Bells's palsy dapat terjadi setelah seseorang mengalami pilek, infeksi telinga, atau infeksi pada mata.
Kelumpuhan sementara pada wajah dapat terjadi karena terjadinya peradangan setelah mengalami pilek, infeksi telinga, atau infeksi pada mata.

Bell’s palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan sementara yang memengaruhi satu sisi wajah. Hal ini dapat terjadi ketika saraf yang mengontrol otot wajah menjadi radang, bengkak atau tertekan. Kondisi ini menyebabkan satu sisi dari wajah terkulai atau menjadi kaku. Penderita akan sulit untuk tersenyum dan sulit untuk menutup mata pada area yang terkena. Pada banyak kasus, bell’s palsy hanyalah sementara dan gejala biasanya dapat menghilang setelah beberapa minggu dan sembuh total dalam 3–9 bulan.

Bell’s palsy dapat terjadi pada semua usia, tetapi kondisi ini lebih umum ditemui antara usia 16-60 tahun.

Gejala dari Bell’s Palsy dapat timbul satu atau dua minggu setelah mengalami pilek, infeksi telinga atau infeksi pada mata. Gejala biasanya muncul secara tiba–tiba, dan biasanya hanya memengaruhi satu sisi wajah. Tetapi walaupun jarang, bell’s palsy dapat terjadi pada kedua sisi wajah. Gejala bell’s palsy antara lain:

  • Perubahan cepat dari kelemahan ringan hingga total kelumpuhan pada satu sisi wajah, terjadi dalam beberapa jam sampai beberapa hari.
  • Wajah terkulai dan kesulitan dalam membuat ekspresi wajah seperti menutup mata, mengerutkan kening atau tersenyum.
  • Meneteskan air liur.
  • Sakit di sekitar rahang, didalam atau dibelakang telinga pada sisi yang terkena.
  • Peningkatan sensitivitas terhadap suara pada sisi yang terkena.
  • Sakit kepala.
  • Penurunan kemampuan dalam mengecap.
  • Perubahan jumlah air mata dan air liur yang diproduksi yang menyebabkan mata dan mulut menjadi kering.
  • Kesulitan untuk makan dan minum.
  • Otot wajah yang berkedut.

Bell’s palsy terjadi ketika saraf kranial ketujuh menjadi bengkak atau terkompres, menyebabkan  kelemahan wajah atau kelumpuhan. Penyebab pasti dari kerusakan ini tidak diketahui, tetapi banyak ilmuwan percaya hal ini dipicu oleh infeksi virus.

Virus atau bakteri yang berhubungan dengan perkembangan bell’s palsy termasuk:

  • Herpes simplex, yang dapat menyebabkan lepuhan dan herpes kelamin.
  • HIV, yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh.
  • Sarcoidosis, yang menyebabkan peradangan organ tubuh.
  • Virus herpes zoster yang menyebabkan cacar air dan herpes zoster (shingles).
  • Epstein-barr virus yang menyebabkan mononucleosis.
  • Adenovirus yang menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.
  • Infeksi oleh Cytomegalovirus (CMV).
  • Virus gondongan.
  • Rubella atau campak jerman.
  • Influenza B yang menyebabkan flu.
  • Virus Coxsackie yang menyebabkan hand foot and mouth disease (penyakit tangan kaki dan mulut atau flu singapura).
  • Penyakit lyme, dimana infeksi bakteri disebabkan oleh kutu yang terinfeksi.

Faktor Risiko

Risiko untuk terkena Bell’s Palsy meningkat pada:

  • Wanita hamil, terutama pada trimester ketiga atau pada minggu pertama setelah melahirkan.
  • Menderita diabetes atau kencing manis.
  • Menderita infeksi pada paru–paru atau saluran pernapasan atas seperti flu atau pilek.
  • Memiliki riwayat keluarga dengan Bell’s Palsy (kerentanan genetik).

Komplikasi

Kasus ringan dari bell’s palsy biasanya menghilang dalam sebulan. Penyembuhan dari kasus yang lebih berat melibatkan berbagai kelumpuhan total. Komplikasi termasuk:

  • Kerusakan permanen pada saraf wajah
  • Pertumbuhan serat saraf yang tidak normal, menghasilkan kontraksi dari beberapa otot tanpa sadar ketika mencoba menggerakkan yang lainya (synkinesis), sebagai contoh, ketika tersenyum, maka mata pada sisi yang terkena dapat menutup.
  • Kebutaan sebagian atau seluruhnya pada mata yang tidak akan tertutup karena mata yang terlalu kering dan goresan pada kornea mata.

Tidak ada pemeriksaan khusus untuk Bell’s Palsy. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan beratnya kelemahan dari otot wajah, melihat wajah Anda dan meminta Anda untuk menggerakkan otot wajah dengan menutup mata Anda, mengangkat alis mata, tersenyum dengan memperlihatkan gigi, mengerutkan kening, diantara gerakan lainnya.

Dokter juga akan menanyakan pertanyaan mengenai gejala termasuk kapan mereka terjadi atau kapan penderita mulai merasakannya.

Kondisi lain, seperti stroke, infeksi, penyakit Lyme dan tumor dapat menyebabkan kelemahan pada otot wajah, sehingga menyerupai gejala Bell’s Palsy. Jika penyebab dari gejala tidaklah jelas, maka Dokter akan menggunakan bermacam pemeriksaan untuk membuat diagnosa bell’s palsy. Pemeriksaan ini termasuk tes darah untuk memeriksa adanya infeksi bakteri atau virus. Dokter mungkin akan menggunakan MRI atau CT scan untuk mengecek saraf dari wajah dan menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang menekan saraf wajah seperti tumor atau patah tulang tengkorak. Selain itu, dapat dilakukan Elektromiografi (EMG), sebuah teknik untuk memeriksa aktivitas syaraf dan otot, untuk menguatkan dugaan adanya kerusakan pada saraf dan beratnya kerusakan tersebut. 

Sebagian besar orang dengan Bell’s Palsy akan sembuh total, dengan atau tanpa perawatan. Namun, memerlukan beberapa minggu atau bulan supaya kekuatan otot wajah dapat kembali seperti semula. Tidak ada satu pengobatan yang pasti untuk penderita Bell’s Palsy, tetapi dokter dapat menyarankan penggunaan obat–obatan atau terapi fisik dapat membantu mempercepat penyembuhan. Pembedahan merupakan opsi yang jarang dilakukan untuk Bell’s Palsy.

Beberapa pengobatan atau perawatan yang dapat membantu mempercepat penyembuhan, antara lain 

  • Pengobatan dengan penggunaan kortikosteroid seperti prednisone yang akan membantu mengurangi peradangan pada saraf wajah.
  • Obat antiviral atau antibakteri (antibiotik) yang akan diberikan apabila virus atau bakteri menjadi penyebab dari Bell’s Palsy.
  • Obat anti nyeri yang dijual bebas seperti ibuprofen atau asetaminofen, digunakan untuk meredakan nyeri ringan.
  • Tetes mata dan salep mata atau penutup mata untuk mencegah mata yang terpengaruh menjadi kering.
  • Perekat medis untuk menjaga mata tertutup saat tidur.
  • Terapi fisik dengan memijat otot wajah untuk mencegah otot wajah menjadi menyusut dan memendek yang dapat disebabkan oleh kelumpuhan wajah.
  • Pembedahan yang dilakukan untuk meringankan tekanan pada saraf wajah jarang diperlukan untuk Bell’s Palsy.

Bell’s palsy sangat jarang terjadi pada anak, dan kebanyakan anak yang terpengaruh akan sembuh sepenuhnya tanpa perawatan.

Carilah pertolongan medis jika mengalami semua tipe kelumpuhan karena penderita mungkin saja sedang mengalami stroke. Bell’s palsy tidak disebabkan oleh stroke, tetapi dapat menyebabkan gejala yang serupa. Temui dokter jika mengalami kelemahan pada wajah atau wajah terkulai untuk menentukan penyebab dan beratnya penyakit.

  • Tuliskan semua gejala yang dialami.
  • Tuliskan informasi pribadi yang dibutuhkan.
  • Tuliskan semua obat, vitamin dan suplemen yang dikonsumsi serta dosisnya.
  • Ajaklah anggota keluarga atau teman untuk menemani dan membantu mengingat informasi yang diberikan.
  • Tuliskan pertanyaan yang ingin diajukan pada dokter.

Pertanyaan yang dapat diajukan kepada dokter

  • Apa yang menyebabkan gejala saya?
  • Apakah ada penyebab kemungkinan lain yang menyebabkan gejala saya?
  • Pemeriksaan apa yang harus saya lakukan?
  • Apakah kondisi ini hanya bersifat sementara atau bertahan lebih lama?
  • Pengobatan apa saja yang tersedia untuk Bell’s Palsy? Apa yang Anda rekomendasikan?
  • Apakah ada alternatif lain untuk pendekatan utama yang Anda sarankan?
  • Saya mempunyai kondisi kesehatan lainnya. Apakah cara terbaik untuk mengelola kondisi ini secara bersamaan?
  • Apakah ada brosur atau pamflet atau sumber lain yang dapat Saya baca di rumah?
  • Kapan Anda mulai mengalami gejala?
  • Apakah gejala yang dirasakan berlangsung terus menerus atau hanya sesekali?
  • Seberapa berat gejala yang Anda rasakan?
  • Kondisi apa yang membuat gejala Anda membaik?
  • Kondisi apa yang membuat gejala Anda memburuk?
  • Apakah ada anggota keluarga yang pernah menderita Bell’s Palsy atau gangguan dengan kelumpuhan wajah?
  • Apakah Anda memiliki gejala infeksi yang lebih umum?

Healthline. https://www.healthline.com/health/bells-palsy#causes
Diakses pada 6 Desember 2018

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bells-palsy/diagnosis-treatment/drc-20370034
Diakses pada 6 Desember 2018

Mayoclinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/bells-palsy/symptoms-causes/syc-20370028
Diakses pada 6 Desember 2018

Medlineplus. https://medlineplus.gov/bellspalsy.html
Diakses pada 6 Desember 2018

NHS. https://www.nhs.uk/conditions/bells-palsy/
Diakses pada 6 Desember 2018

Ninds. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Bells-Palsy-Fact-Sheet
Diakses pada 6 Desember 2018

Artikel Terkait