Perut

Gangguan Pencernaan

Diterbitkan: 14 Oct 2020 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Gangguan Pencernaan
Gangguan pencernaan dapat ditandai dengan rasa tidak nyaman atau sakit di perut
Gangguan pencernaan adalah istilah yang menggambarkan rasa tidak nyaman atau nyeri di perut bagian atas. Kondisi ini bukanlah sebuah penyakit, melainkan kumpulan dari sederet gejala.Kondisi yang juga disebut disebut indigestion ini sangat luas. Mulai dari sakit perut, perut kembung, perasaan begah padahal belum makan, hingga sering buang gas.Gangguan pencernaan juga dapat menjadi gejala dari penyakit saluran cerna lain. Contohnya, GERD, maag, penyakit celiac, hingga kanker usus. 
Gangguan Pencernaan
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaSakit perut, heartburn, kembung
Faktor risikoPola makan rendah serat, jarang olahraga, mengejan saat BAB
Metode diagnosisTes laboratorium, pencitraan, endoskopi
PengobatanObat-obatan, perubahan gaya hidup, psikoterapi
ObatAntasida, PPI, H2RA
KomplikasiPerdarahan saluran pencernaan, kanker saluran cerna
Kapan harus ke dokter?Penurunan berat badan, susah menelan, muntah berulang kali
Secara umum, gejala gangguan pencernaan dapat meliputi:
Baca juga: Sendawa Bau: Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya 
Ada berbagai penyakit atau kondisi medis yang dapat mempengaruhi sistem pencernaan dan menjadi penyebab gangguan pencernaan. Sederet penyakit yang umum memicu masalah pada sistem cerna meliputi:
  • Gastritis

Gastritis adalah peradangan, iritasi atau erosi pada dinding lambung. Kondisi ini dapat disebabkan oleh penggunaan alkohol berlebih, muntah yang kronis, stres, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), atau infeksi.Gejala gastritis umumnya dapat berupa mual, nyeri perut, perut kembung, muntah-muntah, atau terlalu sering bersendawa.
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD)

Gejala utama GERD adalah kembalinya makanan atau cairan asam ke kerongkongan (esofagus). GERD disebabkan oleh lemahnya katup esofagus, padahal katup ini berfungsi mencegah makanan dan asam lambung kembali ke kerongkongan.GERD akan memicu iritasi pada kerongkongan yang menimbulkan berbagai gejala, seperti heartburn, nyeri dada, dan mual.
  • Penyakit celiac

Penyakit celiac merupakan kelainan autoimun yang menyebabkan usus halus menjadi alergi terhadap gluten. Konsumsi gluten akan memicu sistem kekebalan tubuh menyerang usus halus, sehingga akan mengganggu fungsi penyerapan nutrisi pada usus halus.Gejala penyakit celiac bisa berupa perut kembung, diare atau sembelit, ruam pada kulit, hingga penurunan berat badan. Bila terjadi pada anak-anak, pertumbuhan yang terhambat dapat menjadi salah satu penandanya.
  • Diare

Diare adalah buang air besar (BAB) dengan tinja lebih encer atau cair. Frekuensi BAB juga akan lebih sering, yakni tiga kali per hari. Keluhan ini juga sering disertai dengan nyeri, kram perut, mual, atau muntah.Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri. Tapi kondis lain juga bisa memicu diare. Contohnya, keracunan makanan, penggunaan obat-obatan tertentu, atau penyakit lain (seperti penyakit celiac atau penyakit Crohn).Obat antidiare dan konsumsi cukup cairan sangat penting dalam mengatasi diare. Dengan ini, dehidrasi bisa dihindari.
  • Wasir

Wasir atau hemoroid merupakan pembengkakan pada pembuluh darah di sekitar dubur. Kondisi ini terjadi karena adanya tekanan tinggi di dalam perut karena mengejan saat BAB, diare, atau kehamilan.Terdapat dua tipe hemoroid, yaitu hemoroid eksternal dan hemoroid internal. Sesuai namanya, jenis eksternal adalah wasir yang mencuat keluar dari anus, dan tipe internal berada dalam dinding anus.
  • Tukak peptik

Tukak peptik atau ulkus peptikum adalah kondisi yang ditandai dengan adanya lubang kecil pada dinding lambung atau bagian atas usus halus.Bila terjadi di dinding lambung, kondisi ini dikenal dengan nama tukak lambung. Sementara jika muncul pada bagian atas usus halus, tukak ini disebut tukak duodenum.  
  • Irritable bowel syndrome (IBS)

Irritable bowel syndrome merupakan kondisi ketika otot usus besar berkontraksi lebih sering daripada normal. Konsumsi makanan tertentu, obat-obatan, dan stres emosional dapat menjadi faktor pemicu IBS. Gejalanya dapat berupa nyeri, kram perut, kembung, diare, atau sulit BAB.
  • Inflammatory bowel disease (IBD)

Inflammatory bowel disease atau IBD adalah kondisi peradangan kronis pada saluran pencernaan. Terdapat dua jenis IBD, yaitu kolitis ulseratif dan penyakit Crohn.Kolitis ulseratif merupakan peradangan dan luka pada usus besar dan rektum. Sedangkan penyakit Crohn adalah peradangan pada sepanjang saluran pencernaan, baik usus halus dan usus besar.Gejala yang ditimbulkan dapat berupa diare kronis, sakit perut, mudah lelah, dan penurunan berat badan.
  • Polip dan kanker kolorektal

Polip merupakan benjolan yang terdapat pada lapisan dalam usus besar. Salah satunya, polip adenoma yang dapat berkembang menjadi kanker kolorektal.Kanker kolorektal tumbuh perlahan-lahan dan umumnya baru menimbulkan gejala ketika ukurannya sudah cukup besar.
  • Batu empedu

Adanya batu empedu dapat menyebabkan nyeri pada bagian perut kanan atas. Rasa nyeri biasanya muncul ketika pasien mengonsumsi makanan yang kaya lemak.Batu empedu juga dapat menyebabkan mual, muntah, urine berwarna gelap, atau feses berwarna pucat seperti dempul.Munculnya batu empedu disebabkan oleh kolesterol yang mengeras dan membentuk butiran batu dalam kantong empedu. 

Faktor risiko gangguan pencernaan

Beberapa faktor yang dapat mengganggu fungsi pencernaan dan meningkatkan risikonya meliputi:
  • Pola makan yang rendah serat
  • Kurang gerak dan jarang olahraga
  • Bepergian ke tempat asing
  • Perubahan pada rutinitas
  • Banyak mengonsumsi produk olahan susu
  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Stres
  • Mengejan saat BAB
  • Sering mengonsumsi obat pencahar
  • Mengonsumsi obat antasida yang mengandung kalsium atau aluminium
  • Menggunakan obat tertentu, seperti antidepresan, suplemen zat besi, dan obat nyeri
  • Kehamilan
 
Untuk menentukan diagnosis gangguan pencernaan dan penyebabnya, dokter dapat melakukan:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala dan riwayat penyakit pasien maupun keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik pada bagian yang mengalami gejala, misalnya perut pasien.
  • Fecal occult blood test

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengecek darah yang tidak tampak secara kasat mata pada feses.
  • Kultur feses

Pemeriksaan ini bertujuan mendeteksi ada tidaknya bakteri pada saluran pencernaan, yang dapat menyebabkan diare atau penyakit pencernaan lain.
  • Breath test

Tes ini dapat membantu dalam mendiagnosis beberapa kelainan pada sistem cerna. Contohnya, infeksi bakteri Helicobacter pylori yang menyebabkan tukak peptik, gangguan pencernaan gula, dan gastroparesis.
  • Colorectal transit study

Pemeriksaan dengan teknologi sinar X ini dapat mendeteksi aliran makanan yang melewati usus besar.
  • CT scan

Pada CT scan, dokter dapat melihat struktur tulang, otot, lemak, dan organ pencernaan dengan lebih jelas.
  • Defecography

Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengecek fungsi otot rektum dan anus pasien.
  • Barium enema

Pada prosedur barium enema, zat pewarna kontras (barium) akan dimasukkan ke dalam anus. Sinar X lalu digunakan untuk mendeteksi penyempitan, sumbatan, atau kelainan lain pada usus besar.
  • Upper gastrointestinal series (barium swallow)

Pada barium swallow, dokter akan meminta pasien menelan zat pewarna kontras (barium) lalu mengambil gambar saluran pencernaan bagian atas.
  • MRI

Prosedur MRI menggunakan kombinasi teknologi magnet, frekuensi radio, dan komputer untuk menghasilkan gambar mendetail struktur dan organ saluran pencernaan.
  • Magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP)

Pemeriksaan MRCP memakai MRI untuk memeriksa kondisi saluran empedu.
  • Oropharyngeal motility (swallowing) study

Pada pemeriksaan ini, dokter akan memberikan cairan pewarna kontras untuk diminum oleh pasien. Setelah itu, foto rontgen diambil untuk melihat kelainan pada saluran pencernaan saat pasien menelan cairan.
  • Radioisotope gastric-emptying scan

Radioisotope gastric-emptying scan menggunakan teknologi nuklir untuk menghasilkan gambar lambung saat pasien menelan makanan.
  • Ultrasonografi (USG)

USG merupakan pemeriksaan yang menggunakan teknologi gelombang suara untuk menghasilkan gambar terkait pembuluh darah, jaringan, dan organ saluran pencernaan.
  • Endoskopi

Endoskopi dilakukan dengan alat bernama endoskop. Alat ini berbentuk selang panjang yang lentur dan memiliki kamera serta lampu di salah satu ujungnya.Alat endoskop akan dimasukkan ke dalam saluran pencernaan pasien guna melihat kondisi di bagian dalamnya.Beberapa jenis pemeriksaan ini meliputi kolonoskopi, endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP), esophagogastroduodenoscopy (EGD), atau sigmoidoskopi.
  • Anorectal manometry

Pada anorectal manometry, selang kecil akan dimasukkan ke dalam rektum pasien. Selang ini akan mengukur tekanan dan kekuatan dari otot-otot di sekitar rektum dan anus.
  • Esophageal manometry

Esophageal manometry serupa dengan anorectal manometry. Hanya saja, selang akan dimasukkan ke dalam kerongkongan pasien.Pemeriksaan ini dapat membantu dokter dalam mendeteksi kondisi GERD.
  • Esophageal pH monitoring

Esophageal pH monitoring berfungsi mendeteksi tingkat keasaman dalam kerongkongan. Pemeriksaan ini juga dapat membantu untuk mengevaluasi GERD. 
Cara mengobati gangguan pencernaan tergantung pada penyakit yang mendasarinya. Dokter bisa memberikan obat-obatan maupun saran perubahan gaya hidup untuk menangani kondisi ini.

1. Perubahan gaya hidup

Langkah-langkah di bawah ini bisa dilakukan oleh pasien guna mengurangi gejala hingga mencegah kekambuhan gangguan pencernaan:
  • Menjauhi makanan yang memicu gangguan pencernaan

Hindari makanan yang mengandung banyak asam, seperti buah jeruk dan tomat. Demikain pula dengan minuman dan makanan yang mengandung kafein, seperti kopi, teh, soda, serta cokelat.
  • Mengubah porsi makan

Makanlah dalam porsi kecil, tapi sering. Langkah ini dapat membantu pasien untuk mengurangi gejala gangguan pencernaan.
  • Tidak mengonsumsi alkohol

Alkohol dapat meningkatkan asam lambung yang dapat memicu munculnya gangguan pencernaan.
  • Menghindari obat tertentu

Beberapa obat dapat merusak dinding lambung dan saluran cerna jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Contohnya, aspirin, ibuprofen, dan naproxen.
  • Mengendalikan stres dan kecemasan

Stres dan cemas juga dapat meningkatkan produksi asam lambung, kemudian berujung pada gangguan pencrnaan. Jadi kendalikanlah kondisi ini.Pasien bisa mengurangi tingkat stres dengan mencoba teknik relaksasi (seperti yoga dan meditasi), melakukan hobi, atau berbagi cerita dengan teman maupun keluarga.Bila stres dan rasa cemas terus menghantui, bantuan psikolog atau psikiater mungkin diperlukan untuk mengatasinya. Misalnya, untuk menjalani psikoterapi.
  • Rutin berolahraga

Melakukan olahraga secara teratur, yakni setidaknya 30 menit per hari atau 150 menit per minggu, juga bisa membantu dalam mengatasi gangguan pencernaan sekaligus menyehatkan sistem cerna.

2. Obat-obatan

Jenis obat yang bisa diresepkan oleh dokter bila gejala gangguan pencernaan tidak kunjung sembuh meski sudah ditangani dengan perubahan gaya hidup.Obat ini sangat beragam dan jenisnya ditentukan berdasarkan penyebab penyakit pencernaan yang dialami oleh pasien. Berikut beberapa contohnya:
  • Obat antasida untuk menetralkan jumlah asam lambung.
  • Obat antibiotik untuk mengatasi masalah pencernaan akibat infeksi bakteri, seperti H.pylori.
  • Proton pump inhibitor (PPI) yang berfungsi mengurangi jumlah asam lambung.
  • H-2-receptor antagonists (H2RA) yang juga berperan dalam menurunkan kadar asam dalam lambung.
  • Obat prokinetik yang akan membantu dalam mempercepat pengosongan lambung.
  • Obat antidepresan guna menurunkan sensor rasa sakit agar gejala gangguan pencernaan bisa berkurang.
 

Komplikasi gangguan pencernaan

Apabila tidak ditangani dengan benar, gangguan pencernaan bisa memicu berbagai komplikasi. Jenis komplikasi yang muncul akan berbeda-beda dan tergantung penyebabnya.Sebagai contoh, diare dapat menyebabkan dehidrasi bila terus dibiarkan. Sementara gastritis bisa memicu perdarahan pada sistem pencernaan dan meningkatkan risiko kanker lambung. 
Cara mencegah gangguan pencernaan yang utama adalah menghindari makanan, minuman, serta situasi yang memicu gejalanya. Apa sajakah yang bisa Anda lakukan?
  • Makan dalam porsi kecil, tapi sering
  • Mengunyah makanan perlahan-lahan hingga benar-benar lunak
  • Menjauhi makanan asam seperti buah jeruk
  • Menghindari makanan dan minuman yang mengandung kafein
  • Jangan merokok dan mengonsumsi alkohol
  • Mengatasi stres
  • Tidak memakai baju ketat karena bisa menekan perut, sehingga memicu isi perut kembali naik ke kerongkongan
  • Tidak berolahraga saat perut masih penuh
  • Jangan berbaring tepat setelah makan, berikan jarak setidaknya tiga jam setelah makan
  • Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dari kaki agar makanan tidak kembali naik ke kerongkongan
Penyakit tertentu, seperti kanker kolorektal, dapat dicegah dengan menerapkan gaya hidup sehat dan menjalani skrining kanker. Salah satunya, pemeriksaan kolonoskopi.Prosedur kolonoskopi umumnya disarankan bagi pasien berusia 50 tahun. Sementara pada pasien yang memiliki riwayat kanker kolorektal dalam keluarga, kolonoskopi dianjurkan lebih awal lagi. 
Gangguan pencernaan ringan biasanya tidak membahayakan dan bisa diatasi dengan penanganan mandiri. Namun konsultasikan dengan dokter jika rasa tidak nyaman pada perut berlanjut selama lebih dari dua minggu.Anda juga perlu segera ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami:
 
Sebelum berkonsultasi dengan dokter atau dokter spesialis penyakit dalam, berikut ini beberapa hal yang bisa Anda siapkan:
  • Buatlah janji dengan dokter Anda. Tanyakan ada tidaknya pantangan yang harus dilakukan, seperti tidak boleh makan pada beberapa jam sebelum pemeriksaan.
  • Catat semua gejala yang Anda alami.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat obat-obatan, vitamin, suplemen, serta obat herbal yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter mungkin akan menanyakan beberapa pertanyaan seperti:
  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Seberapa parah gejala tersebut?
  • Apakah gejala yang Anda alami terjadi terus-menerus atau sesekali?
  • Apakah gejala Anda lebih baik atau lebih buruk saat perut kosong?
  • Obat apa saja yang sedang Anda konsumsi?
  • Apakah Anda merokok atau mengonsumsi alkohol?
  • Apakah feses Anda berwarna gelap?
  • Apakah berat badan Anda turun drastis?
  • Apa Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, penanganan apa saja yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis gangguan pencernaan dan penyebabnya. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
NHS. https://www.nhsinform.scot/illnesses-and-conditions/stomach-liver-and-gastrointestinal-tract/indigestion
Diakses pada 14 Oktober 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/indigestion/symptoms-causes/syc-20352211
Diakses pada 14 Oktober 2020
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/inflammatory-bowel-disease/symptoms-causes/syc-20353315
Diakses pada 14 Oktober 2020
WebMD. https://www.webmd.com/heartburn-gerd/indigestion-overview#1
Diakses pada 14 Oktober 2019
WebMD. https://www.webmd.com/digestive-disorders/digestive-diseases-gastritis#1
Diakses pada 14 Oktober 2020
Drugs. https://www.drugs.com/article/gastrointestinal-disorders.html
Diakses pada 14 Oktober 2020
Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/articles/7040-gastrointestinal-disorders
Diakses pada 14 Oktober 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/gallstones
Diakses pada 14 Oktober 2020
University of Rochester Medical Center. https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content.aspx?ContentTypeID=85&ContentID=P00364
Diakses pada 14 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/156488
Diakses pada 14 Oktober 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/163484.php
Diakses pada 14 Oktober 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Wajarkah Jika Bayi Sering Kentut?

Bayi sering kentut bisa terjadi karena ada banyak gas atau udara yang terperangkap di sistem pencernaannya. Ini penyebab dan cara efektif mengatasi kondisi tersebut.
14 Jan 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Bayi yang menangis dalam waktu lama memiliki kecenderungan banyak menelan udara sehingga bayi sering kentut

Batuk Tak Kunjung Sembuh dan Terus-menerus, Bagaimana Mengatasinya?

Batuk tak kunjung sembuh tetap bisa disembuhkan asal diketahui penyebabnya. Periksakan batuk ke dokter bila batuk yang Anda alami tidak membaik dalam 3 minggu.
13 Jan 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Batuk tak kunjung sembuh bisa mengindikasikan penyakit tertentu

Muntah Busa, Apakah Kondisi Ini Berbahaya?

Muntah berbusa sendiri sebenarnya bukan suatu penyakit, melainkan gejala bahwa seseorang sedang mengalami gangguan pencernaan. Apa penyebab muntah busa putih dan adakah cara mencegahnya?Baca selengkapnya
Muntah busa sebenarnya bukan suatu penyakit