Croup adalah penyakit infeksi saluran pernapasan umumnya menyerang anak-anak yang berusia enam bulan sampai 12 tahun. Namun anak-anak usia dua tahun paling sering mengalaminya.

Dalam dunia medis, croup juga disebut laryngotracheitis atau laryngotracheobronchitis. Sementara orang awam mungkin mengenalnya dengan sebutan barking cough atau batuk menggonggong. Pasalnya, gejala croup adalah batuk yang keras dan terdengar seperti gonggongan anjing laut. 

Croup akan menyerang trakea, laring dan bronkus. Ketiganya adalah saluran pernapasan yang berada di antara hidung dan paru-paru.

Infeksi pada saluran ini akan membuat saluran-saluran tersebut menjadi membengkak. Akibatnya, penderita mangalami kesulitan bernapas.

Gejala croup dimulai dengan demam rendah di bawah 38,5 derajat Celcius. Demam umumnya akan berlangsung selama 1-3 hari. Setelah itu, penderita akan mengalami kondisi-kondisi berikut:

  • Penderita anak-anak akan menjadi rewel.
  • Batuk yang keras dan terdengar seperti gonggongan anjing laut.
  • Bernapas dengan cepat.
  • Cekungan yang hilang timbul di dada ketika penderita bernapas.
  • Terdengar bunyi ‘ngik’ saat anak bernapas (mengi).
  • Suara serak.
  • Kulit yang tampak pucat atau muncul warna kulit kebiruan di sekitar mulut. Kondisi ini menandakan kekurangan oksigen pada penderita dan menjadi gejala croup tingkat berat.

Gejala croup akan semakin parah pada malam hari. Penyakit ini umumnya berlangsung selama satu minggu.

Penyebab croup adalah virus yang umumnya memicu pilek atau flu, khususnya jenis virus human parainfluenza virus tipe 1. Virus ini menyebar melalui titik-titik air di udara ketika penderita bersin atau batuk.

Virus tersebut kemudian masuk melalui hidung dan turun ke saluran pernapasan, yaitu batang tenggorokan (trakea), laring, dan bronkus. Selanjutnya, ketiga saluran pernapasan ini akan membengkak sehingga penderita kesulitan bernapas dan batuk-batuk.

Aliran udara yang melewati saluran sempit akibat pembengkakan croup akan menimbulkan suara khas saat penderita bernapas. Kondisi ini disebut mengi.

Selain virus, penyebab croup juga bisa akibat infeksi bakteri. Namun hal ini sangat jarang terjadi.

Pada pemeriksaan awal, dokter akan menanyakan semua keluhan yang dialami oleh pasien. Dokter kemudian melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik untuk menegakkan diagnosis.

Jenis-jenis pemeriksaan fisik yang akan dilakukan meliputi:

  • Mengukur suhu tubuh penderita.
  • Menghitung laju pernapasan penderita untuk mendeteksi apakah penderita bernapas lebih cepat dari normal atau tidak.
  • Menggunakan stetoskop untuk mendengar apakah bunyi napas penderita normal atau tidak.

Jika mencurigai adanya croup dan dokter harus memastikan diagnosis, dokter akan mengajukan pemeriksaan penunjang berupa rontgen atau X-ray.

X-ray pada penderita Croup akan menunjukkan penyempitan pada laring, tepatnya di bawah pita suara. Jenis foto ini disebut steeple sign.

Untuk menentukan tingkat keparahan croup, dokter akan menghitung nilai Westley. Nilai ini didapatkan berdasarkan keluhan maupun gejala yang dialami oleh penderita.

Penanganan croup tergantung dari tingkat keparahan penyakit. Sejumlah langkah pengobatan yang biasanya akan diberikan bisa berupa:

  • Oksigen

Pemberian oksigen umumnya dilakukan pada penderita anak-anak dengan kesulitan bernapas yang parah hingga kekurangan oksigen.

  • Kortikosteroid

Obat ini diberikan dalam bentuk suntikan. Kandungan antiinflamasi dalam kortikosteroid dapat menurunkan penumpukan cairan (edema) di laring.

  • Epinefrin

Epinefrin bertujuan mengurangi edema. Oleh sebab itu, pemberian kedua obat ini kerap dikombinasikan oleh dokter.

Croup dapat dicegah dengan menjaga kebersihan. Orangtua harus memperhatikan kebersihan diri maupun lingkungan anaknya, terutama pada balita (bayi di bawah 5 tahun).

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah croup meliputi:

  • Membiasakan diri untuk mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, khususnya sebelum menyetuh buah hati.
  • Senantiasa mencuci mainan anak setelah digunakan atau mainan baru sebelum dipakai.
  • Membiasakan anak untuk menutup mulut atau hidung ketika bersin maupun batuk.
  • Menjauhkan anak dari orang yang sakit, misalnya ketika ada temannya yang sakit di sekolah.
  • Jangan menggunakan tisu bekas berkali-kali. Buanglah tisu setelah digunakan.

Jika Anda atau anak Anda mengalami gejala-gejala croup, segera berkonsultasi ke dokter.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat semua obat, vitamin, suplemen, maupun obat herbal yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda rutin mengkonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya dan apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?

Setelah itu, dokter juga akan melakukan pemeriksaan fisik dan mungkin menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis croup. Dengan ini, penanganan croup pun bisa diberikan secara tepat.

American Family Physcian. https://www.aafp.org/afp/2018/0501/p575.html.
Diakses pada 10 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/croup/symptoms-causes/syc-20350348
Diakses pada 10 November 2019

HealthLinkBc. https://www.healthlinkbc.ca/health-topics/hw31906
Diakses pada 10 November 2019

Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/?search=y&q=health&datasource=kidshealth&section=parents_teens_kids&lang=english&start=0&rows=10
Diakses pada 10 November 2019

Cleaveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/8277-croup/prevention
Diakses pada 10 November 2019

Artikel Terkait