Gangguan Makan Pica

Ditinjau dr. Reni Utari
Pica merupakan gangguan makan yang diindikasikan dengan konsumsi benda-benda atau zat-zat yang bukan makanan dan tidak bernutrisi secara terus-menerus selama setidaknya satu bulan.
Orang dengan gangguan makan (pica) berisiko mengalami keracunan, infeksi usus, dan defisiensi nutrisi.

Pengertian Gangguan Makan Pica

Pica adalah gangguan makan yang didefinisikan sebagai konsumsi benda-benda atau zat-zat yang bukan makanan dan tidak bernutrisi secara terus-menerus selama setidaknya satu bulan pada usia yang tidak sesuai dengan perkembangan.

Individu dengan gangguan makan pica dapat memakan kotoran, tanah, kapur tulis, sabun, kertas, rambut, kain, wol, kerikil, deterjen, tepung jagung, dan benda-benda atau zat-zat lain yang bukan makanan. Pica dapat terjadi pada anak-anak, remaja, dan bahkan orang dewasa. Gangguan ini paling sering terjadi pada anak-anak, wanita hamil, dan individu dengan gangguan mental.

Individu dengan pica berisiko lebih tinggi mengalami keracunan, infeksi usus, dan defisiensi nutrisi. Tergantung pada benda atau zat yang dicerna, pica mungkin berakibat fatal.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Secara umum, indikasi dari gangguan makan pica adalah:

  • Kebiasaan mengonsumsi zat-zat atau benda-benda yang bukan makanan dan tidak bernutrisi seperti kotoran, tanah, kapur tulis, sabun, kertas, rambut, kain, wol, kerikil, deterjen, tepung jagung, dan sebagainya selama satu bulan.
  • Konsumsi benda-benda atau zat-zat tersebut tidak sesuai pada tahap perkembangan individu (di atas dua tahun).

Gejala fisik akibat gangguan makan pica sangat bervariasi dan tergantung dari kondisi medis yang dihasilkan dan zat atau benda yang dicerna.

Pengaruh gangguan makan pica pada kesehatan fisik dapat meliputi:

  • Keracunan (misalnya: Keracunan timbal)
  • Gangguan pencernaan (misalnya: konstipasi, penyumbatan usus, lesi pada usus, masalah pergerakan usus, dan usus pecah)
  • Masalah kesehatan gigi (misalnya: terkikisnya permukaan gigi)
  • Infeksi parasit (misalnya: toksocariasis dan ascariasis)

Penyebab

Para ahli percaya bahwa gangguan makan dapat disebabkan oleh berbagai faktor.

  • Genetika
  • Ciri-ciri kepribadian. Secara khusus, neurotisme (ketidakstablian emosi), perfeksionisme, dan impulsif adalah sifat kepribadian yang sering dikaitkan dengan risiko lebih tinggi terkena gangguan makan
  • Perbedaan dalam struktur otak dan biologis
  • Stres
  • Keterbelakangan mental
  • Perilaku yang dipelajari dari orang lain

Diagnosis

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-V) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), menjabarkan kriteria pica sebagai berikut: 

  • Konsumsi benda-benda atau zat-zat bukan makanan yang tidak memiliki kandungan nutrisi secara terus-menerus selama kurang lebih satu bulan.
  • Perilaku mengonsumsi benda-benda atau zat-zat tersebut tidak sesuai dan tidak didukung secara norma sosial ataupun budaya individu. 
  • Konsumsi benda-benda atau zat-zat tersebut tidak sesuai pada tahap perkembangan individu.
  • Jika perilaku muncul bersama dengan adanya gangguan mental atau medis tertentu, maka individu dapat langsung dirujuk untuk pemeriksaan secara klinis. 

Namun perlu diketahui bahwa perilaku memasukkan dan mengonsumsi benda-benda atau zat-zat yang tidak bernutrisi dianggap normal pada anak yang berumur 18 bulan sampai dua tahun. Oleh karenanya, individu harus setidaknya berumur dua tahun untuk dapat didiagnosis menggunakan kriteria dari DSM-5.

Jika dicurigai pica, evaluasi medis penting untuk menilai kemungkinan:

  • Penyumbatan usus
  • Potensi toksisitas dari zat yang dicerna

Dokter akan memulai evaluasi riwayat medis dengan melakukan:

  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan X-ray.
  • Pemeriksaan lab darah untuk mencari racun serta zat lain dalam darah dan mengecek ada tidaknya penyumbatan pada saluran usus.
  • Pemeriksaan barium saluran cerna atas dan bawah.
  • Endoskopi saluran cerna bagian atas.
  • Pemeriksaan pola makan individu.
  • Pemeriksaan kemungkinan infeksi akibat mengonsumsi benda-benda atau zat-zat yang sudah terkontaminasi oleh bakteri maupun organisme lainnya.

Dokter dan psikolog akan mengevaluasi kemungkinan terdapat masalah lainnya seperti keterbelakangan mental, gangguan perkembangan, atau gangguan obsesif-kompulsif sebagai penyebab perilaku makan yang tidak normal. Pola perilaku ini harus bertahan setidaknya satu bulan untuk membuat diagnosis pica.

Pengobatan

Jika individu menderita pica, sangat direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter dan psikolog.

Tidak ada perawatan medis khusus untuk pica. Beberapa bukti menunjukkan bahwa obat yang meningkatkan fungsi dopaminergik (misalnya, olanzapine) dapat menjadi alternatif pengobatan pada individu dengan pica yang tidak cocok dengan intervensi perilaku. 

Saat ini, strategi intervensi perilaku dianggap paling efektif dalam pengobatan pica. Strategi tersebut meliputi:

  • Berlatih untuk memisahkan antara barang yang dapat dimakan dan yang tidak bisa dimakan.
  • Menggunakan alat-alat perlindungan diri yang dapat mencegah individu memasukkan benda ke dalam mulut.
  • Memperbaiki jika terjadi kekurangan nutrisi.
  • Melakukan koreksi terhadap lingkungan atau praktik yang mungkin mendukung individu untuk pica. 
  • Memberikan stimulus yang positif saat individu tidak mengonsumsi benda-benda atau zat-zat yang bukan makanan dan tidak bernutrsi.

Pencegahan

Tidak ada cara tertentu untuk mencegah pica. Namun, diperlukan perhatian khusus yang ditujukan pada kebiasaan makan. Pengawasan ketat terhadap anak-anak yang cenderung suka memasukkan benda-benda atau zat-zat ke dalam mulutnya dapat mencegah dan mengatasi gangguan sebelum komplikasi dapat terjadi. Selain itu, edukasi mengenai benda-benda atau zat-zat apa saja yang dapat dikonsumsi juga dapat membantu pencegahan pica.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Anda atau orang-orang terdekat Anda disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika mengalami gejala-gejala seperti pada yang telah tertera di atas. 

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Membuat janji dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

  • Mencatat gejala-gejala yang timbul
  • Mencatat daftar pertanyaan yang ingin ditanyakan pada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya seperti:
    • Apakah saya secara klinis sudah didiagnosis mengalami pica?
    • Apa penyebab dari gejala yang saya rasakan?
    • Apakah ada pemeriksaan yang perlu dilakukan?
    • Apa saja terapi, penanganan, atau medikasi yang dibutuhkan?
    • Apa saja dapat dilakukan untuk mencegah pica muncul kembali?
    • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan bertanya lebih detail mengenai riwayat makanan yang dikonsumsi dan gejala yang timbul, serta melakukan beberapa pemeriksaan untuk menunjang diagnosis.

Beberapa hal yang dapat ditanyakan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya antara lain:

  • Jenis makanan apa yang Anda konsumsi?
  • Apakah kebiasaan memakan benda atau zat yang berbahaya ini dirasakan secara terus menerus atau hilang timbul?
  • Kapan pertama kali muncul gejala tersebut dan sudah berlangsung berapa lama?
  • Apakah ada hal-hal yang memperbaiki gejala?
  • Apakah ada hal-hal yang memperburuk gejala?
Referensi

Healthline. 
https://www.healthline.com/nutrition/common-eating-disorders#section2
Diakses pada 18 Februari 2019

Medscape. 
https://emedicine.medscape.com/article/914765-overview
Diakses pada 18 Februari 2019

WebMD. 
https://www.webmd.com/mental-health/qa/how-is-pica-diagnosed
Diakses pada 18 Februari 2019

Back to Top