Kulit & Kelamin

Fimosis

08 Feb 2021 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Fimosis
Pada bayi dan balita fimosis normal terjadi, kecuali jika menyebabkan gejala tertentu.
Fimosis merupakan kondisi kulup, yaitu kulit yang membungkus kepala penis terlalu ketat untuk ditarik kembali ke atas kepala penis. Pada bayi dan balita, fimosis adalah hal yang normal, kecuali jika menyebabkan gejala tertentu. Kulup biasanya dapat ditarik kembali ketika berumur 17 tahun karena kulup tersebut dapat mengendur seiring berjalannya waktu.
Fimosis
Dokter spesialis Urologi, Bedah, Bedah Anak
GejalaPembengkakan kepala penis saat buang air kecil, kepala penis mengembang pada saat buang air kecil, nyeri
Faktor risikoTidak melakukan sunat, kulit penis ditarik secara paksa, infeksi
Metode diagnosisWawancara, pemeriksaan fisik
PengobatanObat-obatan, melakukan sunat
ObatAntibiotik, kortikosteroid
KomplikasiBalanitis berulang, infeksi kronik, infeksi menular seksual
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala
Terdapat beberapa gejala yang ditimbulkan pada saat seseorang mengalami fimosis, di antaranya:
  • Terdapat pembengkakan kulup yang menutupi kepala penis saat buang air kecil.
  • Kulup akan mengembang pada saat buang air kecil seperti balon, selain itu juga akan terlihat darah yang bercampur dengan air seni, kemudian aliran air seni akan lebih lemah ketika buang air kecil.
  • Merasa sakit ketika berhubungan seks karena penis yang ereksi.
  • Infeksi pada saluran kemih dengan tanda darah dalam urine, rasa sakit dan terbakar ketika buang air kecil, selalu merasa ingin buang air kecil atau rasa sakit dan tekanan pada perut bagian bawah atau punggung.
  • Kulup terasa sakit.
  • Terdapat cincin putih pada sekitar pembukaan kulup yang terlihat seperti jaringan parut.
Fimosis dapat terjadi secara alami kepada anak laki-laki. Namun, terdapat beberapa hal yang menyebabkan fimosis, salah satunya adalah:
  • Tidak melakukan sunat
  • Kulup ditarik secara paksa ketika belum siap sehingga melukai kulit dan menyebabkan terjadinya jaringan parut.
  • Terdapat peradangan atau infeksi pada kulup atau pada kepala penis (balanitis) yang diakibatkan oleh kebersihan yang buruk.
  • Kondisi medis. Orang dengan diabetes memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk menderita balanitis.
  • Proses penuaan, maka akan menyebabkan kelenturan kulup berkurang sehingga sulit ditarik.
Untuk mendiagnosis fimosis, biasanya dokter akan menanyakan riwayat penyakit dan melakukan pemeriksaan fisik sederhana pada penis. Fimosis jarang membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
Fimosis biasanya diobati dengan beberapa cara, seperti:
  • Steroid topikal berbentuk krim, gel, atau salep yang mengandung kortikosteroid yang dapat membantu melenturkan kulup serta membuatnya lebih mudah untuk ditarik kembali.
  • Jika terdapat balanitis, maka dapat diberikan antibiotik jika infeksi disebabkan oleh bakteri, atau antifungal jika infeksi disebabkan oleh jamur.
  • Gunakan kondom dan pelumas saat berhubungan seksual yang akan membantu penis merasa lebih nyaman.
  • Operasi, yaitu dengan sunat (sirkumsisi) yang dilakukan dengan menghilangkan sebagian atau seluruh kulup diperlukan jika mengalami infeksi saluran kemih atau balanitis berulang.
Komplikasi fimosis dapat berupa balanitis berulang, infeksi kronik, infeksi menular seksual, kanker penis
Gangguan fimosis ini dapat secara mudah dicegah, yaitu dengan cara bagian kepala penis dan kulup harus secara teratur dicuci dan dikeringkan. Tariklah untuk membuka kulup dengan lembut dan tutuplah kembali pada posisi semula setelah selesai. Namun, jika Anda mengalami gangguan ini, Anda dapat melakukan sunat untuk menghentikan terjadinya kondisi fimosis ini.
Konsultasikanlah dengan dokter jika mengalami gejala fimosis, sehingga Anda akan mendapatkan perawatan yang tepat. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait fimosis?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis fimosis agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
Healthline. https://www.healthline.com/health/mens-health/phimosis
Diakses pada 2 November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/phimosis/
Diakses pada 2 November 2018
WebMD. https://www.webmd.com/men/phimosis-
paraphimosis#1
Diakses pada 2 November 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email