass lambung

Dokter akan mengecilkan ukuran lambung guna membatasi jumlah makanan yang bisa dikonsumsi oleh pasien.

4. Selang makan

Pemberian makanan melalui selang makan mungkin direkomendasikan oleh dokter supaya pasien mendapatkan nutrisi dan kalori yang sesuai kebutuhannya.

5. Tabung jejunostomi

Jika nutrisi dan kalori pasien tetap tidak terpenuhi, pemberian makanan akan dilakukan melalui tabung jejunostomi. Langkah ini merupakan pemberian makan jangka panjang daripada selang makan.Tabung jejunostomi akan dihubungkan langsung ke usus halus, melalui lubang pada dinding perut.

6. Infus

Jika kondisi pasien sangat parah, dokter akan menyarankan pemberian nutrisi lewat infus. Penanganan ini mungkin dilakukan untuk jangka pendek sampai pasien bisa makan dengan normal. 

Komplikasi gastroparesis

Jika tidak ditangani dengan benar, gastroparesis dapat menyebabkan komplikasi yang meliputi:
  • Makanan yang terlalu lama dalam lambung. Kondisi ini bisa memicu fermentasi dan pertumbuhan bakteri. Makanan juga dapat menjadi padat sehingga tidak bisa masuk ke usus halus.
  • Jika penderita juga mengidap diabetes, ia akan mengalami kenaikan gula darah yang cepat saat makanan masuk ke usus halus. Kondisi ini dapat memicu berbagai gejala lain.
  • Kekurangan cairan alias dehidrasi
  • Gizi buruk atau malnutrisi
  • Menurunnya kualitas hidup akibat penderita tidak bisa menjalankan rutinitas sebagaimana mestinya, misalnya tidak mampu bekerja
 
Cara mencegah gastroparesis belum tersedia mengingat penyebabnya tidak diketahui. Jika pasien juga menderita diabetes, ia dapat menghindari kerusakan saraf dengan menjaga kadar gula darah yang aman menurut dokter.Sebagai contoh, pasien bisa menerapkan pola makan yang baik, melakukan aktivitas fisik, dan mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter. 
Segera periksakan diri ke dokter jika Anda mengalami gejala gastroparesis dan beberapa kondisi di bawah ini:
  • Dehidrasi setelah muntah berkali-kali
  • GERD
  • Malnutrisi
  • Kadar gula darah yang tidak dapat diprediksi
 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait gastroparesis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis gastroparesis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/viral-gastroenteritis/symptoms-causes/syc-20378847
Diakses pada 12 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/gastroenteritis
Diakses pada 12 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/gastroparesis
Diakses pada 24 Februari 2021
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15522-gastroparesis
Diakses pada 24 Februari 2021
NIDDK. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/gastroparesis/treatment
Diakses pada 24 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email