Saraf

Bell’s Palsy

07 Apr 2021 | Dedi IrawanDitinjau oleh dr. Karlina Lestari
image Bell’s Palsy
Kelumpuhan sementara pada wajah dapat terjadi karena terjadinya peradangan setelah mengalami pilek, infeksi telinga, atau infeksi pada mata.
Bell’s palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan sementara yang memengaruhi salah satu sisi wajah. Kondisi ini dapat terjadi ketika saraf pengendali otot wajah mengalami peradangan, pembengkakan, atau tertekan.Penderita akan sulit untuk tersenyum dan susah untuk menutup mata pada area yang terkena. Pada banyak kasus, bell’s palsy hanyalah sementara dan gejala biasanya dapat menghilang setelah beberapa minggu dan sembuh total dalam 3–9 bulan.Namun, pada beberapa pasien mungkin akan tetap muncul seumur hidupnya. Meski jarang, kondisi ini juga bisa kambuh kembali. Bell’s Palsy dapat terjadi pada semua usia, tetapi kondisi ini lebih umum ditemui ketika seseorang menginjak usia antara 16 hingga 60 tahun. 
Bell’s Palsy
Dokter spesialis Saraf
GejalaKelemahan pada satu sisi wajah, kesulitan menutup mata, kesulitan mengerutkan kening
Faktor risikoIbu hamil, pengidap diabetes, memiliki riwayat bell's palsy dalam keluarga
Metode diagnosisPemeriksaan fisik, tes darah, tes pencitraan
PengobatanObat-obatan, terapi fisik, operasi
ObatObat kortikosteroid, antivirus, pereda nyeri
KomplikasiKerusakan saraf wajah permanen, pertumbuhan serat saraf yang tidak normal, kebutaan
Kapan harus ke dokter?Mengalami kelemahan pada wajah, wajah terkulai
Gejala dari Bell’s Palsy dapat timbul satu atau dua minggu setelah mengalami pilek, infeksi telinga atau infeksi pada mata. Gejala biasanya muncul secara tiba–tiba, dan biasanya hanya memengaruhi satu sisi wajah. Tetapi walaupun jarang, bell’s palsy dapat terjadi pada kedua sisi wajah. Gejala bell’s palsy antara lain:
  • Perubahan cepat dari kelemahan ringan hingga total kelumpuhan pada satu sisi wajah, terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari
  • Wajah terkulai dan kesulitan dalam membuat ekspresi wajah seperti menutup mata, mengerutkan kening atau tersenyum
  • Meneteskan air liur
  • Sakit di sekitar rahang, didalam atau dibelakang telinga pada sisi yang terkena
  • Peningkatan sensitivitas terhadap suara pada sisi yang terkena
  • Sakit kepala
  • Penurunan kemampuan dalam mengecap
  • Perubahan jumlah air mata dan air liur yang diproduksi yang menyebabkan mata dan mulut menjadi kering
  • Kesulitan untuk makan dan minum
  • Otot wajah yang berkedut
 
Bell’s palsy terjadi ketika saraf kranial ketujuh menjadi bengkak atau terkompres, menyebabkan  kelemahan wajah atau kelumpuhan. Penyebab pasti dari kerusakan ini tidak diketahui, tetapi banyak ilmuwan percaya hal ini dipicu oleh infeksi virus.Virus atau bakteri yang berhubungan dengan perkembangan bell’s palsy termasuk:
  • Herpes simplex, yang dapat menyebabkan lepuhan dan herpes kelamin.
  • HIV, yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh.
  • Sarcoidosis, yang menyebabkan peradangan organ tubuh.
  • Virus herpes zoster yang menyebabkan cacar air dan herpes zoster (shingles).
  • Epstein-barr virus yang menyebabkan mononucleosis.
  • Adenovirus yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.
  • Infeksi oleh Cytomegalovirus (CMV).
  • Virus gondongan.
  • Rubella atau campak jerman.
  • Influenza B yang menyebabkan flu.
  • Virus Coxsackie yang menyebabkan hand foot and mouth disease (penyakit tangan kaki dan mulut atau flu singapura).
  • Penyakit lyme, dimana infeksi bakteri disebabkan oleh kutu yang terinfeksi.
 

Faktor risiko Bell's palsy

Risiko untuk terkena Bell’s palsy meningkat pada:
  • Wanita hamil, terutama pada trimester ketiga atau pada minggu pertama setelah melahirkan.
  • Menderita diabetes atau kencing manis.
  • Menderita infeksi pada paru–paru atau saluran pernapasan atas seperti flu atau pilek.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan Bell’s Palsy (kerentanan genetik).
 
Diagnosis Bell’s Palsy tidak dilakukan dengan cara spesifik. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan beratnya kelemahan dari otot wajah. Hal ini dilakukan dengan cara melihat wajah dan meminta pasien untuk melakukan beberapa hal.Tindakan yang diminta dokter antara lain menggerakkan otot wajah dengan menutup mata, mengangkat alis mata, tersenyum dengan memperlihatkan gigi, mengerutkan kening, dan gerakan lainnya.Dokter juga akan menanyakan kapan gejala terjadi atau kapan mulai merasakannya. Kondisi lain, seperti stroke, infeksi, penyakit Lyme dan tumor dapat menyebabkan kelemahan pada otot wajah, sehingga menyerupai gejala Bell’s Palsy.Jika penyebab dari gejala tidaklah jelas, maka dokter akan menggunakan beberapa pemeriksaan untuk membuat diagnosa bell’s palsy.
  • Elektromiografi (EMG)

Tes ini dilakukan untuk memastikan adanya kerusakan saraf dan menentukan tingkat keparahannya. EMG mengukur aktivitas listrik otot sebagai respons terhadap rangsangan dan sifat serta kecepatan konduksi impuls listrik di sepanjang saraf.
  • Pencitraan

Magnetic resonance imaging (MRI) atau CT scan terkadang diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan sumber tekanan lain pada saraf wajah, seperti tumor atau fraktur tengkorak.
  • Tes darah

Terkadang tes darah dilakukan guna menentukan apakah pasien memiliki penyakit lainnya seperti diabetes atau infeksi tertentu. 
Sebagian besar penderita Bell’s palsy akan sembuh total, dengan atau tanpa perawatan. Namun, memerlukan beberapa minggu atau bulan supaya kekuatan otot wajah dapat kembali seperti semula. Tidak ada satu pengobatan Bell’s palsy yang sudah pasti.

Obat-obatan

Beberapa obat diberikan untuk mengobati kondisi ini, antara lain:
  • Kortikosteroid

Jenis obat ini merupakan antiinflamasi yang kuat sehingga bisa mengurangi pembengkakan saraf wajah. Saraf yang bengkak akan kembali masuk kembali ke koridor tulang yang mengelilinginya. Salah satu contoh dari obat jenis ini adalah prednison.
  • Antivirus

Antivirus yang ditambahkan ke dalam steroid mungkin bermanfaat bagi penderita gangguan ini. Hanya saja, hal ini masih belum memiliki bukti kuat. Namun valasiklovir atau asiklovir terkadang dikombinasikan dengan prednison untuk penderita Bell’s palsy.
  • Obat tanpa resep dokter

Obat tanpa resep yang bisa diberikan adalah ibuprofen dan acetaminophen guna meredakan nyeri.
  • Obat tetes mata

Untuk menjaga mata tetap lembap dan terlindung dari kotoran dan cedera, memberikan tetes mata bisa membantu. Selain itu, salep, gel mata, dan penutup mata juga bisa digunakan dengan tujuan yang sama.

Fisioterapi

Kelumpuhan pada otot bisa membuat bagian ini menyusut dan memendek sehingga menimbulkan kontraktur permanen. Terapi fisik (fisioterapi) dilakukan dengan mengajarkan cara memijat dan melatih otot wajah. Dengan ini, kontraktur permanen bisa dicegah.

Operasi

Saat ini, operasi dekompresi memang tidak disarankan. Sebab, risiko dari prosedur ini adalah munculnya cedera saraf wajah dan gangguan pendengaran permanen. Meski jarang, operasi plastik mungkin diperlukan guna memperbaiki masalah saraf wajah.Operasi plastik yang dilakukan diantaranya pengencangan alis, pengencangan kelopak mata, implant wajah, dan cangkok saraf. Dari berbagai prosedur di atas, beberapa diantaranya mungkin perlu dilakukan lebih dari sekali. Contohnya adalah prosedur pengencangan alis.Bell’s Palsy sangat jarang terjadi pada anak, dan kebanyakan anak yang terpengaruh akan sembuh sepenuhnya tanpa perawatan. 

Komplikasi Bell's palcy

Kasus ringan dari bell’s palsy biasanya menghilang dalam sebulan. Penyembuhan dari kasus yang lebih berat melibatkan berbagai kelumpuhan total. Komplikasi termasuk:
  • Kerusakan permanen pada saraf wajah
  • Pertumbuhan serat saraf yang tidak normal, menghasilkan kontraksi dari beberapa otot tanpa sadar ketika mencoba menggerakkan yang lainya (synkinesis), sebagai contoh, ketika tersenyum, maka mata pada sisi yang terkena dapat menutup.
  • Kebutaan sebagian atau seluruhnya pada mata yang tidak akan tertutup karena mata yang terlalu kering dan goresan pada kornea mata.
 
Cara mencegah Bell’s palsy belum tersedua, mengingat penyebabnya juga belum diketahui dengan pasti. Namun Anda bisa menurunkan kemungkinannya dengan menghindari faktor risikonya, seperti infeksi terkait virus herpes.Seseorang hanya bisa menderita Bell’s palsy sekali seumur hidupnya. Namun kekambuhan bisa saja terjadi. Kondisi ini lebih mungkin muncul jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan Bell’s palsy. 
Hubungilah dokter jika mengalami beberapa gejala berikut:
  • Kelemahan atau kelumpuhan total pada salah satu sisi wajah yang berkembang cepat dalam waktu 27 jam
  • Kelopak mata atau sudut mulut terkulai
  • Air liur keluar tak terkendali
  • Mulut terasa kering
  • Kemampuan indera pengecap terganggu
  • Mengalami iritasi mata seperti kekeringan atau terlalu banyak air mata keluar
Hubungilah dokter sesegera mungkin sebab pengobatan akan efektif jika lebih awal dilakukan terutama 72 jam pertama. Jika mengalami masalah saat menutup mata, sebaiknya lakukan perawatan tambahan agar mata terjaga dari cedera atau kerusakan penglihatan.Jika kondisi yang terjadi adalah seperti gejala di bawah ini, segera hubungi layanan gawat darurat sebab bisa jadi pasien terkena stroke:
  • Wajah terkulai di satu sisi misal mulut atau mata turun
  • Tidak mampu mengangkat kedua lengannya dan menahannya dalam waktu lama
  • Mengalami kesulitan berbicara baik cadel atau meracau
Tidak seperti Bell’s Palsy, stroke biasanya menyerang secara tiba-tiba. 
Sebelum melakukan kunjungan ke dokter, persiapkan beberapa hal di bawah ini:
  • Buatlah daftar seputar gejala yang muncul.
  • Catat riwayat penyakit yang pernah dan sedang dialami oleh pasien. Demikian pula dengan riwayat medis keluarga.
  • Catat semua obat, suplemen, obat herbal, atau vitamin yang dikonsumsi oleh pasien.
  • Catat pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada dokter.
  • Mintalah keluarga atau teman untuk mendampingi saat berkonsultasi ke dokter. Mereka bisa memberi dukungan moral maupun membantu mengingat informasi yang disampaikan dokter.
 
Dokter kemungkinan akan mengajukan pertanyaan berikut:
  • Apa saja gejala yang dirasakan pasien?
  • Apakah Anda memiliki faktor risiko terkait Bell’s palsy?
  • Apakah Anda rutin mengonsumsi obat-obatan tertentu?
  • Apakah Anda pernah mencari bantuan medis? Bila iya, apa saja pengobatan yang telah Anda coba?
Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menganjurkan pemeriksaan penunjang. Langkah ini bertujuan memastikan diagnosis Bell’s Palsy agar penanganan yang tepat bisa diberikan. 
Healthline. https://www.healthline.com/health/bells-palsy#causes
Diakses pada 6 Desember 2018
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bells-palsy/symptoms-causes/syc-20370028
Diakses pada 6 Desember 2018
Medline Plus. https://medlineplus.gov/bellspalsy.html
Diakses pada 6 Desember 2018
NHS. https://www.nhs.uk/conditions/bells-palsy/
Diakses pada 6 Desember 2018
NINDS. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Bells-Palsy-Fact-Sheet
Diakses pada 6 Desember 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email