Infeksi

Difteri

14 Jul 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Difteri
Tenggorokan serak hingga kesulitan bernapas adalah gejala umum dari penyakit difteri
Difteria atau difteri adalah penyakit infeksi bakteri yang biasanya memengaruhi membran lendir pada hidung dan tenggorokan. Difteri menyebabkan tenggorokan serak, demam, pembengkakan pada kelenjar dan melemahnya tubuh.Tanda yang terlihat jelas dari kondisi ini adalah lembaran kental, berwarna abu-abu yang menutupi bagian belakang tenggorokan dan dapat menutupi saluran udara. Selain itu, penyakit ini akan menyebabkan kesulitan bernapas.Pengobatan untuk penderita penyakit ini sudah tersedia. Namun, infeksi difteri yang sudah memasuki tahap serius dapat merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf penderitanya.Walaupun pengobatan tersedia, difteri bisa sangat berbahaya dan berpotensi mengancam jiwa. Sekitar 3 persen  orang yang terkena difteri berujung meninggal dunia. Biasanya risiko terkena difteri semakin tinggi untuk anak berusia di bawah 15 tahun. 
Difteri
Dokter spesialis Anak, Penyakit Dalam
GejalaLapisan abu-abu di pangkal tenggorokan, demam 38°C, suara serak
Faktor risikoBelum vaksinasi, tinggal di tempat ramai atau memiliki sanitasi buruk, bepergian ke wilayah wabah bakteri
Metode diagnosisPengambilan sampel jaringan
PengobatanObat-obatan, pembersihan luka
ObatPenisilin, ritromisin
KomplikasiMasalah pernapasan, kerusakan jantung, kerusakan saraf
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala difteri
Difteri adalah penyakit yang menular. Penyakit ini biasanya menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin, atau melalui kontak secara langsung dengan penderita tersebut. Penyebaran bakteri juga dapat terjadi akibat berbagi penggunaan peralatan dengan orang yang terinfeksi, seperti gelas, baju atau tempat tidur.Gejala atau tanda dari difteri berikut ini biasanya muncul 2-5 hari setelah terinfeksi:
  • Lapisan kental berwarna abu-abu di pangkal tenggorokan
  • Demam dengan suhu 38°C
  • Badan terasa tidak enak
  • Tenggorokan serak atau suara serak
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan kelenjar pada leher
  • Kesulitan bernapas dan pembengkakan kelenjar getah bening
  • Sengau
Jika memengaruhi kulit, penderita akan mengalami:
  • Bintik yang berisi nanah pada kaki, telapak kaki, dan tangan
  • Bisul besar yang berwarna merah dan kulit terasa sakit
 
Penyebab difteri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae. Infeksi bakteri ini dapat menular melalui berbagai sarana.Penularan bakteri Corynebacterium diphteriae bisa melalui berbagai cara di bawah ini:
  • Partikel udara

Ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk, partikel bakteri akan tersebar ke udara. Orang yang kemudian menghirup udara tersebut dapat terkena infeksi bakteri. Bakteri akan menyebar dengan sangat cepat, terutama dalam tempat yang ramai.
  • Barang pribadi yang terinfeksi

Seseorang dapat tertular apabila menggunakan peralatan makan atau minum yang sama dengan orang yang terkena difteri. Hal yang sama juga dapat terjadi jika memegang tisu atau barang lain tempat bakteri mengendap, dan kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut.
  • Barang-barang di rumah yang terkontaminasi

Walaupun kasus ini jarang ditemukan, difteri dapat menyebar melalui barang rumah yang dipakai bersama seperti handuk atau mainan.Orang yang sudah terinfeksi bakteri difteri dan tidak dirawat, dapat menginfeksi orang lain tanpa sistem kekebalan tubuh yang kuat sampai 6 minggu, bahkan jika gejala difteri tidak terlihat pada orang tersebut. 

Faktor risiko difteri

Ada banyak faktor risiko difteri yang memperbesar peluang seseorang mendapatkan penyakit ini. Adapun faktor risiko tersebut antara lain:
  • Anak-anak dan orang dewasa yang tidak mendapatkan imunisasi secara berkala
  • Orang yang tinggal di tempat ramai atau memiliki kondisi tidak bersih
  • Orang yang bepergian ke lokasi wabah difteri
 
Dokter dapat mencurigai difteri pada anak yang mengalami sakit tenggorokan dengan jaringan abu-abu menutupi amandel dan tenggorokan. Gejala yang ditemukan pada membran tenggorokan dapat menunjukkan diagnosis difteri.Dokter akan memberitahu pihak laboratorium jika mencurigai adanya difteri, karena perawatan khusus dibutuhkan. Dokter akan mengambil sampel dari jaringan yang terinfeksi, apabila penderita diyakini terkena difteri dan perawatan akan dijalankan secepatnya. 
Pengobatan difteri harus diberikan karena penyakit ini merupakan penyakit yang serius. Adapun pengobatan yang diberikan antara lain:
  • Antibiotik

Pemberian antibiotik seperti penisilin atau eritromisin dilakukan guna membunuh bakteri dalam tubuh. Hal ini juga berguna untuk membersihkan infeksi. Pemberian obat ini juga berguna untuk menghambat penularan.
  • Antitoksin

Penderita difteri juga kemungkinan akan diberikan antitoksin. Pemberian obat ini dilakukan untuk menghentikan efek dari zat racun yang diproduksi oleh bakteri. Sebelum pemberian obat ini, sebaiknya pasien diberikan tes alergi terlebih dahulu.
  • Pembersihan luka

Selain kedua obat di atas, pasien juga akan dilakukan pembersihan luka. Hal ini dilakukan ketika ada luka yang terinfeksi. Kondisi ini umumnya terjadi pada pengodap difteri yang memengaruhi kulit.Perawatan biasanya berlangsung selama 2-3 minggu. Bisul kulit umumnya sembuh dalam 2-3 bulan, tetapi akan meninggalkan bekas luka. Orang yang melakukan kontak penderita difteri juga harus mengonsumsi antibiotik atau mendapatkan vaksinasi difteri. 

Komplikasi difteri

Jika tidak diobati dengan baik dan benar, komplikasi difteri bisa terjadi. Beberapa komplikasi yang mungkin muncul, antara lain:
  • Masalah pernapasan

Difteri menyebabkan bakteri menghasilkan racun. Racun tersebut merusak area yang terinfeksi, biasanya hidung dan tenggorokan. Infeksi ini memproduksi lendir kental berwarna abu-abu yang terdiri dari sel mati, bakteri, dan zat lain. Lapisan ini dapat mengganggu pernapasan.
  • Kerusakan jantung

Racun difteri dapat menyebar melalui pembuluh darah dan merusak bagian lain dalam tubuh, seperti otot jantung. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi seperti kelumpuhan pada otot jantung.Jantung yang rusak akibat miokarditis bisa bersifat sementara. Kondisi ini muncul sebagai ketidaknormalan sampingan pada elektrokardiogram atau bisa parah, yang menuju gagal jantung dan kematian seketika.
  • Kerusakan saraf

Racun difteri juga dapat menyebabkan kerusakan saraf. Yang menjadi target utama adalah otot pada tenggorokan. Otot tenggorokan yang lemah dapat menyebabkan kesulitan dalam menelan.Otot pada tangan dan kaki juga dapat menjadi lumpuh, karena otot melemah. Jika racun difteri merusak saraf yang membantu mengontrol otot dalam pernapasan, maka otot ini akan mengalami kelumpuhan. Akibatnya, penderita menjadi lebih sulit bernapas tanpa bantuan respirator atau alat lain yang membantu pernapasan.Dengan perawatan yang baik, banyak penderita difteri bertahan dari komplikasi ini, meski penyembuhan berjalan lambat. Sementara itu, sekitar 3% kasus difteri berakibat fatal. 
Sebelum ada antibiotik, difteri adalah penyakit umum yang terjadi pada anak. Saat ini, bukan hanya diatasi namun pencegahan difteri juga bisa dilakukan, salah satunya dengan vaksinasi.Vaksin difteri biasanya diberikan bersamaan dengan vaksin tetanus dan ertussis (infeksi bakteri pada paru-paru dan saluran pernapasan) dalam satu injeksi. Vaksin campuran 3 dalam 1 ini dikenal dengan nama DtaP.Vaksinasi difteri, tetanus dan pertusis adalah imunisasi anak yang disarankan sejak kecil, dan dilakukan berkala. Terdapat 5 kali vaksinasi berupa suntikan pada tangan atau paha dan diberikan pada umur:
  • 2 bulan
  • 4 bulan
  • 6 bulan
  • 15-18 bulan
  • 4-6 tahun
Vaksin difteri sangat efektif untuk mencegah infeksi penyakit ini. Efek samping yang mungkin terjadi pada anak-anak setelah mendapatkan vaksinasi antara lain:
  • Demam ringan
  • Merasa tidak nyaman atau rewel
  • Mengantuk atau kelelahan
Konsultasikan kepada dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat dalam mengurangi efek samping setelah vaksinasi. Walaupun jarang terjadi, vaksin DTaP dapat menyebabkan komplikasi serius pada sebagian anak seperti reaksi alergi dan kejang.Namun, komplikasi ini dapat diatasi dengan baik. Anak dengan epilepsi atau gangguan saraf lain tidak disarankan untuk mendapat vaksin DtaP. 
Hubungi dokter secepatnya jika terpapar difteri. Apabila tidak yakin terhadap kebutuhan anak akan vaksinasi, berkonsultasilah dengan dokter. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Catat riwayat bepergian yang dilakukan.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait difteri?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis difteri agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diphtheria/symptoms-causes/syc-20351897
Diakses pada 14 Juli 2021
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/diphtheria/
Diakses pada 14 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email