Gangguan Pertumbuhan

Ditulis oleh Nina Hertiwi Putri
Ditinjau dr. Reni Utari
Gangguan pertumbuhan umumnya menandakan adanya masalah pada kelenjar atau penyakit tertentu.
Gangguan pertumbuhan umumnya menandakan adanya masalah pada kelenjar atau penyakit tertentu.

Pengertian Gangguan Pertumbuhan

Gangguan pertumbuhan adalah suatu kondisi perkembangan anak dari segi tinggi badan, berat badan, kematangan organ seksual, serta sisi lainnya yang tidak seusai dengan anak seusianya. Pertumbuhan yang terlalu lambat atau justru terlalu cepat umumnya menandakan adanya gangguan kelenjar atau penyakit tertentu.

Kelenjar pituitari memiliki tugas memproduksi hormon yang akan memicu pertumbuhan tulang dan jaringan lainnya. Jika produksi hormon ini kurang dari yang seharusnya, akan membuat anak menjadi pendek.

Sedangkan bila produksi hormon pertumbuhan terlalu banyak, anak dapat mengalami gigantisme (kondisi di mana terjadi pertumbuhan tulang dan jaringan berlebih). Pada orang dewasa, produksi hormon pertumbuhan berlebih bisa menyebabkan akromegali, yang membuat tangan, kaki, dan wajah tumbuh lebih besar dari yang seharusnya.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Pada beberapa kasus, gangguan pertumbuhan dapat langsung terlihat segera setelah anak lahir. Hal ini dikarenakan anak mungkin memiliki tubuh yang jauh lebih kecil dari anak seusianya.

Meski begitu, tidak sedikit gangguan pertumbuhan yang baru terlihat saat anak sudah memasuki usia sekolah dan membuatnya tampak lebih kecil dari teman sebayanya. Gangguan ini juga bisa terlihat apabila anak tidak mengalami pertumbuhan yang berarti selama satu tahun terakhir.

Salah satu gejala utama dari kondisi ini adalah pertumbuhan tinggi badan anak yang tidak mencapai 5cm pada tahun pertama setelah ia memasuki usia tiga tahun. Gejala lain yang muncul dapat menyerupai gejala penyakit lain, sehingga Anda perlu mengonsultasikannya lebih jauh dengan dokter untuk mengetahuinya secara pasti.

Penyebab

Penyebab gangguan pertumbuhan yang terjadi akan bergantung dari jenisnya. Beberapa gangguan ini merupakan kondisi genetik, sementara lainnya bisa muncul akibat kelainan hormon serta buruknya penyerapan nutrisi oleh tubuh. Secara umum, penyebab gangguan pertumbuhan dibagi menjadi:

1. Faktor keturunan

Jika satu keluarga memiliki tinggi badan yang cenderung pendek, anak selanjutnya juga berkemungkinan memiliki kondisi yang serupa.

2. Pertumbuhan yang lambat

Pada kondisi ini, anak dapat terlihat lebih pendek dari teman sebayanya. Selain itu, ia juga mungkin mengalami keterlambatan mencapai masa pubertas. Namun pada kondisi ini, tingkat pertumbuhan anak masih berada dalam batas normal.

3. Faktor penyakit

Kondisi malanutrisi, gangguan pencernaan, serta penyakit ginjal dapat menyebabkan terjadinya gangguan pertumbuhan. Selain itu, penyakit lain (seperti diabetes), penyakit jantung, gangguan paru-paru, dan bahkan stres juga dapat memicu terjadinya kondisi ini.

4. Faktor hormon

Produksi hormon pertumbuhan yang memadai penting untuk mendukung perkembangan tulang tulang yang sehat. Jika terjadi gangguan pada produksinya, baik terlalu banyak maupun terlalu sedikit, gangguan pertumbuhan pun dapat terjadi.

5. Kelainan saat lahir

Gangguan pertumbuhan juga bisa terjadi sejak bayi lahir akibat kelainan pada jaringan yang berfungsi untuk mendukung pertumbuhan. Kondisi ini biasa disebut sebagai Intrauterine Growth Restriction (IUGR).

IUGR dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya adalah kebiasaan merokok pada ibu hamil. Bayi yang mengalami kondisi ini umumnya akan lahir dengan berat badan serta panjang yang lebih rendah dari yang seharusnya, meski susunan tubuhnya tetap terlihat proporsional.

Diagnosis

Dokter akan melakukan diagnosis gangguan pertumbuhan tergantung dari kondisi tiap anak. Pada anak pendek, namun sehat dan tumbuh dalam kecepatan yang sesuai, umumnya hanya akan dilakukan pemantauan selama masa kanak-kanak.

Setelah masa pertumbuhan anak berhenti atau jika pertumbuhan yang dialami mulai melambat, dokter akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Dokter akan mengecek kondisi yang mungkin dapat menjadi pemicu terjadinya gangguan pertumbuhan.

Dokter juga dapat melakukan tes darah untuk memeriksa hormon maupun kromosom di tubuh pasien. Foto rontgen hingga MRI pun dapat dilakukan guna melihat susunan tulang dan kelenjar pituitari anak.

Untuk mengevaluasi cara kerja kelenjar pituitari dalam memproduksi hormon pertumbuhan, dokter akan melakukan pemeriksaan yang disebut growth hormone stimulation test. Proses ini meliputi pemberian obat yang dapat memicu produksi hormon pertumbuhan, lalu dilakukan tes darah untuk melihat kadar hormon tersebut.

Pengobatan

Meski perawatan untuk gangguan pertumbuhan bukan merupakan sesuatu yang darurat, perawatan sebaiknya tetap dilakukan sedini mungkin. Dengan begitu, anak dapat terbantu untuk segera memicu pertumbuhannya agar bisa setara dengan teman sebayanya.

Jika gangguan pertumbuhan yang terjadi disebabkan oleh penyakit tertentu, perawatan akan dilakukan sesuai dengan kondisi penyebabnya. Misalnya, pada kondisi hipotiroidisme, gangguan ini akan dirawat menggunakan obat pengganti hormon.

Suntik hormon juga dapat diberikan pada anak yang memiliki kekurangan hormon pertumbuhan. Prosedur ini dapat pula dilakukan pada anak yang mengalami sindrom Turner dan gagal ginjal kronis, untuk mencapai tinggi badan yang normal.

Pencegahan

Gangguan pertumbuhan yang disebabkan oleh kelainan hormon, seperti gigantisme, tidak dapat dihindari. Namun perawatan sejak dini dapat mencegah kondisi ini berkembang menjadi semakin parah dan mengurangi risiko komplikasi.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Semua orangtua harus memeriksakan anaknya ke dokter secara teratur untuk memantau perkembangan serta kesehatannya. Segera hubungi dokter jika Anda merasa anak mengalami gejala dan tanda yang mengkhawatirkan.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum konsultasi dengan dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Sebelum mengunjungi dokter, catat pertanyaan yang ingin Anda ajukan.
  • Saat berkonsultasi dengan dokter, catat diagnosis yang diberikan oleh dokter serta instruksi lain yang diberikan.
  • Jika dokter meresepkan obat, tanyakan pada dokter mengenai efek samping obat tersebut.
  • Tanyakan ke dokter mengenai alternatif perawatan lain jika ada.
  • Tanyakan ke dokter mengenai alasan perawatan tersebut disarankan.
  • Tanyakan ke dokter mengenai dampak yang mungkin terjadi jika anak tidak mau meminum obat yang diberikan.
  • Jika dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan, catat waktu dan tujuan dilakukannya pemeriksaan tersebut.
Referensi

U.S National Library of Medicine. https://medlineplus.gov/growthdisorders.html
Diakses pada 16 Mei 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/growth-disorder.html
Diakses pada 16 Mei 2019

Children’s National Health System. https://childrensnational.org/choose-childrens/conditions-and-treatments/stomach-digestion-gi/growth-disorders
Diakses pada 16 Mei 2019

About Kids Health. https://childrensnational.org/choose-childrens/conditions-and-treatments/stomach-digestion-gi/growth-disorders
Diakses pada 16 Mei 2019

University of Rochester Medical Centre. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?contenttypeid=90&contentid=p01956
Diakses pada 16 Mei 2019

Mount Sinai. https://www.mountsinai.org/health-library/diseases-conditions/gigantism|
Diakses pada 16 Mei 2019

Back to Top