Kanker

Dermatofibrosarcoma Protuberans

20 Mar 2021 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Dermatofibrosarcoma Protuberans
Dermatofibrosarcoma protuberans berupa benjolan merah, ungu, atau sewarna dengan kulit
Dermatofibrosarcoma protuberans (DFSP) adalah jenis kanker kulit yang jarang terjadi. Kanker ini paling sering dialami oleh orang berusia 20 hingga 50 tahun.DFSP bermula dari lapisan kulit bagian tengah yang disebut dermis. Pada tahap awal, kanker ini tampak seperti benjolan kecil yang padat dan bisa berwarna merah, keunguan, atau sewarna dengan kulit. DFSP juga bisa terlihat seperti bekas luka atau tanda lahir.Dermatofibrosarcoma protuberans memiliki pertumbuhan yang lambat dan jarang menyebar ke bagian tubuh selain kulit. Karena itu, penderita memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi.Namun apabila dibiarkan tanpa pengobatan, DFSP dapat tumbuh hingga ke dalam lapisan lemak, otot, dan tulang dan menjadi lebih sulit ditangani. 
Dermatofibrosarcoma Protuberans
Dokter spesialis Kulit, Onkologi
GejalaBenjolan yang terasa kenyal, berwarna cokelat, ungu, merah, atau biru, terasa sakit
Faktor risikoLuka di kulit yang parah, radioterapi, kromosom abnormal
Metode diagnosisPemeriksaan kulit, biopsi kulit, pencitraan
PengobatanOperasi, radioterapi, terapi tertarget
KomplikasiPenyebaran sel kanker, bekas luka
Kapan harus ke dokter?Mengalami benjolan atau pertumbuhan abnormal pada kulit
Gejala dermatofibrosarcoma protuberans bervariasi pada tiap penderita. Mari simak penejelasannya di bawah ini:

Gejala awal

Gejala awal DFSP biasanya berupa tumbuhnya benjolan kecil seperti jerawat pada kulit, atau permukaan benjolan kasar seperti bekas luka. Benjolan ini tidak nyeri, tapi bisa terasa kenyal atau keras saat disentuh.Pada anak-anak, gejala dermatofibrosarcoma protuberans sering menyerupai tanda lahir. Karena pertumbuhannya yang lambat, gejala awal kanker ini sering terabaikan selama beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun.

Gejala pada tahap lanjut

Jika berlanjut hingga hitungan bulan sampai tahun, benjolan dermatofibrosarcoma protuberans akan tampak lebih jelas pada permukaan kulit dengan gejala berupa:
  • Kulit di benjolan terasa nyeri
  • Kulit di benjolan yang retak dan berdarah
  • Kulit di benjolan yang terasa keras
  • Benjolan terlihat tertanam di dalam kulit
  • Kulit meregang
  • Benjolan membesar dengan diameter 0,5-25 cm
Pada pasien dewasa, benjolan biasanya berwarna merah kecokelatan hingga keunguan. Sedangkan pada pasien dengan usia lebih muda, benjolan kerap berwarna merah atau biru.Benjolan dermatofibrosarcoma protuberans dapat tumbuh di bagian tubuh manapun, namun paling sering ditemui pada dada, perut, bahu, bokong, tangan, atau kaki. Meskipun jarang, kanker kulit ini juga dapat ditemui di kulit kepala atau dalam mulut. 
Hingga saat ini, penyebab dermatofibrosarcoma protuberans masih belum diketahui. Namun para pakar menduga bahwa ada sejumlah faktor yang bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami DFSP.Faktor-faktor risiko dermatofibrosarcoma protuberans tersebut meliputi:
  • Cedera kulit yang parah, seperti bekas luka operasi atau kulit terbakar
  • Terapi radiasi atau radioterapi
  • Kromosom abnormal yang menyebabkan pertumbuhan sel tumor terus berlanjut
  
Beberapa pemeriksaan di bawah ini akan dilakukan dokter untuk memastikan diagnosis dermatofibrosarcoma protuberans:
  • Pemeriksaan fisik pada kulit

Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk melihat kelainan kulit pasien secara lebih jelas.
  • Biopsi kulit

Dokter akan melakukan biopsi kulit dengan mengambil sampel jaringan kulit untuk diperiksa di bawah mikroskop. Dengan ini, dokter bisa mengetahui ada tidaknya sel-sel kanker.
  • Pemeriksaan pencitraan

Pada beberapa kasus, dokter bisa melakukan pemeriksaan pencitraan seperti MRI. Pemeriksaan ini bertujuan mengetahui sejauh mana sel kanker menyebar, sehingga pengobatan yang sesuai bisa direncanakan. 
Beberapa cara mengobati dermatofibrosarcoma protuberans yang dapat dianjurkan oleh dokter meliputi:
  • Bedah eksisi

Pada kebanyakan kasus, dokter akan merekomendasikan prosedur operasi untuk mengangkat kanker pada kulit dan jaringan kulit sehat di sekitarnya. Prosedur ini bertujuan memastikan semua sel kanker sudah terangkat.
  • Bedah Mohs

Bedah Mohs adalah jenis operasi khusus yang hanya digunakan untuk menangani kanker kulit. Dokter akan mengangkat kanker di kulit dan sedikit jaringan kulit sehat di sekitarnya.Dokter  kemudian menggunakan mikroskop untuk mencari sel kanker yang tersisa pada kulit. Apabila masih ada, sel kanker ini akan diangkat hingga tidak ada lagi ditemukan.
  • Terapi radiasi (radioterapi)

Apabila operasi tidak dapat mengangkat seluruh sel kanker, terapi radiasi atau radioterapi dapat menjadi pilihan penanganan DFSP. Metode ini menggunakan sinar X untuk memberantas sel-sel kanker pada bagian tubuh yang mengalaminya.
  • Terapi tertarget

Metode terapi tertargen menggunakan obat-obatan yang dapat menyerang sel kanker. Imatinib merupakan salah satu contoh obat yang biasanya diberikan.Imatinib digunakan pada pasien dengan kanker yang tidak dapat ditangani lewat operasi, kanker yang muncul lagi setelah pengobatan, atau sudah menyebar ke bagian tubuh lain. 

Komplikasi dermatofibrosarcoma protuberans

Jika terus dibiarkan tanpa penanganan yang benar, dermatofibrosarcoma protuberans dapat menyebabkan komplikasi berupa penyebaran kanker ke bagian lain tubuh. Namun komplikasi ini termasuk jarang.Operasi pengangkatan benjolan dermatofibrosarcoma protuberans yang dilakukan juga bisa saja menimbulkan bekas luka pada kulit pasien. 
Karena penyebabnya belum diketahui, cara mencegah dermatofibrosarcoma protuberans juga tidak tersedia hingga saat ini. Namun Anda mungkin bisa mengurangi faktor risiko berupa luka pada kulit. Misalnya dengan berhati-hati saat beraktivitas. 
Segeralah berkonsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami benjolan atau pertumbuhan abnormal pada kulit Anda. Pasalnya, dermatofibrosarcoma protuberans sering tampak seperti gejala dari penyakit lain. 
Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga Anda.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait dermatofibrosarcoma protuberans?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya? Jika iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis dermatofibrosarcoma protuberans. Dengan ini, pengobatan DFSP pun bisa diberikan secara tepat. 
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/dermatofibrosarcoma-protuberans/cdc-20352949
Diakses pada 30 Desember 2019
NIH. https://rarediseases.info.nih.gov/diseases/9569/dermatofibrosarcoma-protuberans
Diakses pada 30 Desember 2019
American Academy of Dermatology. https://www.aad.org/diseases/skin-cancer/dermatofibrosarcoma-protuberans-treatment
Diakses pada 30 Desember 2019
NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513305/
Diakses pada 10 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email