Kepala

Cedera Kepala

06 Aug 2021 | Popy Hervi PutriDitinjau oleh dr. Anandika Pawitri
image Cedera Kepala
Cedera kepala bisa memicu perdarahan di otak
Cedera kepala adalah cedera yang terjadi pada otak, tengkorak, atau kulit kepala. Cedera kepala dapat berupa benjolan ringan, memar, hingga cedera otak. Dampak dari cedera kepala sangat beragam tergantung seberapa parah luka yang terjadi. 

Jenis-jenis cedera kepala

Berikut adalah beberapa jenis cedera pada kepala:
  • Hematoma

Cedera kepala hematoma merupakan kumpulan atau pembekuan darah di luar pembuluh darah. Adanya penggumpalan darah dapat menyebabkan tekanan pada tengkorak sehingga menyebabkan kehilangan kesadaran hingga kerusakan otak permanen.
  • Perdarahan 

Perdarahan bisa timbul sebagai akibat dari cedera pada kepala. Perdarahan subarachnoid adalah perdarahan di sekitar otak yang seringkali menyebabkan sakit kepala dan muntah.Sementara, perdarahan intraserebral adalah perdarahan dalam jaringan otak yang menyebabkan penumpukan tekanan pada otak.
  • Gegar otak

Gegar otak merupakan hilangnya fungsi otak yang biasanya bersifat sementaraHal ini dapat terjadi karena adanya cedera parah pada tengkorak. Namun, cedera pada kepala yang terjadi secara berulang-ulang bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak.
  • Edema

Edema adalah pembengkakan karena adanya penumpukan cairan pada otak. Penumpukan cairan ini bisa menyebabkan tekanan pada tengkorak.
  • Fraktur tengkorak 

Fraktur tengkorak adalah retak atau patahnya tulang tengkorak. Benturan keras ke bagian kepala dapat menyebabkan tengkorak menjadi retak atau patah yang ditandai dengan gejala, seperti pembengkakan, memar, perdarahan di sekitar wajah.
  • Cedera aksonal difus 

Cedera kepala ini tidak menyebabkan perdarahan tetapi merusak sel-sel otak. Kerusakan sel-sel otak ini ditandai dengan hilangnya fungsi otak dan pembengkakan. Kondisi ini mampu mengakibatkan kerusakan otak permanen hingga kematian.Sulit untuk menilai seberapa serius cedera kepala yang dialami seseorang. Beberapa cedera kepala ringan menyebabkan keluarnya darah. Sedangkan beberapa cedera kepala berat tidak mengeluarkan darah sama sekali.Oleh karena itu, penting untuk mendapatkan peninjauan dokter lebih lanjut agar dapat cedera kepala yang terjadi dapat ditangani secara efektif.
Cedera Kepala
Dokter spesialis Saraf, Bedah
GejalaSakit kepala, kejang, kehilangan kesadaran, kepala terasa ringan, sensasi berputar, mual
Faktor risikoAnak-anak, lansia, laki-laki
Metode diagnosisTanya jawab, Glasgow Coma Scale, CT scan
PengobatanObat-obatan, rehabilitasi, operasi
ObatIbuprofen atau aspirin
KomplikasiKoma, kehilangan penciuman, kesulitan berbicara
Kapan harus ke dokter?Mengalami gejala cedera kepala
Gejala umum cedera kepala, di antaranya:
  • Sakit kepala
  • Kepala terasa ringan
  • Sensasi berputar
  • Mual
  • Kebingungan
  • Telinga berdengung sementara
Sementara, gejala cedera kepala berat meliputi beberapa hal berikut:
  • Kehilangan kesadaran
  • Kejang
  • Muntah
  • Penurunan keseimbangan atau koordinasi
  • Disorientasi
  • Ketidakmampuan memfokuskan mata
  • Gerakan mata abnormal
  • Penurunan atau kehilangan kontrol otot
  • Hilang ingatan atau amnesia
  • Sakit kepala yang terus-menerus dan memburuk
  • Perubahan suasana hati
  • Keluarnya cairan dari telinga atau hidung
Selain itu, ada pula gejala cedera kepala yang lebih serius daripada gegar otak dan perlu membutuhkan perawatan darurat. Gejala tersebut di antaranya:
  • Perubahan ukuran pupil
  • Keluarnya cairan bening atau darah yang mengalir dari hidung, mulut, atau telinga
  • Kejang
  • Perubahan bentuk wajah
  • Memar pada wajah
  • Retak di tengkorak atau wajah
  • Gangguan pada indra pendengaran, penglihatan, penciuman (membaui sesuatu), dan pengecapan (rasa)
  • Kesulitan untuk menggerakkan satu atau lebih anggota badan
  • Emosional
  • Hilang kesadaran
  • Sesak napas
  • Sakit kepala yang parah
  • Sulit bicara
  • Penglihatan kabur
  • Leher kaku
  • Mual dan muntah
  • Pembengkakan di tempat cedera
Penyebab utama cedera kepala adalah jatuh (terutama pada orang dewasa yang lebih tua dan anak-anak), kecelakaan kendaraan bermotor, penyerangan, dan kecelakaan selama olahraga atau aktivitas rekreasi.Kecelakaan di tempat kerja (misalnya, saat mengoperasikan mesin) dan senjata api juga menyebabkan cedera kepala.

Faktor risiko cedera kepala

Beberapa faktor risiko cedera kepala meliputi:
  • Anak-anak, terutama bayi baru lahir sampai usia 4 tahun
  • Dewasa muda, terutama yang berusia antara 15 dan 24 tahun
  • Orang dewasa berusia 60 tahun ke atas
  • Laki-laki
Diagnosis cedera kepala dilakukan dengan cara tanya jawab, Glasgow Coma Scale (GCS), pemeriksaan neurologis, dan CT scan. Berikut penjelasannya.
  • Tanya jawab

Dokter akan bertanya mengenai mekanisme terjadinya cedera pada pasien. Jika memungkinkan, dokter akan bertanya pada orang lain yang mengetahui kejadian tersebut.Penting bagi dokter untuk menentukan berapa lama pasien kehilangan kesadaran. Dokter juga akan mengidentifikasi cedera lain jika ada, termasuk memar dan bengkak.
  • Glasgow coma scale (GCS)

Dokter akan menilai tingkat kesadaran dengan menggunakan Glasgow coma scale (GCS). Semakin rendah skor, maka semakin serius gangguan kesadaran yang dialami pasien. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat keparahan cedera kepala.
  • Pemeriksaan neurologis

Pemeriksaan neurologis juga dapat dilakukan dokter untuk menilai kontrol dan kekuatan otot, gerakan mata, sensasi, dan hal-hal lainnya.
  • CT scan

Pemeriksaan radiologis, seperti CT scan, dapat membantu dokter untuk mencari patah tulang, pendarahan dan pembekuan, pembengkakan otak, serta kerusakan struktural lainnya.
Cara mengobati cedera kepala umumnya akan tergantung dari tingkat keparahan penyakit dan tipenya. Beberapa pilihan cara mengobati cedera kepala yang biasanya diberikan dokter, yaitu:
  • Obat-obatan

Biasanya, obat diberikan untuk mengatasi gejala cedera kepala berat. Contohnya, nyeri, kejang, atau untuk mengatasi pembengkakan jika ada.Pemberian obat antikejang umumnya diperlukan untuk cedera otak yang parah karena pasien berisiko mengalami kejang.Sementara pemberian obat diuretik dibutuhkan jika terjadi penumpukan cairan pada otak.
Ada pula obat-obatan yang berfungsi menangani cedera kepala ringan. Misalnya, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen atau aspirin.
  • Rehabilitasi 

Rehabilitasi dibutuhkan untuk mengembalikan fungsi otak. Jenis rehabilitasi yang diberikan tergantung dari hilangnya fungsi otak, seperti bergerak dan berbicara secara normal.
  • Operasi

Operasi dilakukan untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut, seperti memperbaiki kerusakan pada tengkorak dan menghilangkan gumpalan darah atau penumpukan cairan. 

Komplikasi cedera kepala

Jika tidak ditangani dengan optimal, dapat menyebabkan komplikasi cedera kepala:
  • Infeksi
  • Koma
  • Mudah merasa lelah
  • Rusaknya kelenjar pituitari, kelenjar kecil yang berada di dasar otak dan mengatur tiroid
  • Kehilangan penciuman
  • Kesulitan berbicara dan berkomunikasi
  • Mengalami perubahan emosi, misalnya lebih mudah marah, bahagia, atau sedih
 
Cara mencegah cedera kepala yang bisa dilakukan meliputi:
  • Menggunakan helm atau sabuk pengaman saat berkendara
  • Menggunakan pengaman saat olahraga
  • Jangan mengemudikan kendaraan dibawah pengaruh minuman beralkohol dan atau obat-obatan terlarang
  • Untuk orang dewasa, periksakan kesehatan mata
 
Jika Anda memiliki gejala cedera kepala maupun keluhan lain yang encurigakan, segera konsultasikan ke dokter. 
Sebelum pemeriksaan ke dokter, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang Anda konsumsi.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.  
 
Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Kapan gejala pertama kali Anda alami?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait cedera kepala?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis cedera kepala agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/head-injury
Diakses pada November 2018
Merck Manuals. https://www.merckmanuals.com/home/injuries-and-poisoning/head-injuries/overview-of-head-injuries
Diakses pada November 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/minor-head-injury/
Diakses pada November 2018
WebMD. https://www.webmd.com/migraines-headaches/qa/what-is-head-trauma
Diakses pada November 2018
CDC. https://www.cdc.gov/traumaticbraininjury/prevention.html
Diakses pada 9 Juni 2021
Mayo clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/traumatic-brain-injury/symptoms-causes/syc-20378557
Diakses pada 9 Juni 2021
Medline plus. https://medlineplus.gov/ency/article/000028.htm
Diakses pada 9 Juni 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email