Floppy eyelid syndrome adalah kelainan pada kelopak mata yang ditandai dengan lenturnya kelopak mata bagian atas. Akibatnya, kelopak mata penderita sangat mudah terlipat keluar, baik saat beraktivitas maupun saat tidur.

Sindrom kelopak mata terkulai ini berhubungan dengan penyakit lain, seperti obesitas dan obstructive sleep apnea (OSA). Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan pada bagian mata lainnya, seperti kornea, konjungtiva, dan lapisan air mata.

Sindrom ini dapat terjadi pada pria atau wanita dewasa, juga anak-anak. Namun kelainan ini paling sering ditemukan pada laki-laki bertubuh gemuk dan berusia 40-69 tahun.

Gejala floppy eyelid syndrome biasanya tidak jelas. Penderita kerap mengalami keluhan pada mata yang umum berikut ini:

  • Mata terasa tidak nyaman.
  • Iritasi pada mata.
  • Keluar cairan atau air mata terus-menerus.
  • Mata yang gatal.
  • Mata terasa mengganjal, seperti ada benda asing di dalam mata.

Jika diraba kelopak mata terasa lunak, elastis, dan mudah dilipat. Bisa juga disertai dengan kelopak mata yang tampak lebih tebal.

Kelopak mata dapat terlipat sendiri saat pasien beraktivitas ataupun tidur. Misalnya, akibat bergesekan dengan bantal ketika penderita tidur.

Sampai sekarang, penyebab floppy eye syndrome belum diketahui dengan pasti. Hubungannya dengan OSA juga belum terdeteksi.

Namun ada satu teori yang menyatakan bahwa peradangan dalam tubuh meningkat karena OSA dan mengakibatkan hilangnya jaringan elastin pada kelopak mata.

Jaringan tersebut berperan menjaga kelenturan kulit. Karena itu, kelopak mata menjadi lebih lentur dari normal.

Diagnosis floppy eyelid syndrome dipastikan melalui tanya jawab dan pemeriksaan fisik. Berikut penjelasannya:

  • Tanya jawab

Proses diagnosis floppy eyelid syndrome biasanya dihubungkan dengan diagnosis penyakit lain. Oleh sebab itu, dokter akan menanyakan riwayat beberapa penyakit berikut ini:

Dalam pemeriksaan mata, kelopak mata atas penderita akan dicoba untuk dilipat keluar (eversi). Tindakan eversi ini biasanya tidak mudah dilakukan.

Namun pada pengidap floppy eyelid syndrome, kelopak matanya menjadi elastis dan mudah dilipat keluar. Selain itu, peradangan pada konjungtiva sebagai akibat eversi juga sering ditemukan.

Pengobatan floppy eyelid syndrome bergantung pada gejala yang timbul dan tingkat keparahannya. Perlu juga mengatasi penyakit penyebabnya, seperti obesitas atau OSA.

Karena kelopak mata atas yang mudah terlipat, permukaan bola mata rentan mengalami iritasi ataupun terpapar benda asing. Untuk mengatasinya, pasien dapat menggunakan pelindung mata atau salep pelumas mata. Pelindung mata juga berfungsi mencegah terlipatnya kelopak mata.

Pada kasus floppy eyelid syndrome yang berat, operasi dapat dilakukan. Prosedur ini bertujuan mengencangkan kelopak mata atas dan membuang sebagian jaringan kelopak mata.

Pencegahan floppy eyelid syndrome dapat dilakukan dengan mengatasi kondisi yang menjadi faktor risikonya. Mulai dari obesitas, obstructive sleep apnea, diabetes, hipertensi, hingga hiperlipidemia.

Berkonsultasilah ke dokter jika Anda mendapati kelopak mata atas Anda:

  • Mudah terlipat keluar, bahkan hanya dengan sedikit sentuhan.
  • Sering terlipat keluar saat tidur.

Pemeriksaan medis terutama diperlukan bagi Anda yang memiliki faktor risiko floppy eyelid syndrome.

Ada baiknya Anda mempersiapkan daftar pertanyaan mengenai floppy eyelid syndrome di bawah ini sebelum Anda berkonsultasi dengan dokter:

  • Apa penyebab keluhan pada mata Anda?
  • Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi?
  • Adakah pemeriksaan lanjutan yang perlu dilakukan?
  • Terapi apa saja yang tersedia?
  • Apakah keluhan akan hilang sepenuhnya?
  • Bagaimana cara melindungi mata?

Siapkan juga hal-hal berikut sebelum pergi ke dokter:

  • Kebiasaan tidur.
  • Kebiasaan mengorok.
  • Obat-obatan yang sudah pernah dicoba untuk mengatasi keluhan.
  • Obat-obatan, vitamin, obat herbal, dan suplemen yang rutin dikonsumsi.
  • Riwayat penyakit lain sebelumnya.

Dokter akan mengajukan sederet pertanyaan, baik yang berkaitan langsung dengan keluhan pada kelopak mata maupun mengenai faktor risiko floppy eyelid syndrome (terutama OSA). Berikut contoh pertanyaan tersebut:

  • Keluhan mata apa saja yang Anda alami?
  • Sejak kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda sering mengalami mata merah, berair, gatal, atau seperti ada yang mengganjal?
  • Apakah Anda sering menggosok mata?
  • Apakah Anda mengorok saat tidur?
  • Apakah orang lain memberi tahu bahwa Anda mengorok?
  • Apakah Anda sering mengantuk di siang hari?
  • Apakah Anda merasa lelah saat terbangun tidur di pagi hari?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan diagnosis floppy eyelid syndrome.

Ophtalmology and Visual Sciences, University of Iowa Health Care. https://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/cases/240-Floppy-Eyelid-Syndrome.htm
Diakses pada 2 Desember 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4312155/
Diakses pada 2 Desember 2019

Science Direct. https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1542012417303774?via%3Dihub.
Diakses pada 2 Desember 2019

Artikel Terkait