Bipolar

Ditulis oleh Olivia
Ditinjau dr. Miranda Rachellina
Penderita yang mengalami bipolar mempunyai suasana hati yang dapat berubah-ubah secara ekstrim
Penderita yang mengalami bipolar mempunyai suasana hati (mood) yang dapat berubah-ubah secara ekstrim.

Pengertian Bipolar

Bipolar adalah gangguan yang dahulu dikenal sebagai depresi manik. Penderita yang mengalami bipolar mempunyai suasana hati (mood) yang dapat berubah-ubah secara ekstrim yang meliputi mania atau hypomania (rasa senang atau semangat berlebihan) atau depresi (rasa sedih, tidak bersemangat berlebihan) yang menyebabkan gangguan dalam kehidupan sehari-hari bahkan merugikan atau membahayakan penderitanya. Ketika berada pada periode depresi, penderita akan merasa sangat tidak bersemangat dan lesu, sedangkan pada periode mania atau hypomania, penderita akan menjadi terlalu aktif dan menjadi senang secara berlebihan. Perbedaan dari mania dan hypomania adalah dari tingkat keparahannya. Pada hypomania, penderita tidak akan mengalami reaksi senang atau semangat secara berlebihan seperti saat mania. 

Penderita dapat mengalami setiap perubahan mood ekstrim tersebut selama berminggu-minggu atau bahkan dapat terjadi lebih lama dan sering. Berbeda dengan perubahan suasana hati yang biasanya, penderita bisa saja merasakan depresi selama berminggu-minggu dan kemudian berganti lagi ke mania atau hypomania. Penderita sangat jarang merasakan suasana hati yang "normal". 

Terdapat beberapa tipe gangguan bipolar, yaitu:

  • Gangguan bipolar I, penderita mengalami setidaknya satu kejadian mania yang mungkin sebelumnya atau setelahnya diikuti oleh kejadian hypomania atau depresi. Pada beberapa kasus, kejadian mania mungkin dapat memicu pemutusan dari realita (psikosis).

  • Gangguan bipolar II, penderita mengalami setidaknya satu kejadian depresi dan setidaknya satu kejadian hypomania, tetapi penderita tidak pernah mengalami kejadian mania.

  • Gangguan cyclothymia, penderita pernah setidaknya mengalami banyak kejadian saat penderita mengalami gejala-gejala dari hypomania dan banyak kejadian saat penderita mengalami gejala-gejala depresi (depresi yang dirasakan tidak separah depresi yang biasanya) selama setidaknya dua tahun (atau satu tahun pada anak-anak dan remaja). 

  • Tipe-tipe lainnya, bipolar yang muncul karena alkohol, obat-obatan tertentu, atau karena kondisi medis tertentu (contoh, sindrom Cushing, stroke, dan sebagainya).

Penjelasan Lebih Lanjut

Gejala

Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) yang menjadi panduan untuk Asosiasi Psikiater Amerika (American Psychiatrist Association), gangguan bipolar ditandai dengan periode depresi yang berkepanjangan, mendalam, dan intens yang silih berganti dengan periode suasana hati yang sangat gembira dan mudah kesal secara berlebihan atau mania. 

Untuk dapat didiagnosis mengalami bipolar, individu harus mengalami kejadian mania atau hypomania dan depresi. Individu akan didiagnosis mengalami mania jika gejala-gejala mania yang dialami menganggu secara intens setidaknya selama satu minggu yang ditandai dengan rasa gembira yang meluap-luap, mudah marah, atau sangat ekspresif dan terbuka. Saat kejadian mania terjadi, individu harus mengalami setidaknya tiga dari gejala mania di bawah ini:

  • Hilangnya rasa kebutuhan untuk tidur.
  • Mudah terdistraksi (yang terlihat jelas).
  • Berbicara secara berlebihan atau cara berbicara yang tidak beraturan dan terlalu cepat (pressured speech). 
  • Meningkatnya tingkat aktivitas yang berfokus pada tujuan di rumah, di kantor, ataupun secara seksual.  
  • Merasa superior dan tidak terkalahkan (grandiosity).
  • Meningkatnya aktivitas-aktivitas yang menimbulkan rasa senang secara berlebihan, terkadang dengan konsekuensi yang menyakitkan.
  • Pemikiran yang berkelabat atau loncatan-loncatan ide (flight of ideas). 

Serupa dengan mania, pada hypomania, individu harus mengalami suasana hati yang gembira secara berlebihan, mudah marah, atau sangat ekspresif dan terbuka. Namun, pada hypomania, durasinya setidaknya terjadi selama empat hari berturut-turut dan gejala-gejala yang dirasakan tidak separah mania yang menganggu fungsi sehari-hari atau sampai membutuhkan pelayanan rawat inap. Hypomania juga tidak menimbulkan psikosis. Individu didiagnosis mengalami hypomania jika tiga dari gejala-gejala mania yang tercantum di atas dialami oleh individu. 

Sementara itu, individu akan didiagnosis mengalami depresi jika individu mengalami setidaknya lima dari gejala-gejala depresi yang dicantumkan di bawah selama dua minggu. Salah satu dari kelima gejala tersebut haruslah suasana hati yang murung atau tertekan, atau kehilangan minat atau rasa senang. Gejala-gejala tersebut meliputi:

  • Hilangnya minat atau rasa senang pada hampir semua aktivitas.
  • Suasana hati yang tertekan atau murung.
  • Insomnia atau hypersomnia. 
  • Adanya kenaikan berat badan, penurunan berat badan, peningkatan nafsu makan, atau penurunan nafsu makan yang signifikan.
  • Gangguan pada psikomotor (psychomotor retardation), berupa kesulitan untuk melakukan hal-hal sehari-hari, atau kecemasan yang berefek pada psikomotor (psychomotor agitation), seperti mengelilingi ruangan atau mengetuk-ngetukan kaki di lantai. 
  • Kelelahan atau kehilangan energi.
  • Pikiran yang sering atau berulang tentang kematian atau bunuh diri, individu mungkin memiliki rencana bunuh diri atau pernah melakukan percobaan bunuh diri. 
  • Hilangnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, keragu-raguan.

Penyebab

Tidak diketahui penyebab pasti dari gangguan bipolar, namun terdapat beberapa faktor yang diduga terlibat, seperti:

  • Perbedaan biologis, penderita mengalami perubahan fisik pada otak.
  • Faktor genetik, ada riwayat gangguan bipolar dalam keluarga dekat (orang tua atau saudara kandung).
  • Perubahan yang besar dan penting dalam kehidupan yang menyebabkan stres berat, seperti meninggalnya keluarga dekat, perceraian, dan sebagainya.

Diagnosis

Untuk menentukan apakah seseorang memiliki gangguan bipolar, evaluasi yang dilakukan dapat berupa: 

  • Diagram suasana hati dengan cara mencatat keseharian suasana hati, pola tidur, dan faktor lainnya yang dapat membantu didiagnosis.
  • Pemeriksaan fisik, dokter memeriksa fisik dan melakukan tes laboratorium untuk mengidentifikasi masalah medis yang dapat menyebabkan gejala yang mirip.
  • Pertanyaan-pertanyaan seputar gejala yang dialami, ada tidaknya pemikiran untuk melukai diri atau bunuh diri, dan latar belakang keluarga. 
  • Penilaian psikiatri yang dilakukan psikolog, psikiater, atau ahli kesehatan mental lainnya berdasarkan pola perilaku, pikiran, dan kuesioner psikologis.
  • Diagnosis berdasarkan DSM-5.

Pengobatan

Terdapat beberapa cara untuk mengobati gangguan bipolar, seperti:

  • Program pengobatan harian, memberikan dukungan dan konseling untuk mengendalikan gejala yang dialami.

  • Medikasi, berupa obat penstabil suasana hati (mood), antipsikotik, antidepresan, anticemas, dan antikonvulsan.

  • Perawatan lanjutan, penderita yang melewatkan perawatan akan berisiko tinggi mengalami gejala kambuh. Penderita perlu untuk tetap menjalani perawatan meskipun dalam kondisi yang membaik sekalipun.

  • Rawat inap, diperlukan jika penderita berpotensi membahayakan dirinya atau orang lain,memiliki keinginan bunuh diri, atau merasa terlepas dari realita (psikosis). Rawat inap akan membantu menstabilkan suasana hati penderita serta menjaga agar penderita lebih tenang dan merasa aman ketika mengalami kejadian mania atau depresi.

  • Terapi elektrokonvulsif, dapat dilakukan jika penderita tidak mendapatkan efek dari medikasi, tidak dapat mengonsumsi obat-obatan yang diberikan, atau berisiko tinggi untuk melakukan bunuh diri. Terapi ini meliputi pemberian aliran listrik ke otak yang dapat memicu kejang-kejang dalam durasi yang singkat. Terapi ini dapat mengubah zat-zat kimia di otak dan membalikkan gejala-gejala dari gangguan mental yang dialami.

  • Psikoterapi, membantu penderita untuk menghadapi depresi yang dialami dan membantu meningkatkan hubungan interpersonal penderita. Jenis psikoterapi yang biasa diberikan dapat berupa:
    • Terapi ritme interpersonal dan sosial (interpersonal and social rythm therapy), membantu mengatur dan menyeimbangkan ritme sehari-hari, seperti pola tidur, makan, dan sebagainya. Rutinitas yang konsisten dapat membantu memperbaiki suasana hati.
    • Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy), untuk mengidentifikasi keyakinan dan perilaku yang tidak sehat dan negatif serta menggantinya dengan yang sehat dan positif. Terapi ini juga dapat membantu penderita untuk mengidentifikasi apa yang memicu gangguan bipolar dan menerapkan cara-cara yang efektif untuk menghadapi stres karena gangguan yang dialami. 
    • Psikoedukasi, mempelajari kondisi yang dialami penderita untuk dapat mengidentifikasi masalah serta membuat rencana untuk mencegah kambuhnya gangguan yang dialami.
    • Terapi keluarga, memberi dukungan dan komunikasi keluarga yang dapat membantu agar penderita tetap pada jalur perawatan yang baik dan benar, serta membantu anggota keluarga lebih menyadari tanda-tanda munculnya gangguan.

Jika Anda mengalami bipolar, Anda dapat melakukan beberapa hal di bawah ini:

  • Tetap mengikuti penanganan yang diberikan dan fokus dengan tujuan menjadi lebih baik.
  • Bercerita dengan orang-orang terdekat mengenai masalah yang dihadapi atau mengikuti komunitas-komunitas yang terdiri dari orang-orang yang mengalami masalah yang serupa agar dapat saling berdiskusi dan mendukung satu sama lainnya.
  • Selalu mendiskusikan obat-obatan yang dikonsumsi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.
  • Jangan mengonsumsi rokok, alkohol, dan narkotika.
  • Terapkan rutinitas dan pola hidup yang sehat, seperti mengonsumsi makanan yang bergizi secara teratur, istirahat yang cukup dan teratur, serta berolahraga secara teratur.
  • Membuat catatan mengenai suasana hati yang dirasakan, pola tidur, aktivitas-aktivitas yang dilakukan, dan perasaan yang dirasakan. Catatan yang dibuat akan berguna untuk dapat mengidentifikasi hal-hal yang memicu gangguan. 
  • Menerapkan teknik-teknik untuk mengatasi stres dan rileksasi, seperti yoga, meditasi, dan sebagainya. 
  • Mencari media atau outlet yang tepat untuk mengekspresikan suasana hati, pemikiran ataupun perasaan yang dialami, seperti melukis dan sebagainya.
  • Mencari tahu mengenai kondisi yang Anda alami. 

Pencegahan

Karena penyebab bipolar belum diketahui, pencegahan hanya bertujuan untuk mencegah kambuhnya gejala (relapse) . Berikut adalah cara untuk mencegah agar gejala bipolar memburuk atau bahkan kambuh kembali:

  • Mengikuti penanganan yang diberikan secara teratur. 
  • Perhatikan gejala-gejala sejak awal agar dapat mencegah gangguan menjadi lebih buruk. Segera konsultasikan dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya.
  • Hindari obat-obatan, rokok, dan alkohol.

Informasi Dokter

Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?

Jika Anda atau orang-orang terdekat Anda memiliki gejala-gejala seperti yang tercantum di atas, terutama jika Anda atau orang-orang terdekat Anda memiliki keinginan untuk bunuh diri atau melakukan percobaan bunuh diri, segera konsultasikan dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya. 

Apa yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Berkonsultasi dengan Dokter?

Sebelum berkonsultasi dengan dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, buatlah daftar mengenai gejala-gejala yang dialami, informasi mengenai masalah-masalah kehidupan yang terjadi baru-baru ini, semua obat atau zat-zat yang dikonsumsi, serta pertanyaan-pertanyaan untuk ditanyakan kepada dokter dan ahli kesehatan mental lainnya, seperti:

  • Apakah saya memiliki gangguan bipolar?
  • Jenis-jenis tes apa yang harus saya ikuti?
  • Penanganan apa yang direkomendasikan untuk saya?
  • Jika saya harus mengonsumsi obat, apa efek samping dan kontra indikasi dari obat yang akan saya konsumsi?
  • Apakah terdapat brosur, website, atau materi-materi tercetak yang bisa saya peroleh seputar kondisi yang saya alami?

Apa yang Akan Dilakukan Dokter pada Saat Konsultasi?

Dokter dan ahli kesehatan mental lainnya akan bertanya:

  • Kapan Anda atau orang-orang di sekitar Anda mulai menyadari gejala-gejala tersebut?
  • Seberapa sering suasana hati Anda berubah?
  • Apakah gejala Anda mengganggu kehidupan sehari-hari atau hubungan Anda?
  • Apakah Anda memiliki anggota keluarga dengan gangguan bipolar atau depresi?
  • Apakah Anda pernah mengalami periode saat Anda mengambil risiko yang normalnya tidak akan Anda lakukan, seperti seks tanpa pengaman atau keputusan finansial yang spontan dan tidak bijak?
  • Apakah Anda mengonsumsi alkohol, rokok, atau obat-obatan tertentu?
  • Apakah terdapat hal-hal yang dapat memperparah atau memperbaiki gejala-gejala yang dirasakan?
  • Apakah Anda pernah ingin melakukan bunuh diri saat Anda merasa terpuruk? 
  • Berapa lama Anda tidur dan apakah waktu tidurnya berubah-ubah?
  • Apakah Anda memiliki kondisi medis atau mental tertentu lainnya? 
Referensi

Mayo Clinic. 
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bipolar-disorder/symptoms-causes/syc-20355955
Diakses pada 17 Desember 2018

Medscape.
https://emedicine.medscape.com/article/286342-overview
Diakses pada 19 Maret 2019

NHS. 
https://www.nhs.uk/conditions/bipolar-disorder/
Diakses pada 17 Desember 2018

Back to Top