Diare Akibat Antibiotik

Diare akibat antibiotik adalah kondisi medis yang ditandai dengan buang air besar (BAB) yang lembek hingga cair sebanyak 3 kali atau lebih dalam satu hari setelah mengonsumsi obat antibotik.

Kondisi ini termasuk salah satu efek samping penggunaan antibiotik. Gejala diare biasanya dimulai sekitar 4 hingga 9 hari setelah Anda mengonsumsi obat.

Pada kebanyakan kasus, diare karena antibiotik bersifat ringan dan tidak membutuhkan penanganan khusus. Diare biasanya akan membaik dalam beberapa hari setelah konsumsi antibiotik dihentikan.

Meski begitu, jangan pernah menghentikan konsumsi tanpa konsultasi dengan dokter. Efek samping diare akibat antibiotik juga harus dikonsultasikan ke dokter agar penanganan bisa dilakukan.

Jadi, pada kondisi sehat, memang banyak bakteri dalam usus. Tidak hanya bakteri yang menyebabkan penyakit namun juga bakteri baik, kondisi ini untuk keseimbangan kondisi saluran cerna. 

Ketika  mengonsumsi antibiotik, maka bakteri baik juga akan mati dan bakteri jahat seperti Clostridium difficile meningkat dan merusak dinding saluran cerna sehingga menyebabkan diare.

Gejala diare akibat antibiotik umumnya ringan dan meliputi:

  • Feses yang lembek atau cair
  • Lebih sering buang air besar

Gejala tersebut biasanya muncul dalam seminggu setelah penderita mulai mengonsumsi antibiotik tertentu. Terkadang, gejala juga bisa baru timbul pada beberapa hari atau bahkan beberapa minggu setelah pasien selesai mengonsumsi obat.

Pada beberapa kasus, diare akibat antibiotik dapat melibatkan infeksi bakteri bernama Clostridium difficile. Bakteri ini menghasilkan racun yang merusak dinding usus, sehingga dapat menimbulkan kondisi medis lebih serius.

Selain feses yang lembek dan buang air besar lebih sering, infeksi Clostridium difficile akan menimbulkan gejala berupa:

Diare akibat antibiotik disebabkan oleh penggunaan obat antibiotik. Namun mekanisme di balik kondisi ini belum diketahui secara pasti.

Obat antibiotik diduga dapat mengganggu keseimbangan bakteri baik dan jahat dalam saluran pencernaan dan menyebabkan diare.

Hampir semua antibiotik bisa menyebabkan diare. Beberapa jenisnya yang paling sering memicu diare akibat antibiotik meliputi:

  • Antibiotik jenis cephalosporin, seperti cefdinir dan cefpodoxime
  • Antibiotik jenis penisilin, seperti amoksisilin dan ampisilin

Selain itu, beberapa jenis antibiotik juga terkait dengan infeksi bakteri Clostridium difficile, yaitu fluoroquinolone, cephalosporin, penisilin, dan klindamisin.

Untuk menentukan diagnosis diare akibat antibiotik, dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala dan obat yang penderita konsumsi.

Pasien dengan gejala ringan mungkin tidak memerlukan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut. Namun pengambilan dan pemeriksaan tinja dapat dilakukan pada pasien dengan gejala berat. Pemeriksaan ini bertujuan mencari keberadaan bakteri dalam feses.

Pengobatan diare akibat antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala yang dialami oleh penderita. Beberapa langkah pengobatannya bisa meliputi:

  • Pengobatan diare akibat antibiotik yang ringan

Pada pasien dengan diare ringan, gejala biasanya akan hilang dalam beberapa hari setelah penggunaan antibiotik dihentikan. Pada sebagian kasus, dokter dapat menyarankan pasien untuk menghentikan konsumsi antibotik hingga diare benar-benar sembuh.

  • Pengobatan infeksi bakteri Clostridium difficile

Untuk pasien dengan infeksi Clostridium difficile, dokter akan menghentikan konsumsi obat antibiotik yang sedang digunakan dan memberikan antibiotik lain yang spesifik untuk membunuh bakteri ini. Pasien juga akan diminta untuk menghentikan konsumsi obat-obatan maag.

Pasien dengan infeksi Clostridium difficile dapat mengalami kekambuhan diare yang membutuhkan perawatan kembali.

Apabila tidak ditangani, diare dapat menyebabkan dehidrasi atau keadaan hilangnya cairan dan elektrolit dalam tubuh. Gejala dehidrasi meliputi mulut yang kering, rasa haus berlebihan, buang air kecil yang sedikit atau tidak sama sekali, dan tubuh yang lemas. Tak hanya itu, dehidrasi berat juga dapat mengancam nyawa penderita, khususnya bayi dan anak-anak.

Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah diare akibat antibiotik meliputi:

  • Konsumsi antibiotik hanya jika diperlukan

Tidak semua penyakit dapat disembuhkan dengan antibiotik. Hanya infeksi akibat bakteri yang memerlukan obat antibiotik.

Sedangkan infeksi akibat virus (seperti flu) tidak memerlukan penggunaan obat antibiotik. Karena itu, hindari penggunaan antibiotik tanpa anjuran dokter.

  • Mencuci tangan

Minta orang yang merawat pasien untuk mencuci tangannya. Apabila pasien menjalani rawat inap, minta siapapun untuk mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer berbahan dasar alkohol sebelum menyentuh pasien.

  • Beri tahu dokter jika pernah mengalami diare akibat antibiotik

Ketika seseorang terkena diare akibat antibiotik, ada kemungkinan obat tersebut akan menimbulkan kondisi yang sama di kemudian hari. Dokter akan memilih jenis antibiotik lain untuk pasien.

Segera hubungi dokter apabila Anda mengalami gejala diare akibat antibiotik. Diare merupakan kondisi medis yang umum dan dapat disebabkan oleh banyak hal, sehingga dokter akan menyarankan pemeriksaan untuk menentukan penyebab yang mendasari kondisi Anda.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi, terutama antibiotik.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Sejak kapan gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu, terutama antibiotik?
  • Apakah Anda memiiki riwayat penyakit saluran cerna, seperti kolitis ulseratif, penyakit Crohn, atau penyakit peradangan usus lainnya?
  • Apakah ada keluarga atau orang di sekitar Anda dengan gejala yang sama?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis diare akibat antibiotik. Dengan ini, pengobatan dapat diberikan secara tepat.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/antibiotic-associated-diarrhea/symptoms-causes/syc-20352231
Diakses pada 14 Januari 2020

Summit Medical Group. https://www.summitmedicalgroup.com/library/adult_health/aha_antibiotic_associated_diarrhea/
Diakses pada 14 Januari 2020

Artikel Terkait