Fluorosis adalah kondisi medis yang ditandai dengan perubahan tampilan gigi, tepatnya pada lapisan terluar gigi yang disebut enamel. Perubahan ini bisa berbeda-beda, tergantung tingkat keparahannya.

Pada kebanyakan kasus, perubahan gigi yang terjadi terbilang sangat ringan hingga seringkali hanya disadari oleh dokter gigi ketika melakukan pemeriksaan.

Fluorosis terjadi karena asupan fluorida berlebih pada anak selama masa pertumbuhan gigi. Namun kondisi ini tidak mempengaruhi kesehatan gigi.

Di Indonesia, kasus ini jarang terjadi sebab kebanyakan orang Indonesia justru masih kekurangan fluorida. Kondisi ini, umumnya terjadi di negara-negara yang air minumnya bisa diambil langsung dari kran dan sudah diperkaya fluorida.

Gigi normal yang tidak terpengaruh oleh fluorosis biasanya memiliki permukaan bertekstur halus dan mengkilap. Warnanya pun putih hingga krem.

Apabila mengalami fuorosis, penampilan gigi akan mengalami perubahan-perubahan sebagai berikut:

 

  • Gejala flurosis ringan

 

Pada tahap ringan, gejala fluorosis bisa berupa munculnya bintik-bintik atau garis berwarna putih pada gigi. Perubahan tampilan gigi ini terkadang tidak disadari oleh penderita.

 

  • Gejala flurosis berat

 

Pada kondisi fluorosis yang lebih parah, gejalanya dapat berupa:

  • Noda pada gigi yang berwarna kuning hingga cokelat tua.
  • Permukaan gigi menjadi tidak rata.
  • Lubang pada enamel.

Penyebab fluorosis adalah asupan fluorida yang berlebihan pada anak semasa tumbuh kembangnya, terutama hingga anak berusia 8 tahun. Hal ini dapat terjadi karena masa pertumbuhan gigi permanen pada anak berlangsung hingga usia 8 tahun.

Asupan fluorida yang berlebih tersebut bisa terjadi karena hal-hal berikut ini:

  • Penggunaan suplemen dan pasta gigi yang banyak mengandung fluorida, apalagi jika pasta gigi tertelan oleh anak.
  • Anak terlalu banyak mengonsumsi air dengan kandungan fluorida yang tinggi.

Fluorosis yang ringan sulit didiagnosis karena gejalanya yang seringkali tidak disadari oleh penderita. Namun dokter gigi dapat mendeteksi adanya perubahan tampilan gigi pada saat pemeriksaan.

Oleh karena itu, pemeriksaan gigi Anda dan anak Anda secara rutin agar bisa membantu dalam mendeteksi fluorosis sedini mungkin.

Penanganan fluorosis tergantung dari tingkat keparahannya. Berikut penjelasannya:

Fluorosis yang ringan

Pada fluorosis yang ringan, tidak ada penanganan khusus yang diperlukan.

Fluorosis yang berat

Pada kasus fluorosis yang lebih berat, beberapa metode penanganan berikut bisa dilakukan oleh dokter untuk memperbaiki tampilan gigi Anda:

Pengawasan orang tua merupakan kunci untuk mencegah fluorosis. Beberapa contoh langkah pencegahan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Mencari tahu kadar fluorida dalam air minum.
  • Simpan seluruh produk yang mengandung fluorida agar jauh dari jangkauan anak-anak, seperti pasta gigi, obat kumur, dan suplemen.
  • Awasi penggunaan pasta gigi yang mengandung fluorida pada anak. Oleskan pasta gigi dalam jumlah yang tepat, yaitu seukuran kacang polong pada sikat gigi anak.
  • Ajari anak untuk membuang pasta gigi setelah menyikat gigi dan tidak menelannya.
  • Hindari penggunaan pasta gigi dengan rasa yang mungkin akan ditelan oleh anak.

Apabila anak menelan banyak fluorida dalam waktu singkat, anak bisa mengalami keracunan fluorida dan mengalami gejala berupa mual, diare, muntah, dan sakit perut. Jadi waspadai juga keluhan-keluhan ini.

Segera berkonsultasi dengan dokter gigi apabila anak Anda mengalami gejala fluorosis, seperti bintik-bintik putih atau perubahan warna pada gigi. Meski tidak ada keluhan, pemeriksaan gigi setiap enam bulan sekali sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan gigi maupun mulut.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan oleh penderita.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh penderita.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh penderita.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala dirasakan?
  • Apakah penderita memiliki faktor risiko terkait fluorosis?
  • Apakah penderita rutin mengonsumsi suplemen atau obat-obatan tertentu?
  • Apakah penderita sudah mendapatkan pertolongan medis sebelumnya? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah dicoba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis fluorosis. Dengan ini, pengobatan bisa diberikan secara tepat

CDC. https://www.cdc.gov/fluoridation/faqs/dental_fluorosis/index.htm
Diakses pada 6 Januari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/children/fluorosis-symptoms-causes-treatments#1
Diakses pada 6 Januari 2020

Mouth Healthy. https://www.mouthhealthy.org/en/az-topics/f/fluorosis
Diakses pada 6 Januari 2020

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/fluorosis-4174226
Diakses pada 6 Januari 2020

Dental Care. https://www.dentalcare.com/en-us/patient-education/patient-materials/fluorosis
Diakses pada 6 Januari 2020

Artikel Terkait