Infeksi

Bronkiolitis

Diterbitkan: 06 Nov 2018 | Nurul RafiquaDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Bronkiolitis
Kebanyakan anak-anak penderita bronkiolitis dapat disembuhkan dengan perawatan di rumah.
Bronkiolitis adalah infeksi bronkiolus akibat infeksi virus. Bronkiolus merupakan saluran pernapasan kecil yang ada di paru-paru. Ketika mengalami pembengkakan, saluran bronkiolus dapat tersumbat dan menimbulkan berbagai gejala.Gejala bronkiolitis serupa dengan pilek tapi dapat disertai batuk, napas yang berbunyi, dan terkadang kesulitan bernapas. Gejala tersebut dapat berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bahkan sampai sebulan.Infeksi bronkiolitis dapat dialami oleh berbagai kalangan usia, tapi biasanya pada bayi dan anak-anak. Kebanyakan anak-anak yang mengalami bronkiolitis akan sembuh setelah menjalani perawatan di rumah, dan hanya sedikit yang sampai harus dirawat di rumah sakit.    
Bronkiolitis
Dokter spesialis Anak, Paru
GejalaSerak, batuk, sulit bernapas
Faktor risikoKelahiran prematur, memiliki kondisi medis tertentu, terpapar asap rokok
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, rontgen, tes darah
PengobatanPengobatan rumahan, pengobatan rumah sakit
ObatParasetamol, ibuprofen, oksigen
KomplikasiSianosis, apnea, dehidrasi
Kapan harus ke dokter?Ketika mengalami gejala, terutama dengan faktor risiko
Gejala bronkiolitis akan muncul beberapa hari setelah terinfeksi. Gejala awal yang muncul biasanya sama dengan gejala pilek,
  • Secara umum, tanda dan gejala bronkiolitis meliputi:Serak dan batuk tidak berdahak (batuk kering)
  • Napas cepat atau yang disertai bunyi
  • Kesulitan bernapas
  • Tidak nafsu makan dan demam
  • Muntah setelah makan
  • Merasa tidak nyaman
  • Nafas cuping hidung
  • Wajah membiru
Kebanyakan kasus bronkiolitis tidak serius tetapi gejala dapat mengkhawatirkan. Gejala biasanya memburuk antara hari ke-3 sampai ke-5, dan batuk akan membaik dalam 3 minggu. 
Umumnya, bronkiolitis terjadi karena infeksi virus, meski juga dapat disebabkan oleh faktor lain, seperti kondisi yang dinamakan bronchiolitis obliterans.Bronkiolitis disebabkan oleh virus, di antaranya:
  • Virus Respiratory Syncytial (RSV)

RSV adalah penyebab bronkiolitis yang paling umum. Biasanya kondisi ini menyerang bayi yang berusia kurang dari 1 tahun atau balita yang sudah mencapai usia 2 tahun.
  • Adenovirus

Adenovirus dapat menyebabkan bronkiolitis dengan menginfeksi selaput lender bronkiolus.
  • Virus influenza

Influenza adalah virus yang menginfeksi saluran pernapasan bagian atas dan mengakibatkan peradangan pada paru-paru. Pada orang dewasa, infeksi oleh virus influenza mungkin hanya menyebabkan flu. Namun pada anak-anak atau bayi yang sistem kekebalannya belum terbentuk sempurna, virus ini dapat menyebabkan bronkiolitis.Ketika virus-virus tersebut menginfeksi bronkiolus sebagai saluran pernapasan kecil pada paru-paru bisa membengkak. Akibatnya, lendir yang melapisi bronkiolus pada akhirnya membuat udara sulit masuk atau keluar dari paru-paru.Virus penyebab bronkiolitis mudah menyebar. Seseorang dapat terpapar virus melalui udara yang telah terkontaminasi. Ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin atau berbicara, virus dapat menyebar ke udara.Seseorang juga dapat terkena virus apabila menggunakan barang yang telah terpapar virus seperti peralatan makan, handuk, mainan dan kemudian menyentuh mata, hidung atau mulut tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.Baca juga: Memahami Cara Reproduksi Virus di Dalam Tubuh 

Faktor risiko

Bayi dengan usia kurang dari 3 bulan memiliki risiko paling tinggi terkena bronkiolitis, karena paru-paru dan sistem kekebalan tubuh yang belum sepenuhnya berkembang. Faktor lain yang dapat meningkatkan terjadinya bronkiolitis pada bayi adalah:
  • Lahir prematur (lebih awal dari yang seharusnya)
  • Kondisi jantung atau paru-paru yang perlu diperhatikan
  • Sistem kekebalan tubuh yang menurun
  • Terkena asap tembakau
  • Tidak pernah minum ASI. Sebab melalui ASI, bayi akan menerima sistem kekebalan tubuh dari sang ibu.
  • Melakukan kontak dengan banyak anak
  • Tinggal di lingkungan yang padat penduduk
  • Memiliki saudara yang bersekolah atau pergi ke tempat bermain anak dan membawa virus
 
Dokter biasanya mendiagnosis bronkiolitis hanya melalui pemeriksaan fisik dengan melihat anak dan mendengarkan paru-parunya lewat stetoskop saat bernapas. Dokter juga akan menelusuri riwayat kesehatan anak.Apabila kondisi anak memburuk dan memiliki masalah lain yang mencurigakan, dokter akan menjalankan beberapa tes tambahan untuk memastikan bahwa penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus dan bukan karena penyakit lain, seperti pneumonia atau asma.Untuk membantu memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan:
  • Rontgen dada. Dokter akan merekomendasikan X-ray dada untuk mencari tanda pneumonia.
  • Tes virus. Dokter akan mengumpulkan lendir untuk memeriksa virus penyebab bronkiolitis.
  • Tes darah. Tes darah dapat digunakan untuk memeriksa sel darah putih pada anak. Kenaikan sel darah putih di dalam sel biasanya menunjukkan perlawanan tubuh terhadap infeksi
Baca Jawaban dokter: Usia 18 bulan mengalami radang paru-paru berat, bagaimana penjelasannya? 
Jika anak yang terinfeksi bronkiolitis dirawat di rumah, pastikan bahwa orang terdekat melakukan pemeriksaan setiap saat, termasuk malam hari. Tidak ada obat yang dapat membunuh virus bronkiolitis. Namun, beberapa pilihan perawatan dapat membantu meringankan gejala dan membuat anak merasa lebih nyaman.Berikut ini sejumlah perawatan yang bisa menjadi pilihan.

Perawatan di rumah

  • Pastikan anak yang terkena bronkiolitis duduk tegak. Menjaganya tetap duduk tegak dapat membantu anak bernapas dan tidur dengan posisi tegak. Pastikan kepala Si Kecil tidak jatuh ke depan. Jika anak belum bisa duduk, Anda dapat menggunakan bantal yang tinggi untuk menyanggah punggungnya.
  • Berikan banyak cairan. Jika masih mengonsumsi ASI atau susu dari botol, pastikan anak selalu minum agar tidak kekurangan cairan. Air atau jus buah pun dapat membantu mencegah dehidrasi.
  • Pastikan udara ruangan tetap lembap. Jika memiliki alat pelembap udara, gunakan alat tersebut agar udara menjadi lebih lembap dan membantu meringankan hidung yang tersumbat. Apabila terdapat AC di ruangan, pastikan bahwa suhunya tidak terlalu dingin dan udara tidak terlalu kering.
  • Pastikan rumah bebas rokok. Menghirup asap rokok atau tembakau akan memperburuk gejala bronkiolitis. Hindari merokok di dekat anak-anak. Sebab, paparan asap rokok dapat berefek pada saluran pernapasan anak dan membuat daya tahan terhadap infeksi menurun.
  • Gunakan obat tetes hidung. Pilih obat tetes yang mengandung larutan saline untuk meredakan hidung tersumbat. Anda dapat membeli obat tetes ini tanpa resep di apotek terdekat. Obat ini umumnya bekerja efektif, aman dan tidak menimbulkan iritasi.
  • Berikan obat pereda nyeri. Jika perlu, berikan obat pereda nyeri yang aman untuk anak-anak. Sebagai pengobatan demam atau nyeri, tanyakan kepada dokter atau apoteker di apotek mengenai obat demam dan nyeri yang aman bagi bayi atau anak-anak. Biasanya pereda nyeri yang disarankan adalah parasetamol atau ibuprofen yang dapat dibeli tanpa resep dokter.

    Bayi berusia 2 bulan dapat mengonsumsi parasetamol, sedangkan Ibuprofen bisa diberikan pada bayi berumur 3 bulan, atau yang memiliki berat setidaknya 5 kg.

Perawatan di rumah sakit

Sebagian kecil anak yang menderita bronkiolitis mungkin memerlukan perawatan rumah sakit untuk mengatasi kondisinya. Di rumah sakit, dokter akan memasang oksigen yang dilembabkan untuk menjaga pasokan oksigen yang cukup dalam darah. Selain itu, anak mungkin akan menerima cairan tubuh melalui vena (infus) untuk mencegah dehidrasi. Dalam kasus yang parah, sebuah selang khusus dapat dimasukkan ke dalam trakea untuk membantu pernapasan anak. 

Komplikasi

Apabila tidak memperoleh penanganan yang tepat, bronkiolitis dapat menyebabkan komplikasi berupa:
  • Perubahan warna bibir atau kulit berwarna biru (sianosis), akibat oksigen
  • Henti napas atau yang disebut apnea. Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi yang terlahir prematur dan bayi yang baru 2 bulan
  • Dehidrasi
  • Kekurangan oksigen dan gagal napas
Jika gejala ini terjadi, bayi atau anak-anak yang terinfeksi harus menjalani rawat inap.Baca juga: Cara Menjaga Kesehatan Paru-paru Agar Fungsinya Tetap Optimal 
Virus yang menyebabkan bronkiolitis menyebar dari satu orang ke orang lain, sehingga cara terbaik untuk mencegahnya adalah dengan sering mencuci tangan, terutama ketika akan menyentuh bayi.Penderita bronkiolitis disarankan untuk menggunakan masker. Jika terkena bronkiolitis, anak harus dirawat di rumah sampai membaik, sehingga tidak menyebarkan virus ke anak lain. Selain itu beberapa pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan:
  • Tidak melakukan kontak dengan orang yang sedang demam atau pilek. Bayi, termasuk yang lahir prematur terutama saat berusia 1-2 bulan, harus dijauhkan dari orang yang pilek.
  • Membersihkan permukaan benda-benda yang sering disentuh seperti mainan dan gagang pintu. Hal ini penting dilakukan, apalagi jika ada anggota keluarga yang sedang sakit.
  • Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin. Tutupi mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Kemudian buang tisu bekas pakai tersebut dan cuci tangan, atau gunakan pembersih tangan yang mengandung alkohol.
  • Menggunakan gelas minum sendiri. Jangan berbagi penggunaan gelas dengan orang lain, terutama jika ada anggota keluarga yang sakit.
  • Sering mencuci tangan. Cucilah tangan sesering mungkin dan siapkan pembersih tangan yang mengandung alkohol saat bepergian.
  • Selalu memberikan ASI pada bayi sebisa mungkin. Sebab, infeksi pernapasan jarang terjadi pada bayi yang meminum ASI.
Vaksinasi dan pengobatanTidak ada vaksinasi untuk mencegah bronkiolitis. Namun, bayi yang berusia di atas 6 bulan disarankan untuk mendapatkan vaksinasi influenza/flu.Bayi berisiko tinggi terkena infeksi RSV, yang lahir prematur, memiliki masalah jantung dan paru-paru, atau sistem kekebalan tubuh yang lemah. Konsultasikan dengan dokter terkait pengobatan yang tepat untuk mengatasi kondisi tersebut.  
Segera temui dokter jika anak:
  • Tidak mau makan
  • Muntah
  • Napasnya berbunyi
  • Napasnya sangat cepat
  • Saat bernapas, dan tulang rusuk terlihat tersedot ke dalam
  • Tampak sangat lelah dan rewel
  • Malas minum, atau bernapas sangat cepat saat makan atau minum
  • Mengalami perubahan warna kulit menjadi biru terutama pada mulut dan kuku
  • Tidak buang air kecil selama 12 jam atau lebih
Sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter ketika berbagai gejala di atas terjadi, terutama jika usia anak belum 12 minggu, memiliki faktor risiko terhadap bronkiolitis termasuk lahir prematur, maupun masalah jantung atau paru-paru. 
Sebelum membawa anak untuk menjalani pemeriksaan ke dokter, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini.
  • Buat daftar seputar gejala yang dirasakan anak.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami anak. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi anak.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin Anda ajukan pada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi Anda saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberikan dukungan moral maupun membantu Anda dalam mengingat informasi yang disampaikan oleh dokter.
 
Dokter umumnya akan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dialami anak?
  • Kapan gejala pertama kali terjadi pada anak?
  • Apakah ada faktor risiko terhadap bronkiolitis?
  • Apakah anak rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah diberikan pada anak?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis bronkiolitis agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/bronchiolitis/symptoms/
Diakses pada 2 Oktober 2018
Healthline. https://www.healthline.com/health/bronchiolitis#
Diakses pada 9 September 2020
Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/961963-overview#a1
Diakses pada 9 September 2020
Childrens Hospital. http://www.childrenshospital.org/conditions-and-treatments/conditions/b/bronchiolitis/diagnosis-and-treatment
Diakses pada 9 September 2020
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/bronchiolitis.html
Diakses pada 9 September 2020
 
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email

Artikel Terkait

Cara Pengobatan Cacar air yang Aman dan Efektif pada Anak

Bayi dan anak kecil rentan sakit cacar air. Cacar air memang tidak bahaya, tapi bisa sangat menular. Lantas, seperti apa pengobatan cacar air yang efektif pada anak?
12 Apr 2019|Nina Hertiwi Putri
Baca selengkapnya
berbagai macam pengobatan dokter untuk mengobati cacar air pada anak

4 Cara Mengobati Mata Minus untuk Si Kecil

Rabun jauh atau mata minus adalah gangguan mata yang membuat anak kesulitan untuk melihat objek dari jarak yang jauh. Hal itu terjadi akibat kebiasaan bermain gadget yang terlalu lama. Jika anak mengalami rabun jauh, segera periksakan ke dokter untuk pemberian kacamata anak. Selain itu, cara mengobati mata minus pada anak dapat dilakukan dengan tetes mata atropin.
28 May 2019|Dina Rahmawati
Baca selengkapnya
Kebiasaan bermain di gadget dapat meningkatkan risiko anak memakai kacamata

Napas Terasa Berat, Apa Saja Penyebabnya?

Napas terasa berat sangatlah normal setelah melakukan aktivitas fisik. Namun, jika napas terasa berat saat tidak melakukan apapun, ada penyakit yang berpotensi menyebabkannya.
15 Sep 2020|Fadli Adzani
Baca selengkapnya
Napas terasa berat? Bisa jadi Anda mengidap asma!