Penyakit Lainnya

Diabetes Tipe 1

Diterbitkan: 23 Sep 2020 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Diabetes Tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 hanya diderita sedikit orang (5%) dibanding dengan diabetes melitus tipe 2.
Diabetes melitus tipe 1 (DM tipe 1) adalah jenis diabetes yang terjadi karena pankreas tidak mampu menghasilkan insulin.Insulin merupakan hormon yang diperlukan tubuh untuk menyalurkan glukosa (gula) dalam darah ke dalam sel-sel untuk dipakai sebagai sumber energi. Jika tubuh tidak mendapatkan kadar insulin yang cukup, maka glukosa akan menumpuk dalam darah dan menyebabkan berbagai komplikasi.Ada dua jenis utama diabetes yakni diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2. Keduanya memiliki gejala serupa, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang sama. Meskipun begitu, dua tipe ini adalah kondisi yang sangat berbeda.Diabetes melitus tipe 2 umumnya disebabkan oleh gaya hidup tidak sehat yang. Sementara itu, diabetes melitus tipe 1 dipicu oleh faktor genetik dan kondisi medis seperti penyakit autoimun. Diabetes tipe 1 biasanya terjadi pada anak-anak, meskipun dapat dialami juga oleh berbagai kalangan usia.Diabetes melitus tipe 1 tidak bisa disembuhkan. Namun, penyakit ini dapat dikendalikan melalui pengelolaan kadar gula darah dengan insulin, diet dan gaya hidup sehat untuk mencegah komplikasi.Baca juga: Mengenal lebih Jauh Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2, Apa Bedanya? 
Diabetes Tipe 1
Dokter spesialis Endokrin, Penyakit Dalam
GejalaSering haus, sering lapar, terutama setelah makan, luka yang sulit sembuh
Faktor risikoGenetik, autoimun
Metode diagnosisTes laboratorium
PengobatanTerapi insulin, pengaturan gaya hidup
ObatInsulin
KomplikasiPenyakit jantung, penyakit pembuluh darah, kerusakan saraf
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami berbagai gejala, terutama apabila memiliki faktor risiko
Gejala diabetes berikut ini dapat timbul secara tiba-tiba.
  • Sering haus
  • Sering lapar, terutama setelah makan
  • Sering buang air kecil, terlebih pada malam hari
  • Mulut kering
  • Penurunan berat badan tanpa penyebab jelas
  • Pandangan kabur
  • Lemas dan lelah
  • Luka sulit sembuh
  • Infeksi berulang pada kulit, saluran kemih, mulut, dan alat kelamin
  • Mual dan muntah
Salah satu komplikasi diabetes yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat berakibat fatal adalah hipoglikemia atau gula darah rendah. Gejala yang dapat terjadi saat hipoglikemia adalah:
  • Gemetar
  • Bingung
  • Pernapasan cepat
  • Napas berbau seperti buah
  • Penurunan kesadaran
 
Kelainan sistem imun dianggap sebagai penyebab diabetes melitus tipe. Pada kondisi normal, sel imun menyerang virus dan bakteri. Namun, kelainan imun membuat sel imun menyerang sel pankreas yang menghasilkan insulin.Selain itu, diabetes melitus tipe juga dapat disebabkan oleh kelainan genetik pada sel pankreas, infeksi virus, dan pengaruh lingkungan.Ketika tidak ada insulin yang dihasilkan, glukosa yang seharusnya diubah menjadi energi tidak diproses sebagaimana mestinya. Akibatnya, kadar gula dalam darah akan menumpuk dan dapat berkembang menjadi berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. 

Faktor risiko

Beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 1, antara lain:
  • Riwayat keluarga. Jika seseorang memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1 maka orang tersebut memiliki risiko untuk mengalami kondisi yang sama.
  • Faktor genetika. Kehadiran gen tertentu menunjukkan peningkatan risiko terhadap diabetes tipe 1.
  • Geografi. Kasus diabetes tipe 1 cenderung meningkat saat seseorang melakukan perjalanan ke wilayah tertentu yang menjauhi garis Khatulistiwa.
  • Usia. Meskipun dapat terjadi pada berbagai golongan usia. Namun, diabetes melitus tipe 1 banyak dialami anak-anak berusia 4-7 tahun dan remaja berumur 10-14 tahun.
 
Dokter mendiagnosis diabetes tipe 1 dengan melihat adanya gejala diabetes dan pemeriksaan laboratorium seperti:
  • Pemeriksaan HbA1c
Tes ini dilakukan untuk mengetahui kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir. Jika hasil tes menunjukkan kadar HbA1c ≥ 6,5% pada dua kali pemeriksaan terpisah, maka dokter akan mendeteksi adanya diabetes.
  • Pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS)
Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan sampel darah yang diambil pada waktu acak. Nilai gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl menandakan diabetes.
  • Pemeriksaan gula darah puasa (GDP)
Tes ini mengharuskan pasien untuk puasa selama selapan jam. Setelah berpuasa, sampel darah akan untuk diuji di laboratorium. Normalnya, nilai gula darah puasa beriksar antara 100-123 mg/dl. Jika melebihi nilai tersebut pada dua kali pemeriksaan, maka pasien dinyatakan diabetes.
  • Pemeriksaan gula darah 2 jam post prandial (GD2PP)
Setelah melakukan pemeriksaan gula darah puasa (GDP), pasien akan dipersilakan makan dan minum. Dua jam berikutnya, darah akan diambil lagi untuk pemeriksaan gula darah 2 jam post prandial (GD2PP). Prosedurnya sama dengan GDP.
  • Pemeriksaan penyaring berupa tes toleransi glukosa Oral (TTGO)
Pemeriksaan ini diperlukan oleh pasien dengan hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal ataupun kriteria diabetes, yakni golongan prediabetes. Gula darah diukur 2 jam setelah pasien meminum 75 gram larutan glukosa atau 1.75 gr/kgBB (untuk anak-anak). Diabetes didiagnosis jika kadar gula darah setelah 2 jam mencapai 200 mg/dL atau lebih tinggi. 
Tidak ada pengobatan yang dapat mengembalikan fungsi pankreas sehingga dapat memproduksi insulin secara normal. Terapi yang dapat dilakukan bertujuan untuk mengontrol kadar gula darah dan mengurangi komplikasi diabetes.Berikut ini perawatan yang penting bagi pasien diabetes melitus tipe 1.
  1. Pemberian insulin
Terapi insulin adalah pengobatan wajib bagi diabetes melitus tipe 1. Pemberian dilakukan dengan injeksi atau pompa insulin. Insulin tidak dapat dikonsumsi sebagai obat minum karena akan dirusak oleh enzim di lambung.Berbagai jenis insulin yang dapat diberikan yaitu:
  • Insulin kerja cepat (rapid-acting insulin)
Insulin jenis ini dapat bekerja cepat, sekitar 15 menit setelah disuntikkan. Efeknya memuncak dalam waktu sekitar 1 jam dan akan terus bekerja selama 2-4 jam. Biasanya, suntikan insulin ini digunakan 15 menit sebelum makan untuk mengurangi lonjakan gula darah setelah makan.
  • Insulin reguler atau kerja pendek (regular or short-acting insulin)
Insulin reguler mampu menurunkan kadar gula darah dengan cepat, meskipun tidak secepat insulin kerja cepat. Suntikan insulin ini biasanya diberikan 30-60 menit sebelum makan.Insulin reguler akan mencapai aliran darah dalam waktu 30 menit setelah injeksi, Puncaknya antara 2-3 jam setelah disuntikkan dan akan ada di tubuh sekitar 3-6 jam
  • Insulin kerja menengah (intermediate-acting insulin)
Umumnya, insulin ini mencapai aliran darah sekitar 2-4 jam setelah disuntikkan. Puncak efeknya terjadi pada 4-12 jam kemudian, dan dapat memertahankan kadar gula darah yang seimbang selama 12-18 jam.
  • Insulin kerja panjang (long-acting insulin)
Jenis insulin ini akan mencapai aliran darah beberapa jam setelah injeksi dan cenderung menurunkan kadar glukosa secara merata selama periode 24 jam.
  • Insulin kerja lama atau insulin basal
Insulin ini diberikan satu atau dua kali sehari untuk memenuhi kebutuhan insulin minimal tubuh. Insulin basal dapat menjaga kadar gula darah saat tidur malam dan di luar waktu makan
  1. Kontrol gula darah teratur
Pemeriksaan HbA1c menggambarkan stabilitas gula darah sehingga dapat menilai hasil terapi dan dipakai sebagai dasar pemberian dosis insulin selanjutnya. HbA1c lebih akurat daripada pemeriksaan gula darah sewaktu atau puasa, karena menggambarkan kadar gula darah selama tiga bulan terakhir.Kontrol gula darah harian sebaiknya dilakukan minimal empat kali sehari, yaitu setiap sebelum makan dan sebelum tidur malam. Selain itu, penting juga untuk memeriksa kadar gula darah sebelum berolahraga dan melakukan aktivitas penting seperti mengemudi, untuk menghindari hipoglikemia atau gula darah rendah.
  1. Melakukan aktivitas fisik
Aktivitas tubuh dapat membantu menstabilkan kadar gula darah dan mempertahankan berat badan normal. Aktivitas fisik membutuhkan glukosa, sehingga kadar gula darah akan berkurang.Oleh karena itu, penting untuk mengecek kadar gula darah sebelum berolahraga, juga untuk mengatur porsi makan secara khusus sebelum berolahraga. Hal ini bertujuan untuk mencegah hipoglikemia saat atau setelah berolahraga.
  1. Menjalani pola makan teratur
Tidak ada diet khusus untuk penderita DM tipe 1. Hal yang paling penting diperhatikan adalah jadwal makan teratur dengan jumlah karbohidrat yang sama. Untuk mengatur menu makanan, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi.Baca jawaban dokter: Bolehkah penderita diabetes sarapan oats? 

Komplikasi

Apabila perawatan di atas diabaikan, komplikasi akan timbul lebih cepat dan berat. Komplikasi yang dapat terjadi adalah:
  • Penyakit jantung: serangan jantung, penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi
  • Penyakit pembuluh darah
  • Kerusakan saraf: kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah kecil/kapiler yang menyuplai nutrisi untuk sel saraf. Gejala kerusakan saraf yang dapat timbul adalah kesemutan, baal/mati rasa, sensasi terbakar, maupun nyeri.
  • Kerusakan ginjal: kondisi ini dapat berujung pada gagal ginjal.
  • Kerusakan mata: Gangguan ini bisa muncul akibat kerusakan pembuluh darah retina mata, yang dapat berujung pada kebutaan. Diabetes melitus tipe 1 juga dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit mata seperti katarak dan glaukoma.
  • Kaki diabetik: Kondisi ini muncul akibat kerusakan saraf dan pembuluh darah kaki. Jika tidak diobati, kaki dapat terinfeksi, bahkan harus diamputasi.
  • Infeksi, terutama pada kulit dan mulut
  • Komplikasi kehamilan: Diabetes melitus tipe 1 meningkatkan risiko hipertensi kehamilan, keguguran, lahir mati, dan kelainan pada anak
Baca juga: Daftar Penyakit Kulit yang Bisa Menyerang Penderita Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 
Belum diketahui cara untuk mencegah diabetes melitus tipe 1. Namun ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi diabetes yaitu dengan
  • Memeriksa gula darah secara teratur
  • Memeriksakan kesehatan jantung minimal sekali setahun
  • Memeriksakan kesehatan saraf jika terdapat gejala seperti kesemutan, baal, nyeri, sembelits, diare, dan gejala kerusakan saraf lainnya
  • Menjaga kesehatan kaki seperti memakai alas kaki, kaus kaki, serta menjaga kaki tetap bersih untuk menghindari luka dan infeksi
  • Memeriksakan mata secara berkala
Baca juga: Senam Kaki Diabetes dan Olahraga Lainnya untuk Penderita Diabetes 
Jika  Anda atau anak Anda mengalami gejala seperti di atas, segera berkonsultasi dengan dokter.
Sebelum mengunjungi dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Membawa catatan rekaman kadar gula darah harian Anda saat kontrol rutin dengan dokter
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah ada faktor risiko terhadap diabetes?
  • Apakah rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah sudah pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis diabetes melitus tipe 1 agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Diabetes.org http://www.diabetes.org/diabetes-basics/type-1/
Diakses pada 30 Januari 2019
Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-1-diabetes/symptoms-causes/syc-20353011
Diakses pada 30 Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/type-1-diabetes/symptoms-and-getting-diagnosed/
Diakses pada 30 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/diabetes/type-1-diabetes#1
Diakses pada 30 Januari 2019
Medlineplus. https://medlineplus.gov/diabetestype1.html
Diakses pada 18 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/type-1-diabetes-causes-symtoms-treatments#causes
Diakses pada 18 September 2020
Health Harvard. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/type-1-diabetes-mellitus-a-to-z
Diakses pada 18 September 2020
CDC. https://www.cdc.gov/diabetes/basics/type1.html
Diakses pada 18 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Tips Berpuasa untuk Penderita Diabetes

Puasa memiliki berbagai manfaat bagi penderita diabetes. Untuk mendapatkan manfaatnya, hindari dehidrasi, jaga porsi makan dan jenis makanan saat berbuka.
14 May 2019|Giovanni Jessica
Baca selengkapnya
Ternyata puasa memiliki manfaat bagi penderita diabetes

Teh yang Aman dan Baik untuk Diminum Penderita Diabetes

Secara umum, teh memiliki berbagai khasiat yang baik untuk kesehatan. Manfaat teh juga bisa dinikmati oleh penderita diabetes. Teh oolong dan teh kamomil adalah beberapa jenis teh yang bisa membantu meringankan diabetes yang dialami.
17 Jul 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
Ada beberapa pilihan teh untuk diabetes yang aman diminum oleh mereka yang memiliki kadar gula darah tinggi

Panduan Pemilihan Gula untuk Diabetes

Penderita diabetes masih bisa mengonsumsi gula asal dalam takaran yang sesuai. Apakah gula untuk diabetes memiliki kriteria tertentu?
13 Nov 2019|Anita Djie
Baca selengkapnya
perhatikan gula yang Anda konsumsi saat menderita diabetes