Psikologi

Gangguan Kecemasan Sosial

Diterbitkan: 16 Nov 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gangguan Kecemasan Sosial
Gangguan kecemasan sosial adalah gangguan mental yang menyebabkan kecemasan, takut, atau rasa malu yang sangat intens terhadap interaksi sehari-hari.Penderita gangguan ini akan merasa sangat cemas dan takut saat melakukan interaksi sosial biasa, seperti menggunakan kamar mandi umum, makan di depan orang lain, menatap mata orang lain, berjabat tangan, dan sebagainya.Kecemasan yang dirasakan oleh penderita sangat intens hingga memengaruhi fisiknya, seperti detak jantung bertambah cepat atau berkeringat secara berlebih.Penderita akan mengupayakan segala cara untuk menghindari setiap interaksi sosial. Jika tidak ditangani lebih lanjut, penderita tidak hanya akan merasakan efek negatifnya terhadap aspek sosial sehari-harinya, tetapi juga keseluruhan aspek hidupnya.Gangguan ini biasanya muncul pada remaja yang berumur 13 tahun. Gangguan kecemasan sosial dapat disembuhkan dengan keinginan diri sendiri, yang didukung psikoterapi rutin dan konsumsi obat-obatan. 
Gangguan Kecemasan Sosial
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaTakut berhadapan dengan orang lain, cemas menghadiri acara sosial, menghindari orang lain
Faktor risikoGenetik, trauma masa lalu, lingkungan baru
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, pengisian kuisioner DSM-5, diagnosis gangguan mental lain
PengobatanPsikoterapi, penggunaan obat-obatan
ObatFluoxetine, duloxetine, sertraline
KomplikasiKepercayaan diri rendah, isolasi dari keluarga dan lingkungan sekitar, prestasi buruk di sekolah atau tempat kerja
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami gejala gangguan kecemasan sosial yang telah menganggu kehidupan sehari-hari
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), gangguan kecemasan sosial atau fobia sosial memiliki kriteria berikut ini:
  • Memiliki ketakutan bahwa orang lain akan memberikan penilaian negatif terhadap perilaku maupun kecemasan diri sendiri
  • Mengalami ketakutan maupun kecemasan hamper pada setiap situasi sosial. Pada anak-anak, kecemasan tersebut diekspresikan dalam bentuk kemarahan (tantrum), tangisan, menjadi diam, menciutkan tubuh, tidak mampu berbicara, dan mengenggam erat orang yang dikenal (clingy) dalam situasi-situasi sosial.
  • Ketakutan atau kecemasan yang jelas terhadap satu atau lebih situasi sosial yang akhirnya memancing kritik orang lain. Pada anak-anak, kecemasan harus muncul di situasi saat anak bersama dengan teman-teman sebayanya dan tidak hanya dalam interaksi bersama orang dewasa.
  • Mengalami ketakutan berlebihan dan tidak masuk akal. Pada anak-anak, kriteria ini mungkin tidak terlihat.
  • Memiliki ketakutan maupun kecemasan yang menarik diri dari situasi sosial
  • Mengalami ketakutan, kecemasan, maupun menghindari berbagai hal sebagai efek fisiologis dari zat-zat atau kondisi medis lainnya
  • Mengalami ketakutan, kecemasan, atau menghindari sesuatu dan kondisi tersebut tidak berhubungan dengan masalah medis lain
  • Mengalami kecemasan, ketakutan, dan menghindar dari berbagai hal, akibat ancaman nyata yang terjadi di situasi sosial dan pada konteks sosial budaya
  • Ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar akhirnya menyebabkan gangguan pada aspek sosial, pekerjaan, dan aspek-aspek kehidupan lainnya
  • Ketakutan, kecemasan, atau perilaku menghindar terus-menerus muncul dan bertahan hingga 6 bulan atau lebih
  • Ketakutan, kecemasan, atau penghindaran tidak dapat dijelaskan oleh gejala dari gangguan mental lainnya


Gejala fisik

Ada juga beberapa gejala fisik yang mungkin terlihat pada individu yang mengalami gangguan kecemasan sosial, seperti:
  • Gemetar
  • Pipi memerah
  • Gangguan pada perut atau mual
  • Berkeringat
  • Detak jantung cepat
  • Kekakuan pada otot
  • Pusing atau pening
  • Kesulitan untuk bernapas
  • Pikiran menjadi kosong
 
Beberapa hal yang mengakibatkan gangguan kecemasan sosial adalah:

1. Struktur otak

Amigdala (bagian otak yang mengendalikan respon rasa takut) yang terlalu aktif merespons rasa takut, bisa mengakibatkan gangguan kecemasan sosial.

2. Faktor genetik

Gangguan kecemasan sosial bisa jadi diturunkan dalam garis keluarga. Selain itu, anak-anak yang pemalu cenderung rentan mengalami kecemasan sosial.

3. Faktor lingkungan

Gangguan kecemasan sosial bisa jadi muncul karena adanya suatu kejadian yang membuat merasa dipermalukan atau menjadi tidak nyaman di situasi sosial, orangtua yang terlalu mengontrol, orang-orang di sekitar yang cenderung pencemas (contohnya, orangtua), pernah mengalami pelecehan ataupun intimidasi dari orang lain.


Faktor risiko

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan kecemasan sosial.

1. Riwayat keluarga

Peluang terkena gangguan kecemasan sosial lebih besar jika ada anggota keluarga yang mengalami kondisi ini.

2. Pengalaman negatif

Anak-anak yang mengalami ejekan, bullying, penolakan, atau penghinaan lebih rentan terkena gangguan kecemasan sosial. Selain itu, konflik keluarga, trauma atau pelecehan dapat memicu terjadinya gangguan kecemasan sosial.3. Sifat dan perilakuAnak-anak yang secara alami bersifat pemalu, penakut, lebih senang menyendiri atau terkekang ketika menghadapi situasi atau orang baru, berisiko lebih besar terkena gangguan kecemasan sosial.

4. Lingkungan yang baru

Gejala gangguan kecemasan sosial biasanya dimulai pada masa remaja, tetapi bisa juga muncul pada orang dewasa yang kerap bertemu orang baru, berpidato di depan umum atau membuat presentasi penting untuk pekerjaan.

5. Penampilan atau kondisi yang menarik perhatian

Beberapa kondisi seperti memiliki cacat pada wajah, gagap atau gemetar karena penyakit Parkinson dapat memicu gangguan kecemasan sosial pada beberapa orang.Baca juga: Mengapa Sering Gigit Bibir Saat Gugup Atau Cemas? 
Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan mendiagnosis gangguan kecemasan sosial, berdasarkan:
  • Pemeriksaan fisik
  • Wawancara dan diskusi mengenai gejala yang dialami, meninjau ulang daftar situasi-situasi yang dapat yang dapat menimbulkan kecemasan
  • Pengisian kuesioner mengenai gejala-gejala gangguan kecemasan sosial yang diisi oleh penderita
  • Mencocokkan gejala yang dialami dengan kriteria gangguan kecemasan sosial berdasarkan panduan DSM-5 yang telah disebutkan sebagai gejala gangguan kecemasan sosial. Bebagai gejala yang sesuai dengan kriteria DSM-5 harus dialami selama 6 bulan atau lebih, untuk bisa dinyatakan sebagai gangguan kecemasan sosial.
  • Diagnosis gangguan lain yang dilakukan untuk memastikan pasien menderita gangguan kecemasan sosial dan bukan gangguan mental lainnya. Diagnosis tersebut meliputi pemeriksaan spektrum autisme, skizofrenia, gangguan panik, agoraphobia, gangguan depresi, gangguan terkait zat adiktif, gangguan dismorfik tubuh dan gangguan kepribadian seperti skizoid.
Baca juga: Mengenal Macam-macam Gangguan Kecemasan yang Wajib Anda Ketahui 
Penanganan gangguan kecemasan sosial dapat dilakukan dengan psikoterapi atau pengobatan. Terkadang dokter menggabungkan keduanya.

1. Psikoterapi berupa terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy)

Terapi ini dapat membantu penderita mengenali dan mengubah pikiran negatif mengenai dirinya dan mengembangkan keterampilan untuk menjadi percaya diri dalam situasi sosial.Terapi juga juga bisa dilakukan dengan bermain peran dan pelatihan keterampilan sosial. Pasien mungkin akan mendapatkan pelajaran berbicara di depan umum atau mempelahari cara berbaur di acara sosial yang melibatkan banyak orang.Selain terapi perilaku kognitif, terapi lainnya yang biasa diberikan adalah terapi perilaku kognitif berbasis pemaparan (exposure-based cognitive behavioral therapy). Pada terapi tersebut, pasien secara bertahap akan dipaparkan dengan situasi sosial yang memicu kecemasan.Tujuan utama dari psikoterapi yang diberikan adalah untuk membangun kepercayaan diri, mempelajari keterampilan yang membantu pasien mengelola situasi yang paling menakutkan, dan kemudian berbaur di lingkungan sosial.Biasanya pasien membutuhkan sekitar 12-16 sesi terapi dan lebih efektif dilakukan secara berkelompok.

2. Pemberian obat-obatan

Gangguan kecemasan sosial juga dapat diatasi melalui pemberian obat-obatan seperti:
  • Selective Serotonin Reuptake Inhibitors (SSRI), contohnya fluoxetine, paroxetine atau sertraline.
  • Serotonin and norepinephrine reuptake inhibitor (SNRI), contohnya duloxetine atau venlafaxine
  • Obat anticemas, berupa benzodiazepine, yang bekerja dengan cepat dalam menurunkan tingkat kecemasan. Namun, pengunaan obat jenis ini hanya untuk jangka pendek karena bersifat sedatif dan menimbulkan ketergantungan.
  • Obat golongan penghambat reseptor-beta, yang bekerja dengan mengurangi kecepatan denyut jantung, tekanan darah dan jantung berdebar (deg-degan), suara atau anggota tubuh lain yang gemetar. Meski begitu, obat ini hanya diberikan untuk situasi tertentu dan tidak untuk diminum rutin.
  • Obat antidepresan lainnya


Tips mengatasi kecemasan

Jika mengalami gangguan kecemasan sosial, terdapat beberapa hal yang bisa Anda lakukan, yaitu:
  • Tetap sabar menjalani perawatan
  • Menjaga kesehatan dengan istirahat yang cukup, menjalani pola makan yang sehat, dan berolahraga secara teratur
  • Menghindari alkohol dan kafein
  • Bercerita dengan orang-orang tedekat untuk mencari dukungan, maupun mengikuti komunitas-komunitas dengan gangguan serupa atau support group
  • Melakukan hal-hal yang membuat Anda rileks saat sedang cemas, misalnya melukis
  • Membuat target-target kecil yang berkembang menjadi tujuan harian atau tujuan bulanan dalam usaha untuk melakukan interaksi sosial, misalnya menyapa orang lain terlebih dahulu
  • Fokus pada kualitas diri yang positif
  • Mempersiapkan bahan-bahan obrolan
  • Mempelajari cara-cara untuk menangani stres, misalnya bermeditasi


Komplikasi

Jika tidak ditangani, gangguan kecemasan sosial dapat sangat memengaruhi kualitas hidup. Beberapa komplikasi yang umum terjadi adalah:
  • Kepercayaan diri yang rendah
  • Sulit menyuarakan keinginan diri sendiri
  • Sering berpikiran negatif terhadap diri sendiri
  • Sangat sensitif ketika dikritik
  • Kemampuan bersosialisasi yang buruk
  • Prestasi yang buruk di sekolah atau tempat kerja
  • Konsumsi alkohol yang mengarah pada penyalahgunaan alkohol untuk mengatasi kecemasan
  • Penyalahgunaan obat-obatan
  • Kesulitan membentuk dan memelihara hubungan
  • Pendidikan atau kesempatan kerja menjadi terbatas
  • Depresi
  • Pikiran untuk bunuh diri
  • Isolasi dari keluarga, teman sebaya, dan komunitas
Baca juga: 7 Manfaat Daun Serai: Meredakan Kecemasan sampai Mengatasi PMS 
Gangguan kecemasan sosial tidak dapat dicegah. Segera berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika merasakankan gejala-gejala di atas.Anda dapat mengurangi dampak dari gangguan yang dialami dengan meluangkan waktu untuk relaksasi, mencatat situasi-situasi apa yang dapat memicu kecemasan dan mendiskusikannya dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, serta menghindari konsumsi alkohol, narkotika, rokok, maupun kafein.Baca juga: Cara Mengendalikan Kecemasan di Tengah Pandemi Corona     
Berkonsultasilah dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala yang telah dicantumkan di atas, seperti ketakutan atau kecemasan yang intens di situasi-situasi sosial, dan sebagainya.Perlu diketahui bahwa individu dengan gangguan kecemasan sosial juga berpotensi untuk memiliki pemikiran atau melakukan percobaan bunuh diri. Oleh karenanya, sangat penting untuk segera mengunjungi dokter dan ahli kesehatan mental lainnya jika Anda atau orang-orang terdekat mengalami gangguan kecemasan sosial.Baca jawaban dokter: Apa kaitan mimpi dengan kecemasan?    
Sebelum menjalani pemeriksaan oleh dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab gejala-gejala yang saya alami?
    • Apa perawatan atau pengobatan yang tepat untuk gejala yang saya alami?
    • Apa kondisi saya adalah sesuatu yang permanen atau sementara?
    • Apakah ada referensi bacaan yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan menanyakan beberapa hal berikut ini.
  • Kapan pertama kali Anda merasakan gejala-gejala tersebut?
  • Apakah rasa takut atau malu menyebabkan Anda menghindari kegiatan sosial, seperti berbicara dengan orang lain dan sebagainya?
  • Kapan gejala-gejala Anda sering muncul?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis mengalami gangguan mental tertentu? Jika ya, apa penanganan yang paling efektif bagi Anda pada saat itu?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis mengalami kondisi medis tertentu?
  • Seberapa parah gejala gangguan tersebut memengaruhi kehidupan keseharian Anda?
  • Apakah ada hal-hal yang dapat memperburuk gejala-gejala Anda?
  • Apakah ada hal-hal yang dapat meringankan gejala-gejala Anda?
  • Apakah merasa malu atau takut akan dipermalukan, merupakan salah satu ketakutan terburuk Anda?
  • Apakah Anda menghindari situasi yang membuat menjadi pusat perhatian?
  • Apakah Anda pernah berpikir untuk bunuh diri atau melukai diri sendiri maupun orang lain?
  • Apakah Anda memiliki kerabat yang didiagnosis gangguan mental serupa?
  • Apakah Anda mengonsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mengalami gejala-gejala tersebut saat tidak ada orang lain di sekitar Anda?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis gangguan kecemasan sosial agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/290854-treatment#d8
Diakses pada 13 Maret 2019
Mayo Clinic.
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/social-anxiety-disorder/symptoms-causes/syc-20353561
Diakses pada 17 Oktober 2018.
WebMD.
https://www.webmd.com/anxiety-panic/guide/mental-health-social-anxiety-disorder#1
Diakses pada 13 Maret 2019
Socialphobia. https://socialphobia.org/social-anxiety-disorder-definition-symptoms-treatment-therapy-medications-insight-prognosis
Diakses pada 6 November 2020
Betterhealth. https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/conditionsandtreatments/social-phobia#
Diakses pada 6 November 2020
National Social Anxiety Center. https://nationalsocialanxietycenter.com/2018/03/21/benefits-group-therapy-social-anxiety/#
Diakses pada 6 November 2020
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK555890/
Diakses pada 6 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Sebelum Marah, Terapkan 5 Cara Menahan Emosi Ini

Meski terkesan negatif, kemarahan sebenarnya adalah bentuk emosi yang sehat. Namun menjadi tidak baik ketika kemarahan sudah mengintervensi cara seseorang mengambil keputusan hingga merusak hubungan dengan orang lain. Cara menahan emosi bagi tiap orang berbeda, bisa dengan terapi pernapasan hingga mencari pengalihan atau distraksi.
30 Jul 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
5 tips untuk menahan emosi agar kondisi mental lebih sehat

9 Manfaat Bermain Catur Ini Baik untuk Kesehatan Otak

Manfaat bermain catur untuk kesehatan otak dan mental tidak banyak diketahui orang-orang. Permainan yang melibatkan dua orang ini dipercaya bisa meningkatkan daya ingat dan kecerdasan.
20 Nov 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Manfaat bermain catur untuk kesehatan mental sangatlah beragam. (Sumber foto: https://www.instagram.com/netflix/)

6 Cara Menghilangkan Sifat Egois yang Bisa Anda Lakukan

Cara menghilangkan sifat egois supaya Anda tidak terjebak dalam kepribadian yang tidak sehat ini dan tidak terisolasi karenanya. Anda bisa memulainya dengan menjadi pendengar yang baik dan mencoba untuk berempati
14 Dec 2020|Nenti Resna
Baca selengkapnya
Salah satu cara menghilangkan sifat egois adalah dengan menjadi pendengar yang baik