Psikologi

Gangguan Panik

09 Feb 2021 | dr. Levina FeliciaDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Gangguan Panik
Penderita gangguan panik sering mengalami rasa takut meski tidak ada bahaya yang nyata
Gangguan panik adalah jenis gangguan kecemasan yang ditandai dengan serangan panik mendadak atau rasa takut yang muncul berkala. Kondisi ini menimbulkan serangan panik, yaitu perasaan takut yang muncul tanpa penyebab dan bahaya apapun.Penderita dapat merasa hilang kendali dan mengalami gejala fisik, seperti jantung berdebar, berkeringat, dan nyeri dada.Semua orang bisa mengalami rasa cemas dan panik pada waktu tertentu sebagai respons natural terhadap stres atau bahaya. Namun pengidap gangguan panik dapat memiliki rasa cemas, stres, dan panik secara berkala maupun tiap waktu, tanpa penyebab yang jelas.Serangan panik dapat terjadi kapan pun dan di mana pun, tanpa peringatan. Pasien bisa hidup dalam ketakutan dan menghindari lokasi munculnya serangan panik. Rasa takut ini bahkan membuat sebagian penderita tidak mau keluar dari rumah.Gangguan panik lebih umum terjadi pada wanita daripada laki-laki. Kondisi ini biasanya muncul pada usia dewasa muda dan diawali dengan stres yang berat.Sebagan ebsar pengodap gangguan panik bisa membaik dengan penanganan yang tepat. Misalnya, psikoterapi dan obat-obatan.Meski serangan panik itu sendiri tidak mengancam nyawa, kondisi ini tetap bisa memengaruhi kualitas hidup pasien secara signifikan. Jika tidak ditangani dengan benar, gangguan panik bisa mengarah pada agorafobia, yakni ketakutan berlebih pada tempat umum atau ruang terbuka. 
Gangguan Panik
Dokter spesialisPsikolog, Jiwa
GejalaRasa cemas dan serangan panik
Faktor risikoRiwayat keluarga, gangguan mental, penggunaan narkoba
Metode diagnosisTanya jawab (berdasarkan DSM-5), pemeriksaan fisik, evaluasi psikologis
PengobatanPsikoterapi, obat-obatan, penanganan mandiri
ObatSSRI, SNRI, benzodiazepine
KomplikasiFobia spesifik, menghindari orang lain, masalah dalam pekerjaan atau studi
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala gangguan panik
Gejala gangguan panik dapat berupa:

Rasa cemas (anxiety)

Rasa cemas adalah perasaan tidak tenang. Kondisi ini dapat bersifat ringan hingga berat, dan meliputi rasa khawatir serta takut.Panik merupakan bentuk terberat dari rasa cemas. Pasien dengan kecemasan akan menghindari situasi tertentu akibat takut akan serangan panik yang mungkin timbul.Kondisi ini dapat membuat pasien hidup dalam rasa takut, yang justru menambah kecemasan dan memicu serangan panik yang lebih sering.

Serangan panik

Serangan panik ditandai dengan gejala fisik dan mental yang intens. Serangan terjadi sangat cepat dan tanpa penyebab yang jelas.Gejala serangan panik umumnya meliputi:
  • Jantung berdebar
  • Sensasi seperti mau pingsan
  • Berkeringat
  • Mual
  • Nyeri dada
  • Tubuh gemetar
  • Rasa panas pada wajah (hot flushes)
  • Sesak napas
  • Menggigil
  • Sensasi seperti tercekik
  • Pusing
  • Mati rasa atau kesemutan
  • Mulut kering
  • Ingin buang air kecil
  • Telinga berdenging
  • Rasa takut mati
  • Sakit perut melilit
  • Sensasi seperti terpisah dari tubuh
Serangan panik biasanya terjadi selama 5-20 menit. Namun pada beberapa kasus, serangan ini bisa berlangsung hingga satu jam.Frekuensi serangan panik juga tergantung pada seberapa parah kondisi penderita. Beberapa penderita mengalaminya 1-2 kali sebulan, sementara sebagian pasien lain terkena serangan ini beberapa kali seminggu. 
Hingga sekarang, penyebab gangguan panik belum diketahui secara pasti. Menurut sejumlah penelitian, kondisi ini terkait dengan faktor genetik dan perubahan signifikan yang terjadi dalam hidup penderita.Mulai kuliah, menikah, atau memiliki anak pertama adalah perubahan besar dalam hidup yang dapat memicu stress dan terjadinya gangguan panik. 

Faktor risiko gangguan panik

Para pakar kesehatan menduga bahwa sejumlah faktor di bawah ini bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami gangguan panik:
  • Riwayat keluarga

Bila seseorang memiliki anggota keluarga kandung dengan gangguan kecemasan (termasuk gangguan panik), kemungkinannya untuk mengalami hal yang sama akan meningkat.
  • Gangguan mental

Pengidap gangguan kecemasan, depresi, atau gangguan jiwa lain, lebih rentan untuk terkena gangguan panik.
  • Penyalahgunaan substansi

Orang yang mengonsumsi alkohol sevara berlebihan atau kecanduan obat (baik obat medis maupun obat-obatan terlarang) umumnya leih rentan untuk mengalami gangguan panik. 
Untuk memastikan diagnosis gangguan panik, dokter bisa melakukan beberapa metode pemeriksaan di bawah ini:

Kriteria diagnostic and statistical manual of mental disorders edisi kelima (DSM-5)

Menurut kriteria DSM-5, gejala gangguan panik meliputi:
  • Takut kehilangan kendali
  • Sensasi sesak napas atau dibekap
  • Sensasi mati rasa atau kesemutan
  • Sensasi tercekat
  • Berkeringat
  • Denyut jantung yang cepat
  • Gemetaran
  • Mual atau gangguan pencernaan lain
  • Sakit atau rasa tidak nyaman pada dada
  • Merasa sedang bermimpi atau terlepas dari kenyataan
  • Takut akan kematian
  • Tubuh terasa panas atau menggigil
  • Pusing, kepala terasa ringan, atau bahkan pingsan
Seseorang dapat didiagnosis mengalami gangguan panik jika:
  • Mengalami empat dari 13 gejala dalam DSM-5
  • Serangan panik muncul secara tiba-tiba dan berlangsung selama kurang dari 10 menit
  • Mengalami serangan panik lain atau merasakan konsekuensi dari serangan yang terjadi
  • Ada perubahan perilaku yang tidak adaptif, sehubungan dengan serangan panik 

Pemeriksaan kesehatan

Gejala serangan panik atau gangguan panik dapat menyerupai kondisi lain. Misalnya, gangguan jantung, stroke, ataupun tiroid.Untuk membantu dalam menentukan diagnosis, pemeriksaan berikut dapat direkomendasikan oleh dokter:
  • Pemeriksaan fisik lengkap
  • Tes darah untuk memeriksa kadar tiroid
  • Tes lain yang berhubungan dengan jantung, seperti elektrokardiogram (EKG)
  • Evaluasi psikologis untuk membicarakan gejala, ketakutan atau kekhawatiran, stres, masalah hubungan, situasi yang mungkin dihindari, dan riwayat keluarga
  • Evaluasi atau kuesioner psikologis
  • Pertanyaan mengenai pengunaan alkohol atau zat-zat lainnya
 
Cara mengobati gangguan panik yang umumnya direkomendasikan oleh dokter meliputi:

1. Psikoterapi

Psikoterapi dapat membantu dalam mengurangi intensitas atau frekuensi serangan panik, serta meningkatkan kualitas kehidupan sehari-hari pasien. Jika dilakukan secara rutin dapat, penderita bisa terbantu untuk memahami serangan panik serta belajar mengatasinya.Salah satu bentuk psikoterapi yang dianjurkan adalah terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT). Melalui CBT, pasien akan diajari untuk memahami bahwa gejala-gejala panik tidaklah berbahaya.Dokter atau psikolog akan menciptakan sensasi dari gejala serangan panik dengan cara aman dan terkontrol, dan mengajarkan cara mengatasinya dengan potifis pada pasien. Dengan ini, pasien akan belajar untuk mengubah pola pikirnya dan bisa beradaptasi terbiasa.

2. Obat-obatan

Obat-obatan dapat membantu mengurangi gejala yang terkait dengan serangan panik serta depresi. Beberapa jenis obat yang telah terbukti efektif dalam mengatasi gejala-gejala serangan panik, yaitu:
  • Selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI)

SSRI biasanya direkomendasikan sebagai obat pertama dalam mengatasi serangan panik.
  • Serotonin and norepinefrin reuptake inhibitor (SNRI)

SNRI adalah obat golongan antidepresan.
  • Benzodiazepine

Benzodiazepine merupakan obat penenang yang bersifat antidepresan. Biasanya, obat ini tidak digunakan untuk jangka pendek karena bisa memicu ketergantungan.Oleh sebab itu, benzodiazepine juga tidak dianjurkan untuk pasien dengan riwayat penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan.Harap diingat bahwa benzodiazepine dapat berinteraksi dengan obat-obatan lain, dan menimbulkan efek samping yang berbahaya.Jika dinilai kurang efektif, dokter mungkin saja mengganti obat-obatan yang diberikan atau mengombinasikanya.

3. Penanganan mandiri di rumah

Agar pengobatan gangguan panik berjalan lancar, pasien juga bisa menerapkan beberapa langkah berikut:
  • Mematuhi pengobatan yang diberikan oleh dokter
  • Menjauhi kafein, rokok, alkohol, dan obat-obatan yang dapat memperburuk gejala
  • Mengelola stres, misalnya dengan melakukan teknik relaksasi dan hobi
  • Berolahraga secara teratur, setidaknya 30 menit per hari atau 2,5 jam dalam seminggu
  • Cukup beristirahat
  • Berbagi cerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dialami
  • Bergabung dalam support group yang beranggotakan orang-orang dengan gangguan yang sama
 

Komplikasi gangguan panik

Bila tidak ditangani dengan benar, gangguan panik dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan penderita sehingga kualitas hidupnya akan berkurang. Beberapa komplikasi yang bisa terjadi meliputi:
  • Munculnya fobia spesifik, seperti takut menyetir atau keluar rumah
  • Memerlukan perawatan medis secara berkala
  • Menghindari situasi sosial
  • Munculnya masalah dalam pekerjaan atau studi
  • Mengalami depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan kesehatan jiwa lain
  • Meningkatnya pikiran ingin bunuh diri dan risiko bunuh diri
  • Penyalahgunaan alkohol atau narkoba
  • Timbulnya masalah finansial
Pada sebagian penderita, gangguan panik dapat memicu terjadinya agorafobia. Agorafobia adalah sikap menghindari tempat atau situasi yang membuat cemas karena takut tidak bisa keluar dan mendapat pertolongan ketika mengalami serangan panik. Pasien bahkan membutuhkan orang lain untuk menemaninya keluar rumah. 
Karena penyebabnya tidak diketahui, cara mencegah gangguan panik juga belum tersedia. Untuk penderita, psikoterapi dan penggunaan obat jangka panjang dapat mencegah kambuhnya serangan panik atau memburuknya gejala.Melakukan aktivitas fisik secara teratur dan mengurangi konsumsi kafein, rokok, serta alkohol juga dianjurkan karena dapat mengurangi tingkat kecemasan.  
Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala serangan panik, segera berkonsultasi ke dokter dan psikolog. Meski tidak berbahaya, serangan panik sulit untuk diatasi dan bisa berefek negatif pada kualitas hidup penderita jika terus dibiarkan.Gejala serangan panik juga bisa menyerupai gejala penyakit serius lain, seperti serangan jantung. Jadi penting bagi Anda untuk memeriksakan diri ke dokter guna memastikan diagnosis. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang di
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang di
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang di
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Meminta keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait gangguan panik?
  • Apakah ada anggota keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis gangguan panik. Dengan ini, penanganan bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/panic-attacks/diagnosis-treatment/drc-20376027
Diakses pada 26 September 2018
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/287913-overview#a3
Diakses pada 12 Maret 2019
WebMD. https://www.webmd.com/anxiety-panic/guide/mental-health-panic-disorder#1
Diakses pada 26 September 2018
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/diagnosing-panic-disorder-2583930
Diakses pada 12 Maret 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/panicdisorder.html
Diakses pada 9 Februari 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/panic-disorder/
Diakses pada 9 Februari 2021
Healthline. https://www.healthline.com/health/panic-disorder
Diakses pada 9 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email