Gangguan Imunodefisiensi

Gangguan imunodefisiensi adalah kondisi dimana sistem kekebalan tubuh lemah sehingga tubuh rentan mengalami berbagai jenis infeksi. Gangguan ini terbagi menjadi dua jenis, yakni primer dan sekunder.

Gangguan imunodefisiensi primer sudah muncul sejak penderita lahir. Sementara gangguan imunodefisiensi sekunder merupakan jenis yang didapat di kemudian hari. Tipe sekunder lebih umum terjadi dibandingkan tipe primer.

Gejala gangguan imunodefisiensi bisa berbeda-beda pada penderita. Oleh sebab itu, penyakit ini termasuk sulit dideteksi.

Penderita umumnya mengalami infeksi yang berulang dan sulit sembuh. Sebagian pasien juga terkena infeksi oportunis, yaitu kondisi yang biasanya jarang menyerang orang dengan sistem imun yang normal.

Beberapa contoh infeksi yang sering kali dialami oleh penderita meliputi:

Penyebab gangguan imunodefisiensi tergantung pada tipenya. Mari simak penjelasannya di bawah ini:

Gangguan imunodefisiensi primer

Sebagian besar tipe primer disebabkan oleh kelainan pada gen yang berhubungan dengan komponen sistem kekebalan tubuh. Secara umum, jenis ini terbagi lagi menjadi beberapa kelompok berikut:

  • Defisiensi sel B.
  • Defisiensi sel T.
  • Kombinasi defisiensi sel B dan T.
  • Kelainan pada sel fagosit.
  • Defisiensi komplemen.
  • Idiopatik, yakni tanpa sebab yang diketahui.

Kelainan genetik tersebut umumnya diturunkan dalam keluraga. Oleh karena itu, anggota keluarga penderita gangguan imunodefisiensi primer lebih berisiko untuk mengalami kondisi yang sama.

Gangguan imunodefisiensi sekunder

Sederet penyebab gangguan imunodefisiensi sekunder meliputi:

  • Obat-obatan

Penyakit ini dapat disebabkan oleh beberapa obat yang menargetkan sistem kekebalan tubuh. Misalnya, obat kemoterapi, obat penekan sistem imun (imunosupresan), serta radioterapi.

  • Penyakit atau kondisi medis tertentu

Beberapa penyakit atau kondisi medis dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Contohnya, HIV/AIDS, hepatitis, luka bakar yang parah, diabetes serta malnutrisi.

Sejumlah kanker juga bisa memicu gangguan ini, terutama kanker yang menyerang sistem kekebalan tubuh seperti leukemia dan multiple myeloma.

  • Pengangkatan limpa

Organ limpa berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Jika organ ini diangkat, sistem imun bisa melemah. Operasi pengangkatan limpa terkadang dilakukan untuk menangani sirosis hati, anemia sel sabit, atau cedera parah pada limpa.

Diagnosis gangguan imunodefisiensi ditentukan oleh dokter berdasarkan proses tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Berikut penjelasannya:

Tanya jawab

Dokter akan menanyakan seputar gejala, riwayat medis Anda dan keluarga, serta faktor-faktor risiko yang mungkin Anda miliki.

Pemeriksaan fisik

Dokter akan memeriksa tubuh pasien untuk mendeteksi gejala gangguan imunodefisiensi, misalnya gangguan pernapasan.

Pemeriksaan penunjang

Dokter bisa meminta pasien untuk menjalani pemeriksaan penunjang guna memastikan diagnosis. Serangkaian pemeriksaan ini bisa berupa:

  • Tes darah

Sampel darah pasien akan diambil untuk diperiksa di laboratorium. Melalui tes ini, komponen-komponen sistem imun dalam darah bisa diketahui. Contohnya, immunoglobulin, antibodi, dan lain-lain.

  • Tes prenatal

Sesuai namanya, tes prenatal digunakan untuk memeriksa gangguan imunodefisiensi primer pada janin. Prosedurnya meliputi pengambilan sampel darah, jaringan, serta cairan ketuban.

Pemeriksaan ini disarankan bagi pasangan yang telah memiliki anak dengan gangguan yang sama atau ada anggota keluarga kandung yang mengidap masalah imunitas.

Selain itu, pemeriksaan DNA juga bisa dianjurkan untuk mengecek ada tidaknya kelainan genetik.

Pengobatan gangguan imunodefisiensi akan ditentukan oleh dokter berdasarkan dari kondisi penyakitnya. Berikut contohnya:

  • Pada penderita gangguan imunodefisiensi akibat HIV/AIDS dan mengalami berbagai infeksi, dokter akan meresepkan obat untuk menangani infeksi dan obat antiretroviral untuk mengobati HIV.
  • Gangguan imunodefisiensi yang disebabkan oleh kekurangan limfosit bisa ditangani dengan transplantasi sel punca (stem cell)

Secara umum, obat-obatan yang diberika oleh dokter untuk menangani penyakit ini meliputi obat antibiotik, terapi imunoglobullin, dan obat antivirus (seperti amantadine dan acyclovir).

Gangguan imunodefisiensi primer tidak dapat dicegah. Namun jenis sekunder bisa dihindari dengan beberapa cara. Salah satunya adalah tidak melakukan seks bebas agar jauh dari HIV/AIDS.

Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika mengalami infeksi yang parah, terjadi berulang kali, atau sulit untuk sembuh.  

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Cari tahu apakah ada anggota keluarga Anda yang mengalami gejala serupa.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala tersebut muncul?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait gangguan imunodefisiensi?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis gangguan immunodefisiensi. Dengan ini, dokter pun bisa memberikan penanganan yang sesuai.

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/immune-deficiency-disorders
Diakses pada 19 Desember 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/immunodeficiency-disorders
Diakses pada 19 Desember 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/primary-immunodeficiency/symptoms-causes/syc-20376905
Diakses pada 19 Desember 2019

MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/immune-disorders/immunodeficiency-disorders/overview-of-immunodeficiency-disorders
Diakses pada 19 Desember 2019

PID UK. http://www.piduk.org/static/media/up/secondaryimmunodeficiency.pdf
Diakses pada 19 Desember 2019

Artikel Terkait