Duodenitis adalah iritasi atau peradangan pada usus dua belas jari atau duodenum. Usus ini terletak tepat di bawah lambung. 

Gejala duodenitis seringkali sangat mengganggu penderitanya. Namun beruntungnya kondisi ini jarang memicu komplikasi serius dan dapat disembuhkan. 

Duodenitis dapat terjadi pada siapa saja, tidak memandang usia maupun jenis kelamin. Kondisi ini bisa bersifat akut (hanya berlangsung sementara) dan kronis (berlangsung dalam waktu lama).

Duodenitis memiliki gejala yang hampir sama dengan gastritis (peradangan atau iritasi pada lambung). Gejala ini umumnya meliputi:

  • Mual.
  • Muntah-muntah.
  • Rasa perih di lambung.
  • Kram atau nyeri perut yang datang dan hilang.
  • Sering bersendawa.
  • Cepat kenyang meski hanya makan sedikit.

Pada kasus yang berat, dapat terjadi perdarahan pada duodenum. Perdarahan ini menyebabkan tinja berwarna hitam dan muntahan berwarna gelap.

Penyebab duodenitis dan gastritis yang tersering adalah bakteri bernama Helicobacter pylori. Infeksi bakteri ini dapat terjadi akibat mengonsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi H.pylori.

Selain penyebab paling sering tersebut, peradangan pada usus dua belas jari juga bisa terjadi akibat hal-hal di bawah ini:

  • Penggunaan obat-obatan tertentu untuk jangka panjang, contohnya aspirin, ibuprofen, atau naproxen.
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Penyakit Crohn.
  • Kondisi autoimun yang menyebabkan gastritis atrofi.
  • Penyakit Celiac.
  • Refluks cairan empedu.
  • Infeksi virus tertentu, seperti herpes simpleks, pada orang yang mengalami gangguan sistem imun.
  • Cedera pada lambung atau usus halus.
  • Menjalani pemasangan alat bantu napas.
  • Stres berat pada tubuh karena operasi besar, cedera berat, atau syok.
  • Mengonsumsi zat beracun.
  • Merokok.
  • Menjalani radioterapi atau kemoterapi.

Diagnosis duodenitis akan dilakukan dengan tanya jawab, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

  • Tanya jawab

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan seputar keluhan yang Anda rasakan.

  • Pemeriksaan fisik

Bagian perut yang sakit akan diperiksa oleh dokter. Dokter bisa menggunakan tangan saja, mengetuk-ketukan jari di atas perut atau mendengarkan bunyi usus dengan menggunakan stetoskop.

  • Pemeriksaan penunjang

Untuk memastikan diagnosis duodenitis, dokter biasanya akan menganjurkan beberapa pemeriksaan penunjang di bawah ini:

  • Tes darah atau pemeriksaan sampel tinja

Kedua tes ini bertujuan mengevaluasi ada tidaknya infeksi bakteri H.pylori dalam tubuh penderita atau infeksi karena kuman lain.

  • Urea breath test (tes napas urea)

Pada pemeriksaan ini, Anda akan diminta untuk mengonsumsi tablet atau cairan, dan meniup udara ke dalam kantong. Dokter kemudian mengevaluasi apakah dalam kantong ini terdapat gas karbondioksida berlebih yang menandakan adanya infeksi H.pylori

  • Endoskopi

Dalam kasus tertentu, dokter juga bisa menganjurkan prosedur endoskopi. Pemeriksaan ini memungkinkan dokter untuk melihat lapisan lambung dan duodenum Anda secara langsung. 

Endoskopi menggunakan selang endoskop yang memiliki kamera kecil di ujungnya. Selang ini kemudian dimasukkan ke dalam mulut sampai ke lambung dan duodenum penderita untuk mengevaluasi area ini.

Pada pemeriksaan endoskopi, dokter dapat sekaligus melakukan biopsi (pengambilan sampel) jaringan pada lambung atau duodenum. Sampel ini kemudian diperiksa di bawah mikroskop.

Duodenitis biasanya dapat sembuh tanpa menyebabkan komplikasi. Namun bukan berarti penyakit ini boleh dibiarkan begitu saja.

Jenis pengobatan duodenitis akan ditentukan berdasarkan penyebabnya. Pilihan penanganan yang mungkin dianjurkan oleh dokter untuk mengatasi penyakit ini meliputi:

  • Antibiotik

Bila penyebab duodenitis adalah infeksi H.pylori, antibiotik merupakan pilihan penanganan yang akan diberikan oleh dokter.

Dokter bisa meresepkan beberapa jenis antibiotik untuk mengatasi infeksi bakteri ini. Biasanya, obat ini harus dikonsumsi selama dua minggu atau lebih lama.

  • Obat untuk mengurangi produksi asam lambung

Menurunkan produksi asam lambung juga penting sebagai pengobatan duodenitis. Obat penetral asam lambung ini meliputi cimetidine, famotidine, ranitidine, serta golongan proton pump inhibitor (seperti lansoprazole, esomeprazole, dan omeprazole).

  • Antasida

Untuk meredakan gejala sementara, dokter mungkin meresepkan obat penetral asam lambung atau antasida. Obat ini meliputi kalsium karbonat, magnesium hidroksida, atau kombinasi keduanya. 

Namun perlu Anda ingat bahwa konsumsi antasida dalam jangka waktu lama tidak dianjurkan oleh dokter. 

  • Perubahan pola hidup

Bila mengalami duodenitis, Anda juga sebaiknya mengubah pola hidup menjadi lebih sehat dan seimbang. Langkah ini bisa Anda lakukan beberapa cara berikut:

    • Berhenti merokok.
    • Tidak mengonsumsi minuman beralkohol.
    • Jangan sering mengonsumsi obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen dan aspirin.
    • Bila penyebab duodenitis adalah penyakit Celiac, hindarilah makanan yang mengandung gluten.

Pencegahan dudenitis bisa Anda lakukan melalui langkah-langkah di bawah ini:

  • Tidak merokok.
  • Membatasi atau berhenti mengonsumsi minuman beralkohol.
  • Tidak mengonsumsi OAINS sembarangan dan tanpa anjuran dokter.
  • Menghindari makanan yang bisa menyebabkan iritasi pada duodenum dan lambung.
  • Menerapkan kebiasaan mencuci tangan, terutama sebelum makan dan menyiapkan makanan, serta setelah ke toilet.
  • Menjaga kebersihan makanan yang Anda konsumsi.

Segera berkonsultasi ke dokter bila gejala yang Anda rasakan tidak membaik atau sembuh setelah dua minggu meski telah minum obat tertentu. Anda juga perlu memeriksakan diri ke dokter bila mengalami:

  • Demam tinggi (38 derajat Celcius atau lebih).
  • Warna muntahan yang gelap.
  • Tinja berwarna hitam.
  • Nyeri perut hebat.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala Anda.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sudah berapa lama Anda mengalami gejala tersebut?
  • Apa saja pencetus gejala yang Anda alami?
  • Apa saja riwayat penyakit yang pernah atau sedang Anda derita?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan dokter? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis duodenitis. Dengan ini, penyebabnya akan diketahui dan pengobatan yang tepat bisa Anda peroleh.

Drugs. https://www.drugs.com/cg/duodenitis.html
Diakses pada 27 November 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/322889.php
Diakses pada 27 November 2019

Healhtline. https://www.healthline.com/health/gastritis-duodenitis
Diakses pada 27 November 2019

Artikel Terkait