Deuteranomali bukan merupakan gangguan mata berat dan penderitanya dapat menggunakan lensa kontak khusus.
Sel kerucut hijau tidak berfungsi dengan baik pada penderita deuteranomali.

Ada sekelompok orang yang memiliki kesulitan dalam membedakan warna. Artinya, persepsi warna yang mereka miliki, berbeda dari kebanyakan orang. Dalam bahasa awam, kondisi ini sering disebut buta warna. Individu dengan kondisi buta warna, sering tidak bisa mengenali perbedaan berbagai warna, tak seperti orang-orang lain pada umumnya. Buta warna pun memiliki beragam jenis.

Di dalam mata, terdapat reseptor cahaya, yang terdiri dari sel kerucut dan sel batang. Sel kerucut bekerja dengan baik pada kondisi yang cukup terang. Misalnya pada saat siang hari, dengan cahaya yang terang. Sementara itu, sel batang bekerja dengan optimal pada cahaya yang lebih redup. Sel ini lebih berguna untuk melihat dalam keadaan gelap. Oleh karena itu, sel batang lebih sensitif terhadap cahaya, dibandingkan sel kerucut.

Akan tetapi, sel kerucut memiliki kemampuan lebih dalam membedakan warna. Sel ini mempunyai 3 jenis pigmen berbeda, untuk membedakan warna. Ketiganya adalah pigmen warna merah, hijau, dan biru. Sementara itu, hanya ada satu jenis pigmen sel batang yang sensitif terhadap cahaya. Oleh karena itu, sel batang tidak dapat membedakan warna.

Pada kondisi buta warna, satu atau lebih sel kerucut tidak berfungsi dengan baik, sehingga penderita buta warna tidak dapat melihat warna tertentu.

Deuteranomali merupakan golongan buta warna merah-hijau, yang terjadi ketika sel kerucut hijau tidak dapat berfungsi dengan baik, dan terlalu sensitif terhadap cahaya berwarna merah. Akibatnya, warna merah, hijau, kuning, jingga dan cokelat terlihat serupa, terutama dalam cahaya redup. Selain itu penderita deuteranomali akan sulit membedakan antara warna ungu dengan biru, atau merah muda dengan abu-abu. 

Deuteranomali merupakan jenis buta warna yang paling sering ditemukan. Biasanya, kasus buta warna jenis ini ditemukan dalam kondisi yang ringan. Kasus deuteranomali ini lebih sering ditemukan pada pria, yaitu sebanyak lima hingga delapan persen dari populasi, daripada wanita yang hanya setengah persen dari populasi. Oleh karena itu, pria memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap deuteranomali, dibandingkan wanita.

Para penderita deuteranomali tidak dapat membedakan warna merah dan hijau yang sedang mereka lihat. Selain itu, penderita deuteranomali juga akan mengalami kesulitan membedakan nuansa warna (shades) pada warna yang sama, dalam hal ini warna merah maupun hijau. Penderita deuteranomali akan mengidentifikasi warna merah dan hijau sebagai warna yang kecokelatan (brownish). Akan tetapi, keadaan ini seringkali tidak mengganggu aktivitas visual, atau penglihatan para penderitanya.

Deuteranomali atau buta warna merah dan hijau, disebabkan oleh sel kerucut dengan pigmen hijau, yang tidak bisa bekerja optimal. Deuteranomali merupakan jenis penyakit yang diturunkan, atau biasa disebut congenital disease, dan merupakan kelainan yang berhubungan dengan kromosom X. Sehingga, apabila memiliki keluarga dengan riwayat deuteranomali, maka semakin besar potensi Anda untuk mengalaminya.

Akan tetapi, kasus deuteranomali ini juga dapat terjadi akibat cedera pada mata, kerusakan pada saraf mata, kerusakan pada bagian otak yang memproses informasi berkaitan dengan warna, katarak, maupun usia, meskipun sangat jarang ditemukan. Walaupun kasus deuteranomali bukan merupakan kelainan atau gangguan mata yang berat, tapi penderitanya akan mengalami kesulitan dalam menekuni profesi tertentu yang banyak menggunakan warna merah maupun hijau. Misalnya pengemudi, masinis, maupun pelaut.

Masalah utama pada deuteranomali adalah ketidakmampuan membedakan warna merah dan hijau. Namun dalam beberapa kasus, penyakit ini ditemukan orang-orang yang juga kesulitan dalam membedakan warna abu-abu, ungu, dan biru kehijauan secara tepat.

Apabila Anda memiliki kesulitan membedakan warna secara tepat, dalam hal ini terutama warna merah dan hijau yang mengarah pada deuteranomali, terdapat beberapa metode pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh dokter.

  • Ishihara color test

Ishihara color test merupakan sebuah metode pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi buta warna merah dan hijau. Metode pemeriksaan ini telah dikembangkan sejak tahun 1918 oleh ophthalmologist asal Jepang, yaitu Ishihara Shinobu pada kalangan militer. Pada metode ini, dokter akan menginstruksikan Anda untuk melihat sekumpulan atau rangkaian lingkaran (yang juga disebut plates), dengan titik-titik yang berbeda warna dan ukurannya. Beberapa titik tersebut membentuk suatu pola maupun satu atau dua digit angka.

Apabila kesulitan membedakan warna merah dan hijau, maka Anda akan kesulitan pula untuk melihat pola maupun angka-angka tersebut, atau bahkan sama sekali tidak mengenai pola maupun angka-angka tersebut. Metode pemeriksaan Ishihara color test secara lengkap terdiri dari 38 plates. Namun biasanya, yang sering digunakan untuk pemeriksaan mata secara komprehensif, berisi 14 atau 24 plates.

  • Cambridge color test

Cambridge color test merupakan tes buta warna yang mirip dengan Ishihara color test. Namun pada metode ini, Anda diminta menatap pada layar komputer dan menemukan bentuk huruf “C”, dengan warna berbeda dari latar belakang, atau background yang tertera pada layar. Bentuk huruf “C” tersebut muncul secara acak. Sehingga, apabila kesulitan dalam membedakan warna, maka Anda akan mengalami kesulitan pula dalam menemukan bentuk tersebut.

  • Anomaloscope

Anomaloscope adalah sebuah metode pemeriksaan buta warna merah dan hijau, yang menginstruksikan Anda untuk melihat sebuah lingkaran melalui lensa. Bagian atas dari lingkaran tersebut merupakan sinar berwarna kuning. Sementara itu, bagian lainnya merupakan sinar berwarna merah dan hijau. Selanjutnya, Anda harus memutar tombol atau pegangan yang ada, hingga kedua bagian lingkaran tersebut memiliki tingkat kecerahan warna yang sama.

  • Fansworth-Munsell 100 hue test

Fansworth-Munsell 100 hue test merupakan sebuah metode pemeriksaan dengan menggunakan balok ataupun pasak bernuansa warna (shades) berbeda pada warna tertentu. Dalam pemeriksaan ini, Anda diminta menyusun kumpulan balok atau pasak tersebut pada alur yang benar. Metode ini dilakukan untuk menguji kemampuan Anda dalam mengenali perubahan warna, sedikit demi sedikit.

  • Farnsworth lantern test

Farnsworth lantern test merupakan sebuah metode pemeriksaan buta warna yang sering digunakan oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat.

Tidak terdapat pengobatan yang khusus untuk kasus deuteranomali. Akan tetapi, penggunaan lensa kontak maupun kacamata yang khusus, dapat meningkatkan persepsi pada beberapa jenis warna yang dilihat. Kacamata maupun lensa kontak tersebut, bekerja dengan cara menyaring panjang gelombang cahaya tertentu, untuk membantu para penderita deuteranomali membedakan warna merah dan hijau secara lebih baik.

Kacamata itu tidak dapat mengembalikan penglihatan para penderita deuteranomali dalam keadaan normal. Namun, kacamata tersebut dapat membuat rona warna (hue) tertentu menjadi tampak lebih cerah. Penggunaan kacamata atau lensa kontak khusus ini belum tentu berfungsi dengan baik pada setiap kasus deuteranomali. Oleh karena itu, konsultasikan pada dokter mata (ophthalmologist) mengenai kebutuhan Anda terhadap kacamata maupun lensa kontak khusus ini.

Tidak ada langlah pencegahan spesifik terhadap kelainan deuteranomali.

Apabila kesulitan dalam membedakan warna-warna yang dilihat, ada baiknya Anda segera berkonsultasi pada dokter spesialis mata, atau yang dikenal dengan ophthalmologist. Dokter ini khusus menangani masalah mata dan penglihatan. Konsultasi ini penting dilakukan, karena gejala-gejala yang Anda rasakan, bisa jadi menjadi pertanda akan suatu kondisi yang serius. Jadi sebaiknya, berkonsultasilah sedini mungkin untuk menghindari komplikasi di kemudian hari.

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=7255
Diakses pada 20 Januari 2019.

The University of Arizona Health Sciences. https://disorders.eyes.arizona.edu/category/alternate-names/deuteranomaly
Diakses pada 20 Januari 2019.

Webmd. https://www.webmd.com/eye-health/color-blindness#1
Diakses pada 20 Januari 2019.

Colblindor. https://www.color-blindness.com/deuteranopia-red-green-color-blindness/
Diakses pada 20 Januari 2019.

National Eye Institute. https://nei.nih.gov/health/color_blindness/facts_about
Diakses pada 20 Januari 2019.

Webmd. https://www.webmd.com/eye-health/what-you-need-to-know-about-color-blindness-tests#1
Diakses pada 20 Januari 2019.

American Academy of Ophthalmology. https://www.aao.org/eye-health/diseases/how-color-blindness-is-tested
Diakses pada 20 Januari 2019.

Allaboutvision. https://www.allaboutvision.com/eye-exam/color-blind-tests.htm
Diakses pada 20 Januari 2019.

Eyeclinic. http://www.eyeclinic.com.gr/en/daltwnismos-dysxrwmatopsia.html
Diakses pada 20 Januari 2019.

Everydayhealth. https://www.everydayhealth.com/color-blindness/guide/treatment/
Diakses pada 20 Januari 2019.

Artikel Terkait