Diare wisatawan atau yang dikenal juga sebagai traveler’s diarrhea adalah gangguan pencernaan yang menyebabkan buang air besar cair dan kram perut, ketika berkunjung atau setelah berkunjung ke daerah atau negara lain. Beruntungnya, kondisi ini jarang menimbulkan komplikasi serius, namun tetap menyebabkan ketidaknyamanan pada penderitanya. 

Seseorang berisiko tinggi mengalami diare wisatawan bila ia melancong ke daerah baru dengan iklim dan tingkat sanitasi yang berbeda dengan lingkungan tempat tinggalnya. Diperkirakan sekitar 20-50 persen turis lintas negara dapat mengalami kondisi ini.

Diare wisatawan lebih sering dialami oleh kalangan dewasa muda. Pasalnya, mereka lebih berani mencoba makanan baru jika dibandingkan dengan orang yang berusia lebih tua.

Diare wisatawan dapat terjadi saat Anda berada di negara baru. Tapi kondisi ini juga bisa muncul saat Anda pulang ke negara asal.

Kebanyakan kasus diare wisatawan membaik dalam waktu satu hingga dua hari, kemudian benar-benar pulih dalam waktu seminggu. Gejala diare wisatawan yang paling sering meliputi:

  • Buang air besar cair tiga kali sehari atau lebih.
  • Sering mulas.
  • Nyeri atau kram perut.
  • Mual.
  • Muntah-muntah.
  • Demam.

Seseorang yang terkena diare wisatawan juga terkadang bisa mengalami dehidrasi tingkat sedang sampai berat, muntah-muntah yang persisten, buang air besar disertai darah, atau nyeri perut hebat.

Penyebab diare wisatawan adalah konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh kuman. Pusat pengendalian dan pencegahan penyakit Amerika (Center of Disease Control/CDC) memperkirakan bahwa hampir 80 persen dari kasus diare ini disebabkan oleh infeksi bakteri. 

Bakteri yang paling sering menyebabkan diare wisatawan adalah E.coli. Selain itu, bakteri C.jejuni, Shigella, dan Salmonela pun dapat memicu gangguan saluran cerna ini.

Sementara faktor-faktor yang meningkatkan risiko seseorang utuk terkena mengalami diare wisatawan bisa berupa:

Meminum obat penangkal kenaikan asam lambung. Contohnya, famotidin, simetidin, omeprazole, dan esomeprazole.

Diagnosis diare wisatawan dapat ditentukan berdasarkan hasil tanya jawab antara dokter dan pasien. Langkah ini bisa dilakukan apabila diare terjadi tidak lama setelah penderita melancong. 

Bila gejala yang dialami tergolong berat dan menyebabkan komplikasi, dokter biasanya akan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan ini bertujuan mengidentifikasi organisme penyebab diare, dan bisa meliputi pemeriksaan parasit serta kultur bakteri dari sampel tinja.

Pengobatan diare wisatawan bertujuan meredakan gejala. Jenis obat yang bisa diberikan oleh dokter meliputi obat antidiare dan antibiotik. 

Obat antidiare yang diberikan bisa meliputi pepto-bismol, difenoksilat, atropin, atau loperamid juga dapat dianjurkan. Sedangkan jenis antibiotik akan diresepkan sesuai dengan bakteri penyebab diare yang Anda alami.

Memenuhi kebutuhan cairan juga tidak kalah pentingnya dalam penanganan diare wisatawan. Langkah ini bertujuan mencegah dehidrasi.

Anda bisa mencukupi kebutuhan cairan dengan minum banyak air putih maupun mengonsumsi cairan pengganti elektrolit tubuh, seperti oralit. Pastikan juga Anda menghindari minuman beralkohol, berkafein, atau tinggi gula karena dapat memperparah diare.

Hal yang perlu Anda ingat bila melancong ke daerah atau negara lain adalah selalu menjaga kebersihan. Misalnya dengan:

  • Memastikan makanan benar-benar matang sebelum dikonsumsi.
  • Merebus air minum hingga mendidih. Sebagai alternatif, Anda bisa meminum air dalam kemasan yang masih tersegel dengan baik.
  • Memilih buah yang bisa dikupas.
  • Sering mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun. Bila tidak tersedia, Anda juga bisa menggunakan hand sanitizer.
  • Jangan terlalu sering jajan sembarangan. Cermati kebersihan restoran maupun makanan sebelum dikonsumsi.
  • Menghindari konsumsi susu dan produk susu (termasuk es krim) yang tidak dipasteurisasi.
  • Jangan mengonsumsi makanan mentah.

Bagi orang dewasa, segera berkonsultasi ke dokter bila Anda mengalami:

  • Diare yang berlangsung lebih dari dua hari.
  • Dehidrasi.
  • Nyeri perut yang parah.
  • Nyeri anus yang parah.
  • Buang air besar berdarah atau tinja berwarna hitam.
  • Demam di atas 39 derajat Celcius.

Bagi anak-anak, Anda harus lebih berhati-hati karena diare wisatawan dapat menyebabkan dehidrasi berat dalam waktu singkat. Segera periksakan anak ke dokter bila mengalami gejala-gejala berikut:

  • Terus muntah-muntah.
  • Demam 39 derajat Celcius atau lebih.
  • Buang air besar berdarah.
  • Diare yang parah berat.
  • Mukosa mulut yang kering.
  • Menangis, namun tanpa air mata.
  • Lebih sering mengantuk dan tidak responsif.
  • Menurunnya frekuensi buang air kecil, misalnya bayi yang lebih jarang ganti popok.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter

Saat pemeriksaan, dokter mungkin akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sudah berapa lama Anda mengalami gejala tersebut?
  • Apa saja pencetus gejala yang Anda alami?
  • Apakah Anda baru-baru saja melancong ke daerah atau negara lain?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan dokter dan bila iya, apa saja pengobatan yang sudah Anda dapatkan?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang guna mendeteksi penyebab diare wisatawan yang Anda alami. Dengan ini, Anda pun bisa mendapatkan pengobatan yang sesuai.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/travelers-diarrhea/symptoms-causes/syc-20352182
Diakses pada 27 November 2019

Medicinet. https://www.medicinenet.com/travelers_diarrhea/article.htm
Diakses pada 27 November 2019

Artikel Terkait