Diabetes Melitus tipe 1

Ditinjau dr. Reni Utari
Diabetes melitus tipe 1 hanya diderita sedikit orang (5%) dibanding dengan diabetes melitus tipe 2.
Diabetes melitus tipe 1 hanya diderita sedikit orang (5%) dibanding dengan diabetes melitus tipe 2.

Pengertian Diabetes Melitus tipe 1

Diabetes melitus tipe 1 (DM tipe 1) adalah suatu penyakit dimana kelenjar pankreas memproduksi hanya sedikit insulin atau tidak memproduksi insulin sama sekali. Insulin merupakan hormon yang diperlukan tubuh untuk menyalurkan glukosa (gula) dalam darah ke dalam sel-sel untuk dipakai sebagai sumber energi. Jika kadar insulin kurang atau tidak ada, maka glukosa akan menumpuk dalam darah dan menyebabkan berbagai komplikasi.

Biasanya DM 1 terjadi sejak masa kanak-kanak, namun dapat juga baru timbul saat dewasa. Sebagian besar orang dengan DM menderita DM tipe 2, sementara itu hanya sekitar 5% yang menderita DM tipe 1.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Gejala diabetes dapat timbul secara tiba-tiba, antara lain:

  • Sering haus
  • Sering lapar, terutama setelah makan
  • Sering buang air kecil, terutama pada malam hari
  • Mulut kering
  • Penurunan berat badan yang tidak diketahui sebabnya dengan jelas
  • Pandangan kabur
  • Lemas dan lelah
  • Luka sulit sembuh
  • Infeksi berulang pada kulit, saluran kemih, mulut, dan alat kelamin
  • Mual dan muntah

Salah satu komplikasi diabetes yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat berakibat fatal adalah hipoglikemia atau gula darah rendah. Gejala yang dapat terjadi saat hipoglikemia adalah:

  • Gemetar
  • Bingung
  • Pernapasan cepat
  • Napas berbau seperti buah
  • Penurunan kesadaran

Penyebab

Kelainan sistem imun dianggap sebagai penyebab DM 1, dimana sel imun yang normalnya menyerang virus dan bakteri malah menyerang sel pankreas yang menghasilkan insulin, yaitu sel beta. Selain itu, DM tipe 1 juga dapat disebabkan oleh kelainan genetik pada sel pankreas, infeksi virus, dan pengaruh lingkungan.

Diagnosis

Diagnosis DM tipe 1 ditegakkan dengan melihat adanya gejala diabetes dan pemeriksaan laboratorium seperti:

  • Tes HbA1c: untuk mengetahui kadar gula darah selama 2-3 bulan terakhir. Kadar HbA1c ≥ 6,5% pada dua kali pemeriksaan terpisah menunjukkan adanya diabetes.
  • Tes kadar gula darah sewaktu: sampel darah diambil kapan saja. Jika nilai gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dl menandakan adanya diabetes.
  • Tes kadar gula darah puasa: sampel darah diambil setelah puasa selama delapan jam. Normalnya, nilai gula darah puasa yaitu 100-123 mg/dl. Jika melebihi nilai tersebut pada dua kali pemeriksaan maka dikatakan diabetes
  • Pemeriksaan darah untuk menemukan antibodi yang menyerang sel pankreas

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang dapat mengembalikan fungsi pankreas sehingga dapat memproduksi insulin secara normal. Terapi yang dapat dilakukan bertujuan untuk mengontrol kadar gula darah untuk mengurangi komplikasi diabetes.

Pilar-pilar penting dalam mengatasi DM tipe 1 adalah:

  • Pemberian insulin: merupakan terapi absolut untuk DM tipe Pemberian dilakukan dengan injeksi atau pompa insulin. Insulin tidak dapat dikonsumsi sebagai obat minum karena akan dirusak oleh enzim di lambung.

Ada dua jenis insulin yaitu:

  • Insulin kerja lama atau insulin basal: diberikan satu atau dua kali sehari untuk memberikan insulin minimal yang dibutuhkan oleh tubuh. Insulin jenis ini menjaga kadar gula darah selama tidur malam dan di luar waktu makan
  • Insulin kerja cepat: diberikan sebelum makan untuk mengurangi lonjakan gula darah setelah makan
  • Kontrol gula darah teratur: pemeriksaan HbA1c menggambarkan stabilitas gula darah sehingga dapat menilai hasil terapi dan dipakai sebagai dasar pemberian dosis insulin selanjutnya. HbA1c lebih akurat daripada pemeriksaan gula darah sewaktu atau puasa karena menggambarkan kadar gula darah selama tiga bulan terakhir.

Untuk kontrol gula darah harian disarankan dilakukan minimal empat kali sehari, yaitu setiap sebelum makan dan sebelum tidur malam. Namun, penting juga untuk mengecek kadar gula darah sebelum berolahraga dan melakukan aktivitas penting seperti menyetir untuk menghindari hipoglikemia atau gula darah rendah.

  • Aktivitas fisik untuk membantu menstabilkan kadar gula darah dan mempertahankan berat badan normal. Aktivitas fisik membutuhkan glukosa sehingga kadar gula darah akan berkurang. Oleh karena itu, penting untuk mengecek kadar gula darah sebelum berolahraga, juga untuk mengatur porsi makan secara khusus sebelum berolahraga. Hal ini bertujuan untuk mencegah hipoglikemia saat atau setelah berolahraga.
  • Pola makan teratur: tidak ada diet khusus untuk penderita DM tipe 1. Yang terpenting adalah jadwal makan yang teratur dengan jumlah karbohidrat yang sama. Untuk mengatur menu makanan, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi.

 

Jika pengobatan diabaikan, komplikasi akan timbul lebih cepat dan berat. Komplikasi yang dapat terjadi adalah:

  • Penyakit jantung: serangan jantung, penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi
  • Penyakit pembuluh darah
  • Kerusakan saraf: kadar gula darah yang tinggi dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh darah kecil / kapiler yang menyuplai nutrisi untuk sel saraf. Gejala kerusakan saraf yang dapat timbul adalah kesemutan, baal/mati rasa, sensasi terbakar, nyeri.
  • Kerusakan ginjal: dapat berujung pada gagal ginjal.
  • Kerusakan mata: akibat kerusakan pembuluh darah retina mata, yang dapat berujung pada kebutaan. DM tipe 1 juga dapat meningkatkan risiko untuk menderita penyakit mata seperti katarak dan glaukoma.
  • Kaki diabetik: akibat kerusakan saraf dan pembuluh darah kaki. Jika tidak diobati, dapat terinfeksi sehingga harus diamputasi
  • Infeksi terutama pada kulit dan mulut
  • Komplikasi kehamilan: DM tipe 1 meningkatkan risiko hipertensi kehamilan, keguguran, lahir mati, dan kelainan pada anak

Pencegahan

Belum diketahui cara untuk mencegah DM tipe 1, namun ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi diabetes yaitu:

  • Kontrol gula darah teratur
  • Memeriksa kesehatan jantung minimal sekali setahun
  • Memeriksakan kesehatan saraf jika terdapat gejala seperti kesemutan, baal, nyeri, konstipasi, diare, dan gejala kerusakan saraf lainnya
  • Menjaga kesehatan kaki seperti memakai alas kaki, kaus kaki, menjaga kaki tetap bersih untuk menghindari luka dan infeksi
  • Memeriksakan mata secara berkala

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika  Anda atau anak Anda mengalami gejala seperti di atas, segera berkonsultasi dengan dokter.

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

  • Mencatat pertanyaan yang ingin disampaikan kepada dokter
  • Mencatat informasi personal seperti adanya stress emosional yang baru terjadi atau hal-hal lain yang dapat memengaruhi kontrol gula darah Anda
  • Mencatat obat-obatan yang sedang dikonsumsi
  • Membawa catatan rekaman kadar gula darah harian Anda saat kontrol rutin dengan dokter

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter akan menanyakan beberapa hal kepada Anda, seperti:

  • Apakah Anda mengalami kesulitan dalam penanganan diabetes?
  • Seberapa sering Anda mengalami hipoglikemia?
  • Apakah Anda menyadari jika Anda sedang mengalami hipoglikemia?
  • Bagaimana pola makan Anda?
  • Bagaimana aktivitas fisik Anda sehari-hari?
  • Berapa dosis insulin yang Anda konsumsi sehari-hari?
Referensi

diabetes.org http://www.diabetes.org/diabetes-basics/type-1/
Diakses pada 30 Januari 2019

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-1-diabetes/symptoms-causes/syc-20353011
Diakses pada 30 Januari 2019

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/type-1-diabetes/symptoms-and-getting-diagnosed/
Diakses pada 30 Januari 2019

WebMD. https://www.webmd.com/diabetes/type-1-diabetes#1
Diakses pada 30 Januari 2019

Back to Top