Infeksi

Kaki Gajah (Filariasis)

Diterbitkan: 07 Apr 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Kaki Gajah (Filariasis)
Kaki gajah atau filariasis bisa menyebabkan pembengkakan di kaki, tangan, payudara, dan alat kelamin
Penyakit kaki gajah atau filariasis adalah kondisi medis yang disebabkan oleh cacing filaria. Parasit ini dapat ditularkan dari satu orang ke orang lainnya melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi cacing filaria.Kondisi ini umumnya disebut kaki gajah karena gejalanya yang paling umum terlihat adalah pembengkakan pada kaki dan tangan. Selain itu, skrotum (kantong buah zakar) serta payudara dan organ kelamin penderita wanita juga dapat diserang.Tekstur kulit pada organ yang membengkak bisa menebal dan menjadi lebih keras. Akibatnya, kulit penderita terlihat memiliki tekstur seperti kulit gajah.Penyakit kaki gajah bersifat menahun (kronis) dan perlu ditangani sedini mungkin. Bila tidak, penyakit ini dapat menyebabkan cacat permanen atau seumur hidup.Menurut data dari Departemen Kesehatan RI di tahun 2014, terdapat sekitar 14.932 penderita filariasis di Indonesia. Sementara sampai dengan tahun 2019, sebanyak 236 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia merupakan daerah endemis filariasis. 
Kaki Gajah (Filariasis)
Dokter spesialis Penyakit Dalam
GejalaPembengkakan di kaki, tangan, dada, dan alat kelamin
Faktor risikoTinggal di wilayah tropis atau subtropis, terpapar nyamuk, lingkungan tidak bersih
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, tes darah
PengobatanObat-obatan, perawatan luka, operasi
ObatDiethylcarbamazine (DEC), ivermectin, dan albendazole
KomplikasiSusah bergerak, cacat, infeksi sekunder
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala atau berisiko terkena kaki gajah
Penderita filariasis atau penyakit kaki gajah dapat mengalami tiga jenis kondisi, yaitu asimtomatik atau tanpa gejala, kronis, dan akut.

Gejala awal kaki gajah

Pada tahap awal, sebagian besar infeksi cacing filaria tidak menimbulkan gejala (asimtomatik). Kondisi asimtomatik ini bisa terus berlangsung meski parasit telah mulai berkembang biak dan merusak sistem kelenjar getah bening (sistem limfatik), ginjal, dan melemahkan sistem kekebalan tubuh penderita.

Gejala kronis kaki gajah

Di sebagian besar kasus, gejala mulai nampak pada beberapa tahun setelah seseorang terinfeksi. Pasalnya, sistem kelenjar getah bening yang berfungsi melawan infeksi akan melemah.Gejala filariasis kronis yang muncul bisa berupa:

1. Pembengkakan organ tubuh

Pelemahan sistem limfatik akan menyebabkan penumpukan cairan dan pembengkakan anggota tubuh. Pembengkakan ini biasanya terjadi pada:
  • Kaki
  • Lengan
  • Payudara
  • Alat kelamin
Kaki merupakan bagian tubuh yang paling sering mengalami pembengkakan. Bengkak dapat menyebabkan nyeri dan kesulitan bergerak.

2. Kelainan kulit

Penurunan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi menyebabkan penderita kaki gajah lebih mudah terkena infeksi bakteri di kulit. Kondisi ini memicu kelainan kulit di bagian tubuh yang mengalami pembengkakan dengan gejala berupa:
  • Kulit mengeras dan menebal
  • Warna kulit menjadi lebih gelap
  • Mudah luka atau mengalami ulserasi
  • Timbul bintik-bintik atau tampak seperti ada lubang-lubang kecil di permukaan kulit
Pada banyak kasus, infeksi bakteri pada kulit dapat dicegah dengan perawatan luka dan menjaga kebersihan kulit dengan baik.

3. Hidrokel atau pembengkakan skrotum pria

Pria dapat mengalami pembengkakan skrotum apabila terinfeksi parasit jenis Wuchereria bancrofti.

Gejala akut kaki gajah

Sistem kekebalan tubuh akan berusaha melawan parasit yang menyerang tubuh. Akibatnya, penderita filariasis dapat mengalami gejala-gejala berikut ini:
  • Demam selama 3-5 hari yang kambuh berulang. Demam dapat hilang dengan beristirahat dan kembali timbul setelah penderita bekerja berat.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di daerah ketiak dan lipatan paha yang tampak kemerahan, panas, dan terasa sakit.
  • Radang saluran kelenar gerah bening yang terasa panas dan rasa sakit menjalar dari pangkal ke ujung kaki atau lengan.
  • Pembesaran tungkai, lengan, payudada, skrotum dengan kulit terlihat kemerahan dan terasa panas saat disentuh.
 
Penyebab kaki gajah adalah cacing filaria. Penularan infeksi ini biasanya terjadi ketika seseorang berkali-kali terkena gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi.Contoh spesies nyamuk yang dapat menyebarkan cacing penyebab filariasis meliputi nyamuk Culex, Aedes, dan Anopheles. Sebagian besar nyamuk ini menggigit pada malam hari (setelah maghrib) hingga dini hari.Ketika nyamuk yang terinfeksi cacing filaria menggigit manusia, nyamuk akan menyalurkan larva cacing melalui gigitannya. Larva cacing nantinya akan tumbuh menjadi cacing dewasa dalam sistem limfatik tubuh manusia.Selanjutnya, cacing filaria dewasa akan terus berkembang biak dan menghasilkan jutaan larva, yang kemudian bersirkulasi di peredaran darah.Sementara nyamuk bisa menjadi pembawa larva cacing apabila menggigit dan mengisap darah dari penderita kaki gajah. Kemudian, nyamuk ini menularkannya pada orang yang digigit.Terdapat tiga spesies cacing yang dapat menyebabkan penyakit kaki gajah atau filariasis, yaitu:
  • Brugia malayi, yang menyebabkan lebih dari 70 persen kasus filariasis di Indonesia
  • Brugia timori
  • Wucheria bancrofti
 

Faktor risiko kaki gajah

Faktor risiko kaki gajah menghantui mereka yang berdomisili di wilayah tropis dan subtropis. Contohnya Afrika, Asia Tenggara, India, serta Amerika Selatan.Risiko seseorang untuk tertular filariasis juga akan meningkat bila ia:
  • Sering terpapar nyamuk
  • Hidup ci lingkungan yang tidak sehat
 
Diagnosis kaki gajah dapat ditentukan oleh dokter melalui langkah pemeriksaan berikut:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala dan riwayat medis pasien maupun keluarga.
  • Pemeriksaan fisik

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk mencari tanda-tanda filariasis.
  • Tes darah

Dokter mungkin menyarankan tes darah untuk mengecek ada tidaknya cacing filaria dalam darah pasien. Karena cacing ini aktif pada malam hari, pemeriksaan darah biasanya perlu dilakukan pada malam hari untuk memudahkan deteksi.
  • Pencitraan

Beberapa jenis pemeriksaan radiologi juga mungkin diperlukan. Contohnya, X-ray dan ultrasonografi (USG).Pemeriksaan ini bertujuan menghapus kemungkinan gangguan medis lain, yang menimbulkan gejala-gejala pada pasien. 
Cara mengobati kaki gajah atau filariasis yang umumnya dianjurkan oleh dokter meliputi:
  • Mengonsumsi obat-obatan antiparasit, seperti diethylcarbamazine (DEC), ivermectin, dan albendazole
  • Menjaga kebersihan bagian tubuh yang bengkak, termasuk rutin memeriksa ada tidaknya luka
  • Merawat luka dengan saksama bila ada
  • Berolahraga sesuai rekomendasi dokter
  • Menjalani operasi jika diperlukan, untuk mengurangi pembengkakan dan membantu pergerakan penderita
  • Mencuci dan mengeringkan area yang bengkak dengan hati-hati dengan sabun dan air bersih setiap hari
  • Mengangkat lengan atau kaki yang bengkak pada siang dan malam hari guna mengeluarkan cairan
  • Mengenakan sepatu yang sesuai dengan ukuran kaki guna melindungi kaki dari cedera
Dukungan emosional dan psikologis juga sebaiknya diberikan oleh orang terdekat maupun keluarga penderita. Pasalnya, pembengkakan akibat kaki gajah bisa membuat penderita kehilangan rasa percaya diri, bahkan depresi atau kecemasan.Jika didiagnosis dan ditangani sejak dini, pembengkakan akibat filariasis bisa ditangani dengan baik. Namun bila pembengkakan sudah terlalu besar, bengkak umumnya tidak bisa mengecil lagi dan menjadi cacat permanen. 

Komplikasi kaki gajah

Jika terus dibiarkan, kaki gajah bisa menyebabkan komplikasi berupa:
  • Kecacatan

Cacat permanen dapat terjadi akibat pembengkakan dan pembesaran tubuh yang ekstrem.
  • Kesulitan dalam beraktivitas

Rasa sakit serta bengkak akan membuat pasien mengalami kesulitan untuk melakukan tugas maupun rutinitas.
  • Infeksi sekunder

Infeksi sekunder juga dapat menjadi komplikasi filariasis. 
Belum ada vaksin maupun obat yang dapat menjadi cara mencegah kaki gajah secara efektif. Pencegahan penyakit ini umumnya ditujukan untuk menghindari gigitan nyamuk dengan langkah-langkah berikut:
  • Memberantas area yang dapat menjadi sarang nyamuk, misalnya kubangan dan geanngan air
  • Menggunakan kelambu saat tidur
  • Mengenakan baju lengan panjang atau celana panjang di daerah yang banyak nyamuk
  • Menghindari nyamuk atau gigitan nyamuk dengan memakai losion antinyamuk di area kulit yang terbuka
  • Mengonsumsi obat diethylcarbamazine (DEC), albendazole, dan ivermectin sebelum mengunjungi daerah yang berpotensi menularkan kaki gajah
 
Anda perlu berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami gejala kaki gajah atau berisiko terkena penyakit ini. 
Sebelum berkonsultasi dengan dokter, Anda sebaiknya menyiapkan beberapa informasi di bawah ini guna membantu dokter memahami kondisi Anda:
  • Catat semua gejala yang Anda alami.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat aktivitas tertentu yang Anda lakukan atau daerah yang pernah Anda kunjungi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, misalnya apa saja penyebab infeksi filaria, tes yang perlu Anda jalani, risiko komplikasi yang mungkin terjadi, apa saja yang perlu Anda hindari, dan lain-lain.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait kaki gajah?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis kaki gajah agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/elephantiasis
Diakses pada 10 Januari 2019
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/217776-overview
Diakses pada 10 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/elephantiasis-what-to-know#1
Diakses pada 10 Januari 2019
Departemen Kesehatan. http://www.depkes.go.id/resources/download/pusdatin/infodatin/infodatin-filariasis.pdf
Diakses pada 30 Desember 2019
Kementerian Kesehatan RI. https://www.depkes.go.id/article/view/19100700004/kaki-gajah-penyebab-kecacatan.html
Diakses pada 30 Desember 2019
CDC. https://www.cdc.gov/parasites/lymphaticfilariasis/gen_info/faqs.html
Diakses pada 30 Desember 2019
CDC.https://www.cdc.gov/parasites/lymphaticfilariasis/gen_info/vectors.html
Diakses pada 30 Desember 2019
WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/lymphatic-filariasis
Diakses pada 30 Desember 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email