Gangguan Identitas Disosiatif (Gangguan Kepribadian Ganda)

Ditinjau dr. Miranda Rachellina pada 29 Okt 2018
Gangguan identitas disosiatif sering terjadi sebagai mekanisme pertahanan psikologis diri dalam mengatasi trauma
Gangguan identitas disosiatif sering terjadi sebagai mekanisme pertahanan psikologis diri dalam mengatasi trauma

Pengertian Gangguan Identitas Disosiatif (Gangguan Kepribadian Ganda)

Gangguan identitas disosiatif (dissociative identity disorder) atau yang dulu dikenal sebagai gangguan kepribadian ganda merupakan salah satu jenis gangguan mental yang menunjukan adanya disosiasi atau ketidaksesuaian hubungan antara pikiran, ingatan, lingkungan, tindakan, serta identitas diri. Hal ini menjadi cara seseorang melarikan diri dari trauma yang dialami dengan cara yang tidak sehat dan menyebabkan masalah dalam kehidupan sehari-harinya.

Individu yang mengalami gangguan disosiasi identitas mungkin dapat merasakan ketidakpastian mengenai identitas dirinya serta merasakan kehadiran dari identitas-identitas lain dalam dirinya yang memiliki nama, latar hidup, suara, dan tingkah laku yang berbeda-beda. Karakteristik yang paling terlihat dari gangguan ini adalah perubahan dari satu identitas ke identitas lainnya yang memiliki kepribadian yang berbeda jauh dari kepribadian aslinya. Identitas lain yang bukan identitas asli dari penderita biasanya disebut sebagai alter. Penderita yang menyadari keberadaan alter lainnya terkadang akan merujuk dirinya dengan kata "kami" atau "kita". 

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Beberapa gejala yang dialami oleh orang-orang dengan gangguan ini, antara lain:

  • Terdapat dua atau lebih identitas atau kepribadian yang berbeda-beda dalam satu orang yang memengaruhi perilaku penderitanya. Tiap identitas memiliki memori, perilaku, dan pemikiran yang berbeda-beda. Perubahan ini mungkin dapat dilaporkan oleh penderita atau diobservasi oleh orang lain.
  • Adanya memori yang tidak diingat dalam aktivitas sehari-hari, informasi diri, dan/atau kejadian traumatis yang dialami.
  • Merasa seperti terdapat orang lain di dalam tubuh.
  • Berperilaku di luar karakter sebenarnya.
  • Merasa asing dengan diri sendiri.
  • Seolah-olah menjadi orang lain.
  • Menyebut diri sendiri dengan “kami” atau "kita".
  • Dapat menulis dengan gaya tulisan tangan yang berbeda.

Beberapa hal yang dirasakan sebagai dampak dari gangguan ini:

  • Tidak mampu mengatasi emosi dengan baik.
  • Penyalahgunaan alkohol dan narkotika.
  • Mengalami depresi, kecemasan, dan berpikir atau melakukan percobaan bunuh diri.
  • Gangguan tidur, seperti insomnia, night terror, dan sleepwalking.
  • Perilaku-perilaku yang kompulsif.
  • Kecemasan, serangan panik (panic attack), dan fobia (kilas balik, reaksi dari hal-hal yang berkaitan dengan trauma).
  • Pergantian suasana hati yang tidak menentu (mood swings).
  • Gejala-gejala seperti psikosis.
  • Gangguan makan

Penyebab

Gangguan identitas disosiatif sering terjadi sebagai mekanisme pertahanan psikologis diri dalam mengatasi trauma. Biasanya dipengaruhi karena riwayat pelecehan fisik, emosional, ataupun seksual yang dialami pada saat kanak kanak atau peristiwa lain yang traumatis. Selain itu, kemungkinan yang jarang terjadi adalah karena faktor lingkungan seperti kejadian yang mengancam nyawa, bencana alam, stres, dan perilaku orangtua yang tidak menentu dan menimbulkan ketakutan. 

Diagnosis

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), individu akan didiagnosis mengalami gangguan identitas disosiatif jika:

  • Terdapat dua atau lebih identitas atau kepribadian yang muncul, setiap identitas atau kepribadian memiliki pola persepsi, berhubungan, dan berpikir mengenai lingkungan dan diri yang berbeda-beda.
  • Adanya amnesia yang didefinisikan sebagai memori-memori yang hilang mengenai kejadian sehari-hari, informasi pribadi yang penting, dan/atau kejadian-kejadian traumatis yang dialami.
  • Individu harus merasa terganggu dengan gangguan yang dialami dan kesulitan dalam satu atau lebih aspek kehidupannya (contoh, aspek sosial dan pekerjaan).
  • Gangguan yang dialami bukanlah bagian dari norma budaya ataupun praktik-praktik keagamaan.
  • Gejala-gejala yang dialami bukan karena efek fisiologis dari zat-zat tertentu (contoh, alkohol) ataupun kondisi medis secara umum (contoh, kejang-kejang partial yang kompleks).

Dokter atau ahli kesehatan mental lainnya biasanya dapat mendiagnosis gangguan dengan melakukan beberapa cara, yaitu dengan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi fisik atau masalah medis lain seperti trauma kepala, gangguan tidur, atau efek samping dari obat-obatan tertentu. Selain itu, dokter dan ahli kesehatan mental lainnya dapat mendiagnosis dengan menggunakan kriteria dari DSM-5. 

Pengobatan

Penanganan yang dapat dilakukan adalah psikoterapi, medikasi, ataupun kombinasi dari keduanya. Psikoterapi dapat berupa, konseling, terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), dan terapi psikososial. Sementara medikasi yang diresepkan oleh dokter atau psikiater dapat berupa antidepresa untuk mengatasi depresi, serangan panik, dan kecemasan. 

Jika Anda mengalami gangguan identitas disosiatif, cobalah mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang mengalami gangguang yang serupa dengan Anda agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya. Mencari tahu mengenai gangguan yang Anda alami dapat membantu untul lebih mengenali gangguan yang dialami. Anda harus tetap mengikuti penanganan yang diberikan dan sabar dalam menekuni proses penanganan tersebut. Anda juga dapat mempraktikkan teknik-teknik untuk mengatasi stres, seperti meditasi, dan sebagainya. 

Pencegahan

Riwayat trauma masa kecil dapat meningkatkan risiko gangguan identitas disosiatif. Jika anak Anda telah mengalami peristiwa yang traumatis atau menyebabkan stres yang berat, segeralah berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya untuk mencegah perkembangan dari gangguan ini. 

Bagi para orangtua, Anda dapat mempelajari keterampilan-keterampilan dalam mendidik dan mengasuh anak yang efektif dan sehat.

 

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami gejala-gejala yang tertera di atas, memiliki pemikiran untuk bunuh diri, atau melakukan percobaan bunuh diri, segeralah berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. 

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum melakukan konsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, sebaiknya siapkan daftar gejala yang dialami, informasi pribadi, informasi medis, daftar obat-obatan atau zat-zat yang dikonsumsi, dan pertanyaan, seperti:

  • Apa yang menyebabkan gejala saya?
  • Penanganan apa yang cocok untuk gejala yang saya alami?
  • Apakah gejala saya dapat berefek jangka panjang?
  • Jika saya harus mengonsumsi obat, apa efek samping dan kontra indikasi dari obat yang diberikan?
  • Bagaimana cara pemantauan perkembangan saya?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Biasanya dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Gejala apa saja yang Anda rasakan atau dilaporkan oleh orang-orang di sekitar Anda?
  • Kapan Anda pertama kali mengalami gejala tersebut atau kapan pertama kali orang lain melaporkan gejala tersebut kepada Anda?
  • Seberapa sering gejala tersebut dialami?
  • Seberapa sering Anda mengalami cemas atau depresi?
  • Apakah Anda sempat berpikir untuk bunuh diri?
  • Apakah terdapat memori yang tidak dapat Anda ingat mengenai suatu periode waktu tertentu?
  • Apakah Anda pernah berada di suatu tempat tetapi tidak ingat bagaimana Anda bisa berada di tempat tersebut?
  • Apakah Anda merasa cemas atau depresi?
  • Apakah Anda pernah terpikir untuk melukai orang lain atau diri sendiri?
  • Apakah Anda pernah melayani di bagian militer?
  • Apakah Anda pernah mengonsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda memiliki kondisi medis atau mental tertentu?
  • Bagaimana gangguan tersebut memengaruhi kehidupan Anda sehari-hari?
  • Apakah Anda pernah mengalami seolah-olah keluar dari tubuh Anda?
  • Apakah Anda merasa terdapat beberapa orang dalam tubuh Anda?
  • Apakah Anda pernah dilecehkan secara fisik atau mental saat masih anak-anak?
  • Apakah terdapat anggota keluarga yang pernah dilecehkan saat masa kanak-kanak Anda?
Referensi

American Psychiatric Association
https://www.psychiatry.org/patients-families/dissociative-disorders/what-are-dissociative-disorders
Diakses pada 15 Maret 2019

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dissociative-disorders/diagnosis-treatment/drc-20355221
Diakses pada 12 Oktober 2018

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/dissociative-disorders/
Diakses pada 12 Oktober 2018

Web MD. 
https://www.webmd.com/mental-health/dissociative-identity-disorder-multiple-personality-disorder#2
Diakses pada 12 Oktober 2018

Back to Top