Psikologi

Gangguan Makan Pica

14 Sep 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gangguan Makan Pica
Orang dengan gangguan makan (pica) berisiko mengalami keracunan, infeksi usus, dan defisiensi nutrisi.
Pica adalah jenis gangguan makan berupa keinginan untuk mengonsumsi benda atau zat yang bukan makanan serta tidak mempunyai nilai gizi. Benda atau zat yang dikonsumsi bahkan dapat menyebabkan masalah kesehatan. Oleh karena itu, pengidap gangguan makan pica berisiko lebih tinggi mengalami keracunan, infeksi usus, dan defisiensi nutrisi. Tergantung pada benda atau zat yang dicerna, kondisi ini mungkin juga bisa berakibat fatal.Pica dapat terjadi pada siapa saja di usia berapa pun. Banyak faktor yang dapat memicu seseorang mengalami gangguan makan pica, misalnya kekurangan gizi atau riwayat penyakit mental. Itu mengapa pica paling sering terjadi pada anak-anak, wanita hamil, dan individu dengan gangguan mental. Kata “pica” sendiri berasal dari bahasa Latin “pica-pica” yang berarti burung murai. Burung tersebut mempunyai kebiasaan memakan benda-beda yang mereka kumpulkan atas dasar penasaran.Baca juga: Beberapa Jenis Gangguan Makan serta Gejalanya
Gangguan Makan Pica
Dokter spesialis Umum, Jiwa, Psikolog
GejalaMemiliki kebiasaan memakan benda atau zat yang bukan makanan, meski bukan lagi anak kecil
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, X-ray (rontgen), endoskopi saluran cerna bagian atas
PengobatanIntervensi perilaku, obat pendukung
Obatolanzapine
KomplikasiKeracunan, gangguan pencernaan, masalah kesehatan gigi
Kapan harus ke dokter?Saat melihat berulang kali perilaku memakan benda atau zat yang bukan makanan
Secara umum, tanda dan gejala gangguan makan pica adalah kebiasaan memakan zat atau benda-benda yang bukan makanan serta tidak mempunyai nilai gizi secara terus menerus setidaknya selama satu bulan. Seseorang juga dikatakan memiliki gangguan makan pica jika berusia di atas 2 tahun.Anak di bawah 2 tahun yang menunjukkan gejala pica tidak bisa didiagnosis dengan penyakit ini. Pasalnya, memakan benda-benda yang bukan makanan adalah cara anak untuk mengeksplorasi indera mereka. Ini juga dan merupakan sesuatu yang normal untuk terjadi di usia mereka.Benda-benda yang biasa dimakan individu dengan Pica di antaranya adalah:
  • ainan
  • umput
  • Kotoran
  • Tanah
  • Kapur tulis
  • Sabun
  • Kertas
  • Rambut
  • Kain atau wol
  • Kerikil
  • Deterjen
  • Tepung jagung,
  • dan benda atau zat lain yang bukan makanan.
Gejala fisik akibat gangguan makan pica bisa sangat bervariasi, tergantung dari efek zat atau benda yang dicerna. Adapun pengaruh gangguan makan pica pada kesehatan fisik dapat meliputi:
  • Sering sakit perut, ,ulas
  • BAB berdarah.
  • Masalah pencernaan, seperti sembelit atau diare. Penyumbatan usus juga mungkin terjadi.
  • Masalah kesehatan gigi, misalnya: erosi gigi (terkikisnya permukaan gigi) atau gigi patah.
Gangguan makan pica dapat disebabkan oleh berbagai hal. Beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab pica adalah:
  • Malnutrisi
  • Menderita kelaparan yang amat ekstrem sehingga memicu keinginan untuk memakan apa saja karena butuh merasa kenyang. 
  • Mengalami anemia defisiensi zat besi atau anemia defisiensi zinc.
  • Sedang menjalani kehamilan. Perubahan hormon dalam tubuh dapat memicu ibu hamil mengidam benda tertentu yang tidak lazim dimakan. 
  • Masalah psikologis seperti stres karena kondisi ekonomi  atau trauma. Anak-anak penyintas pelecehan seksual atau pengabaian cenderung lebih berisiko mengalami gangguan makan.
  • Gangguan mental seperti skizofrenia atau OCD, atau gangguan tumbuh kembang seperti autisme.
  • Mencontoh perilaku khas penyakit pica yang dipelajari dari orang lain
Baca jawaban dokter: Apa saja makanan yang disarankan untuk anak autis?
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-V) menjelaskan bahwa  psikolog atau psikiater dapat mendiagnosis gangguan makan pica berdasarkan kriteria berikut: 
  • Konsumsi benda atau zat-zat bukan makanan yang tidak memiliki kandungan nutrisi secara terus-menerus selama kurang lebih satu bulan.
  • Perilaku mengonsumsi benda-benda atau zat-zat tersebut tidak sesuai dan tidak didukung secara norma sosial ataupun budaya individu. 
  • Konsumsi benda-benda atau zat-zat tersebut tidak sesuai pada tahap perkembangan individu.
  • Jika perilaku muncul bersama dengan adanya gangguan mental atau medis tertentu, maka individu dapat langsung dirujuk untuk pemeriksaan secara klinis. 
Untuk menentukan kriteria di atas, pasien setidaknya harus berumur 2 tahun.Jika pasien dicurigai menderita gangguan makan pica, evaluasi medis penting dilakukan untuk menilai kemungkinan terjadinya komplikasi.Dokter akan memulai evaluasi riwayat medis dengan melakukan:
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan X-ray (rontgen), biasanya dilakukan jika pasien memiliki gejala yang berkaitan dengan perut mereka
  • Pemeriksaan darah, untuk mencari racun serta zat lain dalam darah dan mengecek ada tidaknya penyumbatan pada saluran usus.
  • Pemeriksaan barium saluran cerna atas dan bawah
  • Endoskopi saluran cerna bagian atas
  • Pemeriksaan pola makan pasien
  • Pemeriksaan kemungkinan infeksi akibat mengonsumsi benda atau zat-zat yang sudah terkontaminasi oleh bakteri maupun organisme lainnya.
Dokter dan psikolog akan mengevaluasi kemungkinan terdapat masalah lainnya seperti keterbelakangan mental, gangguan perkembangan, atau gangguan OCD sebagai penyebab perilaku makan yang tidak normal. Pola perilaku ini harus bertahan setidaknya satu bulan untuk mendiagnosis pasien sedang menderita gangguan makan pica.Baca juga: Ibu Hamil Mengidam Aneh-Aneh, Mungkinkah Tanda Kurang Zat Besi?
Tidak ada perawatan medis khusus untuk gangguan makan pica. Akan tetapi terdapat beberapa terapi yang dianggap efektif untuk mengatasi kondisi ini, antara lain dengan terapi perilaku dan obat-obatan.

Terapi perilaku

Terapi dilakukan dengan menerapkan sejumlah strategi untuk mengubah cara pandang atau kebiasaan makan pasien, antara lain:
  • Berlatih untuk memisahkan antara barang-barang yang dapat dimakan dan yang tidak bisa dimakan.
  • Penggunaan alat-alat perlindungan diri yang dapat mencegah individu memasukkan benda ke dalam mulut.
  • Memperbaiki kondisi kekurangan nutrisi yang mungkin menjadi penyebab gangguan makan pica.
  • Melakukan koreksi terhadap lingkungan atau praktik yang mungkin mendukung pasien tersebut mengalami gangguan makan pica. 
  • Memberikan rangsangan yang positif saat pasien tidak mengonsumsi benda atau zat yang bukan makanan yang tidak ada nilai gizinya.

Obat-obatan

Beberapa bukti menunjukkan bahwa obat yang meningkatkan fungsi dopaminergik (misalnya olanzapine) dapat menjadi alternatif pengobatan pada pasien yang tidak cocok dengan terapi perilaku.

Komplikasi

Memakan benda atau zat yang bukan makanan dapat mengarah pada kondisi serius, seperti:
  • Keracunan, misalnya: keracunan timbal.
  • Gangguan pencernaan, mencakup penyumbatan usus, lesi pada usus, masalah pergerakan usus, dan usus pecah.
  • Masalah kesehatan gigi, misalnya: terkikisnya permukaan gigi.
  • Infeksi parasit, misalnya: toksocariasis dan askariasis.
  • Tersedak.
Tidak ada cara tertentu untuk mencegah gangguan makan pica. Namun, pencegahan gangguan makan bisa dimulai dengan membentuk kebiasaan makan yang baik. Misalnya dengan memberikan pengawasan ketat terhadap anak-anak yang cenderung suka memasukkan benda atau zat-zat ke dalam mulutnya.Selain itu, edukasi mengenai benda atau zat apa saja yang dapat dikonsumsi juga dapat membantu pencegahan gangguan makan pica.
Anda atau orang-orang terdekat Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika mengalami gejala-gejala yang terkait dengan gangguan makan pica. 
Membuat janji dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.
  • Mencatat gejala-gejala yang timbul
  • Mencatat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan pada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya seperti:
    • Apakah saya secara klinis sudah didiagnosis mengalami gangguan makan pica?
    • Apa penyebab dari gejala yang saya rasakan?
    • Apakah ada pemeriksaan yang perlu dilakukan?
    • Apa saja terapi, penanganan, atau medikasi yang dibutuhkan?
    • Apa saja yang dapat dilakukan untuk mencegahgangguan makan pica muncul kembali?
    • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi cetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Jenis makanan apa yang Anda konsumsi?
  • Apakah kebiasaan memakan benda atau zat yang berbahaya ini dirasakan secara terus menerus atau hilang-timbul?
  • Kapan pertama kali muncul gejala tersebut dan sudah berlangsung berapa lama?
  • Apakah ada hal-hal yang memperbaiki gejala?
  • Apakah ada hal-hal yang memperburuk gejala?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis gangguan makan pica agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
National Eating Disorder. https://www.nationaleatingdisorders.org/learn/by-eating-disorder/other/pica
Diakses pada 26 Agustus 2021
Developmental-Behavioral Pediatrics. https://www.sciencedirect.com/topics/pharmacology-toxicology-and-pharmaceutical-science/pica
Diakses pada 26 Agustus 2021
MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/en-pt/professional/psychiatric-disorders/eating-disorders/pica
Diakses pada 26 Agustus 2021
Healthline.
https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders#section2
Diakses pada 18 Februari 2019
Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/914765-overview
Diakses pada 18 Februari 2019
Medicine Net.
https://www.medicinenet.com/pica/definition.htm
Diakses pada 26 Agustus 2021
Journal of International Society of Preventive and Community Dentistry. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4015153/
Diakses pada 18 Februari 2019
WebMD.
https://www.webmd.com/mental-health/qa/how-is-pica-diagnosed
Diakses pada 18 Februari 2019
National Center for Biotechnology Information.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK532242/
Diakses pada 26 Agustus 2021
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/pica.html
Diakses pada 26 Agustus 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email