Berbeda dengan kondisi normal, penderita gangguan panik sering mengalami rasa takut meskipun tidak ada bahaya yang nyata atau penyebab yang jelas.
Berbeda dengan kondisi normal, penderita gangguan panik sering mengalami rasa takut meskipun tidak ada bahaya yang nyata atau penyebab yang jelas.

Gangguan panik adalah rasa takut yang terjadi secara intens dan tidak menentu yang memicu reaksi fisik meskipun tidak ada bahaya yang nyata atau penyebab yang jelas. Setiap orang bisa saja pernah mengalami serangan panik ketika berada dalam tekanan. Ini merupakan respon yang normal dan rasa panik tersebut akan hilang ketika masalah atau situasi yang penuh tekanan tersebut berakhir. Tetapi jika serangan panik dialami berulang kali tanpa pemicu yang jelas dengan rentang waktu yang lama dan terjadi secara konstan serta disertai dengan rasa takut, Anda mungkin mengalami kondisi yang disebut gangguan panik.

Meskipun serangan panik itu sendiri tidak mengancam nyawa, tetapi serangan tersebut dapat secara signifikan memengaruhi kualitas hidup Anda. Jika tidak ditangani, gangguan dari serangan panik yang dirasakan dapat mengarah ke agorafobia

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), gejala-gejala yang ditimbulkan serangan panik adalah:

  • Takut kehilangan kontrol atau takut akan kematian
  • Sensasi sesak napas atau dibekap
  • Sensasi mati rasa atau kesemutan
  • Sensasi tercekat
  • Berkeringat
  • Denyut jantung berdebar kencang atau cepat
  • Gemetar
  • Mual atau adanya gangguan pada perut
  • Sakit atau rasa tidak nyaman pada dada
  • Merasa sedang dalam mimpi atau terlepas dari kenyataan
  • Takut akan kematian
  • Tubuh terasa panas atau menggigil
  • Pusing, kepala terasa ringan, atau bahkan pingsan

Serangan panik dapat berlangsung selama lima sampai 10 menit tetapi bagi penderita, serangan seperti berlangsung selama satu jam. Bahkan terkadang penderita mengira dirinya menderita serangan jantung atau stroke dan langsung menuju ke UGD untuk melakukan pemeriksaan. 

Tidak diketahui apa yang menyebabkan serangan panik atau gangguan panik, tetapi faktor-faktor ini diperkirakan berperan dalam gangguan panik:

  • Genetika (masih dalam penelitian)
  • Struktur otak yang mungkin lebih sensitif dengan rasa takut
  • Stres yang berat
  • Temperamen yang lebih sensitif terhadap stres atau cenderung emosi atau bahkan depresi
  • Perubahan tertentu dalam otak

Pada awalnya serangan panik mungkin datang tiba-tiba dan tanpa peringatan. Tetapi, terkadang dapat juga dipicu oleh situasi tertentu.

Menurut DSM-5, individu dapat diagnosis mengalami gangguan serangan panik jika:

  • Mengalami empat dari 13 gejala yang disebutkan di atas (pada bagian "Gejala").
  • Serangan panik muncul secara tiba-tiba dan berlangsung selama kurang dari 10 menit.
  • Mengalami serangan panik lainnya atau merasakan konsekuensi dari serangan yang terjadi.
  • Adanya perubahan perilaku yang tidak adaptif yang berhubungan dengan serangan yang terjadi. 

Gejala serangan panik atau gangguan panik dapat menyerupai kondisi lain seperti masalah jantung, stroke, ataupun tiroid. Untuk membantu menentukan diagnosis, ada  beberapa pemeriksaan yang dapat direkomendasikan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, seperti:

  • Pemeriksaan fisik lengkap.
  • Tes darah untuk memeriksa tiroid atau tes lain pada jantung, seperti elektrokardiogram (EKG).
  • Evaluasi psikologis untuk berbicara mengenai gejala, ketakutan atau kekhawatiran, situasi stres, masalah hubungan, situasi yang mungkin dihindari, dan riwayat keluarga.
  • Evaluasi atau kuesioner psikologis.
  • Pertanyaan mengenai pengunaan alkohol atau zat-zat lainnya.

Psikoterapi dapat membantu mengurangi intensitas atau frekuensi serangan panik, serta meningkatkan fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Selain psikoterapi, medikasi juga dapat diberikan. Satu atau beberapa jenis pengobatan mungkin direkomendasikan, tergantung pada preferensi, riwayat, tingkat keparahan gangguan panik, dan akses ke terapis yang memiliki pelatihan khusus dalam mengobati gangguan panik.

Psikoterapi secara rutin dapat membantu penderita untuk memahami serangan panik serta belajar cara mengatasinya. Salah satu bentuk psikoterapi, yaitu terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy) dapat membantu Anda belajar melalui pengalaman yang Anda alami. Melalui pengalaman tersebut, Anda perlahan-lahan memahami bahwa gejala-gejala panik yang Anda rasakan tidak berbahaya. Psikolog atau terapis akan membantu secara bertahap menciptakan kembali sensasi dari gejala serangan panik yang dialami dengan cara yang aman dan berulang-ulang. Setelah sensasi fisik panik tidak lagi terasa mengancam, Anda akan mulai dapat menangani serangan panik tersebut. 

Obat-obatan dapat membantu mengurangi gejala yang terkait dengan serangan panik serta depresi. Beberapa jenis obat yang telah terbukti efektif dalam mengatasi gejala-gejala serangan panik, yaitu:

  • Selective Serotonin Reuptake Inhibitor (SSRI), biasanya direkomendasikan sebagai pilihan obat pertama untuk mengobati serangan panik.

  • Serotonin and Norepinefrin Reuptake Inhibitor (SNRI), Obat sejenis antidepresan.

  • Benzodiazepin, obat penenang yang bersifat depresan. Biasanya, Benzodiazepin digunakan dalam jangka pendek karena obat ini dapat membuat ketergantungan. Obat ini juga tidak dianjurkan untuk individu yang memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Selain itu, obat ini dapat berinteraksi dengan obat-obatan lainnya dan menimbulkan efek yang berbahaya.

Dokter Anda mungkin akan mengganti jenis obat Anda jika tidak efektif atau bahkan menggabungkannya dengan obat-obatan lainnya.Anda harus selalu berkonsultasi dengan dokter Anda mengenai medikasi yang akan digunakan, seperti efek samping dan kontra indikasinya. 

Jika Anda mengalami gangguan panik, Anda dapat melakukan beberapa cara berikut ini:

  • Tetap mengikuti penanganan yang diberikan.
  • Hindari kafein, rokok, alkohol, dan obat-obatan tertentu yang dapat memperburuk gejala Anda.
  • Melakukan teknik relaksasi dan cara-cara untuk menangani stres.
  • Berolahraga teratur dan istirahat yang cukup.
  • Bercerita kepada orang-orang terdekat Anda mengenai masalah yang Anda alami dan bersosialisasi di komunitas-komunitas yang terdiri dari orang-orang yang mengalami situasi yang sama dengan Anda. 

Tidak ada cara pasti untuk mencegah serangan panik atau gangguan panik. Psikoterapi dan medikasi dapat berlangsung dalam jangka waktu yang lama untuk mencegah kambuhnya serangan panik atau menghindari memburuknya gejala serangan panik. Melakukan aktivitas fisik secara teratur serta mengurangi konsumsi kafein, rokok, dan alkohol dianjurkan karena dapat mengurangi kecemasan.

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami gejala serangan panik, segera konsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. Meski serangan panik tidak berbahaya, tetapi serangan panik sulit untuk diatasi dan dapat berefek negatif pada kualitas hidup jika tidak segera ditangani. Gejala serangan panik juga bisa menyerupai gejala masalah kesehatan serius lainnya, seperti serangan jantung, jadi penting untuk dievaluasi oleh dokter dan ahli kesehatan mental lainnya untuk memastikan diagnosis yang tepat.

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda memiliki tanda atau gejala serangan panik, buatlah janji dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. Sebelum janji, buatlah daftar mengenai:

  • Gejala yang Anda alami, termasuk saat pertama kali serangan terjadi dan seberapa sering anda mengalaminya.
  • Informasi pribadi, seperti peristiwa traumatis di masa lalu dan setiap peristiwa besar yang menegangkan yang terjadi sebelum serangan panik pertama Anda, serta informasi medis, termasuk kondisi kesehatan fisik dan mental Anda.
  • Konsumsi obat-obatan, vitamin, produk herbal dan suplemen lainnya, dan dosisnya.
  • Pertanyaan untuk ditanyakan kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

Mintalah seorang anggota keluarga atau teman yang terpercaya untuk pergi bersama. Anggota keluarga dan teman terdekat dapat memberikan Anda dukungan dan membantu mengingat informasi dari dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. Terdapat beberapa pertanyaan yang dapat Anda tanyakan kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, seperti:

  • Apa penyebab dari gejala-gejala yang saya alami?
  • Apakah terdapat masalah medis yang mungkin menyebabkan gejala-gejala tersebut?
  • Apakah saya perlu tes diagnostik lanjutan?
  • Adakah yang bisa saya lakukan sekarang untuk mengatasi gejala yang saya alami?
  • Apakah saya memiliki serangan panik atau gangguan panik?
  • Apa pengobatan atau perawatan yang Anda rekomendasikan?
  • Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk pengobatan atau perawatan tersebut?
  • Apakah efek samping dan kontra indikasi dari obat yang harus saya konsumsi?
  • Bagaimana caranya Anda bisa mengetahui bahwa obat yang saya konsumsi efektif untuk saya?
  • Apa yang bisa saya lakukan untuk mencegah kambuhnya serangan panik yang saya alami?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mungkin akan bertanya:

  • Apa gejala-gejala yang Anda rasakan dan kapan pertama kali gejala-gejala tersebut muncul?
  • Seberapa sering Anda mengalami serangan panik dan berapa lama serangan tersebut berlangsung? 
  • Apakah ada sesuatu yang memicu serangan panik yang Anda alami?
  • Seberapa sering Anda mengalami ketakutan akan serangan lainnya?
  • Apakah Anda menghindari lokasi atau pengalaman yang tampaknya memicu serangan?
  • Bagaimana gejala Anda memengaruhi kehidupan Anda, seperti sekolah, pekerjaan, dan hubungan pribadi?
  • Apakah Anda mengalami stres berat atau peristiwa traumatis sesaat sebelum serangan panik pertama Anda?
  • Bagaimana Anda menggambarkan masa kecil Anda, termasuk hubungan Anda dengan orang tua?
  • Apakah Anda atau sanak keluarga dekat Anda pernah didiagnosis menderita gangguan mental, termasuk serangan panik atau gangguan panik?
  • Pernahkah Anda didiagnosis dengan kondisi medis apa pun?
  • Apakah anda menggunakan kafein, alkohol, atau narkoba? Seberapa sering?
  • Apakah anda berolahraga atau melakukan aktivitas fisik rutin lainnya?

Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/panic-attacks/diagnosis-treatment/drc-20376027
Diakses pada 26 September 2018.

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/287913-overview#a3
Diakses pada 12 Maret 2019

WebMD.
https://www.webmd.com/anxiety-panic/guide/mental-health-panic-disorder#1
Diakses pada 26 September 2018.

VeryWell Mind.
https://www.verywellmind.com/diagnosing-panic-disorder-2583930
Diakses pada 12 Maret 2019

Artikel Terkait