Kulit & Kelamin

Cutaneous Larva Migrans

Diterbitkan: 14 Mar 2019 | Lenny TanDitinjau oleh dr. Reni Utari
image Cutaneous Larva Migrans
CLM dapat menyerang kaki manusia ketika kontak dengan tanah lembab yang mengandung larva.
Cutaneous larva migrans atau CLM adalah penyakit kulit (dermatosis) yang paling sering ditemukan pada daerah tropis maupun daerah sub-tropis. Penyakit ini merupakan penyakit endemik yang sering ditemukan di daerah Asia Tenggara, Amerika Tengah, Amerika Selatan, Karibia, serta Afrika. Cutaneous larva migrans disebabkan oleh infeksi parasit dengan cara masuknya larva cacing tambang yang berada pada daerah lembab ke dalam kulit manusia. Penyakit ini dapat timbul akibat adanya kontak langsung dari tanah lembab yang telah terkontaminasi larva cacing tambang dengan kulit manusia melalui berbagai cara; misalnya dengan berjemur (sunbathing) maupun berjalan di atas tanah dengan kaki telanjang.
Cutaneous Larva Migrans
Dokter spesialis Kulit
Kondisi lingkungan yang lembab menjadi tempat yang sangat kondusif untuk menetaskan larva cacing tambang dan menjadi penyebab terjadinya cutaneous larva migrans. Oleh karena itu, orang-orang yang berkontak dengan tanah yang lembab dan hangat yang terkontaminasi dengan kotoran hewan sangat berisiko terkena penyakit ini. Hal tersebut terjadi karena cacing tambang yang menjadi penyebab cutaneous larva migrans biasa ditemukan pada kotoran hewan.Apabila seseorang terkena penyakit ini, gejala berupa gatal-gatal yang cukup intens pada area tubuh tertentu dapat segera timbul setelah larva cacing masuk ke dalam kulit. Pada area kulit yang terkena cutaneous larva migrans juga akan terlihat bercak berwarna merah yang dapat dijadikan tanda sebagai jalan masuknya larva pada kulit. Selanjutnya, sensasi kesemutan atau rasa seperti tusukan akan mulai muncul dalam jangka waktu 30 menit setelah larva menembus kulit. Larva tersebut kemudian dapat berdiam selama berminggu-minggu maupun berbulan-bulan dalam kulit, ataupun dapat langsung membentuk pola pada kulit sebesar 2-3 mm.Keadaan tersebut kemudian akan diiringi dengan gejala-gejala lain seperti munculnya kemerahan, benjolan yang bengkak, benjolan yang berisi cairan (blister), atau bahkan munculnya pola berbentuk saluran yang memanjang (snake-like tract). Pola-pola tersebut akan berkembang beberapa millimeter atau sentimeter setiap harinya. Semakin banyak larva yang menginfeksi kulit, maka pola tersebut semakin meluas dan berbentuk tidak beraturan. Dengan keadaan kulit seperti tersebut diatas dan adanya rasa gatal, penderita cutaneous larva migrans seringkali sering menggaruk kulitnya dan dapat menimbulkan luka sehingga dapat berpotensi muncul infeksi-infeksi lain pada kulit.Kondisi-kondisi tersebut biasanya menyerang daerah ekstremitas bawah; misalnya kaki, perut, maupun bokong. Akan tetapi, area lain pada tubuh manusia juga dapat terkena penyakit ini. Selain itu, cutaneous larva migrans juga bukan merupakan suatu penyakit yang menular.
Cutaneous larva migrans umumnya disebabkan oleh Ancylostoma sp, Uncinaria stenocephala, serta Bunostomum phlebotomum yang merupakan jenis cacing tambang yang biasanya berada pada saluran pencernaan anjing maupun kucing. Telur dari cacing tambang tersebut akan keluar bersama dengan kotoran (feses) anjing maupun kucing serta dapat berkembang menjadi larva apabila terdapat di area tanah atau pasir yang hangat dan lembab. Jika kulit manusia menyentuh tanah tersebut, sebagai contoh: seseorang yang berjalan dengan kaki telanjang ataupun sedang berjemur di bawah sinar matahari, larva cacing tambang tersebut akan dapat masuk ke dalam kulit. Kondisi ini hanya terbatas pada lapisan luar kulit manusia, karena larva tidak dapat menembus untuk menyerang lapisan kulit yang lebih dalam
Untuk membantu memastikan diagnosis cutaneous larva migrans (CLM), metode pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah dengan pemeriksaan klinis melalui gejala-gejala yang timbul. Selain itu, terdapat beberapa metode pemeriksaan penunjang juga dapat membantu dalam memastikan diagnosis penyakit cutaneous larva migrans, antara lain sebagai berikut:
  • Confocal scanning laser microscopy merupakan metode pemeriksaan yang dapat mengidentifikasi jumlah larva yang terdapat pada kulit (epidermis).
  • Punch biopsy sebesar 4 mm di atas lokasi penyakit cutaneous larva migrans pada kulit juga dapat sekaligus membantu pengobatan cutaneous larva migrans dengan jalan pengambilan jaringan yang telah terinfeksi cacing tambang.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa dermoscopy juga dapat dilakukan dalam membantu menegakkan diagnosis cutaneous larva migrans
Cutaneous larva migrans merupakan jenis self limiting disease yaitu penyakit yang dapat sembuh atau hilang dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan. Jangka waktu yang dibutuhkan sampai penyakit ini dapat benar-benar hilang tergantung pada jenis larva yang menginfeksi ke dalam kulit. Biasanya, pada sebagian besar kasus, cutaneous larva migrans akan sembuh tanpa pengobatan dalam jangka waktu 4-8 minggu. Akan tetapi, ada juga kasus cutaneous larva migrans yang sembuh setelah beberapa bulan.Meskipun cutaneous larva migrans tergolong dalam penyakit yang dapat sembuh tanpa pengobatan, gejala-gejala yang menyertai penyakit tersebut, misalnya rasa gatal, tentu menyebabkan rasa tidak nyaman pada tubuh jika dibiarkan. Oleh karena itu, terdapat beberapa metode pengobatan untuk mempercepat terjadinya penyembuhan pada penyakit cutaneous larva migrans, antara lain sebagai berikut:
  • Pengobatan topikal (kulit), Pengobatan secara topikal adalah sebuah pengobatan yang hanya dilakukan pada area yang terkena penyakit saja. Dalam kasus ini, pengobatan topikal cutaneous larva migrans dapat dilakukan dengan pengolesan thiabendazole.
  • Konsumsi obat-obatan, Selain itu, juga terdapat beberapa obat-obatan yang dapat dikonsumsi untuk membantu menyembuhkan cutaneous larva migrans seperti obat-obatan; ivermectin, albendazole, dan mebendazole.
  • Pengobatan tambahan, Beberapa obat-obatan tambahan juga dapat membantu dalam menyembuhkan cutaneous larva migrans; seperti penggunaan antibiotik apabila terdapat infeksi bakteri maupun penggunaan antihistamin (anti-alergi) dan kortikosteroid untuk membantu mengatasi rasa gatal.
Terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan agar tidak terkena cutaneous larva migrans, antara lain:
  • Gunakanlah alas kaki apabila berjalan pada area yang berpasir.
  • Jangan berbaring pada area pasir yang kering. Lebih baik gunakan kursi atau matras saat Anda ingin berjemur di bawah sinar matahari.
Apabila Anda mulai merasakan gejala-gejala yang mengarah pada penyakit cutaneous larva migrans, sebaiknya segeralah untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter yang tepat dalam menangani masalah ini adalah dokter spesialis kulit, yaitu dokter yang berfokus dalam menangani masalah atau penyakit yang terjadi pada daerah kulit. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah munculnya infeksi-infeksi lain pada kulit, mengingat salah satu gejala cutaneous larva migrans adalah rasa gatal yang tentu akan memicu rasa tidak nyaman, sehingga Anda akan sering menggaruk kulit dan berpotensi menimbulkan luka baru yang dapat menjadi jalan masuk bakteri ke dalam tubuh.
Emedicine. https://emedicine.medscape.com/article/1108784-overview
Diakses pada 27 Januari 2019
Msdmanuals. https://www.msdmanuals.com/home/skin-disorders/parasitic-skin-infections/cutaneous-larva-migrans
Diakses pada 27 Januari 2019
Mdedge. https://www.mdedge.com/dermatology/article/97781/contact-dermatitis/whats-eating-you-cutaneous-larva-migrans
Diakses pada 27 Januari 2019
Dermcoll. https://www.dermcoll.edu.au/atoz/cutaneous-larva-migrans/
Diakses pada 27 Januari 2019
Dermnetnz. https://www.dermnetnz.org/topics/cutaneous-larva-migrans/
Diakses pada 27 Januari 2019
News-medical. https://www.news-medical.net/health/Cutaneous-Larva-Migrans-Diagnosis-and-Management.aspx
Diakses pada 27 Januari 2019
aocd. https://www.aocd.org/page/CutaneousLarvaMigr 
Diakses pada 27 Januari 2019
Uclh.nhs. https://www.uclh.nhs.uk/PandV/PIL/Patient%20information%20leaflets/Cutaneous%20Larva%20Migrans.pdf 
Diakses pada 27 Januari 2019
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Seru Main di Taman? Waspada Cacingan pada Anak!

Menyuruh anak untuk menggunakan alas kaki saat main bertujuan untuk mencegah masuknya larva cacing. Beberapa gejala awal cacingan pada anak, antara lain rasa gatal di telapak kaki dan kehilangan nafsu makan.
11 Jul 2019|Azelia Trifiana
Baca selengkapnya
Salah satu gejala awal cacingan pada anak adalah gatal di telapak kaki

Ciri-Ciri Orang Cacingan dan Gejala Penyakit Cacingan Lainnya Pada Orang Dewasa

Ciri-ciri orang cacingan bukan hanya badan yang kurus. Gejala cacingan pada orang dewasa bisa bervariasi. Ciri-ciri cacingan paling khas adalah...Baca selengkapnya
Ciri-ciri orang cacingan dan gejala cacingan pada orang dewasa

Pengertian Penyakit Endemik dan Jenis yang Masih Ada di Indonesia

Endemik adalah suatu keadaan yang muncul ketika penyebaran penyakit hanya terjadi pada satu area tertentu dalam jangka waktu lama dan konstan. Di Indonesia, masih ada beberapa penyakit endemik yang bertahan di antaranya DBD, malaria, dan kaki gajah.
14 Apr 2020|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
Penyakit endemik di Indonesia antara lain DBD, malaria, dan kaki gajah