Bruxism adalah kondisi ketika seseorang menggertakkan, menggesekkan, atau mengatupkan gigi secara tidak sadar.
Kebiasaan menggertakkan, menggesekkan, atau mengatupkan gigi dapat merusak gigi.

Bruxism merupakan suatu kondisi ketika seseorang menggertakan, menggesekkan, atau mengatupkan gigi secara tidak sadar dan menjadi suatu kebiasaan. Kondisi ini tidak berbahaya, tetapi jika dilakukan setiap hari, dapat merusak gigi dan menimbulkan komplikasi kesehatan mulut lainnya. Kondisi ini biasanya dipicu oleh perasaan cemas dan stres. Bruxism biasanya terjadi pada malam hari (saat tidur) atau di siang hari dan dilakukan secara tidak sadar. 

Berdasarkan penyebab, bruxism terbagi menjadi dua yaitu:

  • Bruxism primer, bruxism yang muncul bukan karena suatu kondisi medis tertentu.
  • Bruxism sekunder, bruxism yang muncul karena suatu kondisi medis tertentu.

Sementara berdasarkan waktu kemunculan, bruxism juga terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

  • Bruxism saat terjaga (awake bruxism), terjadi saat sedang terjaga dan tidak disadari serta biasanya pada siang hari.
  • Bruxism saat tidur (sleep bruxism), terjadi saat sedang tidur dan biasanya terjadi pada malam hari.

Terkadang individu yang mengalami bruxism juga memiliki gangguan tidur, berupa mendengkursleep apnea, dan sebagainya. Penderita bruxism biasanya baru akan menyadari gangguan yang terjadi ketika sudah terjadi efek pada fisiknya, seperti sakit kepala, gangguan rahang, kerusakan gigi, dan sebagainya. 

Beberapa tanda seseorang mengalami bruxism, antara lain:

  • Gigi yang retak, patah, somplak atau longgar.
  • Enamel gigi yang terkikis sampai memperlihatkan lapisan bagian dalam gigi.
  • Rasa sakit pada gigi dan sensitivitas gigi yang meningkat.
  • Terasa nyeri dan sakit di sekitar leher, rahang, dan wajah.
  • Rasa sakit yang terasa seperti sakit telinga walaupun bukan berasal dari telinga.
  • Gangguan tidur.
  • Menggesekkan atau mengatupkan gigi yang cukup keras, sehingga menbangunkan orang lain.
  • Otot-otot rahang yang kaku atau lelah sehingga sulit membuka atau menutup mulut.
  • Kerusakan karena mengunyah bagian dalam pipi.
  • Sakit kepala yang bermula dari pelipis.

Penyebab bruxism tidaklah jelas tetapi biasanya berhubungan dengan faktor-faktor, seperti:

  • Emosi, kebanyakan penderita bruxism mengalami stres, kecemasan, kemarahan, rasa frustrasi dan kemarahan. Hal ini biasanya terjadi pada individu yang mengalami bruxism saat terjaga. Bruxism tersebut menjadi salah satu respon individu untuk mengatasi emosi yang dirasakan. Terkadang bruxism juga muncul karena telah menjadi kebiasaan saat sedang berkonsentrasi secara mendalam. 

  • Gangguan tidur, individu yang mengalami gangguan tidur obstructive sleep apnea dapat mengalami bruxism. Individu yang berbicara saat tidur, menjadi agresif saat tidur (menendang-nendang atau memukul-mukul), mengalami halusinasi (psikosis) saat tidur, atau mengalami sleep paralysis (ketidakmampuan untuk bergerak saat tidur) lebih mungkin untuk mengalami bruxism. 

  • Medikasi, efek samping dari obat tertentu dapat menyebabkan bruxism, seperti pada penggunaan obat antidepresan yaitu SSRI (paroxetine, fluoxetine, sertraline).

  • Gaya hidup, pola hidup yang tidak sehat seperti konsumsi alkohol, merokok, menggunakan narkoba, dan terlalu banyak mengonsumsi minuman yang mengandung kafein dapat meningkatkan risiko bruxism atau memperberat gejalanya.

  • Masalah pada rahang, individu yang mengalami occlusal discrepancy atau kondisi saat gigi bagian atas dan bawah tidak dapat menutup secara benar dapat mengalami bruxism. Biasanya hal ini terjadi saat individu kehilangan gigi atau memiliki gigi yang bengkok. Saat masalah gigi tersebut diatasi maka bruxism juga tidak akan muncul lagi.

Berikut ini kondisi-kondisi yang dapat memicu terjadinya bruxism:

  • Usia
    Bruxism lebih sering terjadi pada anak-anak tetapi akan menghilang ketika mereka beranjak dewasa.

  • Riwayat Keluarga
    Bruxism dalam tidur cenderung meningkat jika ada anggota keluarga dekat yang juga mengalami bruxism.

  • Kepribadian
    Tipe kepribadian yang agresif, kompetitif, atau hiperaktif dapat meningkatkan risiko akan bruxism.

  • Kondisi Medis Lainnya
    Gangguan mental maupun fisik, seperti penyakit Parkinson, demensia, atau kepikunan, naiknya asam lambung ke kerongkongan (GERD), epilepsi, gangguan tidur (contoh, night terror), dan attention deficit-hyperactivity disorders (ADHD) dapat meningkatkan risiko bruxism.

Dalam menentukan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan gigi dan rahang pasien untuk melihat tingkat kerusakan atau pengikisan pada gigi. Jika Anda memiliki tanda atau gejala bruxism, maka akan dilakukan evaluasi berulang pada kunjungan selanjutnya untuk menentukan progresivitas dan perawatannya. 

Dokter akan menanyakan riwayat kesehatan gigi, pengobatan, rutinitas sehari-hari dan kebiasaan tidur untuk mencari penyebab atau faktor risikonya. Sementara itu, untuk mengevaluasi tingkat keparahan bruxism, dokter akan memeriksa nyeri pada otot rahang, kerusakan pada gigi seperti patah atau ompong, kerusakan lain pada gigi, gusi, maupun pipi bagian dalam yang biasanya menggunakan x-ray.

Pasien yang menderita bruxism akibat kondisi psikologis, akan dirujuk ke psikolog, psikiater, atau ahli kesehatan mental lainnya untuk terapi atau konseling.

Biasanya bruxism tidak memerlukan perawatan medis. Bruxism pada anak-anak akan hilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Sementara itu, bruxism pada orang dewasa pun bukan kondisi yang berat, sehingga tidak membutuhkan perawatan.

Namun dalam beberapa kasus yang berat, diperlukan perawatan yang meliputi perawatan gigi, terapi, maupun konseling, dan obat-obatan. Tujuannya, untuk mencegah kerusakan gigi lebih jauh dan meringankan sakit atau nyeri pada rahang serta menanggulangi stress atau kecemasan yang menyebabkan bruxism.

Dokter gigi dapat membuatkan pelindung gigi yang mencegah gigi saling beradu dan bergesek pada saat tidur. Pada kasus-kasus yang parah, dokter gigi mungkin akan melakukan koreksi gigi, seperti membentuk ulang permukaan gigi dan sebagainya.

Jika bruxism disebabkan oleh kondisi psikologis seperti stres, cemas, marah dan frustrasi, maka berkonsultasilah dengan psikolog, psikiater, atau ahli kesehatan mental lainnya untuk mencari cara mengurangi gangguan psikologis tersebut. Biasanya terapi yang dapat diberikan berupa terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral theraphy). Psikiater bisa memberikan obat seperti muscle relaxant, serta obat-obatan antidepresan atau anticemas.

Bruxism yang disebabkan oleh gangguan tidur harus segera diatasi sesuai dengan penyebab gangguan tidur tersebut. Cara-cara lain yang juga bisa digunakan untuk menghentikan menggertakkan gigi adalah:

  • Menghindari alkohol, karena alkohol meningkatkan intensitas bruxism
  • Menghindari atau mengurangi makanan dan minuman yang mengandung kafein, seperti cokelat, kopi, soda
  • Melatih diri untuk tidak mengatupkan atau menggertakkan gigi. Jika Anda mulai menyadari  bahwa Anda menggertakkan gigi pada siang hari, letakkanlah ujung lidah Anda di antara gigi. Kebiasaan ini akan melatih otot-otot rahang untuk rileks. Anda juga dapat membuat rahang Anda lebih rileks dengan menaruh kain yang dibasahkan dengan air hangat di pipi bagian depan telinga pada malam hari. 
  • Menghindari kebiasaan mengunyah, baik yang bukan makanan seperti pulpen atau pensil maupun makanan, seperti permen karet. Kebiasaan ini akan memperkuat otot-otot rahang dalam mengunyah dan akan memicu gigi untuk beradu.
  • Meberitahukan orang yang tidur bersama Anda untuk menginformasikan Anda ketika Anda mulai menggertakkan gigi saat tidur agar Anda dapat memberitahukannya kepada dokter atau ahli kesehatan mental yang ditemui.
  • Mempraktikkan teknik-teknik untuk mengatasi stres, seperti teknik relaksasi dan sebagainya. 
  • Selalu membuat jadwal untuk pemeriksaan gigi secara rutin.
  • Membicarakan dengan orang-orang terdekat Anda mengenai stres dan kecemasan yang Anda rasakan.
  • Menjaga pola tidur yang baik untuk dapat mengatasi gangguan tidur Anda. 
  • Mengompres rahang Anda dengan es batu untuk meringankan rasa sakit pada rahang.
  • Mencari cara lain untuk menyalurkan stres Anda, seperti berjalan-jalan dan sebagainya.

Jika anak Anda mengalami bruxism, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:

  • Meluangkan waktu dengan anak untuk berbicara mengenai hal yang membuat anak stres atau cemas. 
  • Tenangkan anak sebelum tidur untuk mengurangi stres dan kecemasan anak.
  • Melakukan latihan perenggangan ataupun pijat untuk membuat otot-otot anak menjadi rileks.
  • Berkomunikasi dengan dokter gigi untuk dapat mengawasi bruxism pada anak.
  • Jika anak diberikan pelindung gigi oleh dokter, ingatkan anak untuk memakainya sebelum tidur.

Untuk mencegah terjadinya bruxism, Anda atau orang-orang terdekat Anda dapat melakukan pemeriksaan gigi secara teratur. Sehingga, bruxism atau kerusakan lain dapat dicegah secara dini.

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda mengalami beberapa gejala yang telah disebutkan sebelumnya atau merasa khawatir mengenai kondisi gigi atau rahangnya, segera berkonsultasi dengan dokter gigi atau ahli kesehatan mental.

Sebelum berkonsultasi dengan dokter atau ahli kesehatan mental lainnya, sebaiknya Anda mempersiapkan beberapa informasi termasuk gejala-gejala yang dialami, riwayat medis, informasi pribadi, semua obat yang dikonsumsi, dan pertanyaan, seperti:

  • Jenis penanganan apa yang cocok untuk gejala yang saya alami?
  • Apa penyebab dari gejala yang saya alami?
  • Jika saya harus mengonsumi obat, apa efek samping dan kontra indikasi dari obat yang diberikan? 
  • Pemeriksaan apa yang diperlukan?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Pada saat berkonsultasi, biasanya dokter atau ahli kesehatan mental akan mengajukan pertanyaan, seperti:

  • Apa saja gejala yang Anda alami?
  • Kapan Anda pertama kali mengalami gejala tersebut? 
  • Apa yang tampaknya dapat memperbaiki dan memperburuk gejala Anda?
  • Seberapa parah gejala yang Anda alami? 
  • Seberapa sering Anda mengalami gejala tersebut?

Healthline. 
https://www.healthline.com/symptom/teeth-grinding
Diakses pada 18 Februari 2019

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bruxism/symptoms-causes/syc-20356095
Diakses pada 18 Februari 2019

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/teeth-grinding/
Diakses pada 18 Februari 2019

WebMD. 
https://www.webmd.com/oral-health/guide/teeth-grinding-bruxism#1
Diakses pada 18 Februari 2019

Artikel Terkait