Cedera kepala adalah cedera yang terjadi pada otak, tengkorak, atau kulit kepala. Cedera kepala dapat berupa benjolan ringan, memar, hingga cedera otak.

Berikut adalah beberapa jenis cedera pada kepala:

  • Hematoma. Cedera ini merupakan kumpulan atau pembekuan darah di luar pembuluh darah. Adanya penggumpalan darah dapat menyebabkan tekanan pada tengkorak sehingga menyebabkan kehilangan kesadaran hingga kerusakan otak permanen.

  • Perdarahan. Perdarahan bisa timbul sebagai akibat dari cedera pada kepala. Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan di sekitar otak yang seringkali menyebabkan sakit kepala dan muntah. Sementara, perdarahan intraserebral adalah perdarahan dalam jaringan otak yang menyebabkan penumpukan tekanan pada otak.

  • Gegar otak. Gegar otak merupakan hilangnya fungsi otak yang biasanya bersifat sementara. Hal ini dapat terjadi karena adanya cedera parah pada tengkorak. Namun, cedera pada kepala yang terjadi secara berulang-ulang bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak.

  • Edema. Edema adalah pembengkakan karena adanya penumpukan cairan pada otak. Penumpukan cairan ini bisa menyebabkan tekanan pada tengkorak.

  • Fraktur tengkorak. Fraktur tengkorak adalah retak atau patahnya tulang tengkorak. Benturan keras ke bagian kepala dapat menyebabkan tengkorak menjadi retak atau patah yang ditandai dengan gejala, seperti pembengkakan, memar, perdarahan di sekitar wajah.

  • Cedera aksonal difus. Cedera ini tidak menyebabkan perdarahan tetapi merusak sel-sel otak. Kerusakan sel-sel otak ini ditandai dengan hilangnya fungsi otak dan pembengkakan. Kondisi ini mampu mengakibatkan kerusakan otak permanen hingga kematian.

Sulit untuk menilai seberapa serius cedera kepala yang dialami seseorang. Oleh karena itu, penting untuk mendapatkan peninjauan dokter lebih lanjut agar dapat cedera kepala yang terjadi dapat ditangani secara efektif.

Gejala umum cedera kepala, di antaranya:

  • Sakit kepala
  • Kepala terasa ringan
  • Sensasi berputar
  • Mual
  • Kebingungan
  • Telinga berdengung sementara

Sementara, gejala cedera kepala berat meliputi beberapa hal berikut:

  • Kehilangan kesadaran
  • Kejang
  • Muntah
  • Penurunan keseimbangan atau koordinasi
  • Disorientasi
  • Ketidakmampuan memfokuskan mata
  • Gerakan mata abnormal
  • Penurunan atau kehilangan kontrol otot
  • Hilang ingatan atau amnesia
  • Sakit kepala yang terus-menerus dan memburuk
  • Perubahan suasana hati
  • Keluarnya cairan dari telinga atau hidung

Penyebab cedera kepala terbagi menjadi dua berdasarkan proses penyebabnya, yaitu cedera kepala karena benturan dan cedera kepala karena guncangan.

Cedera kepala karena guncangan seringkali terjadi pada bayi dan anak kecil. Sedangkan, cedera kepala yang disebabkan oleh benturan biasanya dikaitan dengan:

  • Kecelakaan kendaraan bermotor
  • Serangan fisik
  • Kecelakaan saat olahraga
  • Jatuh

Dokter akan menilai tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS). Semakin rendah skor, maka semakin serius gangguan kesadaran yang dialami pasien. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat keparahan cedera kepala.

Dokter juga perlu mengetahui kejadian mekanisme terjadinya cedera pada pasien. Jika memungkinkan, dokter akan bertanya pada orang lain yang mengetahui kejadian tersebut. Penting bagi dokter untuk menentukan berapa lama pasien kehilangan kesadaran.

Dokter juga akan mengidentifikasi cedera lain jika ada, termasuk memar dan bengkak. Pemeriksaan neurologis juga dapat dilakukan dokter untuk menilai kontrol dan kekuatan otot, gerakan mata, sensasi, dan hal-hal lainnya.

Pemeriksaan radiologis, seperti CT scan, dapat membantu dokter untuk mencari patah tulang, pendarahan dan pembekuan, pembengkakan otak, serta kerusakan struktural lainnya.

Perawatan cedera kepala meliput beberapa hal berikut:

  • Obat. Biasanya obat diberikan untuk mengatasi gejala seperti nyeri, kejang, atau untuk mengatasi pembengkakan jika ada. Pemberian obat antikejang biasanya diperlukan untuk cedera otak yang parah karena pasien berIsiko mengalami kejang. Pemberian obat diuretik juga diperlukan jika terjadi penumpukan cairan pada otak.

  • Rehabilitasi. Rehabilitasi dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi otak. Jenis rehabilitasi yang diberikan tergantung dari hilangnya fungsi otak, seperti bergerak dan berbicara secara normal.

  • Operasi dilakukan untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut, seperti memperbaiki kerusakan pada tengkorak dan menghilangkan gumpalan darah atau penumpukan cairan.

 

Segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat, jika Anda atau orang terdekat mengalami kejadian yang berkaitan dengan trauma kepala atau mengalami penurunan kesadaran akibat cedera kepala.

Dokter dan perawat akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan apakah cedera tersebut serius. Dokter kemudian akan memeriksa beberapa hal berikut:

  • Apakah pasien berorientasi dan mampu menanggapi perintah?

  • Apakah atau seberapa banyak stimulasi (seperti berbicara, berteriak, atau meremas jari) diperlukan untuk membuat orang membuka mata?

  • Apakah orang tersebut memiliki fungsi otak dasar dengan memeriksa ukuran pupil dan reaksinya terhadap cahaya, kemampuan untuk menggerakkan lengan dan kaki, penggunaan bahasa, koordinasi, serta refleks.

HealthLine. https://www.healthline.com/health/head-injury
Diakses pada November 2018

Merck Manuals. https://www.merckmanuals.com/home/injuries-and-poisoning/head-injuries/overview-of-head-injuries
Diakses pada November 2018

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/minor-head-injury/
Diakses pada November 2018

WebMD. https://www.webmd.com/migraines-headaches/qa/what-is-head-trauma
Diakses pada November 2018

Artikel Terkait