Psikologi

Gangguan Identitas Disosiatif (Gangguan Kepribadian Ganda)

Diterbitkan: 07 Apr 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Gangguan Identitas Disosiatif (Gangguan Kepribadian Ganda)
Gangguan identitas disosiatif sering terjadi sebagai mekanisme pertahanan psikologis diri dalam mengatasi trauma
Gangguan identitas disosiatif (ganguan kepribadian ganda) adalah salah satu jenis penyakit mental yang menunjukkan adanya disosiasi atau ketidaksesuaian hubungan antara pikiran, ingatan, lingkungan, tindakan, serta identitas diri.Disosiasi tersebut menjadi cara tidak sehat untuk melarikan diri dari trauma masa lalu, sehingga menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.Penderita gangguan kepribadian ganda mungkin dapat merasakan ketidakpastian mengenai identitas dirinya serta adanya kehadiran identitas-identitas lain dalam dirinya. Identitas ini bisa berupa nama, latar hidup, suara, dan tingkah laku yang berbeda-beda.Karakteristik yang paling terlihat dari gangguan ini adalah perubahan dari satu identitas ke identitas lain, yang memiliki kepribadian berbeda jauh dari karakteristik asli.Identitas lain tersebut biasa disebut sebagai alter. Penderita yang menyadari keberadaan alter ini terkadang akan merujuk dirinya dengan kata ‘kami’ atau ‘kita’.  
Gangguan Identitas Disosiatif (Gangguan Kepribadian Ganda)
Dokter spesialisPsikolog, Jiwa
GejalaMemiliki dua identitasatau lebih, adanya memori yang tidak diingat, merasa ada orang lain dalam tubuh
Faktor risikoRiwayat pelecehan seksual atau trauma emosional pada masa kecil
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tanya jawab
PengobatanPsikoterapi, obat-obatan
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala gangguan kepribadian ganda
Beberapa gejala yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan ini, antara lain:
  • Ada dua identitas atau lebih dalam satu orang, yang memengaruhi perilaku. Tiap identitas memiliki memori, perilaku, dan pemikiran yang berbeda-beda. Perubahan ini mungkin dapat dilaporkan oleh penderita atau diobservasi oleh orang lain.
  • Adanya memori yang tidak diingat dalam aktivitas sehari-hari, informasi diri, dan/atau kejadian traumatis yang dialami.
  • Merasa seperti terdapat orang lain di dalam tubuh.
  • Berperilaku di luar karakter sebenarnya.
  • Merasa asing dengan diri sendiri.
  • Seolah-olah menjadi orang lain.
  • Menyebut diri sendiri dengan 'kami' atau 'kita'.
  • Dapat menulis dengan gaya tulisan tangan yang berbeda.
Beberapa hal yang dirasakan sebagai dampak dari gangguan ini:
  • Tidak mampu mengatasi emosi dengan baik
  • Penyalahgunaan alkohol dan narkotika.
  • Mengalami depresi, kecemasan, dan berpikir atau melakukan percobaan bunuh diri
  • Gangguan tidur, seperti insomnia, night terror, dan sleepwalking
  • Perilaku-perilaku yang kompulsif
  • Kecemasan, serangan panik (panic attack), dan fobia (kilas balik, reaksi dari hal-hal yang berkaitan dengan trauma)
  • Pergantian suasana hati yang tidak menentu (mood swings)
  • Gejala-gejala seperti psikosis
  • Gangguan makan
 
Penyebab ganguan kepribadian ganda umumnya adalah trauma masa lalu. Kelainan ini merupakan mekanisme pertahanan psikologis saat mengatasi trauma. Misalnya, pelecehan seksual atau trauma emosional maupun fisik yang dialami saat kanak-kanak.Selain itu, pemicu kondisi ini mungkin muncul karena faktor lingkungan seperti kejadian yang mengancam nyawa, bencana alam, dan stres. Selain itu, perilaku orangtua yang tidak menentu dan menimbulkan ketakutan bisa juga menjadi penyebabnya.  
Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), individu akan didiagnosis mengalami gangguan identitas disosiatif jika:
  • Terdapat dua atau lebih identitas atau kepribadian yang muncul, setiap identitas atau kepribadian memiliki pola persepsi, berhubungan, dan berpikir mengenai lingkungan dan diri yang berbeda-beda.
  • Adanya amnesia yang didefinisikan sebagai memori-memori yang hilang mengenai kejadian sehari-hari, informasi pribadi yang penting, dan/atau kejadian-kejadian traumatis yang dialami.
  • Individu harus merasa terganggu dengan gangguan yang dialami dan kesulitan dalam satu atau lebih aspek kehidupannya (contoh, aspek sosial dan pekerjaan).
  • Gangguan yang dialami bukanlah bagian dari norma budaya ataupun praktik-praktik keagamaan.
  • Gejala-gejala yang dialami bukan karena efek fisiologis dari zat-zat tertentu (contoh, alkohol) ataupun kondisi medis secara umum (contoh, kejang-kejang partial yang kompleks).
Dokter atau ahli kesehatan mental lainnya biasanya dapat melakukan diagnosis kepribadian ganda dengan melakukan beberapa cara,
  • Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan ini akan dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan wawancara mendalam untuk mengetahui kondisi fisik atau masalah medis lain seperti trauma kepala, gangguan tidur, atau efek samping dari obat-obatan tertentu.
  • Pemeriksaan psikiatri

Dokter akan mengajukan pemeriksaan psikis ini dengan mengajukan pertanyaan. Adapaun hal yang ditanyakan adalah tentang pikiran, perasaan, dan perilaku serta membahas gejala yang dimiliki.
  • Kriteria diagnostik DSM-5

Penggunaan metode diagnosis selanjutnya adalah membandingkan gejala yang muncul dengan kriteria diagnosis dari DSM-5.  
Cara mengobati gangguan identitas disosiatif yang dapat dilakukan meliputi:
  • Psikoterapi dapat berupa, konseling, terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), dan terapi psikososial.
  • Pengobatan kepribadian ganda yang lain adalah obat yang diresepkan oleh dokter atau psikiater dapat berupa antidepresa untuk mengatasi depresiserangan panik, dan kecemasan. 
  • Hipnoterapi dapat digunakan untuk membantu mengakses ingatan yang disembunyikan dan mengelola beberapa perilaku yang bermasalah serta mengintegrasikan kepribadian menjadi tahu
  • Terapi tambahan bisa berupa terapi seni atau gerakan guna membantu orang terhubung dengan bagian pikiran mereka yang disembunyikan karena trauma
Jika mengalami gangguan identitas disosiatif, cobalah mengikuti komunitas-komunitas dengan dengan kepribadian ganda atau kondisi yang serupa agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya.Mencari tahu mengenai gangguan yang  dialami dapat membantu untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.  Tetap mengikuti penanganan yang diberikan dan sabar dalam menekuni proses penanganan tersebut. Selain itu, pasien juga bisa mempraktikkan teknik-teknik untuk mengatasi stres, seperti meditasi, dan sebagainya. 

Komplikasi gangguan kepribadian ganda

Komplikasi gangguan identitas disosiatif ganguan kepribadian ganda dapat berupa kondisi-kondisi berikut:
  • Punya keinginan melukai diri sendiri atau mutilasi
  • Memiliki pola pikir atau keinginan dan perilaku bunuh diri
  • Disfungsi seksual
  • Alkoholisme dan gangguan penggunaan narkoba
  • Gangguan depresi dan kecemasan
  • Gangguan stres pascatrauma
  • Gangguan kepribadian
  • Gangguan tidur, termasuk mimpi buruk, insomnia, dan berjalan dalam tidur
  • Gangguan Makan
  • Gejala fisik seperti pusing atau kejang non-epilepsi
  • Penderita merasa kesulitan dalam hubungan pribadi dan di tempat kerja
 
Riwayat trauma masa kecil dapat meningkatkan risiko gangguan identitas disosiatif. Jika anak Anda telah mengalami peristiwa yang traumatis atau menyebabkan stres yang berat, segeralah berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya untuk mencegah perkembangan dari gangguan ini. Bagi para orangtua, Anda dapat mempelajari keterampilan-keterampilan dalam mendidik dan mengasuh anak yang efektif dan sehat.
 
Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala yang tertera di atas, memiliki pemikiran untuk bunuh diri, atau melakukan percobaan bunuh diri, segeralah berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami oleh pasien?
  • Sejak kapan gejala muncul?
  • Apakah pasien pernah terpikir untuk melukai orang lain atau diri sendiri?
  • Apakah pasien memikirkan atau memiliki keinginan untuk bunuh diri?
  • Apakah terdapat memori yang tidak dapat Anda ingat mengenai suatu periode waktu tertentu?
  • Apakah pasien pernah berada di suatu tempat, tapi tidak ingat kenapa ia bisa berada di sana?
  • Apakah pasien merasa cemas atau depresi?
  • Apakah pasien pernah atau sedang mengonsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu?
  • Apakah pasien memiliki kondisi medis atau mental tertentu?
  • Bagaimana pengaruh gangguan tersebut pada kehidupan sehari-hari pasien?
  • Apakah pasien merasa ada beberapa orang dalam tubuhnya?
  • Apakah pasien pernah dilecehkan secara fisik atau mental saat masih anak-anak?
  • Apakah ada anggota keluarga yang pernah dilecehkan saat pasien masih kecil?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis gangguan kepribadian ganda agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
American Psychiatric Association. https://www.psychiatry.org/patients-families/dissociative-disorders/what-are-dissociative-disorders
Diakses pada 15 Maret 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dissociative-disorders/symptoms-causes/syc-20355215
Diakses pada 12 Oktober 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/dissociative-disorders/
Diakses pada 12 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/dissociative-identity-disorder-multiple-personality-disorder#1
Diakses pada 12 Oktober 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email