Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (ADHD)

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) adalah gangguan perkembangan pada anak dan orang dewasa
Salah satu gejala ADHD adalah kesulitan dalam memusatkan perhatian.

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD) adalah gangguan perkembangan yang meliputi kesulitan dalam memusatkan perhatian, menjadi terlalu aktif (hiperaktif) dan berperilaku impulsif.

Anak yang mengalami ADHD dapat mengalami gangguan saat melakukan aktivitas harian, belajar, serta masalah dalam interaksi sosial. Biasanya, ADHD terdeteksi pada anak-anak di kisaran usia enam sampai 12 tahun, tetapi ada juga yang sudah dapat terlihat gejalanya saat berusia tiga tahun.

Biasanya anak yang mengalami ADHD akan menjadi lebih baik saat dewasa, tetapi pada beberapa kasus, meskipun sudah menjadi dewasa, mereka tetap mengalami gangguan karena ADHD yang dialami.

Secara garis besar, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association) membagi ADHD menjadi tiga jenis tipe, yaitu:

  • Gejala yang dominan pada perilaku hiperaktif dan impulsif.
  • Gejala yang dominan pada ketidakmampuan untuk memusatkan perhatian.
  • Campuran dari keduanya. 

Gejala-gejala ADHD pada anak diambil dari diagnosis dalam DSM-5. Berdasarkan DSM-5, gejala terbagi menjadi dua, yaitu gejala tidak dapat memusatkan perhatian serta gejala perilaku hiperaktif dan impulsif. 

Pada gejala tidak dapat memusatkan perhatian, gejala yang mungkin terlihat adalah:

  • Sulit untuk fokus pada tugas-tugas ataupun permainan yang dilakukan
  • Terlihat seperti tidak mendengarkan orang lain meskipun orang tersebut telah berbicara langsung kepada anak.
  • Tidak dapat memusatkan perhatian pada hal-hal detail dan sering melakukan kesalahan-kesalahan yang ceroboh pada pekerjaan sekolah.
  • Sulit mengatur tugas-tugas atau aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan.
  • Mudah terdisktraksi.
  • Lupa untuk melakukan pekerjaan sehari-hari, seperti pekerjaan rumah dan sebagainya.
  • Menghindari dan tidak menyukai pekerjaan yang membutuhkan perhatian, seperti tugas sekolah dan sebagainya.
  • Kehilangan benda-benda yang harus digunakan untuk aktivitas-aktivitas atau sekolah, seperti pensi, dan sebagainya.
  • Sulit mengikuti instruksi dan tidak dapat menyelesaikan tugas ataupun pekerjaan yang diberikan.

Gejala perilaku hiperaktif dan impulsif yang dapat terlihat adalah: 

  • Bermain-main atau mengetuk-ngetukkan jemari, atau bergerak-gerak saat duduk.
  • Tidak mampu atau merasa tidak nyaman saat harus diam dalam suatu periode waktu tertentu
  • Sulit untuk duduk diam saat di kelas atau situasi lainnya yang mengharuskan anak untuk duduk. 
  • Berbicara terlalu banyak secara berlebihan.
  • Sulit untuk melakukan aktivitas atau bermain dengan tenang. 
  • Sulit untuk menunggu giliran saat mengantri, bermain, ataupun dalam situasi berkelompok. 
  • Memberikan jawaban bahkan sebelum pertanyaan selesai diajukan.
  • Menginterupsi percakapan ataupun aktivitas yang dilakukan orang lain. 
  • Berlari-lari atau memanjat-manjat secara berlebihan di situasi yang tidak semestinya. 

Pada orang dewasa, DSM-5 tidak mencantumkan secara spesifik diagnosis untuk orang dewasa yang mengalami ADHD. Namun, beberapa gejala yang dapat terlihat jika orang dewasa mengalami ADHD adalah: 

  • Mengalami kesulitan mengatasi stres
  • Sulit dalam mengerjakan beberapa tugas dalam satu waktu (multitasking)
  • Perubahan suasana hati yang berulang
  • Impulsif
  • Memiliki aktivitas yang berlebihan
  • Manajemen waktu yang buruk
  • Temperamental dan tidak sabar
  • Sulit untuk duduk diam

 

Tidak ada penyebab pasti mengapa seseorang dapat mengalami ADHD. Namun terdapat beberapa hal yang berpotensi menyebabkan ADHD, antara lain adalah:

  • Faktor keturunan.
  • Lahir prematur sebelum 37 minggu.
  • Berat badan pada saat lahir rendah.
  • Riwayat epilepsi
  • Cedera otak 
  • Merokok dan/atau penyalahgunaan alkohol dan/atau narkotika saat mengandung.
  • Masalah pada otak saat masa-masa perkembangan yang krusial.
  • Terekspos racun-racun atau zat-zat kimia, seperti timah dan sebagainya. 

Berdasarkan DSM-5, anak baru akan didiagnosis mengalami ADHD jika:

  • Gejala-gejala mulai muncul paling lama saat usia 12 tahun.
  • Gejala-gejala dialami setidaknya selama enam bulan
  • Gejala-gejala menganggu kehidupan sosial, akademik, dan pekerjaan anak pada setidaknya di dua situasi (misalnya, di sekolah dan rumah)
  • Gejala-gejala yang dialami tidak muncul karena gangguan mental tertentu.
  • Terdapat enam gejala atau lebih dari gejala-gejala tidak dapat memusatkan perhatian.
  • Terdapat enam gejala atau lebih dari gejala-gejala perilaku hiperaktif dan impulsif.

Gejala-gejala yang dimaksud dapat dilihat pada bagian "Gejala" di atas. 

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya dapat mendiagnosis penderita dengan melakukan beberapa cara, yaitu pemeriksaan fisik untuk mengetahui masalah medis lain, pengumpulan informasi untuk mengetahui masalah medis yang dialami saat ini, dan penilaian ADHD melalui tes-tes psikologis serta panduan DSM-5 untuk mengetahui mengenai gejala yang ditimbulkan.

Penanganan dapat berupa psikoterapi dan medikasi. Beberapa obat-obatan yang dapat direkomendasikan dokter adalah obat berjenis stimulan atau antidepresan yang berguna untuk menyeimbangkan zat kimia pada otak. Penanganan pada orang dewasa juga sama untuk anak-anak.

Sedangkan psikoterapi berguna untuk:

  • Mempelajari cara mengurangi perilaku impulsif.
  • Mengembangkan keterampilan untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah.
  • Meningkatkan cara mengatur waktu.
  • Meningkatkan harga diri.
  • Mengembangkan strategi untuk mengendalikan emosi.
  • Mempelajari cara berhubungan dengan orang lain dengan baik.

Khusus untuk orangtua yang memiliki anak dengan ADHD, orangtua harus memerhatikan obat-obatan yang dikonsumsi anak (jika anak diberikan medikasi).

Orangtua harus selalu melakukan supervisi terhadap konsumsi obat-obatan anak, selalu memberikan, mengatur dosis, dan mengantarkan obat kepada anak secara langsung. Orangtua juga dianjurkan untuk menyimpan obat-obatan di tempat yang sulit untuk dijangkau dan dibuka oleh anak. 

Orangtua dapat mendukung anaknya yang mengalami ADHD dengan cara: 

  • Menerima anak apa adanya serta sabar dalam menghadapinya serta memberikan kasih yang tulus kepada anak. 
  • Mencari cara untuk meningkatkan harga diri dan rasa disiplin anak.
  • Memberikan kata-kata yang singkat dan sederhana saat memberikan instruksi kepada anak.
  • Mengatur jadwal makan dan tidur anak secara teratur serta memastikan bahwa anak istirahat cukup.
  • Membantu anak mengatur ruangan dan lingkungan sekitarnya.
  • Meluangkan waktu lebih banyak bersama anak.
  • Selalu peka untuk dapat mengetahui situasi apa yang sulit untuk dihadapi anak, misalnya sulit untuk duduk diam dalam seminar dan sebagainya.
  • Berikan diri Anda waktu untuk berisitirahat.
  • Gunakan timeout dan konsekuensi-konsekuensi yang sesuai dalam menerapkan disiplin pada anak. 

Untuk orang dewasa yang mengalami ADHD, terdapat beberapa cara yang dapat Anda lakukan, yaitu:

  • Gunakan memo untuk mengingatkan dalam melakukan tugas-tugas Anda. 
  • Buat daftar tugas-tugas apa yang harus Anda lakukan dan urutkan berdasarkan skala prioritas. 
  • Gunakan jurnal atau media-media lainnya untuk memantau apa-apa saja janji atau tugas yang harus dilakukan.
  • Sisihkan waktu untuk mengatur barang-barang dan informasi-informasi yang Anda dapatkan.
  • Ikuti rutinitas yang Anda lakukan secara konsisten.
  • Bercerita kepada orang-orang terdekat Anda mengenai masalah yang Anda alami dan jangan sungkan untuk meminta bantuan mereka. 

Untuk mengurangi risiko anak Anda mengalami ADHD, Anda dapat:

  • Melindungi anak dari racun-racun atau zat-zat kimia serta menjaga agar diri Anda tidak terkespos dengan hal-hal tersebut saat mengandung. 
  • Menghindari konsumsi rokok, alkohol, dan narkotika saat mengandung.

Jika Anda atau anak Anda memiliki beberapa gejala di atas dan merasa bahwa gejala tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari Anda atau anak Anda, maka segeralah berkonsultasi ke dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, sebaiknya Anda mempersiapkan data gejala yang dialami oleh Anda atau anak Anda, informasi pribadi Anda atau anak Anda, obat yang dikonsumsi oleh Anda atau anak Anda. Anda juga dapat membawa evaluasi atau tes-tes formal yang pernah dilakukan oleh anak Anda serta laporan akademik anak Anda. Anda dapat mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apa yang menyebabkan gejala saya atau anak saya?
  • Apa perawatan atau pengobatan yang cocok untuk menangani gejala yang saya atau anak saya alami?
  • Apa efek samping dan kontra indikasi dari obat yang dikonsumsi?
  • Apa saya atau anak saya perlu mengikuti tes-tes tertentu?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya atau anak saya alami?

Biasanya dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan bertanya beberapa pertanyaan, seperti:

  • Gejala apa saja yang Anda atau anak Anda rasakan?
  • Kapan pertama kali Anda atau anak Anda mengalami gejala tersebut?
  • Apakah ada obat-obatan atau zat-zat tertentu yang Anda atau anak Anda konsumsi?
  • Gejala apa yang paling mengganggu aktivitas keseharian Anda atau anak Anda?
  • Pada saat apa saja Anda atau anak Anda merasakan gejala-gejala tersebut?
  • Apakah gejala yang Anda atau anak Anda rasakan muncul secara terus-menerus atau tidak?
  • Apakah Anda atau anak Anda memiliki masalah sosial?
  • Bagaimana performa pekerjaan atau akademik Anda atau anak Anda?
  • Bagaimana pola tidur Anda atau anak Anda? 
  • Dimana saja Anda atau anak Anda merasakan gejala-gejala tersebut?
  • Apakah ada yang dapat memperburuk gejala Anda atau anak Anda?
  • Apakah ada yang dapat membuat gejala Anda atau anak Anda membaik?
  • Apakah anak Anda tidak dapat membaca atau memiliki kesulitan dalam membaca? (khusus untuk anak)
  • Apa saja teknik yang Anda lakukan untuk mendisiplinkan anak Anda? (khusus untuk anak)

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adult-adhd/symptoms-causes/syc-20350878
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adhd/diagnosis-treatment/drc-20350895
Diakses pada 18 Oktober 2018.

Mescape.
https://emedicine.medscape.com/article/289350-overview#showall
Diakses pada 12 Maret 2019

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd/
Diakses pada 18 Oktober 2018.

Artikel Terkait