Psikologi

Fobia

Diterbitkan: 12 Mar 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Fobia
Fobia bisa dipicu oleh beragam hal, seperti laba-laba, pesawat, serta jarum suntik
Fobia adalah ketakutan luar biasa yang berlebihan dan tidak masuk akal terhadap situasi atau objek tertentu. Kondisi ini memicu kecemasan dan membuat penderita berusaha untuk menghindari pemicunya dengan segala cara.Rasa takut pada fobia akan berlangsung lama dan menyebabkan reaksi psikologis maupun fisik yang kuat. Kondisi psikis ini juga dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, baik dalam pekerjaan, sekolah, maupun kehidupan sosial penderita.Bila tidak ditangani dengan benar, fobia dapat menimbulkan komplikasi berupa isolasi diri, keterbatasan pengembangan diri, serta masalah akademik, profesional, maupun hubungan sosial.Pada kasus fobia berat yang tidak diatasi, penderita bahkan berisiko melakukan percobaan bunuh diri. 
Fobia
Dokter spesialis Jiwa, Psikolog
GejalaMenghindari obyek, lingkungan, atau situasi yang ditakuti, panik dan takut luar biasa bila kontak dekat dengan pemicu, sulit mengendalikan rasa takut
Faktor risikoFaktor keturunan, kepribadian yang kaku, jenis kelamin wanita
Metode diagnosisKriteria DSM
PengobatanPsikoterapi, obat
ObatDuloxetine, alprazolam, diazepam
KomplikasiGangguan pada aktivitas, percobaan bunuh diri
Kapan harus ke dokter?Gejala fobia, timbul pikiran atau mencoba bunuh diri
Secara umum, gejala fobia meliputi:

1. Reaksi fisik

2. Menghindari objek atau situasi yang ditakuti

Penderita fobia akan menghindari objek atau situasi yang ditakuti dengan segala cara. Mereka juga bisa tetap menjalani semuanya, tapi mengalami rasa takut dan cemas yang luar biasa.

3. Rasa takut yang berlebihan

Rasa takut yang berlebihan, cemas, dan panik ketika terpapar atau hanya memikirkan sumber fobia. Kecemasan akan memburuk ketika objek atau situasi pemicu mendekat.

4. Tidak bisa mengendalikan diri

Penderita menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan dan tidak masuk akal, tapi tetap tidak bisa mengendalikannya. Karena itu, penderita fobia akan kesulitan untuk melakukan rutinitasnya.

5. Gejala fobia pada anak-anak

Pada anak-anak, gejala fobia yang terlihat dapat berupa menangis hebat, muncul tantrum, menolak dan menjauh dari orang tua, serta tidak mau mendekati objek atau situasi yang ditakuti. 

Jenis fobia

Fobia merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang paling umum ditemukan. Kondisi kejiwaan ini bisa dikelompokkan dalam dua jenis berikut:

1. Fobia spesifik (sederhana)

Fobia spesifik berhubungan dengan objek, hewan, situasi atau aktivitas tertentu. Biasanya, jenis fobia ini muncul saat anak-anak dan gejalanya makin berkurang seiring pertambahan usia.Beberapa contoh macam-macam fobia jenis ini adalah:
  • Fobia terhadap lingkungan, seperti fobia ketinggian dan kuman
  • Fobia terhadap objek yang berhubungan dengan tubuh, seperti fobia darah dan  muntah 
  • Fobia terhadap hewan, seperti fobia laba-laba, lebah, dan ular
  • Fobia terhadap hal-hal yang seksual, seperti fobia penyakit menular seksual 
  • Fobia terhadap situasi, seperti fobia ke dokter gigi, naik pesawat, dan berkendara

2. Fobia kompleks

Fobia kompleks umumnya lebih mengganggu daripada fobia spesifik. Fobia ini biasa berhubungan dengan ketakutan atau kecemasan yang mendalam terhadap situasi atau keadaan tertentu.Sebagian besar fobia kompleks berkembang saat penderita sudah dewasa dan biasanya dikaitkan dengan kecemasan yang terpendam.Jenis fobia kompleks yang paling umum meliputi:
  • Fobia sosial atau gangguan kecemasan sosial

Fobia sosial atau gangguan kecemasan sosial merupakan ketakutan yang berlebih bahwa seseorang akan mempermalukan dirinya atau dipermalukan oleh orang lain di depan umum. 
  • Agorafobia

Agorafobia adalah rasa takut berlebih bahwa seseorang tidak bisa melarikan diri atau meminta bantuan dalam situasi maupun tempat tertentu. Fobia ini biasanya berkembang dari gangguan panik.Baca juga: Mengenal Ciri-ciri Fobia Sosial dan Cara Menghadapinya 
Penyebab utama fobia belum diketahui secara pasti. Namun ada beberapa faktor yang dianggap berperan terhadap kemunculan fobia:
  • Faktor biologis

Perubahan yang terjadi pada fungsi otak diperkirakan dapat menyebabkan munculnya fobia. 
  • Pengalaman buruk

Fobia sering dikaitkan dengan peristiwa traumatis atau pengalaman buruk terhadap suatu objek, situasi, atau kejadian tertentu. Contohnya, terperangkap dalam lift, digigit anjing, dan lain-lain.Mendengar atau membaca berita buruk pun bisa memancing fobia. Misalnya, berita tentang kecelakaan lalu lintas atau pesawat jatuh.
  • Faktor genetik

Fobia pun dapat muncul karena pengaruh faktor keturunan. Misalnya, memiliki keluarga kandung yang mengalami gangguan cemas.Saat masih kanak-kanak, penderita bisa saja memperhatikan dan meniru perilaku dari anggota keluarga yang memiliki fobia tertentu.
  • Usia

Anak-anak termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami situasi yang memicu fobia.
  • Jenis kelamin

Kaum wanita lebih berisiko untuk mengalami fobia daripada pria.
  • Faktor risiko lain

Memiliki status sosial dan ekonomi yang rendah, serta sifat yang lebih sensitif dan kaku juga dikatakan berpengaruh pada kemungkinan seseorang untuk mengalami fobia. 
Diagnosis fobia terutama dapat ditentukan dengan cara-cara berikut:
  • Wawancara psikiatri

Pada tahap awal, dokter akan menanyakan riwayat penyakit pasien dan keluarga, kehidupan sosial, serta riwayat penggunaan obat-obatan. Dokter lalu menanyakan semua gejala yang muncul.Seteah itu, dokter akan menggunakan kriteria diagnostik Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5). Kriteria ini merupakan panduan yang disusun oleh Asosiasi Psikiater Amerika.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari gejala dari penyakit yang mungkin mendasari gangguan fobia maupun efek samping dari obat-obatan tertentu. 
Cara mengobati fobia umumnya akan tergantung pada tingkat keparahan dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi ini. Beberapa metode penanganan fobia yang bisa dianjurkan meliputi:

1. Psikoterapi

Jenis psikoterapi yang dapat diberikan untuk mengatasi fobia adalah: 
  • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT)

Terapi perilaku kognitif biasanya dilakukan dengan pemaparan terhadap sumber fobia, lalu pengamatan terhadap pemikiran dan perasaan pasien yang berhubungan dengan fobia tersebut.Pasien kemudian akan diajari untuk mengubah pemikiran dan perasaan tersebut. Dengan ini, pasien diharapkan dapat mengatasi pola pikir, rasa takut, serta rasa cemasnya terhadap sumber fobia. Proses pemaparan dalam CBT tentu akan dilakukan secara bertahap agar pasien perlahan-lahan dapat membiasakan diri.
  • Terapi pemaparan (exposure therapy)

Terapi pemaparan bertujuan mengubah respons pasien terhadap sumber fobia. Proses paparan ini akan dilakukan secara bertahap agar tetap aman.paparan yang bertahap diharapkan memungkinkan penderita untuk mencari cara mengatasi ketakutan yang ia rasakan.

2. Obat-obatan

Penggunaan obat-obatan kadang diperlukan untuk mengendalikan rasa cemas atau panik serta gejala yang muncul. Pilihan obat-obatan yang biasanya diresepkan oleh dokter meliputi:
  • Beta blockers

Beta blockers sejatinya berfungsi mengurangi kecepatan detak jantung dan menurunkan tekanan darah. Obat ini juga dapat digunakan untuk menangani kecemasan dan rasa panik.
  • Obat antidepresan

Obat antidepresan berperan mengurangi rasa cemas. Contohnya, duloxetine, venlafaxine, citalopram, escitalopram, dan paroxetine.
  • Obat sedatif

Obat sedatif seperti benzodiazepine digunakan juga berfungsi mengurangi tingkat kecemasan supaya penderita merasa tenang.Namun obat benzodiazepine harus digunakan dengan hati-hati dan sesuai resep dokter. Pasalnya, obat ini bersifat adiktif yang dapat memicu ketergantungan, terutama jika pasien memiliki riwayat penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang.Oleh karena itu, obat jenis ini biasanya hanya diresepkan untuk jangka pendek. Contoh obat golongan benzodiazepine meliputi alprazolam dan diazepam.

3. Hal yang dapat dilakukan di rumah

Pasien juga bisa menerapkan sederet langkah berikut untuk membantu dalam mengatasi fobia:
  • Mematuhi metode penanganan yang diberikan oleh dokter.
  • Menerapkan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, cukup istirahat, dan teratur berolahraga.
  • Menghindari penggunaan alkohol, kafein, dan obat-obatan terlarang
  • Sebisa mungkin, jangan menjauhi objek atau situasi yang memicu fobia. Pasalnya,  ketakutan dan kecemasan akan makin menguat jika dihindari.
  • Mengurangi stres, misalnya melakukan meditasi, yoga, dan hobi.
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dihadapi. Pasien juga bisa bergabung dalam komunitas atau support group yang sesuai dengan fobianya. Dengan ini, ia dapat saling bertukar pikiran dan mendukung. 
 

Komplikasi fobia

Jika tidak ditangani dengan benar, fobia dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Isolasi sosial, di mana penderita menghindari benda dan tempat tertentu. Kondisi ini akan membatasi proses pengembangan diri pasien dan memicu masalah akademik, profesional, serta interaksi sosial.
  • Gangguan mood, seperti depresi dan gangguan kecemasan.
  • Penyalahgunaan obat.
  • Bunuh diri. Beberapa jenis fobia spesifik dapat meningkatkan risiko percobaan bunuh diri apabila terus dibiarkan.
 
Karena penyebab utamanya belum diketahui dengan pasti, cara mencegah fobia juga belum tersedia.Namun Anda sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter spesialis kejiwaan atau psikolog jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami fobia tertentu. Dengan ini, gejala tidak semakin parah dan berujung pada komplikasi.  
Segera cari bantuan medis apabila Anda atau orang di sekitar mengalami gejala fobia, terutama jika muncul keinginan bunuh diri bahkan melakukan percobaan bunuh diri. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
  • Tulislah pertanyaan yang Anda ingin tanyakan kepada dokter Anda.
    
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama muncul?
  • Apakah ada gejala fisik saat Anda mengalami fobia, seperti sesak napas atau jantung berdebar?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait fobia?
  • Apakah akhir-akhir ini Anda merasa gugup, cemas, atau gelisah?
  • Adakah hal yang meringankan atau memperburuk kondisi Anda?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda memiliki keinginan untuk menyakiti diri sendiri?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis fobia agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/specific-phobias/symptoms-causes/syc-20355156
Diakses pada 19 Oktober 2018 
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/phobias/
Diakses pada 18 Oktober 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/phobia-simple-specific
Diakses pada 30 September 2020
Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/248320
Diakses pada 30 September 2020
Rx List. https://www.rxlist.com/benzodiazepines/drug-class.htm
Diakses pada 30 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Sebelum Marah, Terapkan 5 Cara Menahan Emosi Ini

Meski terkesan negatif, kemarahan sebenarnya adalah bentuk emosi yang sehat. Namun menjadi tidak baik ketika kemarahan sudah mengintervensi cara seseorang mengambil keputusan hingga merusak hubungan dengan orang lain. Cara menahan emosi bagi tiap orang berbeda, bisa dengan terapi pernapasan hingga mencari pengalihan atau distraksi.
30 Jul 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
5 tips untuk menahan emosi agar kondisi mental lebih sehat

Sudah Terbiasakah Anda dengan 9 Cara Menerima Kekurangan Diri Ini?

Tanpa disadari, seseorang bisa jadi kerap lupa berterima kasih pada diri sendiri. Justru, kekurangan diri yang mendominasi pikiran dan terkadang berdampak pada kepercayaan diri dan aspek mental lainnya. Gunakan beberapa tips berikut untuk membantu menerima kekurangan diri dan menjalani hidup yang lebih bahagia.
29 Apr 2020|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Menerima kekurangan diri dapat dilakukan dengan cara meditasi

Sertraline untuk Atas Depresi, Jangan Konsumsi Tanpa Izin Dokter

Sertraline adalah antidepresan yang membantu menangani depresi dan gangguan psikologis lain. Obat ini masuk dalam golongan SSRI yang bekerja dengan mempertahankan senyawa kebahagiaan serotonin. Penggunaan sertraline harus di bawah izin dokter karena efek sampingnya yang cukup banyak.
17 Aug 2020|Arif Putra
Baca selengkapnya
Sertraline adalah obat antidepresan yang diresepkan dokter untuk menangani depresi