Jantung

Diseksi Aorta

Diterbitkan: 02 Dec 2018 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Fridawati
image Diseksi Aorta
Rusaknya jaringan aorta dapat disebabkan tekanan darah tinggi atau hipertensi.
Diseksi aorta merupakan kondisi saat lapisan dalam aorta, pembuluh darah besar dari jantung pecah atau robek. Gejala dari diseksi aorta dapat serupa dengan penyakit lain. Hal ini seringkali menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis.
Diseksi Aorta
Dokter spesialis Jantung
Berikut ini beberapa gejala diseksi aorta yang biasanya mirip dengan serangan jantung:
  • Dada dan punggung tiba-tiba terasa nyeri di bagian atas
  • Nyeri tiba-tiba pada perut
  • Hilangnya kesadaran
  • Sesak napas
  • Sulit saat berbicara, kehilangan penglihatan dan sulit untuk bergerak
  • Nyeri pada kaki
  • Kesulitan berjalan
Diseksi aorta terjadi pada dinding aorta. Tekanan darah tinggi atau hipertensi dapat menekan jaringan aorta, sehingga membuatnya lebih rentan robek. Diseksi aorta  dapat disebabkan oleh cedera traumatis di area dada atau yang terjadi spontan. Diseksi aorta dibagi menjadi dua kelompok, tergantung pada bagian aorta yang terkena. Ascending aorta terjadi pada  aorta yang mengarah ke bagian atas tubuh. Sementara itu, descending aorta terjadi pada aorta yang mengarah ke bagian bawah tubuh. Faktor yang mungkin dapat meningkatkan risiko untuk terkena diseksi aorta adalah:
  • Tekanan darah tinggi
  • Pengerasan arteri
  • Melemahnya dan membengkaknya arteri
  • Cacat katup aorta
  • Penyempitan aorta
Untuk mendeteksi diseksi aorta, ada beberapa tes yang dapat Anda jalani. Salah satunya adalah prosedur pencitraan. Ada tiga prosedur pencitraan yang sering digunakan, yaitu Ekokardiogram transesofageal (TEE), tomografi terkomputerisasi (CT), dan angiogram resonansi magnetik (MRA). Ekokardiogram transesofageal (TEE):
Tes ini menggunakan gelombang tinggi untuk menggambarkan kondisi jantung, yang dimasukkan melalui esofagus dan diposisikan dekat dengan jantung serta aorta. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang kondisi aorta pasien
Tomografi terkomputerisasi (CT):
Tes ini menggunakan sinar X untuk mendiagnosis diseksi aorta dan menggambar kondisi jantung pasien.
Angiogram resonansi magnetik (MRA):
Tes ini menggunakan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menggambarkan kondisi tubuh dan pembuluh darah.
Beberapa pengobatan yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan:
  • Operasi
    Jika memungkinkan, ahli bedah akan mengangkat aorta yang memblokir masuknya darah ke dinding aorta dan menggunakan tabung sintetis yang disebut cangkokan.
  • Obat-obatan
    Menggunakan obat penurun detak jantung dan menurunkan tekanan darah, untuk mencegah diseksi aorta.
Beberapa hal yang mungkin dapat mengurangi risiko terhadap diseksi aorta adalah:
  • Menjaga tekanan darah tetap stabil
  • Tidak merokok
  • Menjaga berat badan tetap ideal
  • Segera berkonsultasi jika ada indikasi yang mencurigakan
Jika Anda memiliki indikasi seperti nyeri dada yang berat, pingsan secara tiba-tiba atau gejala stroke, segera ke dokter ataupun ke unit gawat darurat.
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/aortic-dissection/diagnosis-
treatment/drc-20369499
diakses pada 29 Oktober 2018.
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

10 Penyebab Pembuluh Darah Mata Pecah yang Perlu Diwaspadai

Pembuluh darah mata pecah dapat menyebabkan timbulnya bercak merah pada bagian putih mata. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh berbagai hal mulai dari batuk yang keras hingga operasi mata.
15 Sep 2020|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Pembuluh darah mata pecah dapat disebabkan oleh cedera pada mata

Mengenal Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC 8 dan Faktor Risikonya

Klasifikasi hipertensi menurut JNC 8 adalah prahipertensi, hipertensi tahap 1, dan hipertensi tahap 2. Berikut ini penjelasan lengkapnya untuk Anda.
06 Sep 2020|Asni Harismi
Baca selengkapnya
Menurut klasifikasi hipertensi menurut JNC 8, tekanan darah normal adalah yang di bawah 120/80.

Berbagai Pilihan Obat Hipertensi yang Biasa Diresepkan Dokter

Modifikasi gaya hidup seperti mengurangi konsumsi garam dan lemak serta rutin olahraga bisa membantu mengurangi dan mengontrol tekanan darah tinggi. Namun bila upaya tersebut kurang membuahkan hasil, maka diperlukan obat hipertensi untuk mengontrol tekanan darah.
24 Oct 2019|Armita Rahardini
Baca selengkapnya
Dokter akan meminta Anda mengubah gaya hidup jika Anda berisiko mengidap hipertensi