Stres dan kecemasan bisa memicu timbulnya gangguan tidur berupa insomnia
Salah satu gangguan tidur, yaitu insomnia, disebabkan antara lain oleh stres dan kecemasan.

Kualitas tidur yang baik, bisa meningkatkan kondisi kesehatan Anda, sekaligus memperbaiki kadar hormon, mood, serta menjaga berat badan tetap ideal. Meski demikian, berbagai gangguan tidur bisa saja Anda alami, termasuk mengorok, sleep apnea, insomnia, dan restless legs syndrome.

Gangguan tidur adalah suatu kondisi yang dapat mengurangi kualitas tidur, sekaliggus kesehatan Anda. Berikut ini jenis-jenis gangguan tidur yang bisa terjadi.

  • Insomnia. Penderita insomnia mengalami kesulitan tidur di malam hari, atau sering terbangun dan terjaga sepanjang malam, hingga dini hari. Jika terlalu sering, insomnia dapat mengganggu aktivitas harian Anda. Ada berbagai macam penyebab insomnia, yaitu stres, kecemasan, kebiasaan tidur yang buruk, serta circadian rhythm disorders (contohnya jet lag)
  • Sleep Apnea. Penderita insomnia mengalami penyumbatan sebagian maupun seluruh saluran napas bagian atas. Akibatnya, pernapasan akan terganggu. Meski gangguan ini hanya terjadi dalam waktu singkat, tidur Anda akan Anda pun akan mengalami kantuk di siang hari. Jika tidak diobati, sleep apnea akan menjadi lebih parah dan mengakibatkan hipertensi, serta meningkatkan risiko terkena stroke dan serangan jantung.
  • Parasomnia. Gangguan tidur ini menyebabkan gerakan dan perilaku yang tidak biasa selama tidur, seperti tidur berjalan, mengigau, mimpi buruk, mengompol, dan menggertakkan gigi saat tidur.
  • Restless leg syndrome. Orang yang menderita restless leg syndrome akan mengalami puncak ketidaknyamanan pada sore dan malam hari. Penderita ini seringkali menggerakkan kakinya secara terus-menerus, dan terkadang disertai dengan kesemutan. Kondisi ini akan mengganggu waktu tidur atau membangunkan Anda saat tidur. Restless Leg Syndrome seringkali ditemui pada orang paruh baya dan lansia.
  • Narkolepsi. Ini merupakan gangguan otak yang menyebabkan kantuk secara berlebihan di siang hari.
  • Pregnancy and sleep. Gangguan ini biasanya terjadi pada perempuan yang menjalani kehamilan trimester pertama. Pada periode ini, ibu hamil mengalami mual-mual di pagi hari dan terkadang mengalami ketidaknyamanan fisik. Akibatnya, waktu tidur akan terganggu.

Gejala gangguan tidur yang paling umum adalah sangat mengantuk di siang hari, dan sulit tidur di malam hari. Gejala lainnya tergantung dari tingkat keparahan, jenis gangguan tidur atau akibat dari kondisi lain, seperti :

  • Susah tidur atau tetap terjaga
  • Kelelahan di siang hari
  • Gangguan cemas
  • Mudah marah
  • Kurangnya konsentrasi
  • Depresi

Dalam beberapa kasus, gangguan tidur merupakan suatu cerminan akibat dari adanya masalah kesehatan. Selain itu, berikut ini sejumlah kondisi yang dapat menyebabkan gangguan tidur.

  • Alergi dan masalah pernapasan. Kondisi ini dapat menyebabkan Anda sulit bernapas sehingga mengalami kesulitan tidur.
  • Nokturia atau sering buang air kecil. Gangguan ini dapat mengganggu tidur Anda. Akibatnya, Anda sering terbangun di malam hari. Namun, jika Anda sering buang air kecil disertai dengan perdarahan atau rasa sakit, segera hubungi dokter.
  • Penyakit kronis. Rasa sakit yang terus-menerus, dapat membuat Anda sulit untuk tidur. Bahkan, terkadang kondisi dapat membangunkan dari Berikut ini adalah beberapa penyebab umum dari penyakit kronis.
  • Radang sendi
  • Radang usus
  • Sakit kepala terus-menerus
  • Nyeri punggung bawah berkelanjutan
  • Stres dan kecemasan. Kondisi ini juga berdampak pada kualitas tidur Anda. Serta mimpi buruk, mengigau, dan tidur sambil berjalan juga dapat mengganggu tidur Anda.

Untuk mendiagnosis gangguan tidur, dokter akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan fisik, dan mengumpulkan riwayat medis pasien. Selain itu, jika diperlukan, penderita gangguan tidur direkomendasikan untuk menjalani pemeriksaan berupa:

  • Polysomnography. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengevaluasi kadar oksigen, pergerakan tubuh, dan gelombang otak, untuk mencari penyebab gangguan tidur.
  • Electroencephalogram. Tes ini dilakukan untuk menilai aktivitas kelistrikan otak dan mendeteksi adanya permasalahan lain dari gangguan tidur tersebut.
  • Tes darah genetik. Pemeriksaan darah ini sudah biasa digunakan untuk mendiagnosis narkolepsi dan kondisi kesehatan lainnya, yang berisiko menyebabkan gangguan tidur.

Tes-tes tersebut dapat menjadi sangat penting, dalam menentukan perawatan yang tepat, untuk meminimalisir gangguan tidur.

Pengobatan untuk gangguan tidur dapat beragam, tergantung pada jenis dan penyebab yang melatarbelakanginya. Berikut ini adalah beberapa pengobatan yang dilakukan untuk meminimalisir gangguan tidur.

1. Perawatan medis, melalui penggunaan:

  • Obat tidur
  • Suplemen melatonin
  • Obat alergi atau flu
  • Obat-obatan lain yang dapat mengobati gangguan tidur
  • Alat bantu pernapasan
  • Pelindung gigi

2.  Perubahan gaya hidup, untuk meningkatkan kualitas tidur Anda, termasuk dengan:

  • Mengonsumsi lebih banyak sayur dan ikan, serta mengurangi asupan gula
  • Mengurangi stres dan kecemasan dengan banyak berolahraga
  • Tidur secara teratur
  • Membatasi asupan kafeina di sore dan malam hari
  • Mengurangi konsumsi air sebelum tidur
  • Mengurangi kebiasaan merokok maupun mengonsumsi alkohol
  • Menghindari konsumsi makanan berkarbohidrat tinggi sebelum tidur

Gangguan tidur dapat dicegah dengan:

  • Tidur secara teratur
  • Mengurangi stres
  • Rajin berolahraga

Temui dokter jika Anda mengalami gangguan tidur secara terus-menerus, atau kualitas tidur yang buruk.

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan sebelum mendiagnosis keadaan Anda. Pertanyaan tersebut seputar gejala yang sedang Anda rasakan.

Healthline. https://www.healthline.com/health/sleep/disorders
Diakses pada 4 Januari 2019

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/sleep-disorders/symptoms-causes/syc-20354018
Diakses pada 4 Januari 2019

Medlineplus. https://medlineplus.gov/sleepdisorders.html
Diakses pada 4 Januari 2019

WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/guide/understanding-sleep-problems-basics#1
Diakses pada 4 Januari 2019

Artikel Terkait