Psikologi

Gangguan Kepribadian Ambang

Diterbitkan: 29 Jan 2019 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gangguan Kepribadian Ambang
Gejala gangguan kepribadian ambang diantaranya adalah ketidakstabilan akan gambaran diri, hubungan interpersonal, dan emosi individu.
Gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) adalah salah satu jenis gangguan mental. Gangguan kepribadian ambang ditandai dengan ketidakstabilan akan gambaran diri, hubungan interpersonal, dan emosi inidividu.Gangguan kepribadian ambang dapat memengaruhi cara berpikir, merasakan atau memandang dirinya serta orang lain secara tidak menentu.Gangguan kepribadian ambang biasanya dimulai menjelang dewasa. Seseorang dengan gangguan ini tidak bisa menerima kesendirian tapi di satu sisi, perilakunya seperti mendorong orang-orang untuk menjauhinya.Biasanya, penderita dengan gangguan kepribadian ambang akan sulit untuk diterima di tengah masyarakat karena memiliki cara pikir, perasaan, dan cara berhubungan dengan orang yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya.Namun, jangan berkecil hati, Banyak orang dengan gangguan kepribadian ambang dapat membaik seiring berjalannya waktu, didukung dengan perawatan yang tepat.
Gangguan Kepribadian Ambang
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaSulit membedakan realita dan imajinasi, perasaan kosong 
Faktor risikoKekerasan pada masa anak-anak atau remaja, memiliki keluarga yang tidak harmonis, pelecehan seksual
Metode diagnosisWawancara dengan panduan DSM-5
PengobatanPsikoterapi, obat-obatan
ObatAntidepresan, antipsikotik
KomplikasiPenurunan kualitas hidup, terkena masalah hukum, hubungan yang penuh konflik,
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala  terutama jika memiliki pemikiran atau melakukan percobaan bunuh diri
Gejala dari gangguan kepribadian ambang yang biasanya terlihat, antara lain:
  • Paranoid yang berhubungan dengan stres, sulit membedakan realita dan imajinasi (psikosis) selama beberapa menit atau jam.
  • Perasaan kosong yang berlangsung lama dan berulang.
  • Perubahan pada identitas dan gambaran diri, seperti pergantian nilai-nilai dan tujuan, melihat diri sebagai orang yang buruk, atau merasa tidak hidup. 
  • Ketidakstabilan hubungan dengan orang lain yang intens, seperti pada satu waktu dapat mengidolakan orang tersebut tetapi pada waktu lain merasa orang tersebut tidak peduli dan jahat.
  • Melakukan perilaku yang impulsif dan berisiko, seperti berjudi, seks tanpa pengaman, penyalahgunaan obat-obatan, dan sebagainya.
  • Perasaan ketakutan akan ditinggalkan secara berlebihan dan berulang.
  • Berpikir untuk bunuh diri, melukai diri sendiri ketika merasa ditolak atau ditinggalkan.
  • Sering hilang kesabaran yang mengakibatkan kemarahan yang intens dan berulang.
  • Suasana hati yang berubah-ubah selama beberapa jam atau hari yang meliputi perasaan senang, kesal, malu, dan cemas yang intens.
Hal-hal berikut ini bisa menjadi penyebab dari gangguan tersebut.
  • Faktor kelainan pada otak, terutama kelainan otak bagian tertentu yang biasanya mengatur emosi, suasana hati, dan agresi. Selain masalah pada otak, gangguan tersebut dapat juga disebabkan oleh zat-zat kimia di otak untuk membantu mengatur emosi yang tidak berfungsi dengan baik.
  • Faktor genetik, ketika penderita memiliki keluarga sedarah ataupun orangtua dengan gangguan kepribadian ini, maka keturunannya juga kemungkinan besar mengalami hal sama.
  • Faktor lingkungan, seperti pernah mengalami pelecehan secara seksual, fisik, maupun emosional, terpapar dengan rasa takut, kemarahan, dan stres yang kronis saat masih anak-anak, diabaikan oleh salah satu atau kedua orangtuanya, dan tinggal bersama anggota keluarga yang memiliki masalah mental (termasuk gangguan bipolar, penyalahgunaan alkohol, dan sebagainya). 
Faktor risiko terjadinya kondisi ini adalah.
  • Kekerasan pada masa anak-anak atau remaja
  • Memiliki keluarga yang tidak harmonis
  • Pelecehan seksual
 
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), diagnosis dasar dari gangguan kepribadian ambang adalah:
  1. Pola ketidakstabilan yang meluas pada hubungan interpersonal, gambaran diri, dan emosi individu. 
  2. Adanya impulsi yang muncul dari saat individu berada di tahapan perkembangan dewasa muda dan muncul di berbagai konteks.  
Selain itu, DSM-5 juga memberikan kriteria-kriteria diagnosis yang setidaknya harus terpenuhi lima dari sembilan kriteria untuk didiagnosis memiliki gangguan kepribadian ambang: 
  • Terdapat usaha-usaha yang dilakukan dalam kepanikan untuk menghindari tindakan pengabaian yang dilakukan oleh orang lain. Tindakan pengabaian bisa saja sesuai realita atau bisa saja diimajinasikan.
  • Ketidakstabilan gambaran diri yang terlihat secara nyata dan terus-menerus. 
  • Adanya perilaku impulsif di dua area yang berpotensi untuk merusak diri sendiri (berbelanja secara berlebihan, makan secara berlebihan, mengendarai mobil secara ugal-ugalan, dan penyalahgunaan obat-obatan); area tidak termasuk perilaku memutilasi diri dan bunuh diri. 
  • Perasaan kosong yang kronis.
  • Pemikiran paranoid atau gejala disasosiasi yang parah. Hal ini terjadi karena stres dan berlangsung sementara.
  • Pola yang tidak stabil dan intens dalam hubungan interpersonal individu yang dicirikan dengan adanya pergantian antara perasaan mengidolakan dan merendahkan secara ekstrem.  
  • Kemarahan yang intens dan tidak sesuai atau kesulitan dalam mengontrol kemarahan (sering memperlihatkan kemarahan, kemarahan yang konstan, pertengkaran fisik yang muncul secara terus-menerus).
  • Perilaku, ancaman, atau gestur bunuh diri, atau perilaku mutilasi diri 
Dokter dan psikolog akan mendiagnosis pasien yang diduga memiliki gangguan kepribadian ambang, dengan cara melakukan wawancara mendalam mengenai gejala-gejala yang dialami penderita, riwayat medis, dan evaluasi psikologis.
Penanganan untuk mengatasi gangguan kepribadian ambang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu melalui obat-obatan, terapi, rawat inap, atau kombinasi dari beberapa cara tersebut.Psikoterapi Terapi dapat membantu penderita belajar mengelola emosi, mengamati perasaan, meningkatkan hubungan dengan orang lain, dan mempelajari kepribadian ambang. Ada beberapa terapi yang bisa dijalankan, yaitu:
  • Dialectical Behavior Therapy (DBT):

    Dalam terapi ini, pasien akan belajar bagaimana mengelola tekanan dan keterampilan untuk membantu mereka mengatasi emosi kuat yang biasa mereka miliki.
 Prinsip DBT didasarkan pada gagasan bahwa ada 2 faktor penting yang berkontribusi terhadap gangguan kepribadian ambang, yakni: 
  • Anda sangat rentan secara emosional, misalnya, stres ringan saja bisa membuat Anda merasa sangat cemas
  • Anda tumbuh di lingkungan di mana emosi Anda tidak diindahkan oleh orang-orang di sekitar Anda. Misalnya, sedari kecil, orangtua Anda sering mengatakan, “Tidak boleh bersedih.” Jika sedang bersedih, seolah-olah Anda tidak berhak untuk merasakan emosi tersebut.

Dua faktor ini dapat menyebabkan Anda mengalami emosi intens yang mengecewakan, tapi merasa bersalah dan tidak berharga karena memiliki emosi tersebut. Pikiran-pikiran ini kemudian mengarah pada emosi yang lebih mengecewakan. Tujuan DBT adalah memutus siklus ini dengan memperkenalkan 2 konsep penting, yaitu: 
  • Validasi: Anda akan belajar untuk menerima bahwa emosi sesuatu yang valid dan nyata
  • Dialektika: Anda akan belajar untuk membiasakan diri agar terbuka terhadap ide dan pendapat yang bertentangan dengan pendapat diri sendiri.
 DBT biasanya melibatkan sesi mingguan baik itu secara individu atau kelompok. Keberhasilan DBT tergantung pada kemampuan Anda bekerja sama dengan terapis. DBT telah terbukti sangat efektif dalam mengobati wanita dengan gangguan kepribadian ambang yang memiliki riwayat perilaku melukai diri sendiri dan kecenderungan untuk bunuh diri. Terapi ini fokus pada skema
  • Terapi berdasarkan mentalisasi (MBT):
Tipe lain dari psikoterapi jangka panjang yang dapat digunakan untuk mengobati gangguan kepribadian ambang adalah terapi berbasis mentalisasi (MBT).MBT didasarkan pada konsep bahwa orang dengan gangguan kepribadian ambang memiliki kapasitas mental yang buruk. Mentalisasi adalah kemampuan untuk berpikir. Dalam proses mentalisasi, pola pikir dan keyakinan pasien akan sesuatu dapat dibentuk.Bagian penting lain dari mentalisasi adalah untuk mengenali bahwa orang lain memiliki pikiran, emosi, kepercayaan, keinginan dan kebutuhan mereka sendiri.Interpretasi pasien terhadap keadaan mental orang lain mungkin tidak selalu benar. Selain itu, pasien perlu mewaspadai dampak dari tindakannya terhadap kondisi mental orang lain.Tujuan MBT adalah untuk meningkatkan kemampuan pasien mengenali kondisi mentalnya sendiri dan juga kondisi mental orang lain, belajar untuk menelaah kembali pikiran tentang diri sendiri dan orang lain.Terapi MBT biasanya dilakukan di rumah sakit sebagai perawatan rawat inap. Perawatan ini terdiri dari sesi individual harian dengan terapis dan sesi kelompok dengan pasien lain.Terapi MBT biasanya berlangsung sekitar 18 bulan. Beberapa rumah sakit dan pusat kesehatan menyediakan fasilitas rawat inap maupun rawat jalan sesuai dengan rekomendasi dokter atau psikolog.
  • Psikoterapi transference-focused (TFP)
Terapi TFP dilakukan dengan mentransfer perasaan dan harapan pasien di awal hubungan hingga masa sekarang.Psikoterapi yang berfokus pada pemanfaatan hubungan antara klien dan terapis sehingga terapis dapat melihat bagaimana klien berhubungan dengan orang lain.Terapis kemudian dapat menggunakan informasi ini untuk membantu pasien merespons lebih efektif dalam hubungan mereka.
  • Pelatihan sistem prediktabilitas emosi dan pemecahan masalah (STEPPS)
STEPPS adalah perawatan kelompok psikoedukasi yang dilakukan dalam durasi 20 minggu. Terapi ini menggabungkan pelatihan keterampilan dengan teknik perilaku kognitif. Selain pasien, terapi ini juga melibatkan pelatihan anggota keluarga, teman, dan orang lain yang penting bagi pasien.Obat-obatanMeskipun saat ini tidak ada obat resmi untuk gangguan kepribadian ambang, penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa obat dapat mengurangi gejala tertentu dari penyakit ini. Penggunaan obat-obatan biasanya dilakukan bersamaan dengan jalannya psikoterapi.Obat-obatan yang sering diresepkan untuk pasien gangguan kepribadian ambang adalah:
  • Antidepresan, yang dapat membantu meringankan perasaan depresi dan kecemasan
  • Antipsikotik, untuk membantu mengendalikan rasa marah, impulsif maupun pemikiran paranoid yang biasa dialami pasien gangguan kepribadian ambang.
  • Obat penstabil suasana hati (mood)
  • Ansiolitik (obat anti cemas)
 Jika mengalami gangguan kepribadian ambang, maka Anda harus selalu mengingat bahwa mengendalikan emosi, pemikiran, dan perilaku dapat membutuhkan waktu yang lama. Anda juga dapat merasakan perbaikan maupun perburukan gejala.Kesabaran adalah sesuatu yang harus selalu Anda terapkan selama proses perawatan. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menyikapi situasi ini adalah:
  • Berdiskusi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mengenai yang harus Anda lakukan saat gejala-gejala muncul. 
  • Tidak membuat asumsi mengenai yang orang lain pikirkan dan rasakan mengenai Anda.
  • Bercerita kepada orang-orang terdekat mengenai kondisi Anda. 
  • Belajar untuk mengenali pemicu munculnya gejala-gejala yang Anda rasakan.
  • Tetap mengikuti perawatan yang telah dilakukan.
  • Mempelajari gangguan yang Anda alami.
  • Mencari komunitas atau orang-orang yang mengalami hal yang serupa untuk mendapatkan dukungan serta saran dari mereka. 
  • Tidak menyalahkan diri sendiri atas yang Anda alami, fokus dengan menjalani perawatan untuk menjadi lebih baik.
  • Mempelajari beberapa teknik untuk mengatur emosi secara intens, seperti meditasi, teknik pernapasan, dan sebagainya.
  • Menjalani pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan sebagainya.
  • Menetapkan batasan untuk diri Anda dan orang lain dengan belajar untuk mengekspresikan emosi tanpa menjauhi orang-orang terdekat maupun hal yang dapat memperburuk gejala-gejala yang dialami. 
Gangguan kepribadian ambang yang tidak ditangani dapat menimbulkan komplikasi berupa masalah di berbagai aspek kehidupan.Gangguan tersebut dapat secara negatif memengaruhi hubungan pribadi, pekerjaan, sekolah, kegiatan sosial dan citra diri yang mengakibatkan:
  • Perubahan atau kehilangan pekerjaan yang berulang
  • Tidak menyelesaikan pendidikan
  • Berbagai masalah hukum
  • Hubungan yang penuh konflik, tekanan perkawinan atau perceraian
  • Melukai diri sendiri, seperti memotong atau membakar tubuh, dan sering dirawat di rumah sakit
  • Keterlibatan dalam hubungan yang tidak sehat
  • Kehamilan yang tidak direncanakan, infeksi menular seksual, kecelakaan kendaraan bermotor dan perkelahian fisik karena perilaku impulsif dan berisiko
  • Pemikiran, percobaan, maupun tindakan bunuh diri
Tidak ada cara untuk mencegah gangguan kepribadian ambang, tetapi diagnosis dini akan membantu mencegah gejala semakin parah.
Jika Anda atau orang-orang terdekat merasakan beberapa gejala yang telah dijelaskan di atas, terutama jika memiliki pemikiran atau melakukan percobaan bunuh diri, maka segeralah hubungi dokter dan psikolog.
Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan psikolog, sebaiknya persiapkan catatan mengenai gejala-gejala yang dirasakan, informasi pribadi, informasi medis, obat-obatan yang dikonsumsi, dan pertanyaan yang ingin diajukan, seperti:
  • Apa penyebab gejala yang saya rasakan?
  • Perawatan apa yang cocok untuk saya? 
  • Apakah saya memerlukan terapi? Berapa lama?
  • Apa saja obat-obatan yang dapat membantu serta efek samping dan kontraindikasinya?
  • Apakah saya harus melakukan tindakan pencegahan atau mengikuti larangan tertentu?
  • Bagaimana keluarga dan orang-orang terdekat saya dapat membantu saya? 
  • Apakah ada referensi bacaan mengenai kondisi yang saya alami?
Biasanya dokter dan psikolog akan menanyakan hal-hal tentang kesehatan mental, seperti:
  • Apa saja gejala yang dirasakan? Sudah berapa lama? 
  • Bagaimana gejala tersebut memengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan Anda?
  • Seberapa sering Anda merasa dikhianati, dijadikan korban, atau diabaikan? Menurut Anda, mengapa hal tersebut dapat terjadi? 
  • Bagaimana Anda menceritakan masa kecil, termasuk hubungan engan orangtua atau pengasuh Anda? 
  • Seberapa baik Anda beradaptasi dengan kesendirian?
  • Apakah Anda pernah berpikir atau mencoba melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri?
  • Apakah Anda memiliki keluarga dekat atau pengasuh yang pernah didiagnosis dengan masalah kesehatan mental, seperti gangguan kepribadian?
  • Seberapa baik Anda dalam mengatur kemarahan?
  • Apakah Anda pernah dirawat karena suatu masalah mental tertentu? Jika ya, apa diagnosis-diagnosis yang pernah diberikan dokter dan apa perawatan yang paling efektif? 
  • Apakah Anda pernah merasa menjadi orang yang buruk, dan bahkan jahat? 
  • Bagaimana Anda mendeskripsikan begitu berharganya diri sendiri? 
  • Apakah Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu atau pernah menyalahgunakan obat resep? Jika ya, seberapa sering?
  • Apakah Anda pernah menjadi korban kekerasan fisik maupun pelecehan seksual, atau pernah diabaikan saat masih anak-anak?
  • Apakah Anda pernah melakukan perilaku yang riskan atau yang dapat merusak diri sendiri? 
  • Seberapa sering Anda mengalami perubahan suasana hati dalam keseharian?  
  • Apakah Anda pernah dirawat untuk kondisi medis lain?
Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/borderline-personality-disorder/symptoms-causes/syc-20370237
Diakses pada 29 Juli 2020.
Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/913575-overview
Diakses pada 29 Juli 2020
Verywellmind. https://www.verywellmind.com/borderline-personality-disorder-treatment-425451
Diakses pada 29 Juli 2020
NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/borderline-personality-disorder/
Diakses pada 29 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Tips Menghadapi Pensiun dengan Baik

Bagi sebagian kaum lansia, masa pensiun merupakan masa-masa membosankan yang menyedihkan dan membuat mereka mempertanyakan identitas dirinya. Namun, masa pensiun sebenarnya merupakan masa-masa di mana Anda bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak dapat dilakukan.
02 Dec 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Masa pensiun harus dihadapi dengan positif

8 Penyebab Mood Swing dan Cara Mengatasinya

Mood swing artinya adalah perubahan suasana hati yang berlangsung cepat. Wajar jika Anda sesekali mengalami mood swing. Tapi Anda perlu waspada bila perubahan suasana hati ini terjadi begitu sering hingga mengganggu rutinitas.
23 Mar 2020|Rieke Saraswati
Baca selengkapnya
Mood swing artinya perubahan suasana hati yang berlangsung cepat

Orang Terdekat Anda Alami Post Power Syndrome? Rangkul dengan Cara Ini

Berubah status menjadi pensiunan tentu membawa perubahan dalam banyak hal. Tak semua orang bisa menerima kondisi ini dan justru mengalami post power syndrome. Menjadi pemarah dan mudah tersinggung bisa jadi tanda terjadinya post power syndrome.
08 Nov 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Saat karir meredup dan akhirnya pensiun, seseorang rentan mengalami post power syndrome