Dermatitis Seboroik

Ditinjau dr. Widiastuti
Kulit kering dan berminyak menjadi salah satu pemicu dermatitis seboroik.
Dermatitis seboroik banyak terjadi pada daerah sekitar kulit kepala.

Pengertian Dermatitis Seboroik

Dermatitis seboroik adalah kondisi kulit umum yang menyebabkan peradangan menahun dan mengenai daerah dengan kelenjar minyak (kelenjar sebacea), seperti kulit kepala. Kondisi ini tidak menular ataupun berbahaya dan dapat menyebabkan kulit bersisik, berwarna merah dan berketombe. Dermatitis seboroik dapat mengenai area tubuh yang berminyak seperti wajah, area hidung, alis, telinga, lipatan mata dan dada.

Dermatitis seboroik dapat menghilang tanpa pengobatan. Pengobatan beberapa kali mungkin dibutuhkan sebelum gejalanya hilang dan kembali lagi nantinya. Melakukan pembersihan dengan sabun yang lembut dan sampo, dapat membantu mengurangi minyak dan penumpukan kulit mati. Dermatitis seboroik juga disebut ketombe, eczema seboroik dan proriasis seboroik. Pada bayi, kondisi ini juga diketahui sebagai cradle cap, dan menyebabkan kulit bersisik atau berkerak tebal, serta berminyak pada kulit kepala, area yang mengenakan popok ataupun pada bagian tubuh lainnya. Cradle cap timbul pada minggu pertama kelahiran dan biasanya akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa bulan dan secara permanen, antara usia 6 bulan-1 tahun. Kondisi ini biasanya tidak berbahaya.

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

  • Ketombe pada kulit kepala, rambut, alis, kumis atau jenggot
  • Terdapat area kulit berminyak, yang ditutupi sisik-sisik putih atau kekuningan yang dapat mengelupas, atau kerak pada kulit kepala, wajah, sisi samping hidung, alis, telinga, lipatan mata, dada, ketiak, daerah selangkangan atau di bawah payudara
  • Kulit kemerahan pada area yang terkena
  • Gatal pada area yang terkena dermatitis seboroik
  • Kebotakan mungkin dapat terjadi pada area yang mengalami dermatitis seboroik

Tanda dan gejala dapat menjadi lebih berat jika Anda sedang mengalami stres atau tekanan, dan cenderung untuk melebar pada cuaca dingin dan kering.

Penyebab

Penyebab dermatitis seboroik tidak diketahui secara pasti. Namun, berikut ini adalah kombinasi yang menyebabkan dermatitis seboroik.

  • Stres
  • Genetik
  • Ragi atau jamur normal yang terdapat pada kulit
  • Kondisi medis tertentu dan obat-obatan
  • Cuaca yang dingin dan kering

Dermatitis seboroik bukan berasal dari alergi atau kondisi kulit yang tidak bersih. Bayi dan orang dewasa berumur 30-60 tahun lebih berisiko terkena dermatitis seboroik. Kondisi ini lebih umum terjadi pada laki-laki dibandingkan perempuan, dan pada orang dengan kulit yang berminyak. Beberapa kondisi medis ini juga dapat meningkatkan risiko terkena dermatitis seboroik.

  • HIV (hampir 85% orang yang terinfeksi HIV, mengalami dermatitis seboroik)
  • Jerawat, rosacea, psoriasis
  • Alkoholik
  • Depresi
  • Epilepsi
  • Gangguan makan
  • Serangan jantung atau penyembuhan dari stroke
  • Penyakit parkinson
  • Kondisi lingkungan seperti polusi

Diagnosis

Dokter dapat mendiagnosis dermatitis seboroik dengan memeriksa kulit pasien. Dokter akan mengambil sel kulit (biopsi) untuk menyingkirkan kondisi kulit lain dengan gejala serupa dermatitis seboroik, yaitu:

  • Psoriasis
    Penyakit ini juga menyebabkan ketombe dan kulit kemerahan yang ditutupi dengan serpihan kulit serta sisik. Psoriasis, biasanya memiliki sisik yang lebih banyak dengan warna putih keperakan.
  • Dermatitis atopik (eczema)
    Reaksi kulit ini menyebabkan gatal, peradangan kulit di dalam lipatan siku, belakang lutut atau leher secara berulang.
  • Tinea versicolor
    Ruam ini muncul di badan tetapi biasanya tidak merah seperti dermatitis seboroik.
  • Rosacea
    Kondisi ini biasanya terjadi di wajah dan memiliki sedikit sisik.

Pengobatan

Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan dermatitis seboroik. Namun, pengobatan dapat mengangkat sisik, mencegah infeksi kulit, dan meringankan pembengkakan serta rasa gatal. Pengobatan diberikan berdasarkan usia pasien dan lokasi dermatitis seboroik. Berikut ini penanganan yang mungkin dilakukan pada dermatitis seboroik.

Cradle cap pada bayi:

Kondisi yang mengenai kulit kepala biasanya dapat menghilang dengan sendirinya tanpa pengobatan. Langkah-langkah ini bisa dilakukan apabila memang dibutuhkan.

  • Mencuci rambut dan kepala bayi setiap harinya dengan menggunakan sampo bayi
  • Menyikat sisik dengan lembut ketika sisik mulai melunak
  • Memberikan obat yang akan diresepkan dokter untuk kulit kepala bayi

Dermatitis seboroik pada bayi yang terjadi pada tempat lain:

Kondisi ini akan hilang dengan sendirinya. Jika diperlukan, maka dokter akan meresepkan obat untuk diaplikasikan pada kulit bayi yang terkena dermatitis seboroik.

Dermatitis seboroik pada remaja dan orang dewasa:

Dermatitis seboroik pada remaja dan dewasa biasanya membutuhkan pengobatan, berupa:

  • Sampo untuk ketombe
  • Obat-obatan yang diaplikasikan ke kulit dalam jangka waktu pendek
  • Barrier-repair cream

Biasanya, pengobatan akan mengombinasikan dua atau lebih metode. Obat-obatan dan perawatan kulit paling umum digunakan untuk menangani dermatitis seboroik.

Pencegahan

Temui dokter jika Anda mengalami kondisi-kondisi berikut ini.

  • Merasa tidak nyaman sehingga kekurangan tidur atau menjadi teralihkan dari rutinitas sehari-hari
  • Kondisi yang menyebabkan malu dan kecemasan
  • Mencurigai adanya kulit yang terinfeksi
  • Mencoba pengobatan sendiri tetapi tidak berhasil
Referensi

AAD. https://www.aad.org/public/diseases/scaly-skin/seborrheic-dermatitis
Diakses pada 28 November 2018

Healthline. https://www.healthline.com/health/skin/seborrheic-dermatitis
Diakses pada 28 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/seborrheic-dermatitis/symptoms-causes/syc-20352710
Diakses pada 28 November 2018

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/seborrheic-dermatitis/diagnosis-treatment/drc-20352714
Diakses pada 28 November 2018

Rosacea.org. https://www.rosacea.org/patients/seborrhea.php
Diakses pada 28 November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/seborrheic-dermatitis-medref#1
Diakses pada 28 November 2018

Back to Top