Psikologi

Depresi Pasca-persalinan

21 Jul 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Depresi Pasca-persalinan
Depresi pasca-persalinan jika tidak ditangani dapat berlangsung selama berbulan-bulan.
Postpartum depression (PPD) atau depresi pasca-persalinan adalah salah satu jenis depresi yang dialami oleh ibu setelah melahirkan. Jenis depresi ini tidak hanya terjadi pada para ibu tetapi juga dapat terjadi pada para ayah. Gejalanya biasa baru mulai pada 4 minggu setelah melahirkan.Beberapa orang mungkin merasa bahwa depresi pasca-persalinan atau yang biasa dikenal dengan istilah depresi pasca-melahirkan serupa dengan baby blues. Padahal baby blues dan depresi pasca-persalinan merupakan dua hal yang berbeda.Baby blues ditandai dengan perubahan suasana hati, sering menangis, cemas, dan kesulitan tidur. Baby blues biasanya dimulai dalam dua hingga tiga hari pertama setelah melahirkan, dan dapat berlangsung hingga dua minggu.Jika baby blues berlangsung lebih lama dan menjadi lebih parah, maka baby blues bisa berkembang menjadi depresi postpartum atau depresi pasca-persalinan.Depresi pasca-melahirkan bukanlah cacat atau kelemahan karakter. Terkadang hal tersebut hanya komplikasi melahirkan.Jika Anda mengalami depresi pasca-melahirkan, segera konsultasi ke dokter, agar dokter bisa memberikan perawatan yang dapat membantu Anda mengurangi gejala dan membantu Anda menjalin ikatan dengan bayi. 
Depresi Pasca-persalinan
Dokter spesialisPsikolog, Jiwa
GejalaMerasa sedih tanpa alasan yang jelas, lelah tetapi tidak bisa tidur
Faktor risikoFaktor keturunan, kurang tidur, lelah
Metode diagnosisTanya jawab, pemeriksaan fisik, evaluasi psikiatri
PengobatanObat-obatan, cukup istirahat, olahraga
ObatAntidepresan
KomplikasiDepresi kronis, gangguan perkembangan bahasa pada bayi
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala depresi pasca-persalinan
Secara umum, gejala depresi pasca-persalinan pada ibu meliputi:
  • Merasa sedih atau sering menangis tanpa alasan yang jelas
  • Lelah, tetapi tidak bisa tidur
  • Tidur terlalu banyak
  • Tidak bisa berhenti makan, atau Anda tidak tertarik pada makanan sama sekali
  • Memiliki berbagai rasa sakit, nyeri, atau penyakit yang tidak dapat dijelaskan
  • Mudah tersinggung, cemas, atau marah tanpa alasan yang jelas
  • Suasana hati (mood) berubah secara tiba-tiba dan tanpa peringatan
  • Merasa di luar kendali
  • Kesulitan mengingat sesuatu
  • Tidak dapat berkonsentrasi atau membuat keputusan sederhana
  • Tidak tertarik pada hal-hal yang dulu Anda sukai
  • Anda merasa terputus dari bayi Anda dan bertanya-tanya mengapa Anda tidak merasa gembira dengan kehadiran bayi
  • Merasa tidak berharga dan bersalah tentang perasaan Anda
  • Merasa tidak bisa membuka diri kepada siapa pun karena orang lain akan menganggap Anda ibu yang buruk
  • Ingin melarikan diri dari semua orang dan segalanya
  • Memiliki pikiran mengganggu tentang menyakiti diri sendiri atau bayi Anda
 
Hingga kini, penyebab depresi pasca-persalinan belum diketahui. Namun beberapa faktor diduga bisa meningkatkan risiko seseorang untuk mengalaminya.Faktor-faktor risiko depresi pasca-persalinan tersebut meliputi:
  • Pernah mengalami depresi atau gangguan suasana hati (mood) sebelumnya
  • Faktor keturunan, seperti ada anggota keluarga kandung yang pernah mengalami depresi
  • Menderita masalah kesehatan yang serius
  • Baru mengalami stres, akibat perceraian, kematian, atau penyakit serius yang diderita orang tersayang
  • Mengalami kehamilan yang tidak diinginkan
  • Memiliki anak kembar, kembar tiga, atau kelipatan lainnya
  • Memiliki bayi yang lahir prematur atau dengan masalah kesehatan
  • Berada dalam hubungan yang kasar atau tidak sehat
  • Kurangnya dukungan emosional dari orang terdekat
  • Mengonsumsi makanan yang kurang sehat
  • Menggunakan penyalahgunaan obat atau alkohol
  • Kurang tidur dan kelelahan
 
Diagnosis depresi pasca-persalinan dilakukan dengan cara tanya jawab dan pemeriksaan tambahan. Berikut penjelasannya.

Tanya jawab

Dokter Anda biasanya akan bertanya tentang perasaan, pikiran, dan kesehatan mental Anda untuk mengetahui apakah Anda menderita baby blues pasca-persalinan jangka pendek atau depresi yang lebih parah.Anda harus sejujur mungkin dengan dokter dan jangan malu. Karena depresi pasca-persalinan sering terjadi.

Pemeriksaan tambahan

Bila perlu, dokter akan menyarankan Anda melakukan beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:
  • Skrining depresi dengan cara mengisi kuesioner
  • Tes darah untuk menentukan apakah tiroid yang kurang aktif memicu tanda dan gejala pada depresi yang Anda rasakan
 
Cara mengobati depresi pasca-persalinan umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan seberapa lama pasien sudah mengalami kondisi tersebut. Beberapa pilihan cara mengatasi depresi pasca-persalinan yang biasanya disarankan dokter, yaitu:

Perawatan di rumah

Anda juga bisa mengatasi depresi pasca-persalinan di rumah, dengan beberapa cara berikut ini:
  • Berbicara dengan keluarga dan teman-teman Anda tentang perasaan Anda dan apa yang dapat mereka lakukan untuk membantu
  • Meluangkan waktu untuk diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai
  • Beristirahat kapan pun Anda mendapat kesempatan
  • Tidur sebanyak yang Anda bisa bisa di malam hari
  • Olahraga secara teratur
  • Konsumsi makanan yang sehat

Terapi psikologis

Dokter mungkin akan menyarankan Anda melakukan terapi psikologi atau terapi perilaku kognitif (CBT).

Konsumsi obat

Dokter biasanya akan memberikan Anda obat antidepresan jika depresi Anda lebih parah atau perawatan lain tidak membantu. Selain itu, dokter juga dapat meresepkan obat yang aman dikonsumsi saat menyusui. 

Komplikasi depresi pasca-persalinan

Jika tidak ditangani dengan optimal, dapat menyebabkan komplikasi depresi pasca-persalinan:
  • Gangguan depresi kronis
  • Depresi lanjutan di masa mendatang
Selain itu, komplikasi depresi pasca-persalinan juga bisa terjadi pada bayi, yaitu kesulitan tidur dan makan, menangis berlebihan, dan keterlambatan perkembangan bahasa.  
Cara mencegah depresi pasca-persalinan yang bisa dilakukan meliputi:
  • Minta pasangan untuk mau bergantian menjaga bayi ketika sudah lahir, sehingga Anda bisa mendapatkan istirahat yang cukup
  • Pertahankan pola makan yang sehat dan cobalah berolahraga setiap hari.
  • Jangan menarik diri dari aktivitas yang Anda sukai dan cobalah untuk banyak tidur.
  • Jaga komunikasi tetap terbuka dengan orang-orang terkasih.
Bila Anda memiliki riwayat depresi, beri tahu gejalanya pada dokter. Bila perlu, dokter akan memberikan obat antidepresan selama hamil. 
Konsultasikan dengan dokter dan ahli kesehatan lainnya ketika Anda mengalami tanda-tanda depresi, merasa kesulitan untuk merawat bayi, susah menyelesaikan aktivitas sehari-hari, dan berpikiran untuk menyakiti diri maupun bayi sendiri. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait depresi pasca-persalinan?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis depresi pasca-persalinan agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Epocrates. https://online.epocrates.com/diseases/51236/Postpartum-depression/Diagnostic-Criteria
Diakses pada 11 Maret 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/depression/postpartum-depression
Diakses pada 24 Oktober 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/postpartum-depression/symptoms-causes/syc-20376617
Diakses pada 24 Oktober 2018
WebMD. https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/babyblues-postpartum#1
Diakses pada 11 Maret 2019
WebMD. https://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/understanding-postpartum-depression-basics#1
Diakses pada 11 Maret 2019
NHS. https://www.nhs.uk/mental-health/conditions/post-natal-depression/overview/
Diakses pada 21 Juli 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email