Rasa terbakar pada kulit, bisa menjadi gejala awal dermatitis herpetiformis.
Gejala awal dermatitis herpetiformis antara lain kulit yang terasa terbakar.

Dermatitis herpetiformis (DH) adalah suatu kondisi kronik yang ditandai dengan gatal parah, ruam kulit, dan kulit melepuh yang merupakan manifestasi dari enteropati, akibat intoleransi terhadap gluten (gluten-sensitive enteropathy) atau yang umumnya disebut sebagai penyakit celiac.

DH atau yang juga disebut sebagai Duhring’s disease, menyerang atau timbul kurang lebih pada 10% pasien dengan penyakit celiac. Istilah herpetiformis pada DH merujuk pada timbulnya lepuhan atau benjolan kulit yang muncul berkelompok, menyerupai lepuhan pada penyakit herpes, tetapi lepuhan tersebut tidak disebabkan oleh infeksi virus herpes.

Gejala awal yang mungkin disadari atau dirasakan oleh pasien dengan DH adalah kulit yang terasa seperti terbakar atau tersengat di beberapa lokasi. Kemudian, setelah gejala tersebut muncul, timbul benjolan kecil yang berkelompok dan terasa sangat gatal. Benjolan ini dapat memiliki karakteristik yang berbeda, seperti:

  • Lepuhan
  • Luka yang berisi cairan di dalamnya
  • Luka yang menyerupai urtikaria
  • Luka yang meninggi
  • Plak berwarna merah dan menebal yang menyerupai gejala kulit pada dermatitis, skabies, dan urtikaria papular
  • Erosi atau krusta akibat garukan pada kulit yang gatal

Pada tahap ini, manifestasi klinis kulit pada DH kerap disalahartikan sebagai eksim. Seringkali, manifestasi klinis kulit pada DH muncul pada daerah tertentu seperti:

  • Siku
  • Lutut
  • Kulit kepala
  • Bokong
  • Punggung
  • Bahu

Tidak menutup kemungkinan manifestasi kulit ini juga muncul pada badan, leher, sekitar paha, bahkan muncul pada enamel gigi. Umumnya, manifestasi kulit ini muncul pada kedua sisi dari tubuh atau memiliki distribusi yang simetris.

Lepuhan pada DH umumnya akan mengering dan menyembuh dalam waktu 1-2 minggu. Namun, lepuhan baru muncul di lokasi yang sama, sehingga lepuhan pada DH nampak sebagai lepuhan kronik yang tidak kunjung sembuh. Pada manifestasi kulit DH yang telah mulai sembuh, dapat muncul post-inflammatory hypopigmentation atau hyperpigmentation.

DH disebabkan oleh deposisi dari Imunoglobulin A (IgA) pada kulit yang memicu timbulnya reaksi imunologi, yang berakibat munculnya manifestasi lesi kulit DH. Pada kasus penyakit celiac, gluten memicu produksi dari IgA di dalam usus, yang menimbulkan reaksi lokal di dalam usus. Pada kasus DH, IgA tersebut memasuki aliran darah dan menumpuk di bawah kulit.

Sebagai dampaknya, terjadi manifestasi eksternal dari penyakit celiac, dan IgA bereaksi terhadap antigen pada kulit yaitu epidermal transglutaminase, yang memicu timbulnya gejala klinis kulit pada DH.

Selain penyakit celiac, beberapa penyakit autoimun lain dapat menyebabkan timbulnya DH seperti penyakit hipotiroid, anemia pernisiosa, diabetes tipe-1, penyakit Addison, dan alopecia areata. DH jarang ditemukan pada anak-anak. Umumnya DH timbul pertama kali pada usia sekitar 30-40 tahun.

Pria lebih rentan mengalami DH dibandingkan wanita dan orang keturunan Eropa lebih rentan mengalami DH dibandingkan dengan mereka yang berasal dari Afrika dan Asia. Diduga faktor genetik seperti human leukocyte antigen (HLA) DQ2 dan DQ8 merupakan faktor risiko timbulnya penyakit DH.

Beberapa uji diagnostik dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis DH, seperti:

  • Biopsi atau pengambilan jaringan kulit untuk menegakkan diagnosis DH. Pada DH umumnya ditemukan gambaran lepuhan subepidermal, sel peradangan netrofil dan eosinofil pada papilla dermis, dan deposisi granula dari IgA pada papila dermis.
  • Pemeriksaan status nutrisi untuk mendeteksi gangguan autoimun lain. Pada pemeriksaan status nutrisi, dilakukan tes darah untuk mengevaluasi darah lengkap, fungsi hati, fungsi kelenjar tiroid, serum kalsium, evaluasi zat besi, vitamin B12, dan folat.
  • Pemeriksaan auto-antibodi untuk mengevaluasi kondisi auto-antibodi terhadap IgA dan IgG. DH umumnya dikaitkan dengan pembentukan IgA terhadap epidermal transglutaminase.
  • Biopsi usus halus untuk mengonfirmasi keberadaan penyakit celiac
  • Uji lain seperti tes HLA-DQ2 dan HLA-DQ8.

Hingga kini belum tersedia pengobatan spesifik untuk DH. Pengobatan pada DH ditujukan untuk mengatasi gejala klinis kulit yang timbul. Beberapa obat seperti dapsone dapat mengurangi gatal dan benjolan dalam waktu 1-3 hari.

Apabila terjadi reaksi alergi atau intoleransi terhadap daposne, mak, krim topikal yang mengandung kortikosteroid, kortikosteroid oral, sulfapiridine, dan rituximab dapat diberikan untuk mengurangi gejala klinis dari DH. Apabila penyebab dari DH adalah penyakit celiac, dokter akan menyarankan Anda untuk menghindari makanan yang mengandung gluten dan iodine.

Pencegahan terhadap DH dilakukan dengan menjalani diet bebas gluten. Dengan melakukan diet bebas gluten, penderita DH bisa mendapatkan beberapa manfaat seperti:

  • Mengurangi kebutuhan penggunaan obat-obatan untuk mengontrol DH
  • Meningkatkan status nutrisi dan kepadatan tulang
  • Meringankan enteropati akibat intoleransi gluten
  • Mengurangi risiko terjadinya penyakit autoimun lain dan limfoma intestinal

Anda dapat berkunjung dengan dokter mengenai DH apabila:

  • Mengalami gejala DH yang telah disebutkan di atas
  • Memiliki riwayat intoleransi terhadap gluten
  • Ingin memastikan gejala klinis yang dialami adalah DH dan bukan penyakit lainnya
  • Ingin mengetahui cara mencegah DH, karena ada orang terdekat dengan gejala DH
  • Ingin mengetahui obat-obatan atau tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi DH

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan catatan berisi informasi tentang:

  • Gejala yang dirasakan
  • Waktu kemunculan gejala DH
  • Anggota keluarga dengan riwayat penyakit autoimun
  • Orang di sekitar dengan gejala serupa
  • Semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi
  • Pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter, termasuk kemungkinan penyakit selain DH, dengan gejala serupa

Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral, maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Sebaiknya Anda menjawab secara jelas, untuk membantu dokter mendiagnosis.

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala tersebut timbul?
  • Apakah gejala pada kulit muncul pada kedua sisi tubuh?
  • Apakah gejala pada kulit memburuk saat mengonsumsi makanan tertentu?
  • Apakah Anda memiliki riwayat penyakit autoimun?
  • Apakah ada orang di sekitar Anda yang memiliki gejala serupa?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya, dan apa saja pengobatan yang sudah dicoba?

Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang, untuk memastikan diagnosis DH.

NIH. https://www.niddk.nih.gov/health-information/digestive-diseases/dermatitis-herpetiformis/health-care-professionals
Diakses pada 4 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/skin-problems-and-treatments/what-is-dermatitis-herpetiformis#1
Diakses pada 4 Desember 2019

DermNetNZ. https://www.dermnetnz.org/topics/dermatitis-herpetiformis/ Diakses pada 4 Desember 2019

Artikel Terkait