Dermatofibrosarcoma Protuberans

Dermatofibrosarcoma protuberans (DFSP) adalah jenis kanker kulit yang jarang terjadi. Kanker ini paling sering dialami oleh orang berusia 20 hingga 50 tahun.

DFSP bermula dari lapisan kulit bagian tengah yang disebut dermis. Pada tahap awal, kanker ini terlihat seperti benjolan kecil padat berwarna merah, keunguan, atau sewarna kulit. DFSP juga bisa tampak seperti bekas luka atau tanda lahir.

Dermatofibrosarcoma protuberans memiliki pertumbuhan yang lambat dan jarang menyebar ke bagian tubuh selain kulit. Karena itu, penderita memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi.

Namun apabila dibiarkan tanpa pengobatan, DFSP dapat tumbuh hingga ke dalam lapisan lemak, otot, dan tulang dan menjadi lebih sulit ditangani.

Gejala dermatofibrosarcoma protuberans bervariasi pada tiap penderita. Mari simak penejelasannya di bawah ini:

Gejala awal

gejala awal DFSP biasanya berupa tumbuhnya benjolan kecil seperti jerawat pada kulit, atau permukaan benjolan kasar seperti bekas luka. Benjolan ini tidak terasa nyeri, konsistensi kenyal atau bisa keras saat disentuh.

Pada anak-anak, gejala dermatofibrosarcoma protuberans seringkali menyerupai tanda lahir. Karena pertumbuhannya yang lambat, gejala awal kanker ini sering terabaikan selama beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun.

Gejala pada tahap lanjut

Jika berlanjut hingga hitungan bulan sampai tahun maka dalam perkembangannya, benjolan dermatofibrosarcoma protuberans akan tampak lebih jelas pada permukaan kulit dengan gejala:

  • Kulit di benjolan terasa nyeri
  • Kulit di benjolan yang retak dan berdarah
  • Kulit di benjolan yang terasa keras
  • Benjolan terlihat tertanam di dalam kulit
  • Kulit meregang
  • Benjolan membesar dengan diameter dari 0.5 hingga mencapai 25 cm.

Pada pasien dewasa, benjolan biasanya berwarna merah kecokelatan hingga keunguan. Sedangkan pada pasien dengan usia lebih muda, benjolan kerap berwarna merah atau biru.

Benjolan dermatofibrosarcoma protuberans dapat tumbuh di bagian tubuh manapun, namun paling sering ditemui pada dada, perut, bahu, bokong, tangan, atau kaki. Meskipun jarang, DFSP juga dapat ditemui di kulit kepala atau bahkan di dalam mulut.

Hingga saat ini, penyebab dermatofibrosarcoma protuberans masih belum diketahui. Namun DFSP banyak terjadi setelah cedera kulit yang parah seperti bekas luka dari pembedahan atau kulit yang terbakar.

Pada beberapa kasus, DFSP juga terjadi pada orang yang sering menjalani terapi radiasi, selain itu dapat terjadi karena adanya kromosim abnormal yang menyebabkan pertumbuhan sel tumor terus berlanjut.

Beberapa pemeriksaan akan dilakukan dokter untuk memastikan diagnosis dermatofibrosarcoma protuberans. Pemeriksaan tersebut meliputi:

  • Pemeriksaan fisik pada kulit

Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk melihat kelainan kulit secara lebih jelas.

  • Biopsi kulit

Dokter akan mengambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop guna mengetahui keberadaan sel-sel kanker.

  • Pemeriksaan pencitraan

Pada beberapa kasus, dokter bisa melakukan pemeriksaan pencitraan seperti MRI. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui sejauh mana sel kanker menyebar, sehingga pengobatan yang sesuai bisa direncanakan.

Beberapa metode pengobatan dermatofibrosarcoma protuberans yang dapat dianjurkan oleh dokter meliputi:

  • Bedah eksisi

Pada sebagian besar kasus, dokter akan merekomendasikan prosedur operasi untuk mengangkat kanker pada kulit dan jaringan kulit sehat di sekitarnya. Prosedur ini dilakukan untuk memastikan semua sel kanker sudah terangkat.

  • Bedah Mohs

Bedah Mohs adalah jenis bedah khusus yang hanya digunakan untuk menangani kanker kulit. Dokter akan mengangkat kanker di kulit dan sedikit jaringan kulit sehat di sekitarnya.

Dokter  kemudian menggunakan mikroskop untuk mencari sel kanker yang tersisa pada kulit. Apabila masih ada, sel kanker tersebut akan diangkat hingga tidak ada lagi sel-sel kanker yang ditemukan.

  • Terapi radiasi

Apabila operasi tidak dapat mengangkat semua sel kanker, terapi radiasi dapat menjadi pilihan penanganan DFSP.

  • Terapi target

Metode terapi yang digunakan adalah obat-obatan yang dapat menyerang sel kanker. Imatinib merupakan salah satu contoh obat yang biasanya diberikan.

Imatinib digunakan pada pasien dengan kanker yang tidak dapat ditangani lewat operasi, kanker yang muncul lagi setelah pengobatan, atau sudah menyebar ke bagian tubuh lain.

Karena penyebabnya belum diketahui, pencegahan dermatofibrosarcoma protuberans juga tidak ada.

Segeralah berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami benjolan atau pertumbuhan abnormal pada kulit Anda. Pasalnya, dermatofibrosarcoma protuberans sering tampak seperti gejala dari penyakit lain.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga Anda.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait dermatofibrosarcoma protuberans?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis dermatofibrosarcoma protuberans. Dengan ini, pengobatan DFSP pun bisa diberikan secara tepat.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dermatofibrosarcoma-protuberans/cdc-20352949
Diakses pada 30 Desember 2019

NIH. https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/9569/dermatofibrosarcoma-protuberans
Diakses pada 30 Desember 2019

American Academy of Dermatology. https://www.aad.org/diseases/skin-cancer/dermatofibrosarcoma-protuberans-treatment
Diakses pada 30 Desember 2019

Artikel Terkait