Perut

Cystitis

14 Mar 2021 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Cystitis
Cystitis dapat sembuh dengan sendirinya, namun terkadang dapat menyebabkan infeksi ginjal.
Cystitis adalah peradangan kandung kemih yang seringkali disebabkan oleh infeksi bakteri. Peradangan tersebut dapat mengakibatkan kandung kemih teriritasi, memerah, dan membengkak.Sistitis lebih sering terjadi pada wanita karena adanya uretra (saluran yang mengalirkan urin dari kandung kemih) yang lebih pendek dibanding pria, sehingga jarak bakteri untuk menginfeksi menjadi lebih pendek pula.Pada beberapa kasus, penyakit ini dapat sembuh dengan sendirinya. Namun terkadang dapat menyebabkan infeksi yang menyebar hingga ke ginjal, sehingga perlu pertolongan medis jika gejala tidak membaik.
Cystitis
Dokter spesialis Urologi, Penyakit Dalam
GejalaNyeri saat buang air kecil, sering buang air kecil, urine berwarna keruh
Faktor risikoAktif secara seksual, sedang hamil, menggunakan kontrasepsi diafragma
Metode diagnosisTes urine, sistoskopi, pemeriksaan radiologi
PengobatanObat-obatan, pengobatan rumahan
ObatParacetamol, ibuprofen, antibiotik
KomplikasiInfeksi ginjal, darah dalam urine
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala cystitis yang disertai darah dalam urine, demam, tidak membaik lebih dari 3 hari
Terdapat beberapa gejala dari penyakit cystitis pada orang dewasa dan anak-anak, seperti berikut ini.

Pada orang dewasa

  • Nyeri, sensasi terbakar, perih saat buang air kecil
  • Darah dalam air seni
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Kram pada perut dan punggung
  • Urin keruh atau berbau tajam
  • Sering buang air kecil
  • Terasa tidak tuntas buang air kecil
  • Sensasi tekanan pada kandung kemih
Namun, jika sudah menyebar pada ginjal, maka gejala yang dapat terjadi berupa demam, mual, muntah, dan sakit pada punggung.

Pada anak-anak

Gejala sistitis yang mungkin terjadi pada anak-anak adalah:
  • Demam tinggi
  • Menangis saat buang air kecil
  • Lemah dan kelelahan
  • Rewel
  • Penurunan nafsu makan
  • Muntah-muntah
Anak-anak dengan sistitis terkadang juga dapat mengalami gejala yang biasanya ditemukan pada orang dewasa, seperti nyeri saat buang air kecil, buang air kecil lebih sering dari biasanya dan nyeri pada perut.
Cystitis umumnya terjadi ketika bakteri di luar tubuh memasuki saluran kemih melalui uretra dan mulai berkembang biak. Cystitis yang disebabkan bakteri merupakan jenis infeksi saluran kemih yang paling umum. Sebagian besar kasus sistitis disebabkan oleh jenis bakteri Escherichia coli (E. coli).Beberapa kasus sistitis juga dapat dipicu oleh penggunaan obat-obatan tertentu, terutama obat kemoterapi siklofosfamid dan ifosfamid.

Faktor risiko:

Beberapa faktor berikut ini dapat meningkatkan risiko terjadinya cystitis.
  • Penggunaan tampon. Saat memasukkan tampon ke dalam vagina terdapat sedikit risiko bakteri masuk melalui uretra.
  • Memasukkan, mengganti, atau menggunakan kateter urine dalam waktu lama. Terdapat kemungkinan kateter membawa bakteri di sepanjang saluran kemih.
  • Menggunakan diafragma sebagai kontrasepsi. Kasus cystitis lebih banyak dilaporkan terjadi pada wanita yang menggunakan diafragma dengan spermisida.
  • Kandung kemih penuh. Kandung kemih yang tidak dikosongkan sepenuhnya, maka akan menciptakan lingkungan bagi bakteri untuk berkembang biak. Hal ini cukup umum di antara wanita hamil atau pria yang dengan pembesaran prostat.
  • Aktif secara seksual. Wanita yang aktif secara seksual memiliki risiko lebih tinggi akan kemungkinan terkena infeksi bakteri melalui uretra.
  • Honeymoon cystitis. Istilah ini diberikan pada kasus sistitis karena pasien menjalani aktivitas seksual yang sering dan terlalu bersemangat.
  • Penyumbatan di bagian sistem kemih yang menghalangi aliran urine.
  • Masalah kandung kemih atau ginjal
  • Kadar estrogen menurun, contohnya karena menopause. Selama menopause, kadar estrogen akan turun, dan lapisan uretra wanita menjadi lebih tipis. Semakin tipis lapisannya, semakin tinggi kemungkinan terjadi infeksi dan kerusakan jaringan.
  • Jenis kelamin. Bukaan uretra wanita lebih dekat ke anus daripada lubang uretra pria. Jadi, bakteri dari usus akan lebih mudah memasuki uretra.
  • Usia, berusia kurang dari 1 tahun atau di atas 75 tahun.
  • Pengurangan cairan pelumas. Selama menopause, wanita menghasilkan lebih sedikit lendir di area vagina. Cairan ini biasanya berperan sebagai lapisan pelindung terhadap bakteri.
  • Radioterapi. Kerusakan kandung kemih dapat menyebabkan sistitis karena pengobatan dengan radioterapi.
  • Kebiasaan menyeka organ kewanitaan dari belakang ke depan setelah buang air kecil.
  • Kondisi medis tertentu, seperti diabetes atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
Baca juga: 8 Penyebab Kencing Sakit: Belum Tentu Infeksi Saluran Kemih!
Penyakit cystitis dapat didiagnosis melalui beberapa cara, yaitu dengan:
  • Pemeriksaan sampel urine untuk mendeteksi bakteri, darah, atau nanah.
  • Sistoskopi untuk memeriksa kondisi kandung kemih dengan teropong tipis, sekaligus mengambil sampel biopsi.
  • Pemeriksaan radiologi dengan menggunakan sinar X-ray atau USG untuk menyingkirkan penyebab lain dari sistitis, masalah struktural, atau tumor.
Baca jawaban dokter: anyang-anyangan setelah lepas KB, apakah infeksi saluran kemih? 
Terdapat beberapa cara untuk perawatan maupun pengobatan untuk cystitis, seperti:

1. Pengobatan mandiri

Umumnya, cystitis dapat sembuh dengan sendirinya, terutama pada pasien yang baru pertama kali mengalaminya. Namun, beberapa langkah berikut ini dapat dilakukan untuk mempercepat proses penyembuhan.
  • Cuci bersih dengan lembut area sekitar kelamin dengan sabun khusus.
  • Jangan menahan buang air kecil.
  • Hindari hubungan seks selama masih terdapat peradangan.
  • Minum banyak air agar tetap terhidrasi.
  • Konsumsi buah cranberry untuk mengurangi keasaman urine.

2. Obat-obatan

  • Antibiotik
Jika cystitis disebabkan infeksi saluran kemih karena bakteri, maka dokter akan meresepkan antibiotik yang dapat menghentikan perkembangan bakteri tersebut. Jenis antibiotic itu antara lain nitrofurantoin, trimethoprim-sulfamethoxazole, amoxicillin, cephalosporins, ciprofloxacin, and levofloxacin.
  • Obat antinyeri
Untuk meredakan gejala nyeri yang muncul karena sistitis, pasien dapat mengonsumsi obat antinyeri seperti parasetamol dan ibuprofen.

3. Operasi dan tindakan medis lainnya

Pada kasus cystitis yang lebih parah atau terjadi secara berulang, operasi dapat dilakukan. Operasi biasanya ditujukan untuk memperbaiki masalah struktur kandung kemih. Tindakan medis lainnya seperti distensi kandung kemih, yang dilakukan dokter untuk meregangkan kandung kemih dengan air atau gas, juga berpotensi meredakan gejala yang dirasakan.Baca juga: Panduan Menggunakan Antibiotik Saluran Kemih untuk Mengobati ISK

Komplikasi:

Apabila tidak ditangani segera dengan pengobatan yang tepat, sistitis dapat menimbulkan komplikasi berupa:
  • Infeksi ginjal
  • Tanpa pengobatan, infeksi kandung kemih dapat menyebabkan infeksi ginjal, disebut sebagai pielonefritis. Infeksi ginjal ini berisiko mengakibatkan kerusakan ginjal secara permanen
  • Darah dalam urine
  • Sistitis dapat memunculkan sel darah dalam urine yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop (hematuria mikroskopis). Sementara itu, jenis hematuria yang dapat dilihat oleh mata, biasanya disebabkan oleh sistitis akibat radioterapi.
Beberapa langkah berikut ini dapat dicoba untuk mencegah terjadinya sistitis:
  • Gunakan sabun atau produk lain yang digunakan di area alat kelamin tanpa zat pewangi tambahan
  • Segera buang air kecil hingga tuntas, jangan menahannya.
  • Tetap terhidrasi dengan baik, karena cairan yang cukup dalam tubuh dapat membantu menghentikan bakteri berkembang biak di kandung kemih.
  • Sehabis buang air kecil atau besar, bersihkan area kelamin dari arah depan ke belakang (pantat).
  • Kosongkan kandung kemih sesegera mungkin setelah berhubungan seks.
  • Hindari penggunaan alat kontrasepsi diafragma.
  • Kenakan pakaian dalam berbahan katun, bukan bahan sintetis, seperti nilon.
  • Hindari pemakaian celana jeans dan celana ketat.
Berkonsultasilah dengan dokter jika Anda mengalami beberapa hal, seperti:
  • Gejala tidak mulai membaik dalam 3 hari
  • Gejala berat termasuk terdapat darah dalam urine, demam, atau rasa sakit
  • Sedang hamil dan memiliki gejala sistitis
  • Tidak begitu yakin akan gejala sistitis yang dialami
  • Sering terkena sistitis
Selain itu, konsultasi dengan dokter juga perlu dilakukan bila Si Kecil mengalami gejala sistitis. Begitu pula dengan pria yang merasakan gejala tersebut.
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter, seperti:
    • Apa penyebab dari gejala yang saya rasakan?
    • Apa perawatan dan pengobatan yang cocok dengan gejala yang saya alami?
    • Apakah gejala saya berisiko mengalami komplikasi?
    • Apakah saya perlu tes lain untuk meyakinkan diagnosis?
    • Langkah apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko atau kekambuhan?
    • Haruskah saya menemui dokter spesialis?
    • Jika perawatan pertama tidak berhasil, apa yang akan direkomendasikan selanjutnya?
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan, seperti:
  • Gejala apa yang dialami?
  • Kapan pertama kali Anda mengalami gejala tersebut?
  • Apakah Anda menggunakan kontrasepsi? Apa jenisnya?
  • Apakah Anda sedang hamil?
  • Seberapa parah ketidaknyamanan yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda melakukan hubungan seksual secara teratur?
  • Apakah Anda pernah mengalami infeksi kandung kemih?
  • Seberapa sering Anda buang air kecil?
  • Apa saja obat yang Anda konsumsi?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis cystitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/cystitis#1
diakses pada 1 November 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/cystitis/symptoms-causes/syc-20371306
diakses pada 7 Desember 2020
Medicalnewstoday. https://www.medicalnewstoday.com/articles/152997#prevention
diakses pada 7 Desember 2020
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/cystitis/
diakses pada 7 Desember 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email