Delirium merupakan gangguan kemampuan mental yang ditandai dengan kebingungan dan menurunnya kesadaran
Gejala derilium diantaranya adalah sulit berkonsentrasi dan tidak sadar sedang berada di mana.

Delirium merupakan gangguan kemampuan mental yang ditandai dengan kebingungan dan menurunnya kesadaran (awareness) akan lingkungan sekitar yang dapat menyebabkan gangguan pada emosi. Gangguan ini biasanya bermula secara tiba-tiba dan cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari. Gejala-gejala dari delirium biasanya makin parah saat malam hari karena lingkungan sekitar penderita terlihat lebih kurang familiar. Terkadang sulit untuk mendiagnosis antara delirium dan dementia. Oleh karenanya, informasi-informasi dari orang di sekitar penderita sangat penting.

Berdasarkan dari penyebab, keparahan, dan karakteristiknya, delerium terbagi menjadi tiga, yaitu:

  • Delirium hipoaktif (hypoactive delirium), penderita akan cenderung tidur lebih banyak, tidak bisa berkonsentrasi, tidak dapat mengatur tugas-tugas sehari-harinya. Penderita dapat melewatkan waktu makan dan pertemuan-pertemuan dengan orang lain. Jenis ini adalah yang paling umum ditemui. 

  • Delirium hiperaktif (hyperactive delirium), penderita menjadi sangat penuh waspada dan tidak bisa diajak bekerja sama. 

  • Delirium tremens, kondidi delirium yang terjadi saat individu berusaha berhenti minum alkohol setelah sudah meminum alkohol dalam jumlah yang banyak selama bertahun-tahun.  

Beberapa individu memiliki kombinasi dari delirium hiperaktif dan delirium hipoaktif yang silih berganti.

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), terdapat beberapa kriteria diagnosis untuk delirium, yaitu:

  • Perubahan di kognisi (contoh, kurangnya memori, kekacauan dalam pemikiran (disorientasi), gangguan berbahasa, dan gangguan dalam penglihatan) yang tidak disebabkan karena demensia.
  • Adanya gangguan di atensi (contoh, berkurangnya kemampuan untuk mengarahkan, memusatkan, mempertahankan, dan mengganti perhatian) dan kesadaran. 
  • Adanya bukti dari sejarah hidup, pemeriksaan fisik, atau penemuan-penemuan di laboratorium yang memperlihatkan bahwa gangguan disebabkan karena konsekuensi langsung secara fisiologis dari kondisi medis secara umum, keracunan zat-zat, penggunaan obat-obatan, atau lebih dari satu penyebab. 
  • Gangguan berkembang dalam periode waktu yang singkat (biasanya beberapa jam atau hari) dan cenderung meningkat saat berlangsungnya hari-hari.

Beberapa gejala-gejala delirium yang dapat terlihat adalah:

  • Mudah terdistraksi oleh hal-hal lain.
  • Sulit berkonsentrasi pada satu topik atau saat akan berganti topik.
  • Menarik diri, tidak meresponi atau hanya merespon sedikit pada lingkungan sekitar.
  • Tidak dapat berbicara atau berpikir dengan jelas.
  • Kesulitan menulis dan membaca.
  • Mungkin dapat mengalami halusinasi.
  • Tidak tahu sedang ada di mana, atau tidak tahu siapa dirinya (disorientasi)
  • Lebih terpaku pada satu ide daripada meresponi pertanyaan atau percakapan.
  • Bergerak lebih cepat ataupun lebih lambat dari biasanya.
  • Sulit untuk berbicara atau mengingat kata-kata.
  • Kesulitan untuk mengerti suatu percakapan.
  • Cara berbicara yang tidak teratur atau tidak masuk akal.
  • Mengalami perubahan suasana hati dan perilaku yang cepat dan tidak menentu, seperti depresi, gelisah, takut, cemas, dan sebagainya.
  • Sensitif dan mudah marah.
  • Menjadi apatis.
  • Kehilangan kendali otot.
  • Penurunan memori jangka pendek.
  • Pola tidur yang buruk atau merasa ngantuk.

Terdapat beberapa penyebab yang dapat menyebabkan delirium, antara lain:

  • Terganggunya pengiriman dan penerimaan sinyal di otak.
  • Malnutrisi atau dehidrasi.
  • Ketidakseimbangan metabolik, seperti kadar sodium atau kalsium yang rendah.
  • Penyakit kronis atau terminal.
  • Obat-obatan tertentu atau keracunan obat.
  • Kondisi medis seperti serangan jantung, cedera akibat jatuh, stroke, dan sebagainya.
  • Rasa sakit.
  • Tekanan emosi yang berat atau kurang tidur. 
  • Paparan racun.
  • Operasi atau prosedur medis lainnya yang melibatkan obat bius. 
  • Efek karena tidak lagi mengonsumsi alkohol atau narkotika. 
  • Infeksi akut, seperti pneumonia dan sebagainya.

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya dapat mendiagnosis delirium berdasarkan beberapa metode, seperti:

  • Menggunakan kriteria diagnosis dari DSM-5
  • Pemeriksaan status mental dengan menilai kesadaran, atensi, dan cara berpikir individu. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui percakapan biasa, tes-tes yang berkisar pada kondisi mental, kebingungan, persepsi, dan memori, perubahan perilaku pada satu harian (terutama saat dirawat inap), serta pengambilan informasi dari anggota keluarga dan pengasuh individu. 
  • Melakukan berbagai tes medis seperti tes darah, urin, rontgen dada, tes yang memperlihatkan gambaran otak, dan lainnya yang berfungsi untuk menentukan penyebab delirium.
  • Melakukan pemeriksaan fisik dan neurologis untuk melihat adanya kondisi medis tertentu yang menyebabkan delirium. Tes neurologis dapat berupa pengecekan penglihatan, keseimbangan, koordinasi, dan gerak refleks. 

Terapi delirium disesuaikan denga penyebabnya. Umumnya, delirium dapat ditangani dengan dua cara, yaitu dengan:

  • Medikasi, dokter dapat memberikan beberapa obat berupa:
    • obat penenang, untuk meringankan efek dari tidak mengonsumsi alkohol lagi.
    • antidepresan, untuk mengatasi depresi
    • antibiotik, jika delirium disebabkan oleh infeksi bakteri.
    • obat thiamine, mengatasi kebingungan yang dialami. 
    • peghalang dopamin, membantu keracunan obat-obatan tertentu.

  • Konseling, membantu untuk mengatur pemikiran-pemikiran yang dialami dan membantu penderita untuk tidak mengonsumsi alkohol lagi jika penderita mengalami delirium karena penyalahgunaan alkohol atau narkotika.

Jika Anda mengalami delirium, beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Menerapkan teknik-teknik menangani stres dan relaksasi, seperti yoga, meditasi, dan sebagainya.
  • Menjaga ketenangan dan keteraturan.
  • Menerapkan pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup, dan olahraga yang teratur.
  • Berbicara dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dialami atau mengikuti komunitas-komunitas dengan orang-orang yang pernah mengalami masalah yang serupa agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya. 

Jika orang-orang terdekat Anda mengalami delirium, beberapa hal yang dapat dilakukan:

  • Membantu mengatur medikasi penderita.
  • Membantu penderita untuk tetap tenang.

Pencegahan delirium adalah dengan mencegah faktor-faktor yang dapat memicu delirium, seperti pola tidur yang tidak teratur, mengatasi penyakit kronis dengan cepat sebelum mengarah ke komplikasi, serta menyediakan lingkungan yang tidak memicu munculnya delirium (seperti pencahayaan yang kurang, suara-suara yang ribut, dan sebagainya). 

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan dan merasa terganggu aktivitas sehari-harinya, maka segeralah berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.   

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, sebaiknya Anda mempersiapkan terlebih dahulu beberapa daftar seperti gejala yang dialami dan kapan Anda mengalaminya, informasi pribadi, semua obat yang dikonsumsi beserta dosisnya, kontak informasi mengenai orang-orang yang dapat memberikan Anda penanganan, serta pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda tanyakan kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.

Ketika berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, biasanya dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan menanyakan beberapa pertanyaan, seperti:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan? Kapan pertama kali Anda merasakannya?
  • Apakah ada gejala-gejala fisik yang Anda rasakan, seperti sakit di dada atau perut?
  • Obat apa saja yang sudah dikonsumsi?
  • Seberapa berpengaruh gejala tersebut terhadap kehidupan Anda sehari-hari?
  • Apakah akhir-akhir ini Anda mengalami depresi, sangat sedih, atau mencoba menarik diri?
  • Apakah ada cedera kepala atau trauma yang dialami baru-baru ini?
  • Bagaimana performa Anda saat bekerja sebelum gejala-gejala yang Anda alami muncul?
  • Apakah Anda pernah didiagnosis dengan kondisi medis tertentu?
  • Apakah Anda merasa tidak aman akhir-akhir ini?
  • Apakah Anda pernah mendengar atau melihat hal-hal yang tidak didengar atau dilihat orang lain?
  • Apakah Anda mengalami demam, batuk-batuk, infeksi saluruan kemih, atau tanda-tanda akan sakit baru-baru ini? 
  • Apakah Anda mengalami paranoia?
  • Apakah Anda mengonsumsi alkohol atau narkotika?
  • Bagaimana kemampuan mengingat dan berpikir Anda sebelum gejala-gejala yang dialami muncul?
  • Apa gejala-gejala yang Anda alami dan kapan gejala-gejala tersebut muncul?
  • Apakah Anda dapat mengerjakan aktivitas sehari-hari Anda secara mandiri?

Healthline. 
https://www.healthline.com/symptom/delirium
Diakses pada 24 Oktober 2018.

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/delirium/symptoms-ca
uses/syc-20371386
Diakses pada 24 Oktober 2018.

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/288890-overview
Diakes pada 18 Maret 2019.

Artikel Terkait