Cedera Brachial Plexus

Diterbitkan: 19 Nov 2019 | dr. Reisia Palmina Brahmana
Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Brachial plexus merupakan sekelompok jaringan saraf yang saling bertautan dan berada di leher, dada bagian atas, dan ketiak. Saraf yang menyusun brachial plexus berperan dalam pergerakan dan sensor tangan, lengan, serta bahu.

Cedera brachial plexus adalah kerusakan pada kelompok saraf tersebut. Cedera ini dapat berupa saraf tertekan, tertarik, robek, atau putus. Gejala penyakit ini tergantung pada seberapa parah kerusakan saraf yang terjadi. 

Brachial plexus tersusun atas lima saraf yang memiliki fungsi berbeda-beda. Cedera pada saraf yang satu akan memberikan keluhan yang berbeda dengan cedera pada saraf lainya.

Cedera brachial plexus tingkat ringan umum terjadi pada atlet yang banyak melibatkan adu badan antarpemain, seperti pegulat. Namun kondisi ini juga bisa dialami oleh bayi ketika proses kelahiran.

Sementara cedera brachial plexus tingkat berat biasanya dialami oleh korban kecelakaan kendaraan bermotor.

Gejala cedera brachial plexus berbeda-beda. Perbedaan ini tergantung pada lokasi dan tingkat keparahan cedera. Mari simak pejelasannya di bawah ini:

  • Upper-trunk palsy injury

Keluhan pada tipe ini meliputi kelemahan pada bahu untuk mengangkat lengan. Penderita tidak dapat mengangkat lengan dan muncul sensasi mati rasa pada bahu. 

  • Lower-trunk palsy injury

Gejala cedera ini bisa berupa penderita yang tidak bisa menggerakan tangannya. Sementara fungsi lengan dan sikunya masih normal, namun akan berangsur-angsur menurun.

Jari tangan penderita juga sulit untuk digerakkan, jari manis dan kelingkingnya akan mati rasa. Lama-kelamaan, jari-jari tangan penderita akan membentuk posisi seperti mencakar.

  • Pan-plexus palsy injury

Kerusakan pada saraf ini tergolong sangat parah. Akibatnya, penderita sama sekali tidak mampu menggerakkan lengan maupun tangannya.

Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab cedera brachial plexus meliputi:

  • Olahraga yang banyak melibatkan adu badan

Olahraga jenis ini disebut contact sport. Contohnya, gulat, basket, sepak bola, football, dan banyak lagi.

  • Trauma fisik

Cedera brachial plexus juga umum disebabkan oleh truma fisik. Mulai dari kecelakaan bermotor, terjatuh, hingga luka tembak.

  • Proses melahirkan yang sulit

Cedera branchial plexus bisa pula dialami oleh bayi saat proses kelahiran yang sulit. Misalnya, bayi sungsang atau ukuran bayi yang besar dan pinggul ibu yang sempit.

  • Tumor dan pengobatan kanker

Apabila ada tumor yang tumbuh di dekat brachial plexus, bukan tidak mungkin tumor ini akan menekan saraf-saraf di sekitanya. Sementara pengobatan untuk mengatasi kanker juga bisa memiliki efek samping berupa kerusakan saraf.

Sama seperti penyakit lainnya, dokter akan menanyakan gejala-gejala yang Anda alami secara mendetail pada awal pemeriksaan. Demikian pula dengan faktor risiko dari cedera brachial plexus yang mungkin Anda miliki.

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat fungsi saraf Anda. Serangkaian pemeriksaan penunjang berikut juga mungkin dilakukan guna memastikan diagnosis cedera brachial plexus:

  • Electromyography (EMG)

Electromyography dilakukan dengan menusukkan jarum elektroda ke otot-otot Anda yang akan diperiksa. Melalui pemeriksaan ini, aktivitas listrik ketika otot mengalami kontraksi dan relaks akan terlihat.

  • MRI

Pemeriksaan ini dapat menunjukkan struktur saraf dan seberapa besar kerusakan yang dialami oleh saraf Anda.

  • Computerized tomography (CT) myelography

Ketika hasil MRI kurang jelas, CT myelography akan dilakukan. Pasalnya, fungsi pemeriksaan ini sama dengan MRI, namun dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai keadaan saraf Anda.

Sebelum menjalani CT myelography, dokter akan menyuntikkan cairan kontras ke saraf tulang belakang Anda. Cairan ini akan tampak pada serangkaian foto X-ray yang akan diambil.

Pengobatan cedera brachial plexus tergantung pada tingkat keparahan cedera. Secara umum, penanganannya dibagi menjadi dua kategori, yakni dengan operasi dan tanpa operasi. 

  • Tanpa operasi

Cedera brachial plexus ringan umumnya dapat sembuh sendiri, sehingga tidak membutuhkan operasi. Penderita hanya memerlukan fisioterapi untuk mencegah otot menjadi kaku.

Fisioterapi harus dilakukan dengan bimbingan fisioterapis profesional dan berlisensi, serta pengawasan dokter. Dengan ini, proses penyembuhan bisa berjalan dengan lancar.

  • Dengan operasi

Cedera brachial plexus yang berat akan membutuhkan operasi. 

Beberapa jenis operasi yang bisa disarankan oleh dokter meliputi:

  • Nerve repair
    Dalam prosedur ini, ahli bedah memasang kembali dua tepi saraf yang terputus. Perbaikan saraf biasanya dilakukan segera, seperti pada cedera akibat luka tusuk. 
  • Cangkok saraf alias nerve graft

Sebagian saraf yang rusak akan diambil dan diganti dengan saraf yang sehat dari bagian tubuh lain penderita.

  • Cangkok saraf atau nerve transfer

Operasi ini dilaukan bila ada saraf yang terputus dari saraf tulang belakang. Saraf ini akan diangkat dan diganti dengan saraf lain. Saraf pengganti yang masih berfungsi akan disambungkan ke saraf yang bermasalah.

  • Cangkok tendon dan otot (tendon and muscle transfer)

Operasi ini dilakukan dengan mencangkok otot maupun tendon dari bagian lain tubuh, lalu menyambungkannya ke saraf dan pembuluh darah di lengan Anda yang bermasalah. Dengan ini, fungsi lengan Anda pun bisa diselamatkan.

Cedera brachial plexus seringkali terjadi karena kecelakaan. Oleh karena itu, pencegahan cedera brachial plexus yang bisa Anda lakukan hanyalah meningkatkan kewaspadaan ketika berolahraga maupun berkendara.

Pastikan Anda menggunakan alat pelindung yang diperlukan. Misalnya, helm saat mengendarai motor.

Sementara untuk mencegah komplikasi kekakuan otot akibat cedera ini, Anda disarankan untuk menjalani fisioterapi dan latihan otot di bawah bimbingan fisioterapis profesional dan pengawasan dokter.

Anda sebaiknya berkonsultasi ke dokter jika mengalami gejala cedera brachial plexus maupun cedera pada umumnya.

Sebelum pemeriksaan, Anda dapat mempersiapkan beberapa hal di bawah ini:

  • Buat daftar seputar gejala yang Anda rasakan.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang Anda alami.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat Anda berkonsultasi dengan dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.

Dokter akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:

  • Apa saja gejala yang Anda rasakan?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait cedera brachial plexus, misalnya terjatuh atau kecelakaan?
  • Apakah Anda sudah mencari pertolongan medis sebelumnya dan apa saja pengobatan yang sudah Anda coba?

Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bisa menganjurkan pemeriksaan penunjang untuk memastikan diagnosis cedera brachial plexus. Dengan ini, penanganan yang tepat pun bisa dilakukan.

Ortho Info. https://orthoinfo.aaos.org/en/diseases--conditions/brachial-plexus-injuries
Diakses pada 15 November 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/brachial-plexus-injury/symptoms-causes/syc-20350235
Diakses pada 15 November 2019

Artikel Terkait