Gangguan Kepribadian Ambang

Ditulis oleh Olivia
Ditinjau dr. Indra Wijaya
Gangguan kepribadian ambang dapat membuat penderitanya merasakan dan berpikir mengenai dirinya serta orang lain secara tidak menentu
Gejala gangguan kepribadian ambang diantaranya adalah ketidakstabilan akan gambaran diri, hubungan interpersonal, dan emosi individu.

Pengertian Gangguan Kepribadian Ambang

Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan yang ditandai dengan ketidakstabilan akan gambaran diri, hubungan interpersonal, dan emosi inidividu. Gangguan kepribadian ambang membuat penderitanya merasakan dan berpikir mengenai dirinya serta orang lain secara tidak menentu.

Biasanya, penderita dengan gangguan kepribadian ambang akan sulit untuk diterima di tengah masyarakat karena memiliki cara pikir, perasaan, dan cara berhubungan dengan orang yang berbeda dari kebanyakan orang biasanya.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala dari gangguan kepribadian ambang yang biasanya terlihat, antara lain:

  • Paranoid yang berhubungan dengan stres, serta terputusnya diri dari realitas (psikosis) selama beberapa menit atau jam.
  • Perasaan kosong yang berlangsung lama dan berulang.
  • Perubahan pada identitas dan gambaran diri, seperti pergantian nilai-nilai dan tujuan, melihat diri sebagai orang yang buruk, atau merasa tidak hidup. 
  • Ketidakstabilan hubungan dengan orang lain yang intens, seperti pada satu waktu dapat mengidolakan orang tersbeut tetapi pada waktu lain merasa orang tersebut tidak peduli dan jahat.
  • Melakukan perilaku yang impulsif dan berisiko, seperti berjudi, seks tanpa pengaman, penyalahgunaan obat-obatan, dan sebagainya.
  • Perasaan ketakutan akan ditinggalkan secara berlebihan dan berulang.
  • Berpikir untuk bunuh diri, melukai diri sendiri ketika merasa ditolak atau ditinggalkan.
  • Sering hilang kesabaran yang mengakibatkan kemarahan yang intens dan berulang.
  • Suasana hati yang berubah-ubah selama beberapa jam atau hari yang meliputi perasaan senang, kesal, malu, dan cemas yang intens.

Penyebab

Hal-hal berikut ini bisa menjadi penyebab dari gangguan tersebut.

  • Faktor kelainan pada otak, terutama kelainan otak bagian tertentu yang biasanya mengatur emosi, suasana hati, dan agresi. Selain kelainan otak, gangguan tersebut dapat juga disebabkan oleh zat-zat kimia di otak untuk membantu mengatur emosi yang tidak berfungsi dengan baik.

  • Faktor genetik, ketika penderita memiliki keluarga sedarah ataupun orangtua dengan gangguan kepribadian ini, maka keturunannya juga kemungkinan besar mengalami hal yang sama.

  • Faktor lingkungan, seperti pernah mengalami pelecehan secara seksual, fisik, maupun emosional, terpapar dengan rasa takut, kemarahan, dan stres yang kronis saat masih anak-anak, diabaikan oleh salah satu atau kedua orangtuanya, dan tinggal bersama anggota keluarga yang memiliki masalah mental (contoh: gangguan bipolar, penyalahgunaan alkohol, dan sebagainya). 

Diagnosis

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), diagnosis dasar dari gangguan kepribadian ambang adalah:

  1. Pola ketidakstabilan yang meluas pada hubungan interpersonal, gambaran diri, dan emosi individu. 
  2. Adanya impulsi yang muncul dari saat individu berada di tahapan perkembangan dewasa muda dan muncul di berbagai konteks.  

Selain itu, DSM-5 juga memberikan kriteria-kriteria diagnosis yang setidaknya harus terpenuhi lima dari sembilan kriteria untuk didiagnosis memiliki gangguan kepribadian ambang: 

  • Terdapat usaha-usaha yang dilakukan dalam kepanikan untuk menghindari tindakan pengabaian yang dilakukan oleh orang lain. Tindakan pengabaian bisa saja sesuai realita atau bisa saja diimajinasikan.
  • Ketidakstabilan gambaran diri yang terlihat secara nyata dan terus-menerus. 
  • Adanya perilaku impulsif di dua area yang berpotensi untuk merusak diri sendiri (contoh: berbelanja secara berlebihan, makan secara berlebihan, mengendari mobil secara ugal-ugalan, dan penyalahgunaan obat-obatan); area tidak termasuk perilaku memutilasi diri dan bunuh diri. 
  • Perasaan kosong yang kronis.
  • Pemikiran paranoid atau gejala disasosiasi yang parah. Hal ini terjadi karena stres dan berlangsung sementara.
  • Pola yang tidak stabil dan intens dalam hubungan interpersonal individu yang dicirikan dengan adanya pergantian antara perasaan mengidolakan dan merendahkan yang ekstrem.  
  • Kemarahan yang intens dan tidak sesuai atau kesulitan dalam mengontrol kemarahan (contoh: sering memperlihatkan kemarahan, kemarahan yang konstan, pertengkaran fisik yang muncul secara terus-menerus).
  • Perilaku, ancaman, atau gestur bunuh diri, atau perilaku mutilasi diri. 

Dokter dan psikolog akan mendiagnosis pasien yang diduga memiliki gangguan kepribadian ambang, dengan cara melakukan wawancara mendalam mengenai gejala-gejala yang dialami penderita, riwayat medis, dan evaluasi psikologis.

Pengobatan

Penanganan untuk mengatasi gangguan kepribadian ambang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu melalui obat-obatan, terapi, rawat inap, atau kombinasi dari beberapa cara tersebut.

Obat-obatan:

  • Antidepresan
  • Antipsikotik
  • Obat penstabil suasana hati (mood)

Terapi dapat membantu penderita belajar mengelola emosi, mengamati perasaan, meningkatkan hubungan dengan orang lain, dan mempelajari kepribadian ambang. Terdapat beberapa terapi yang bisa dijalankan, yaitu:

  • Terapi fokus pada skema
  • Terapi perilaku dialektikal (DBT)
  • Pelatihan sistem prediktabilitas emosi dan pemecahan masalah (STEPPS)
  • Psikoterapi transference-focused  (TFP)
  • Terapi berdasarkan mentalisasi (MBT)

Jika Anda mengalami gangguan kepribadian ambang, maka Anda harus selalu mengingat bahwa mengendalikan emosi, pemikiran, dan perilaku Anda membutuhkan waktu yang lama. Anda juga dapat mengalami saat-saat gejala-gejala Anda menjadi lebih baik atau bahkan menjadi lebih buruk. Kesabaran adalah sesuatu yang harus selalu Anda terapkan selama proses perawatan. Beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Berdiskusi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya mengenai apa yang harus Anda lakukan saat gejala-gejala Anda muncul. 
  • Jangan membuat asumsi mengenai apa yang orang lain pikirkan dan rasakan mengenai Anda.
  • Bercerita kepada orang-orang terdekat mengenai kondisi Anda. 
  • Belajar untuk mengenali apa yang dapat memicu munculnya gejala-gejala yang Anda rasakan.
  • Tetap mengikuti perawatan yang telah dilakukan.
  • Belajar mengenai gangguan yang Anda alami.
  • Mencari komunitas atau orang-orang yang mengalami hal yang serupa untuk mendapatkan dukungan serta saran dari mereka. 
  • Jangan menyalahkan diri Anda atas apa yang Anda alami, fokus dengan menjalani perawatan untuk menjadi lebih baik.
  • Belajar beberapa teknik untuk mengatur emosi Anda yang intens, seperti meditasi, teknik pernapasan, dan sebagainya.
  • Menjalani pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan sebagainya.
  • Menetapkan batasan untuk diri Anda dan orang lain dengan belajar untuk mengekspresikan emosi yang tidak melibatkan diri Anda menjauhi orang-orang terdekat Anda ataupun yang dapat memperburuk gejala-gejala yang Anda alami. 

Pencegahan

Tidak ada cara untuk mencegah gangguan kepribadian ambang, tetapi diagnosis dini akan membantu mencegah gejala semakin parah.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda merasakan beberapa gejala yang telah dijelaskan di atas, terutama jika Anda atau orang-orang terdekat Anda sudah memiliki pemikiran atau melakukan percobaan bunuh diri, maka segeralah hubungi dokter dan psikolog.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan psikolog, sebaiknya persiapkan catatan mengenai gejala-gejala yang dirasakan, informasi pribadi, informasi medis, obat-obatan yang dikonsumsi, dan pertanyaan yang ingin diajukan, seperti:

  • Apa penyebab gejala yang saya rasakan?
  • Perawatan apa yang cocok digunakan untuk saya? 
  • Apakah saya memerlukan terapi? Berapa lama?
  • Apa obat-obatan yang dapat membantu serta efek samping dan kontra indikasi dari obat-obatan tersebut?
  • Apakah saya harus melakukan tindakan pencegahan atau mengikuti larangan tertentu?
  • Bagaimana keluarga dan orang-orang terdekat saya dapat membantu saya? 
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Biasanya dokter dan psikolog akan menanyakan hal-hal tentang kesehatan mental, seperti:

  • Apa saja gejala yang dirasakan? Sudah berapa lama? 
  • Bagaimana gejala tersebut memengaruhi kehidupan sosial dan pekerjaan Anda?
  • Seberapa sering Anda merasa dikhianati, dijadikan korban, atau diabaikan? Menurut Anda, mengapa hal tersebut dapat terjadi? 
  • Bagaimana Anda menceritakan masa kecil Anda, termasuk hubungan Anda dengan orangtua atau pengasuh Anda? 
  • Seberapa baik Anda dalam mengatur kesendirian Anda?
  • Apakah Anda pernah berpikir atau mencoba melakukan tindakan menyakiti diri sendiri atau bahkan bunuh diri?
  • Apakah Anda memiliki keluarga dekat ato pengasuh yang pernah didiagnosis dengan masalah kesehatan mental, seperti gangguan kepribadian?
  • Seberapa baik Anda dalam mengatur kemarahan Anda?
  • Apakah Anda pernah dirawat karena suatu masalah mental tertentu? Jika ya, apa diagnosis-diagnosis yang pernah diberikan dan apa perawatan yang paling efektif? 
  • Apakah Anda pernah merasa bahwa Anda adalah orang yang buruk, dan bahkan jahat? 
  • Bagaimana Anda mendeskripsikan keberhargaan diri Anda? 
  • Apakah Anda mengonsumsi obat-obatan tertentu atau pernah menyalahgunakan obat resep? Jika ya, seberapa sering?
  • Apakah Anda pernah dilecehkan secara fisik maupun seksual atau pernah diabaikan saat masih anak-anak?
  • Apakah Anda pernah melakukan perilaku yang riskan atau yang dapat merusak diri Anda? 
  • Seberapa sering Anda mengalami perubahan suasana hati dalam keseharian Anda?  
  • Apakah Anda pernah dirawat untuk kondisi medis lain?
Referensi

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/borderline-personality-disorder/symptoms-causes/syc-20370237
Diakses pada 17 Oktober 2018.

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/913575-overview
Diakses pada 05 Maret 2019

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/borderline-personality-disorder/
Diakses pada 17 Oktober 2018

Back to Top