Demam kelenjar dapat ditularkan melalui ludah.
Berbeda dari flu, demam kelenjar tidak mudah menular.

Demam kelenjar (Glandular fever) atau mononukleosis infeksiosa adalah infeksi yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr (human herpesvirus 4). Kondisi ini mengakibatkan peningkatan sel darah putih yang memiliki satu nukleus (monosit). Demam kelenjar dapat ditularkan melalui ludah, sehingga juga sering disebut sebagai kissing disease.

Bila seseorang terinfeksi oleh virus Epstein-Barr, umumnya gejala klinis demam kelenjar baru akan timbul, pada empat hingga enam minggu setelah infeksi. Siapapun dapat menderita infeksi virus Epstein-Barr, namun paling sering diderita pada usia 5 dan 25 tahun. Beberapa gejala yang dapat muncul pada demam kelenjar antara lain:

  • Kelelahan
  • Nyeri tenggorokan yang sering disalahartikan sebagai infeksi bakteri di tenggorokan
  • Demam
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di daerah leher dan ketiak
  • Pembesaran tonsil atau amandel
  • Nyeri kepala
  • Ruam kulit tanpa disertai rasa gatal
  • Pembesaran dan pelunakan organ limpa
  • Nyeri hati dan ikterus atau penyakit kuning

Demam kelenjar disebabkan oleh infeksi virus Epstein-Barr. Virus ini dapat ditularkan melalui ludah, ciuman, batuk, bersin, atau bahkan penggunaan bersama alat-alat rumah tangga dari orang yang telah terinfeksi demam kelenjar. Namun perlu diingat, demam kelenjar tidak mudah menular seperti penyakit flu, meskipun virus Epstein-Barr ditemukan pada hampir 90-95% populasi di dunia. Beberapa mikroorganisme lain seperti Cytomegalovirus (CMV) dan Toxoplasma dapat juga menyebabkan demam kelenjar, dengan gejala yang hampir serupa.

Dokter mendiagnosis demam kelenjar dengan melakukan pemeriksaan terhadap riwayat kesehatan pasien, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Penggalian riwayat dan pemeriksaan fisik difokuskan terhadap gejala atau keluhan yang dirasakan, serta lamanya keluhan tersebut muncul.

Kemudian, dokter juga akan mencari kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran tonsil, pembesaran hati, dan pembesaran limpa, sebagai gejala yang dapat muncul pada demam kelenjar. Pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan jumlah sel darah putih, evaluasi morfologi sel darah putih, dan pemeriksaan antibodi terhadap virus Epstein-Barr, dapat membantu mendiagnosis demam kelenjar.

Hingga saat ini belum ada terapi spesifik untuk mengatasi demam kelenjar yang disebabkan oleh virus Epstein-Barr. Perlu diingat, antibiotik tidak efektif jika digunakan pada infeksi virus, sehingga pemakaian antibiotik umumnya tidak diperlukan, kecuali bila telah terjadi infeksi sekunder oleh bakteri. Perawatan utama bagi demam kelenjar adalah dengan beristirahat, minum yang cukup untuk mencegah dehidrasi, dan mengonsumsi makanan sehat. Sebab tanpa terapi spesifik, demam kelenjar dapat menghilang dengan sendirinya dalam 4-6 minggu.

Obat-obatan antinyeri seperti ibuprofen dan parasetamol dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri dan menurunkan demam. Perlu diingat, aspirin tidak disarankan sebagai pilihan obat antinyeri dan antipiretik pada kelompok usia anak-anak dan remaja. Nyeri tenggorokan dikurangi dengan menggunakan obat-obat kumur yang dijual secara bebas. Pada kasus tertentu, ketika pembesaran tonsil terjadi secara berlebihan dan pasien kesulitan bernapas, dokter dapat meresepkan obat yang mengandung steroid, untuk mengontrol inflamasi dan pembengkakan pada tonsil.

Hingga kini, belum tersedia vaksin yang efektif untuk mencegah demam kelenjar. Demam kelenjar umumnya ditularkan melalui saliva. Jika mengalami demam kelenjar, hindari mencium orang lain, rmaupun bertukar peralatan makan, hingga gejala demam kelenjar mereda, serta rajin untuk mencuci tangan. Dengan begitu, penularan bisa dicegah.

Sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter, apabila:

  • Mengalami gejala demam kelenjar yang telah disebutkan di atas
  • Ingin memastikan gejala klinis yang Anda alami adalah demam kelenjar dan bukan penyakit lainnya
  • Ada orang di sekitar yang memiliki gejala demam kelenjar, dan Anda ingin mengetahui cara mencegah demam kelenjar
  • Ingin mengetahui obat-obatan atau tindakan yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi demam kelenjar

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan catatan yang berisi informasi berikut ini.

  • Daftar gejala yang Anda rasakan
  • Waktu munculnya gejala demam kelenjar muncul
  • Orang-orang di sekitar dengan gejala serupa, jika ada
  • Obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi
  • Pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, termasuk mengenai kemungkinan penyakit lain selain demam kelenjar, dengan gejala serupa

Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda untuk berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral, maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini. Sebaiknya Anda memberikan jawaban jelas, agar dokter bisa mendiagnosis dengan baik.

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala tersebut timbul?
  • Apakah terdapat pembesaran kelenjar di daerah leher?
  • Apakah terdapat pembesaran organ di perut?
  • Apakah Anda bertukar alat makan dengan orang yang memiliki gejala serupa?
  • Apakah ada orang di sekitar aAda yang memiliki gejala serupa akhir-akhir ini?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya, dan apa saja pengobatan yang sudah dicoba?

Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis demam kelenjar.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/167390.php
Diakses pada 20 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mononucleosis/symptoms-causes/syc-20350328
Diakses pada 20 November 2019

MedicineNet. https://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=4427
Diakses pada 20 November 2019

WebMD. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/understanding-mononucleosis-causes#1
Diakses pada 21 November 2019

Artikel Terkait