Penyakit Lainnya

Diabetes Tipe 1

21 Apr 2021 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Diabetes Tipe 1
Diabetes tipe 1 terjadi karena pankreas tidak bisa menghasilkan insulin
Diabetes tipe 1 (DM tipe 1) adalah jenis penyakit gula yang terjadi karena pankreas tidak mampu menghasilkan insulin.Insulin merupakan hormon yang diperlukan oleh tubuh untuk menyalurkan glukosa (gula) dalam darah ke sel-sel. Glukosa ini akan dipakai sebagai sumber energi.Jika tubuh tidak mendapatkan kadar insulin yang cukup, glukosa akan menumpuk dalam darah dan menyebabkan berbagai komplikasi.Ada dua jenis utama diabetes yakni diabetes melitus tipe 1 dan tipe 2. Keduanya memiliki gejala serupa, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang sama. Meskipun begitu, keduan kondisi ini sangat berbeda.Diabetes melitus tipe 2 umumnya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. Sementara diabetes melitus tipe 1 dipicu oleh faktor genetik serta kondisi medis seperti penyakit autoimun.Diabetes tipe 1 biasanya terjadi pada anak-anak, meskipun dapat dialami juga oleh berbagai kalangan usia. Jenis penyakit kencing manis ini juga tidak bisa disembuhkan.Meski begitu, DM tipe 1 dapat dikendalikan melalui pengelolaan kadar gula darah dengan insulin serta pola makan dan gaya hidup sehat untuk mencegah komplikasi. 
Diabetes Tipe 1
Dokter spesialis Endokrin, Penyakit Dalam
GejalaSering haus, sering lapar, terutama setelah makan, luka yang sulit sembuh
Faktor risikoGenetik, autoimun
Metode diagnosisTes laboratorium
PengobatanTerapi insulin, pengaturan gaya hidup
ObatInsulin
KomplikasiPenyakit jantung, penyakit pembuluh darah, kerusakan saraf
Kapan harus ke dokter?Jika mengalami berbagai gejala, terutama apabila memiliki faktor risiko
Gejala diabetes tipe 1 di bawah ini dapat timbul secara tiba-tiba:
  • Sering haus
  • Sering lapar, terutama setelah makan
  • Sering buang air kecil, terlebih pada malam hari
  • Mulut kering
  • Penurunan berat badan tanpa penyebab jelas
  • Pandangan kabur
  • Lemas dan lelah
  • Luka sulit sembuh
  • Infeksi berulang pada kulit, saluran kemih, mulut, dan alat kelamin
  • Mual dan muntah
 
Kelainan sistem imun dianggap sebagai penyebab diabetes tipe 1. Pada kondisi normal, sel imun menyerang virus dan bakteri. Namun gangguan sistem kekebalan tubuh akan membuat sel ini menyerang sel-sel pankreas yang sehat dan bertugas menghasilkan insulin.Selain itu, penyakit gula ini dapat pula disebabkan oleh kelainan genetik pada sel pankreas, infeksi virus, dan pengaruh lingkungan.Ketika tidak ada insulin yang dihasilkan, glukosa yang seharusnya diubah menjadi energi tidak diproses sebagaimana mestinya. Akibatnya, kadar gula dalam darah akan menumpuk dan dapat berkembang menjadi berbagai komplikasi yang mengancam jiwa. 

Faktor risiko diabetes tipe 1

Beberapa faktor berikut dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes tipe 1 meliputi:
  • Riwayat keluarga

Jika seseorang memiliki keluarga dengan riwayat diabetes tipe 1 maka orang tersebut memiliki risiko untuk mengalami kondisi yang sama.
  • Faktor genetika

Kehadiran gen tertentu menunjukkan peningkatan risiko terhadap DM tipe 1.
  • Geografi

Kasus diabetes tipe 1 cenderung meningkat saat seseorang melakukan perjalanan ke wilayah tertentu yang menjauhi garis Khatulistiwa.
  • Usia

Meskipun dapat terjadi pada berbagai golongan usia. Namun DM tipe 1 banyak dialami anak-anak berusia 4-7 tahun dan remaja berumur 10-14 tahun. 
Untuk memastikan diagnosis diabetes tipe 1, dokter bisa menganjurkan sederet metode pemeriksaan berikut:
  • Tanya jawab

Dokter akan menanyakan gejala, faktor risiko, serta riwayat medis pasien maupun keluarga.
  • Tes HbA1c

Tes HbA1c bertujuan mengetahui kadar gula darah pasien selama 2-3 bulan terakhir. Jika hasilnya menunjukkan kadar HbA1c ≥ 6,5% pada dua kali pemeriksaan terpisah, dokter akan mendeteksi adanya diabetes.
  • Pemeriksaan gula darah sewaktu (GDS)

Pemeriksaan ini dilakukan menggunakan sampel darah yang diambil pada waktu acak. Nilai gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dL menandakan diabetes.
  • Tes gula darah puasa (GDP)

Tes ini mengharuskan pasien untuk puasa selama selapan jam. Setelah berpuasa, sampel darah akan untuk diuji di laboratorium. Normalnya, nilai gula darah puasa beriksar antara 100-123 mg/dl. Jika melebihi nilai tersebut pada dua kali pemeriksaan, maka pasien dinyatakan diabetes.
  • Tes gula darah 2 jam post prandial (GD2PP)

Setelah melakukan pemeriksaan gula darah puasa, pasien akan dipersilakan makan dan minum. Dua jam berikutnya, darah pasien akan kembali diambil untuk tes gula darah dua jam post prandial (GD2PP). Prosedurnya sama dengan GDP.
  • Tes toleransi glukosa oral (TTGO)

Prosedur TTGO diperlukan oleh pasien dengan hasil tes yang tidak memenuhi kriteria normal ataupun kriteria diabetes, yakni golongan prediabetes.Gula darah diukur dua jam setelah pasien meminum 75 gram larutan glukosa atau 1.75 gr/kgBB (untuk anak-anak). Diabetes didiagnosis jika kadar gula darah mencapai 200 mg/dL atau lebih tinggi. 
Hingga saat ini, belum ada cara mengobati diabetes tipe 1 yang bisa mengembalikan fungsi pankreas dalam memproduksi insulin secara normal. Namun dokter bisa menyarankan beberapa penanganan di bawah iin untuk mengendalikan kadar gula darah dan mengurangi risiko komplikasi diabetes:

Pemberian insulin

Terapi insulin adalah pengobatan wajib bagi diabetes melitus tipe 1. Pemberian dilakukan dengan injeksi atau pompa insulin.Harap diingat bahwa insulin tidak dapat dikonsumsi sebagai obat minum karena akan dirusak oleh enzim dalam lambung.Berbagai jenis insulin yang dapat diberikan meliputi:
  • Insulin kerja cepat (rapid-acting insulin)

Insulin jenis ini dapat bekerja cepat, sekitar 15 menit setelah disuntikkan. Efeknya memuncak dalam waktu sekitar 1 jam dan akan terus bekerja selama 2-4 jam.Biasanya, suntikan insulin ini digunakan 15 menit sebelum makan untuk mengurangi lonjakan gula darah sesudah makan.
  • Insulin reguler atau kerja pendek (regular or short-acting insulin)

Insulin reguler mampu menurunkan kadar gula darah dengan cepat. Namun efeknya tidak secepat jenis insulin kerja cepat. Suntikan insulin ini biasanya diberikan 30-60 menit sebelum makan.Insulin reguler akan mencapai aliran darah dalam waktu 30 menit setelah injeksi. Puncaknya antara 2-3 jam sesudah disuntikkan dan akan bertahan dalam tubuh selama 3-6 jam.
  • Insulin kerja menengah (intermediate-acting insulin)

Umumnya, insulin ini mencapai aliran darah sekitar 2-4 jam setelah disuntikkan. Puncak efeknya terjadi pada 4-12 jam kemudian, dan dapat mempertahankan kadar gula darah yang seimbang selama 12-18 jam.
  • Insulin kerja panjang (long-acting insulin)

Jenis insulin kerja panjang akan mencapai aliran darah pada beberapa jam setelah injeksi. Insulin ini cenderung menurunkan kadar glukosa secara merata selama periode 24 jam.
  • Insulin kerja lama atau insulin basal

Insulin basal diberikan satu atau dua kali sehari untuk memenuhi kebutuhan insulin minimal tubuh. Insulin ini dapat menjaga kadar gula darah saat pasien tidur malam dan di luar waktu makan.

Kontrol gula darah secara teratur

Pemeriksaan HbA1c menggambarkan stabilitas gula darah sehingga dapat menilai hasil terapi dan dipakai sebagai dasar pemberian dosis insulin selanjutnya. HbA1c lebih akurat daripada pemeriksaan gula darah sewaktu atau puasa, karena menggambarkan kadar gula darah selama tiga bulan terakhir.Kontrol gula darah harian sebaiknya dilakukan minimal empat kali sehari, yaitu setiap sebelum makan dan sebelum tidur malam.Penting juga agar pasien memeriksa kadar gula darah sebelum berolahraga dan melakukan aktivitas tertentu (seperti mengemudi). Langkah ini bertujuan menghindari hipoglikemia atau gula darah rendah, yang bisa berujung fatal.

Melakukan aktivitas fisik

Aktivitas tubuh dapat membantu menstabilkan kadar gula darah dan mempertahankan berat badan normal. Aktivitas fisik membutuhkan glukosa, sehingga kadar gula darah akan berkurang.Oleh karena itu, penting untuk mengecek kadar gula darah sebelum berolahraga, juga untuk mengatur porsi makan secara khusus sebelum berolahraga. Hal ini bertujuan untuk mencegah hipoglikemia saat atau setelah berolahraga.

Menerapkan pola makan yang sehat dan teratur

Tidak ada diet khusus untuk penderita DM tipe 1. Hal yang paling penting diperhatikan adalah jadwal makan teratur dengan jumlah karbohidrat yang sama. Untuk mengatur menu makanan, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi. 

Komplikasi diabetes tipe 1

Salah satu komplikasi diabetes yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat berakibat fatal adalah hipoglikemia atau gula darah rendah. Gejala yang dapat terjadi saat hipoglikemia meliputi:
  • Gemetar
  • Bingung
  • Pernapasan cepat
  • Napas berbau seperti buah
  • Penurunan kesadaran
Selain itu, penyakit gula ini yang tidak ditangani dengan benar bisa menyebabkan komplikasi lain yang meliputi:
  • Penyakit jantung dan pembuluh darah, seperti serangan jantung, penyakit jantung koroner, stroke, hipertensi.
  • Kerusakan saraf.
  • Kerusakan ginjal yang dapat berujung pada gagal ginjal.
  • Kerusakan mata, seperti retinopati, katarak, dan glaukoma.
  • Penyakit kaki diabetik, yakni kondisi yang muncul akibat kerusakan saraf dan pembuluh darah di kaki. Jika tidak diobati, kaki dapat terinfeksi, bahkan harus diamputasi.
  • Infeksi, terutama pada kulit dan mulut.
  • Komplikasi kehamilan karena DM tipe 1 bisa meningkatkan risiko hipertensi kehamilan, keguguran, lahir mati, dan kelainan pada bayi.
Baca juga: Daftar Penyakit Kulit yang Bisa Menyerang Penderita Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2 
Belum diketahui cara untuk mencegah diabetes melitus tipe 1. Namun ada hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi diabetes yaitu dengan
  • Memeriksa gula darah secara teratur
  • Memeriksakan kesehatan jantung minimal sekali setahun
  • Memeriksakan kesehatan saraf jika terdapat gejala seperti kesemutan, baal, nyeri, sembelits, diare, dan gejala kerusakan saraf lainnya
  • Menjaga kesehatan kaki seperti memakai alas kaki, kaus kaki, serta menjaga kaki tetap bersih untuk menghindari luka dan infeksi
  • Memeriksakan mata secara berkala
Baca juga: Senam Kaki Diabetes dan Olahraga Lainnya untuk Penderita Diabetes 
Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala seperti di atas, segera berkonsultasi dengan dokter. 
Sebelum mengunjungi dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.
  • Membawa catatan rekaman kadar gula darah harian Anda saat kontrol rutin dengan dokter
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Kapan gejala pertama kali muncul?
  • Apakah ada faktor risiko terhadap diabetes?
  • Apakah rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah sudah pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis diabetes melitus tipe 1 agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Diabetes.org http://www.diabetes.org/diabetes-basics/type-1/
Diakses pada 30 Januari 2019
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/type-1-diabetes/symptoms-causes/syc-20353011
Diakses pada 30 Januari 2019
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/type-1-diabetes/symptoms-and-getting-diagnosed/
Diakses pada 30 Januari 2019
WebMD. https://www.webmd.com/diabetes/type-1-diabetes#1
Diakses pada 30 Januari 2019
Medline Plus. https://medlineplus.gov/diabetestype1.html
Diakses pada 18 September 2020
Healthline. https://www.healthline.com/health/type-1-diabetes-causes-symtoms-treatments#causes
Diakses pada 18 September 2020
Health Harvard. https://www.health.harvard.edu/a_to_z/type-1-diabetes-mellitus-a-to-z
Diakses pada 18 September 2020
CDC. https://www.cdc.gov/diabetes/basics/type1.html
Diakses pada 18 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email