Gangguan Makan

Ditinjau dr. Miranda Rachellina
Salah satu contoh gangguan makan adalah kebiasaan makan berlebihan atau terlalu sedikit, seperti anoreksia dan bulimia.
Makan berlebihan, terlalu sedikit, atau dimuntahkan kembali adalah contoh gangguan makan.

Pengertian Gangguan Makan

Gangguan makan merupakan gangguan serius terhadap perilaku makan yang dapat memberi pengaruh buruk terhadap kesehatan fisik, emosi, dan fungsi kehidupan sehari-hari seseorang. Seseorang yang mengalaminya biasanya terobsesi dengan bentuk badan dan berat badan yang akhirnya membuat orang tersebut makan terlalu banyak ataupun makan terlalu sedikit. Beberapa jenis gangguan makan yang sering ditemukan adalah anoreksia nervosa, bulimia, dan binge-eating disorder (makan berlebihan tak terkontrol). Pria maupun wanita dapat mengalami gangguan ini tetapi gangguan ini umumnya dialami oleh gadis berusia 13 sampai 17 tahun. 

Secara umum, terdapat beberapa jenis gangguan makan yang sering dijumpai, yaitu:

  • Binge-Eating Disorder
    Gangguan ini menyebabkan penderitanya terus mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dengan cepat dan tidak dapat dikendalikan, meskipun sedang tidak kelaparan atau bahkan sudah sangat kekenyangan. Setelah makan, penderita akan merasa malu dan jijik dengan dirinya. Penderita biasanya memiliki berat badan yang normal, berlebih (overweight), atau bahkan obesitas (obese).

  • Anorexia Nervosa
    Penderita anorexia berusaha sangat keras untuk tidak menaikkan berat badannya dan selalu berpikir dirinya gemuk. Penderita memiliki berat badan di bawah normal dan memiliki ketakutan yang berlebihan akan kenaikan berat badan. Oleh karenanya, penderita akan melakukan berbagai cara untuk membatasi kalori yang akan dikonsumsi dan membakar kalori yang telah dikonsumsi. Cara-cara yang digunakan dapat berupa, makan dalam jumlah yang sangat sedikit, berolahraga secara berlebihan, memuntahkan makanan, dan sebagainya. 

  • Bulimia Nervosa
    Penderita bulimia makan dalam jumlah yang banyak dengan cepat dan tidak dapat dikendalikan (binge). Setelahnya, penderita akan melakukan kompensasi atas makanan yang telah dimakan dengan cara yang tidak sehat (purging). Kompensasi yang dilakukan dapat berupa memuntahkan makanan, berolahraga secara berlebihan, menggunakan obat pencahar, dan sebagainya. Berbeda dengan penderita anorexia, penderita bulimia biasanya memiliki berat badan yang normal atau bahkan sedikit kelebihan berat badan.

  • Rumination Disorder 
    Rumination disorder adalah gangguan yang ditandai dengan mengeluarkan kembali makanan yang telah ditelan ke dalam mulut untuk dikunyah kembali, dimuntahkan keluar atau bahkan ditelan kembali. Penderita rumination disorder tidak mengalami kondisi medis apapun dan terlihat tidak membutuhkan usaha tertentu untuk mengeluarkan makanan tersebut. Gangguan ini biasa dialami oleh anak-anak dan penderita keterbelakangan mental. 

  • Gangguan Menghindari atau Membatasi Makanan (Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder)
    Gangguan ini ditandai dengan konsumsi nutrisi di bawah asupan yang diperlukan karena tidak memiliki keinginan untuk makan. Penderita biasanya menghindari makanan dengan karakteristik tertentu, seperti warna, tekstur, rasa, atau aroma makanan. Makanan juga terkadang dihindari karena penderita takut dengan konsekuensi dari memakan makanan tersebut, seperti takut tersedak. Namun, perlu diketahui bahwa penderita gangguan ini tidak menghindari makanan karena takut berat badannya meningkat. 

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala gangguan akan bergantung dari jenis gangguan makan yang dialami. Secara umum, terdapat beberapa gejala dari gangguan makan, seperti:

  • Mengonsumsi makanan dalam jumlah yang sangat sedikit atau bahkan terlalu banyak.
  • Berolahraga secara berlebihan.
  • Perubahan suasana hati.
  • Menghindari sosialisasi yang melibatkan adanya konsumsi makanan.
  • Sebagian besar waktu dihabiskan untuk mengkhawatirkan berat badan dan bentuk tubuh.
  • Sengaja membuat diri sakit atau mengonsumsi obat pencahar setelah makan.
  • Memiliki masalah pencernaan.
  • Memiliki kebiasaan-kebiasaan atau rutinitas seputar makanan yang terlalu ketat.
  • Tidak mengalami menstruasi (pada wanita).
  • Berat badan yang terlalu tinggi atau sangat rendah ditinjau dari usia dan tinggi (batasan normal). 
  • Merasa kedinginan, pusing, atau kelelahan.

Penyebab

Tidak ada penyebab pasti dari gangguan makan. Namun, beberapa hal ini diduga berpotensi menyebabkan gangguan makan, seperti:

  • Faktor genetik, gen-gen atau zat-zat kimia tertentu di otak mungkin dapat memengaruhi kemungkinan individu mengalami gangguan makan.
  • Faktor lingkungan yang selalu mengkritik mengenai bentuk dan berat badan.
  • Faktor kesehatan mental dan emosional, seperti memiliki harga diri yang rendah, sifat perfeksionis,  berperilaku impulsif, serta memiliki masalah dalam interaksi sosial.

Diagnosis

Gangguan makan biasanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan fisik untuk mengetahui penyebab medis lain, evaluasi psikologis untuk mengetahui pikiran, perasaan dan kebiasaan makan, serta pemeriksaan lainnya untuk gangguan makan yang kompleks. Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya dapat menggunakan kriteria-kriteria pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association) untuk mendiagnosis apakah seseorang menderita gangguan makan atau tidak.

Pengobatan

Mengobati gangguan makan dapat dilakukan dengan menerapkan pola makan yang sehat, mengikuti psikoterapi, seperti terapi keluarga dan terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy) yang berfungsi untuk memperbaiki kebiasaan makan, suasana hati, meningkatkat penerapan pola makan yang sehat, dan mengembangkan cara-cara yang sehat untuk mengatasi stres. Beberap obat-obatan dapat membantu untuk mengendalikan keinginan untuk makan dalam jumlah yang banyak dan/atau melakukan kompensasi setelah makan. Obat-obatan seperti antidepresan dan anticemas dapat menurunkan gejala kecemasan dan depresi karena gangguan makan yang dialami.

Pada kasus-kasus yang sudah parah, seperti penderita anorexia yang telah mengalami malnutrisi, dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mungkin akan merekomendasikan penanganan rawat inap di rumah sakit.

Jika Anda mengalami gangguan makan, beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Tetap mengikuti penanganan yang diberikan.
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang Anda hadapi atau mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang juga mengalami gangguan-gangguan yang serupa supaya dapat berdiskusi dan saling mendukung.
  • Berdiskusi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mengenai pola makan atau diet yang benar.
  • Cegah diri Anda untuk tidak secara terus-menerus menimbang berat badan atau melihat bentuk badan Anda di depan cermin.
  • Terapkan teknik-teknik untuk mengatasi stres, seperti meditasi dan sebagainya.

Pencegahan

Terdapat beberapa cara untuk mencegah gangguan makan, seperti:

  • Mengembangkan dan memperkuat citra tubuh yang benar dan sehat
  • Berbicara kepada anak atau orang-orang terdekat lainnya mengenai informasi-informasi yang benar mengenai risiko dari pola makan yang tidak sehat. 
  • Segera rujuk ke dokter dan ahli kesehatan mental lainnya ketika anak atau orang-orang terdekat Anda mungkin mengalami gangguan makan. 

Penting untuk segera menyadari gangguan makan yang mungkin dialami oleh orang-orang terdekat Anda, terdapat beberapa hal yang dapat diperhatikan pada seseorang yang mungkin mengalami gangguan makan, seperti:

  • Berbohong mengenai berapa banyak makanan yang dikonsumsi dan kapan makanan tersebut dikonsumsi atau berbohong mengenai berat badan yang dimiliki.
  • Berolahraga secara obsesif dan berlebihan.
  • Penurunan berat badan yang ekstrem.
  • Menggunakan pakaian yang longgar untuk menutupi penurunan berat badan yang drastis.
  • Sering pergi ke kamar mandi setelah makan, terkadang wajah terlihat memerah setelah keluar dari kamar mandi. 
  • Mengonsumsi makanan dalam jumlah yang banyak dengan cepat.
  • Memotong-motong makanan menjadi potongan-potongan kecil atau makan dengan sangat lambat.
  • Menghindari makan bersama orang lain.

Jika Anda merasa orang-orang terdekat Anda memiliki tanda-tanda seperti di atas, segera rujuk mereka ke dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. 

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum melakukan konsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, sebaiknya Anda menyiapkan beberapa daftar gejala yang dialami, informasi pribadi, obat-obatan yang dikonsumsi, dan pertanyaan seperti:

  • Apakah yang menyebabkan gejala saya?
  • Penanganan apa yang sesuai dengan gejala saya?
  • Apakah saya perlu mengikuti tes-tes tertentu? 
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya biasanya akan menanyakan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan pertama kali Anda merasakan gejala-gejala tersebut?
  • Apakah Anda berolahraga? Seberapa sering Anda berolahraga?
  • Apakah ada anggota keluarga yang mengalami gangguan makan?
  • Seberapa besar kekhawatiran Anda mengenai tubuh Anda?
  • Sudah berapa lama Anda mengkhawatirkan berat badan atau bentu tubuh Anda?
  • Apa-apa saja cara yang Anda lakukan untuk dapat menurunkan berat badan Anda?
  • Apakah terdapat orang lain yang mengekspresikan rasa khawatirnya terhadap berat badan Anda?
  • Apakah Anda pernah makan secara sembunyi-sembunyi?
  • Apakah Anda sering memikirkan tentang makanan?
  • Apakah Anda pernah muntak karena merasa terlalu kenyang?
Referensi

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/eating-disorders/symptoms-causes/syc-20353603
Diakses pada 19 Oktober 2018.

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/eating-disorders/
Diakses pada 19 Oktober 2018.

Back to Top