Infeksi

Ebola

Diterbitkan: 31 Jan 2019 | dr. Joni Indah SariDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Ebola
Ebola ditularkan melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari orang yang terinfeksi
Ebola adalah penyakit mematikan yang tepatnya berasal dari Afrika. Kondisi ini dapat ditularkan oleh hewan dan manusia.Infeksi virus ebola menyebabkan demam yang disertai dengan perdarahan hebat dan kegagalan organ, sehingga dapat mengakibatkan kematian.Manusia dapat tertular virus ebola dari hewan. Penyakit ini juga bisa ditularkan antarmanusia, yakni melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau jarum yang sudah terkontaminasi.Penyakit ebola pernah menyebabkan wabah besar pada tahun 2014-2015 di tiga negara Afrika Barat, yaitu Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Beberapa kasus ebola juga terjadi di Afrika Tengah.Penanganan ebola yang utama adalah memberikan cairan yang cukup dan terapi berdasarkan gejala yang dialami oleh penderita.Saat ini vaksin ebola sudah disetujui oleh FDA dan telah digunakan untuk membantu dalam mengendalikan penyebaran wabah ini di Guinea serta Republik Kongo. 
Ebola
Dokter spesialis Penyakit Dalam
Secara umum, tanda dan gejala ebola meliputi:
Gejala akan muncul antara 2-21 hari setelah kontak dengan virus, dan rata-rata terjadi pada hari ke-8 hingga ke-10.Mungkin saja ada tanda dan gejala ebola yang tidak disebutkan. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter. 
Penyebab ebola adalah virus ebola dari kelompok virus Filoviridae atau Filovirus. Virus ini diduga berasal dari kelelawar buah di Afrika.Virus ebola bisa ditularkan dari hewan ke manusia, maupun antarmanusia. Beberapa jenis hewan yang dapat menyebarkannya meliputi:
  • Simpanse
  • Antilop hutan
  • Gorila
  • Monyet
  • Landak
Sementara pada penularan antarmanusia terjadi melalui kontak langsung dengan cairan tubuh dari orang yang sudah terinfeksi virus ebola. Misalnya, darah, ASI, feses, air liur, sperma, keringat, urine, bahkan muntah.Virus bisa masuk ke tubuh manusia lewat mata, hidung, mulut, kulit yang luka, serta hubungan seksual.Para pekerja kesehatan juga memiliki risiko tinggi untuk tertular penyakit ini karena mereka seringkali harus berhubungan dengan darah dan cairan tubuh.Sementara itu, faktor risiko ebola lainnya meliputi:
  • Paparan terhadap objek yang terkontaminasi seperti jarum
  • Menghadiri pemakaman penderita ebola
  • Bepergian ke daerah wabah ebola
 
Ebola termasuk penyakit yang sulit didiagnosis, terutama ketika seseorang baru terinfeksi. Pasalnya, gejala awalnya mirip dengan demam tifoid (tipes) atau malaria.Diagnosis membutuhkan kombinasi gejala yang mengarah pada infeksi virus ebola dan paparan terhadap virus tersebut dalam 21 hari sebelum timbul gejala.Jika seseorang menunjukkan tanda-tanda awal infeksi virus ebola dan memiliki kemungkinan paparan, orang tersebut harus segera dikarantina. Pemeriksaan penunjang di bawah ini kemudian dapat dilakukan sebagai langkah diagnosis ebola:
  • Tes darah
Hasil laboratorium pada fase awal infeksi virus ebola adalah penurunan jumlah trombosit, sel darah putih, dan limfosit. Peningkatan neutrofil juga dapat terjadi selama beberapa hari pertama infeksi.Pada beberapa hari pertama kenaikan enzim hati juga bisa muncul. Misalnya, aspartate aminotransferase, alanine aminotransferase, dan peningkatan bilirubin.
  • Pemeriksaan serologi
Tes ini dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya antigen dan antibodi terhadap virus ebola dalam tubuh seseorang. Dokter akan menggunakan metode ELISA.Metode ELISA akan mendeteksi antibodi IgM dan IgG virus ebola. Bila hasil IgM ebola positif, pasien diduga mengalami infeksi ebola akut.
  • RT-PCR
RT-PCR diakukan dengan mendeteksi bagian dari virus yang terdapat di darah penderita.  
Cara mengobati ebola secara khusus belum tersedia. Penanganan yang dilakukan bertujuan meringankan gejala yang dialami oleh penderita.Sebagai contoh, dokter dapat melakukan langkah-langkah di bawah ini:
  • Mengobati infeksi lain yang terjadi
  • Menjaga kadar oksigen dengan terapi oksigen
  • Memberikan cairan dan elektrolit melalui infus untuk mencegah dehidrasi
  • Memberikan obat untuk meredakan gejala berupa demam, diare, mual, serta nyeri
  • Menjaga tekanan darah
Pemulihan dari penyakit virus ebola tergantung pada perawatan suportif dan sistem kekebalan tubuh penderita. Seseorang yang sudah sembuh atau pulih, akan memiliki antibodi yang dapat bertahan sampai dengan 10 tahun, bahkan lebih.Meski demikian, kekebalan seumur hidup terhadap virus ini belum dapat dipastikan. Beberapa orang yang selamat dari penyakit ini dapat mengalami komplikasi jangka panjang seperti gangguan pada sendi dan penglihatan.Komplikasi ebolaPenyakit ebola yang tidak ditangani dengan saksama dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Gagal ginjal akut
  • Sepsis atau infeksi di seluruh tubuh
  • Disseminated intravascular coagulation (DIC) atau perdarahan dalam tubuh yang sulit diatasi
  • Keguguran
  • Kematian
 
Cara mencegah ebola yang bisa dilakukan meliputi:
  • Sering mencuci tangan dengan air bersih dan sabun. Anda juga dapat menggunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol jika air dan sabun tidak tersedia.
  • Tidak menyentuh hewan yang mati karena ebola.
  • Hindari kontak fisik dengan siapapun atau hewan apapun dengan gejala infeksi ebola.
  • Konsumsilah buah yang bisa dikupas.
  • Hindari makan bushmeat (daging hewan liar Afrika).
 
Segeralah hubungi dokter bila Anda mengalami gejala-gejala ebola maupun keluhan yang terasa mencurigakan, terutama jika Anda pernah bepergian ke daerah yang rawan ebola.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait ebola?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis ebola agar penanganan yang tepat bisa diberikan.
CDC. https://www.cdc.gov/vhf/ebola/
Diakses pada 5 Desember 2018
Family Doctor. https://familydoctor.org/condition/ebola-virus-disease/
Diakses pada 5 Desember 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/ebola-hemorrhagic-fever
Diakses pada 5 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/ebola-virus/symptoms-causes/syc-20356258
Diakses pada 5 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/ebola/
Diakses pada 5 Desember 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Penyebaran Covid-19 di Perkantoran Makin Meresahkan, Ini Tips untuk Karyawan!

Penyebaran Covid-19 di perkantoran semakin meresahkan, apalagi jumlah kasus virus corona di Indonesia sudah menembus angka 100.000. Memahami tips pencegahan Covid-19 di kantor, dapat menyelamatkan nyawa Anda sebagai karyawan.
28 Jul 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Penyebaran Covid-19 di perkantoran semakin meresahkan. Karyawan harus lebih waspada!

Hand Sanitizer untuk Bayi, Aman atau Tidak?

Selain mencuci tangan dengan sabun, penggunaan hand sanitizer menjadi alternatif dalam mencegah penyebaran bakteri dan virus, termasuk virus corona. Tapi apakah produk pembersih ini aman digunakan untuk bayi dan anak?
09 Sep 2020|dr. Levina Felicia
Baca selengkapnya
Hand sanitizer untuk bayi tidak boleh mengandung alkohol

Hindari Daging Olahan Saat Gondongan, Ini Alasannya

Gondongan adalah pembengkakan kelenjar air ludah, yang disebabkan oleh virus.Ketika gondongan Anda, dilarang untuk memakan daging olahan, makanan keras, asam, pedas, dan berlemak. Cara mengobati gondongan di rumah yaitu mengompres menggunakan kompres es, mengoleskan gel lidah buaya dan lainnya.
06 Jun 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Hindarilah konsumsi daging olahan saat gondongan, agar rahang tidak semakin sakit