Botulisme disebabkan adanya racun pada makanan yang terkontaminasi bakteri Clostridium botulinum.
Botulisme menyerang sistem saraf dan banyak terjadi pada anak-anak.

Botulisme adalah penyakit langka dan serius yang disebabkan oleh racun saraf (neurotoksin) yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum. Toksin tersebut merupakan salah satu toksin yang paling berbahaya dan menyerang sistem saraf otak dan sumsum tulang belakang dan menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian.

Ada lima jenis botulisme, diantaranya adalah:

  • Infant botulism-botulisme bayi
  • Foodborne botulism-botulisme bawaan makanan
  • Wound botulism-botulisme luka
  • Adult intestinal toxaemia (adult intestinal colonization)
  • Iatrogenic botulism

Gejala botulisme dapat muncul dari 6-10 hari setelah infeksi awal. Kebanyakan kasus botulisme pada bayi dan makanan muncul antara 12-36 jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Gejala awal botulisme bayi, diantaranya adalah:

  • Sembelit
  • Kesulitan menyusu
  • Kelelahan
  • Gelisah
  • Meneteskan air liur berlebih
  • Kelopak mata terkulai
  • Menangis lemah
  • Kehilangan kontrol kepala dan gerakan lemas karena kelemahan otot
  • Kelumpuhan

Gejala botulisme karena keracunan makanan, diantaranya adalah:

  • Kesulitan menelan atau berbicara
  • Kelemahan pada kedua sisi wajah
  • Penglihatan kabur
  • Kelopak mata terkulai
  • Kesulitan bernafas
  • Mual, muntah, dan kram perut (hanya pada botulisme makanan)
  • Kelumpuhan

Semua gejala diatas dihasilkan oleh kelumpuhan otot yang disebabkan oleh toksin. Dan jika tidak diobati, maka penyakit ini dapat berkembang dan gejala akan memburuk dan menyebabkan kelumpuhan otot–otot tertentu seperti otot pernapasan, dan otot–otot pada lengan, kaki dan torso (area dari leher sampai dengan panggul).

Botulisme merupakan penyakit yang jarang tetapi merupakan kondisi yang serius. Kondisi ini disebabkan oleh bakteri Clostridium Botulinum yang dapat ditemukan secara alami pada tanah dan pada banyak tempat lainnya.

Bakteri ini membentuk spora yang berperan sebagai lapisan pelindung, sehingga bakteri ini dapat hidup pada kondisi ekstrim sekalipun. Spora ini biasanya tidak akan menyebabkan orang menjadi sakit, walaupun termakan. Tetapi kondisi tertentu dapat membuat spora ini bertumbuh dan mengeluarkan salah satu neurotoksin paling mematikan yang dikenal manusia.

Kondisi yang dapat membuat spora bertumbuh dan mengeluarkan neurotoksin, antara lain:

  • Lingkungan dengan kadar oksigen rendah atau tidak ada oksigen sama sekali (anaerob)
  • Kadar asam yang rendah
  • Kadar gula rendah
  • Kisaran suhu tertentu
  • Jumlah air tertentu

Botulisme makanan

Penyebab botulisme makanan adalah mengonsumsi makanan rumahan yang telah terkontaminasi toksin botulisme. Sumber dari botulisme makanan adalah makanan rumahan yang diawetkan, difermentasi atau dikalengkan secara tidak benar, juga makanan dengan kadar asam yang  rendah  seperti buah-buahan, sayuran dan ikan. Penyakit ini juga dapat bersumber pada cabai, kentang panggang yang dibungkus dengan aluminium foil, dan minyak yang diresapi dengan bawang putih.

Ketika seseorang memakan makanan yang mengandung racun, racun tersebut akan mengganggu fungsi saraf dan menyebabkan kelumpuhan.

Botulisme luka

Ketika bakteri Clostridium botulinum masuk kedalam luka yang kemungkinan disebabkan oleh cedera seperti pada kecelakaan lalu lintas atau operasi, maka bakteri akan berkembang  dan menghasilkan racun. Kejadian luka botulisme meningkat  pada seseorang yang menyuntikan heroin yang mengandung spora bakteri, bahkan kondisi ini umum ditemui pada orang yang menyuntikkan black tar heroin.

Botulisme bayi

Bayi mendapatkan botulisme setelah mengonsumsi spora dari  bakteri yang kemudian tumbuh dan berkembang biak pada  saluran usus mereka dan menghasilkan racun. Sumber botulisme bayi mungkin adalah madu, namun kemungkinan besar adalah paparan terhadap tanah yang telah terkontaminasi  bakteri.

Adult intestinal toxemia (adult intestinal colonization)

Botulisme jenis ini merupakan jenis yang sangat jarang terjadi. Botulisme ini dapat terjadi ketika spora dari bakteri masuk kedalam usus orang dewasa, bertumbuh dan mengeluarkan toksin (serupa dengan botulisme pada bayi). Walaupun tidak diketahui mengapa kondisi ini terjadi, orang dengan kondisi penyakit serius yang memengaruhi pencernaan lebih mungkin terkena penyakit ini.

Iatrogenic botulism

Botulisme jenis ini dapat terjadi ketika toksin botulinum diinjeksikan dengan alasan kosmetik, seperti untuk mengobati kerutan wajah, atau untuk alasan medis seperti untuk mengobati sakit kepala karena migrain.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik, mencari tanda-tanda botulisme seperti kelemahan otot, suara yang lemah atau kelopak mata yang terkulai. Dokter juga akan menanyakan tentang makanan yang dikonsumsi oleh pasien.

Tes laboratorium dapat dilakukan untuk menganalisis darah atau sampel tinja. Tes lain yang dapat dilakukan adalah pengujian makanan yang dicurigai menyebabkan botulisme. Pengujian ini memerlukan waktu beberapa hari. Dokter juga akan menyingkirkan  penyebab lain yang gejalanya mirip botulisme, seperti stroke, Guillain–Barre Syndrome (kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang sistem saraf), myasthenia gravis dan overdosis opiat. Dokter akan menjalankan beberapa pemeriksaan khusus untuk menegakkan diagnosis, seperti scan otak, pemeriksaan cairan serebrospinal, pemeriksaan fungsi saraf dan otot dengan tes konduksi saraf dan elektromiografi, serta pemeriksaan tendon untuk myasthenia gravis. 

Botulisme memerlukan perawatan di rumah sakit. Pengobatan ini bergantung pada jenis botulisme, namun biasanya melibatkan:

  • Menetralkan racun dengan suntikan antitoksin atau antibodi khusus. Obat ini dapat menghentikan gejala menjadi semakin buruk, tetapi obat ini tidak dapat menyembuhkan kerusakan yang telah terjadi akibat toksin botulinum.
  • Antibiotik dapat mengobati botulisme pada luka
  • Terapi untuk membantu proses berbicara, menelan dan fungsi tubuh lainnya segera setelah gejala membaik.
  • Alat bantu pernafasan untuk mendukung fungsi tubuh ketika terjadi kelumpuhan otot–otot pernapasan.

Perawatan botulisme ditujukan untuk mengurangi gejala yang timbul. Pada kebanyakan orang, kelumpuhan yang terjadi sebelum pengobatan akan berangsur membaik selama beberapa minggu atau bulan berikutnya.

Langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah botulisme, diantaranya adalah:

  • Pastikan tangan, wadah dan peralatan makan bersih ketika hendak mengawetkan dan membuat makanan kaleng rumahan.
  • Menyimpan makanan dengan hati-hati untuk mengurangi kemungkinan makanan tercemar ketika diawetkan dan dikalengkan.
  • Masak makanan dengan matang untuk membunuh bakteri.
  • Gunakan pendingin untuk menyimpan makanan.
  • Jangan mengonsumsi makanan kaleng yang kemasannya menggembung, mengeluarkan busa atau cairan saat dibuka, dan isinya berbau busuk dan tidak biasa.
  • Jangan memberikan madu atau sirup jagung ke bayi yang berusia <1 tahun.
  • Jangan menggunakan heroin atau narkoba.
  • Bersihkan luka dengan baik untuk mencegah terjadinya botulisme luka. Jika terjadi infeksi pada luka, segera cari pertolongan medis. Infeksi pada luka dapat berupa: merah, bengkak, sakit atau nyeri, hangat pada perabaan, penuh dengan nanah, dan disertai dengan demam.
  • Adult intestinal colonization serupa dengan botulisme pada bayi. Kondisi ini tidak dapat dicegah, karena tidak diketahui pasti penyebab terjadinya kondisi ini pada orang dewasa.
  • Iatrogenic botulism. Botulisme jenis ini dapat dicegah dengan hanya mendapatkan injeksi botulinum toksin dari profesional yang berlisensi.

Botulisme adalah kondisi medis yang serius yang membutuhkan perawatan medis segera. Perawatan dini akan meningkatkan peluang hidup yang lebih besar serta mengurangi komplikasi penyakit lain.

Mencari bantuan medis dengan segera juga akan memberitahu otoritas kesehatan, sehingga mereka dapat mencegah orang lain untuk mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh toksin botulinum. 

Beberapa hal yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Membawa semua obat, vitamin dan suplemen yang Anda konsumsi
  • Menuliskan pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter

Dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan sebelum mendiagnosis keadaan pasien, pertanyaan tersebut diantaranya adalah:

  • Kapan Anda mulai mengalami gejala?
  • Apakah gejala Anda terjadi terus menerus atau sesekali?
  • Apakah Anda atau anak Anda sudah makan makanan kaleng rumahan baru-baru ini?
  • Apakah bayi Anda mengonsumsi madu?
  • Apakah ada orang lain yang memakan makanan yang dicurigai membuat Anda sakit?

Healthline. https://www.healthline.com/health/botulism
diakses pada 10 Desember 2018.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/botulism/symptoms-causes/syc-20370262
diakses pada 10 Desember 2018.

Medicinenet. https://www.medicinenet.com/botulism/article.htm
diakses pada 10 Desember 2018.

Medline Plus. https://medlineplus.gov/botulism.html
diakses pada 10 Desember 2018.

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/botulism/
diakses pada 10 Desember 2018.

Web MD. https://www.webmd.com/food-recipes/food-poisoning/what-is-botulism#1
diakses pada 10 Desember 2018.

Artikel Terkait